
Geraldyn meminjat pangkal hidungnya sembari memejamkan matanya sejenak. Lalu dia menoleh kearah Jonathan yang saat ini sedang asyik meminum minuman beralkohol. Lelaki itu menghabiskan minuman dari gelasnya dalam sekali tenggak, lalu menuang lagi minuman itu dari dalam botolnya.
"Cukup, Tuan. Tolong antarkan saya pulang. Perjanjian kita sebelumnya, saya hanya akan menemani Tuan untuk menghadiri undangan makan malam, bukan menemani minum-minum seperti ini." Geraldyn terlihat sangat kesal pada Jonathan.
Jonathan menoleh dengan wajah yang mulai memerah karena pangaruh alkohol.
"Tidak. Nona masih harus menemani saya disini. Kita itu partner, iya, kan? Jadi Nona juga berkewajiban untuk menemani saya disini." Jawab Jonathan.
Geraldyn berdecak semakin kesal.
"Tuan, saya ini perempuan baik-baik. Seumur hidup saya, tidak pernah sebelumnya saya mendatangi tempat seperti ini. Saya benar-benar merasa tidak nyaman." Geraldyn berusaha untuk membujuk Jonathan agar segera membawanya pergi dari tempat itu.
Melihat Jonathan yang masih terus menenggak minumannya tanpa menghiraukan kata-kata Geraldyn, gadis itu pun bangkit.
"Maaf, Tuan. Saya tidak bisa di sini lebih lama lagi. Saya harus pulang. Kalau Tuan tidak mau mengantar saya pulang, saya bisa pulang sendiri."
Tepat saat Geraldyn akan melangkahkan kakinya, Jonathan menahan pergelangan tangan gadis ini.
"Jika Nona keluar dari tempat ini tidak bersama saya, saya tidak bertanggung jawab atas keselamatan Nona. Disini penuh dengan orang-orang mabuk yang seringkali tidak bisa menahan diri melihat seorang gadis cantik." Ujar Jonathan sambil masih menenggak minumannya.
Seketika Geraldyn membeliak dengan wajah yang semakin terlihat kesal.
"Lalu kenapa Tuan mengajak saya kemari. Tuan sengaja ingin mencelakai saya?" Sergah Geraldyn dengan nada cukup tinggi.
Gadis itu terlihat marah, tapi sejurus kemudian dia tampak menyadari sesuatu. Jika tidak salah dengar, Jonathan tadi mengatakannya cantik. Dia tidak sedang salah dengar, kan?
"Jangan membuat keributan disini, Nona. Nona tidak malu menjadi pusat perhatian? Bisa-bisa nanti Nona menjadi terkenal di tempat ini." Ujar Jonathan lagi sambil menarik pergelangan tangan Geraldyn dan memaksanya duduk di tempatnya semula.
Dengan mendengus kesal, akhirnya Geraldyn menuruti Jonathan dan kembali duduk. Sesekali gadis itu menghembuskan nafas dengan kasar.
"Mau minum juga?" Tanya Jonathan sambil mengangkat gelas minumannya pada Geraldyn.
Geraldyn tak menjawab. Dia hanya melengos dengan wajah yang semakin mengeras. Rasanya dia benar-benar telah masuk kedalam sebuah perangkap dan tak berdaya untuk keluar.
__ADS_1
Mungkin karena pengaruh alkohol, Jonathan terkekeh melihat ekspresi Geraldyn, seakan gadis itu sedang melucu. Tentu saja hal itu semakin membuat Geraldyn marah. Dia benar-benar merasa kesal hingga jemarinya mengerat membentuk sebuah kepalan tinju.
"Ayolah, Nona Geraldyn, santailah sedikit." Ujar Jonathan lagi tanpa beban.
Lelaki itu kemudian memesan segelas minuman pada bartender yang ada di hadapannya. Tak butuh waktu lama bagi bartender itu untuk menghidangkan minuman yang dipesan Jonathan tadi di hadapan Geraldyn.
"Minumlah, Nona tidak akan mabuk mengkonsumsi minuman itu, hanya campuran beberapa jenis jus buah." Jonathan memberi tahu sambil menenggak lagi minumannya.
Mendengar hal itu, Geraldyn melihat kearah Jonathan sambil sedikit memicingkan matanya. Terang saja dia tidak percaya begitu saja pada perkataan Jonathan tadi. Baginya, Jonathan ini adalah lelaki berbahaya yang harus diwaspadai.
"Anda bisa meminumnya, Nona. Minuman ini memang tidak mengandung alkohol sedikit pun." Bartender yang ada di dekat mereka juga ikut angkat bicara.
Geraldyn masih tidak bersuara. Sejujurnya dia memang merasa haus. Dan tampaknya bartender tadi tidak sedang berbohong. Geraldyn pun meminum minuman itu hingga tandas. Rasanya manis, jadi tidak terlalu menghilangkan rasa hausnya.
Jonathan sedikit tertegun melihat gadis di sampingnya itu.
"Bagaimana Nona bisa mempercayai orang yang baru Nona lihat malam ini dari pada partner Nona sendiri?" Tanya Jonathan sambil menepuk-nepuk dadanya. Lelaki itu terlihat sudah mulai mabuk.
Geraldyn kembali menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Geraldyn menggerutu dalam hati. Tapi dia tidak bisa meluapkan kekesalannya secara terang-terangan jika ingin selamat dari tempat berbahaya ini. Tampaknya dia harus sedikit membujuk Jonathan agar lelaki itu segera mengakhiri acara minum-minumnya.
"Saya bukannya tidak mempercayai Tuan, hanya saja saya takut bartender tadi salah memberi saya minuman." Kilah Geraldyn akhirnya.
"Saya rasa Tuan sudah terlalu banyak minum, lebih baik kita pergi dari tempat ini." Geraldyn berusaha untuk membujuk Jonathan.
Sumpah demi apapun, rasanya saat ini gadis itu benar-benar merasa kesal dan ingin menendang Jonathan sekuat tenaganya.
"Sebentar lagi, Nona. Sudah lama saya tidak minum. Sejak mengenal Carissa dan tahu jika dia tidak suka lelaki yang minum minuman beralkohol, saya sudah tidak menyentuh minuman ini lagi. Tapi sekarang dia sendiri yang membuat saya ingin kembali menikmatinya. Biarkan saya minum sedikit lagi, setelah itu baru kita pulang." Jonathan kembali menenggak minumannya.
"Anda sudah mulai mabuk, Tuan Jonathan." Ujar Geraldyn lagi mengingatkan.
Jonathan terkekeh.
__ADS_1
"Tidak. Saya tidak mabuk sama sekali." Ujar Jonathan menanggapi.
Geraldyn kembali membuang nafas kasar. Jika ditahan lebih lama lagi, rasanya dia akan meledak karena kesal dan marah.
"Tuan, saya mohon. Anda bisa kembali kesini lagi lain kali dan minum sebanyak apapun yang Anda mau, tapi saat ini tolong hentikan acara minum-minum Anda dan segera bawa saya pergi dari tempat ini. Saya benar-benar sudah muak!" Geraldyn mulai berbicara dengan nada keras pada Jonathan. Matanya pun menatap nyalang pada lelaki itu.
Jika bukan demi membantu Carissa, Geraldyn tidak akan sudi terlibat dengan lelaki brengsek seperti Jonathan. Rasanya saat ini dia sedang berada di dalam kandang harimau dan bisa diterkam kapan saja.
'Aku sampai seperti ini karena tak ingin ada yang mengusik kehidupanmu bersama suamimu, Carissa. Kalau sampai suatu hari kalian bercerai, aku benar-benar akan membunuh kalian berdua!'
Jonathan menoleh dan balas menatap kearah Geraldyn. Bukannya marah, lelaki itu justru kembali terkekeh.
"Nona Geraldyn manis sekali. Semakin lama saya jadi merasa jika Nona mirip seperti Carissa." Ujar Jonathan disela kekehannya.
Geraldyn terdiam dengan tubuh yang mulai merinding.
'Si brengsek ini mabuk. Habislah aku...'
"Awalnya saya tertarik dengan Carissa hanya karena merasa penasaran, tapi akhirnya saya benar-benar jatuh cinta. Tapi dia benar-benar sulit didekati sampai akhirnya saya berhasil melamar dia melalui orang tuanya." Jonathan kembali menatap Geraldyn.
"Tatapan mata Nona, sama seperti tatapan mata Carissa saat melihat saya. Begitu penuh dengan kebencian." Perlahan Jonathan mendekatkan wajahnya pada wajah Geraldyn.
Geraldyn terkesiap. Tiba-tiba tubuhnya membeku layaknya patung.
"Tapi apa Nona tahu, tatapan itu justru membuat saya ingin..."
Cup.
Mata Geraldyn membulat sempurna saat bibir Jonthan tanpa diduga mendarat di bibirnya. Lelaki brengsek itu menciumnya. Ciuman yang begitu mengejutkan hingga rasanya hampir membuat Geraldyn pingsan.
Bersambung...
Tetep like, komen dan vote
__ADS_1
Happy reading❤❤❤