WITH YOU

WITH YOU
Ada Yang Berbeda


__ADS_3

Evan tertegun sejenak, sebelum akhirnya mengurai pelukan Carissa. Di pandangnya istrinya itu dengan tatapan penuh tanda tanya. Dia tampak agak bingung melihat Carissa yang tiba-tiba saja memeluknya seperti ini, seakan mereka baru saja bertemu setelah berpisah sekian lama. Evan juga dapat melihat tatapan penuh kerinduan dari mata Carissa padanya.


"Kamu kenapa? Tadi tidak terjadi apa-apa, kan?" Tanya Evan sambil masih melihat kearah Carissa.


Carissa yang menyadari kekonyolannya hanya bisa tersenyum malu. Cepat-cepat dia menggelengkan kepalanya agar Evan tak sampai berpikir macam-macam.


"Tidak ada apa-apa. Aku hanya terlalu senang melihatmu ada di sini. Aku sudah menunggumu dari tadi." Jawab Carissa sambil sedikit menundukkan wajahnya.


"Kamu menungguku?" Tanya Evan.


Carissa mengangguk pelan.


"Iya, aku menunggumu. Tidak tahu kenapa aku merasa sangat merindukanmu saat kamu sedang tidak berada di dekatku. Aku ingin sekali bertemu denganmu, jadi aku menunggumu sejak tadi." Jawab Carissa.


Evan tampak terdiam dan mencerna kata-kata Carissa. Agaknya Evan mengerti apa yang sedang Carissa alami saat ini. Sikap manja dan ingin selalu berada di dekat suami seperti yang saat ini Carissa rasakan pasti berhubungan dengan kehamilannya. Perubahan hormon di dalam tubuh Carissa tampaknya berpengaruh cukup kuat hingga bisa sampai membuat perubahan pada sikapnya juga.


"Maaf, aku tidak bermaksud bersikap kekanakan." Ujar Carissa lirih saat menyadari Evan tak memberikan respon yang hangat.


"Kamu pasti lelah dan ingin langsung beristirahat. Biar aku ambilkan baju ganti di lemari." Carissa berusaha tersenyum pada Evan, kemudian berlalu menuju lemari untuk mengambilkan pakaian untuk suaminya itu. Di kamar itu memang masih ada beberapa pakaian lama Evan yang masih tertinggal dan masih bisa di pakai, hingga Evan tak perlu membawa pakaian ganti.


Carissa mengambil satu stel piama dan meletakkannya di tempat tidur. Dia sedikit menundukkan wajahnya dan tak berani melihat kearah Evan lagi. Entah kenapa, tatapan Evan tadi yang melihatnya dengan agak bingung membuatnya merasa agak konyol. Terasa seperti dia saja yang merindukan Evan sampai hampir kehilangan akal sehatnya, sedangkan Evan sendiri tampaknya tak seperti itu. Carissa merasa jika sekarang Evan tak lagi merasakan perasaan yang sama terhadap dirinya.


Tiba-tiba sekelebat pertanyaan muncul di dalam benaknya. Pertanyaan yang tak pernah hadir sebelumnya meskipun terjadi permasalahan antara Evan dan Papanya. Mungkinkah jika saat ini Evan tetap bertahan semata-mata hanya karena anak yang tengah di kandungnya? Bukan karena dia masih mencintai Carissa? Apakah rasa cinta Evan sebenarnya sudah hilang karena Papa Carissa adalah orang yang menyebabkan kedua orang tua Evan meninggal?


Pertanyaan-pertanyaan yang mendadak muncul di kepala Carissa membuat hatinya sedikit mencelos, tapi sekuat tenaga Carissa berusaha menghibur dirinya sendiri. Mengingat pesan Evan yang selalu mengatakan agar dirinya tidak memikirkan sesuatu yang bisa membuat stres, Carissa pun berusaha untuk menbayangkan hal menyenangkan saja agar bisa memperbaiki suasana hatinya.


"Kenapa berdiri di situ?" Suara Evan tiba-tiba membuyarkan lamunan Carissa. Suaminya itu kini terlihat sudah mengenakan piama yang tadi di siapkannya.

__ADS_1


Evan naik ke atas tempat tidur, lalu membaringkan dirinya di sana. Dia terlihat semakin heran dengan perubahan sikap Carissa yang begitu cepat. Tadi istrinya ini tampak sangat bersemangat melihat ke hadirannya, tapi sekarang justru berdiri mematung tanpa berniat untuk naik ke tempat tidur.


"Kamu tidak mau tidur?" Tanya Evan lagi.


Carissa mengangkat wajahnya, lalu melihat kearah Evan. Di langkahkannya kakinya dengan ragu menuju tempat tidur, lalu dia juga kembali berbaring si sebelah Evan.


Carissa menatap langit-langit kamar tanpa tahu harus bagaimana. Suasananya tiba-tiba saja terasa canggung baginya.


"Kamu bilang tadi sudah menungguku sejak tadi, sekarang aku sudah di sini kenapa kamu malah diam saja?" Tanya Evan saat melihat Carissa yang terdiam.


Carissa menoleh dan memberanikan diri melihat kearah Evan. Pandangan mereka terkunci untuk beberapa saat.


Tangan Evan terulur dan membelai wajah Carissa lembut, lalu senyumnya mengembang meski sangat tipis.


Carissa tertegun melihat senyum Evan. Perasannya bercampur aduk, antara senang dan juga takut. Carissa senang mendapatkan senyum Evan, tapi di sisi lain dia juga takut jika semua ini hanyalah ilusi baginya.


"Ya?"


"Apa tingkahku tadi terlihat konyol? Apa itu membuatmu merasa risih dan terganggu?" Tanya Carissa dengan pelan dan hati-hati.


"Kenapa bertanya seperti itu?" Bukannya menjawab, Evan malah balik bertanya.


"A-aku hanya tidak ingin membuatmu merasa tidak nyaman..." Ujar Carissa lirih.


"Jadi, jika menurutmu aku sudah berlebihan karena ingin selalu menempel padamu, aku akan berusaha untuk tidak seperti itu lagi." Tambah Carissa lagi.


Evan terlihat kembali tersenyum.

__ADS_1


"Ibu hamil biasa bertingkah seperti itu. Tidak apa-apa." Jawab Evan.


Carissa terdiam dan mencoba memahami kata-kata Evan tadi. Tidak masalah bagi Evan Carissa manja padanya karena saat ini Carissa sedang hamil. Apa itu artinya benar jika Evan mempertahankan Carissa semata-mata hanya karena sedang mengandung anaknya?


Carissa balas tersenyum pada Evan. Untuk pertama kalinya bagi Carissa tersenyum pada suaminya ini dengan hati yang sedih.


"Terima kasih karena sudah mengerti..." Ujar Carissa lirih. Hatinya seperti di remas-remas saat mengatakan itu. Sangat ingin rasanya Carissa menangis sambil memeluk Evan, tapi saat ini Carissa tak punya kepercayaan diri bahkan hanya untuk sekedar menyentuh wajah Evan sekalipun.


"Tidurlah, sudah malam." Ujar Evan sambil menarik selimut dan menyelimuti tubuh Carissa. Carissa hanya mengangguk mengiyakan dan memejamkan matanya. Dia berusaha untuk kembali tertidur meski sudah bisa di pastikan jika hal itu akan sulit.


☆☆☆


Tak terasa sudah dua minggu lebih Carissa tinggal bersama kedua orang tua Evan. Meskipun masih dalam masa ngidamnya, kondisi Carissa sudah sangat membaik. Dia sudah jarang muntah-muntah, dan hanya merasa mual jika sedang mencium aroma yang benar-benar kuat saja.


Evan sendiri selama dua minggu ini hanya menginap beberapa kali saja bersama Carissa, selebihnya dia menghabiskan waktunya sepulang dari rumah sakit untuk menyelesaikan pekerjaannya di apartemen.


Semakin hari Carissa merasakan jika Evan sedang menyembunyikan sesuatu padanya. Meski saat bersama Carissa Evan masih bersikap lembut, tapi tetap saja Carissa merasa jika ada yang tidak beres dengan suaminya itu.


Semakin Carissa memperhatikan Evan belakangan ini, semakin Carissa merasa jika ada yang berbeda dari sosok Evan. Meski Evan tetap memeluk dan menciumnya, tapi sentuhan Evan kini terasa tak lagi sama. Dan yang membuat Carissa kesal adalah dia tak bisa mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada suaminya itu.


Carissa berharap jika dia akan segera menemukan titik terang tentang Evan sesegera mungkin.


Bersambung...


Tetap like, komen dan vote


Happy reading❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2