WITH YOU

WITH YOU
Mengalah Lebih Baik


__ADS_3

Devan baru saja pulang dari rumah kedua orang tuanya setelah mendapatkan tabungannya dan juga beberapa barang berharga yang bisa dibawanya nanti bersama dengan Adelia. Kali ini dia percaya dengan papanya yang sudah membantunya untuk kabur sementara waktu dari mertuanya. Devan bukannya ingin menghindari dari papa mertuanya, tapi dia tidak ingin jika ia dan Adelia dipisahkan oleh keegoisan orang tua istrinya. Sebagai kepala rumah tangga, dia begitu ingin mempertahankan rumah tangganya bersama dengan sang istri.


Sekalipun ketika tiba di rumah dia menemukan istrinya cemberut dan tidak menyambutnya dengan senyuman seperti biasanya. Akan tetapi Devan mencoba mendekati sang istri. Sadar jika dirinya salah telah membentak sang istri tadi, dia juga sadar bahwa yang dia lakukan itu salah besar ketika istrinya mencoba mencari tahu mengenai sumber masalahnya, justru Devan membentak istrinya dengan sangat kasar.


Adelia yang sedang membaca buku edukasi tentang kehamilan di ruang tamu. Perlahan dia mendekati istrinya, perempuan itu hanya menoleh ketika Devan mendekat. Adelia langsung menutup bukunya kemudian langsung beranjak dari tempat duduknya dan langsung berlalu begitu saja.


Devan tidak akan pernah menyerah untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepada istrinya agar tidak terjadi salah paham lagi seperti biasanya. Devan yang ingin jika anak dan istrinya tetap berkumpul. Bersama dengan keluarga kecilnya dia bisa membangun rumah tangga yang begitu baik, sekalipun nanti dia mendapati begitu banyak cobaan ketika menjalani semuanya. tapi dia telah siap apapun risikonya, dia mencintai Adelia. Dia juga igin menemani tumbuh si kecil nanti ketika lahir.


Devan memang sering berandai-andai mengenai anaknya, tapi jika seperti ini. Yang bisa dia lakukan adalah pergi untuk sementara waktu, pergi ke tempat di mana dia tidak ditemukan oleh papa Adelia. Barangkali Devan akan pergi ke luar negeri, di mana dia punya apartemen dulu ketika masih kuliah yang bisa dia tempati lagi.


Adelia memang sedikit lebih cuek ketika marah. Bahkan perempuan itu sering tidak menganggap masalah itu begitu serius ketika ada Sabina. tapi tidak untuk hari ini, istrinya sungguh marah karena dibentak tadi.


Devan mencoba mengejar.


Baaaaaaaam


Pintu dibanting begitu saja oleh Adelia kemudian di kunci dari dalam. Perlahan dia menarik napas berusaha tenang karena emosi istrinya memang tidak stabil untuk saat ini.


Devan menarik napas berkali-kali untuk menenangkan diri karena dia ingin jika istrinya mendengarkan semua penjelasan dari dia. Dia akan jujur dengan apa yang sebenarnya terjadi, bahkand ia akan jujur pula mengenai papa Adelia yang mengikuti gerak-gerik mereka.


Devan mengetuk pintu beberapa kali. "Adel, ayo dong! Kita perlu bicara!" ajaknya. Tapi tak ada tanggapan sama sekali karena istrinya memang seperti itu jika marah. Devan sangat yakin jika istrinya itu adalah perempuan terbaik yang pernah dia temui. Hanya saja dia tidak ingin jika istrinya salah paham dengan semua ini.

__ADS_1


"Sayang, kamu marah banget ya karena aku bentak tadi?" rayu Devan, berharap jika istrinya itu benar-benar bisa memaafkan perbuatannya. Devan tak ingin marah lama-lama dengan istrinya. Dia juga tidak ingin saling diami bersama dengan istrinya.


"Sayang, ayo dong! Aku nggak ada waktu buat berantem sama kamu,"


Devan tak pernah berhenti untuk membicarakan itu baik-baik dengan Adelia. Ia mendengar kunci dibuka oleh Adelia, begitu pintunya hendak ditutup lagi, Devan langsung menahannya dengan kakinya. "Aku nggak suka kamu ngambek, sayang," rayu Devan yang langsung membuat Adelia menunduk.


Devan menangkup pipi istrinya dan langsung mendorong pintu perlahan dan ia memeluk istrinya. "Aku suruh Sabina pergi tentu saja ada alasannya sayang, nggak mungkin aku usir dia gitu aja, kan?"


Kata orang, pernikahan itu awet jika suami istri berusaha untuk saling memahami dan saling mendengarkan. Devan tak ingin jika istrinya tetap salah paham karena apa yang dia lakuka tadi tentu saja menjadi pertanyaan bagi istrinya.


Devan mengajak Adelia masuk ke dalam kamar untuk membicarakan ini semua berdua. Dia masih bisa untuk bicara dengan cara baik-baik tanpa harus emosi lagi seperti tadi kepada istrinya. Dari tatapan bola mata hitam yang ditatap oleh Devan, terlihat jelas jika istrinya memang sedikit kesal dengan apa yang dia perbuat tadi.


Devan yang sudah berhasil mendudukkan Adelia diatas pahanya langsung menarik perempuan itu dan ******* bibir istrinya dengan penuh gairah. Dia begitu gemas ketika melihat istrinya mengomel seperti tadi. Ia melakukan hal seperti ini bukan berarti dia tak memikirkan masalahnya, hanya saja ketika berada bersama dengan istrinya dia merasa begitu dikuatkan. Karena Adelia memang selalu menemani setiap kesusahannya.


Ketika dia ******* pun Adelia membalasnya dengan cukup baik. emosi tadi seoalah mencair karena kali ini digantikan dengan gairah yang cukup membncah dan tak bisa ditahan lagi oleh Devan.


Baru saja Devan menurunkan resleting Adelia, perempuan itu menahan tangan Devan. "Sayang, aku mau dengar alasan kamu bawa Sabina pergi, setelah itu aku janji bakalan layani kamu dengan baik," pinta Adelia.


Devan tak keberatan jika dia harus menceritakan itu terlebih dahulu. Dia masih bisa menahan hasratnya untuk beberapa menit kemudian. Tapi, dia ragu jika Adelia menolak untuk pergi dari kota ini sampai bayi mereka lahir nantinya. Devan juga sudah mempersiapkan jika dirinya harus menjadi suami siaga ketika istrinya melahirkan nanti.


"Adelia istriku tersayang," rayunya. Siapa yang menyangka dibalik rayuan itu Devan sebenarnya punya beban tersendiri dan ingin dia bagi dengan istrinya. Hanya saja dia begitu khawatir ketika melilhat ekspresi istrinya. "Adel, kamu kan sudah janji kalau kamu bakalan ikut ke manapun aku pergi, bukankah begitu?"

__ADS_1


Adelia mengangkat sebelah alisnya karena tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Devan kali ini. "Kenapa bilang begitu sayang?"


"Salah nggak kalau aku pengin bulan madu sama kamu?" itu adalah alasan yag masuk akal ketika Devan ingin mengajak istrinya untuk jalan-jalan. tapi sebenarya dia ingin jika istrinya tahu nanti ketika mereka berangkat. Karena Devan juga tak ingin jika diceritakan saat ini, justru Adelia menolak. "Tapi jangan cerita ke orang tua kamu ya sayang!"


"Kita memangnya mau bulan madu ke mana?"


"Ke mana saja yang kamu mau, sayang. Tapi ingat, jangan beritahu siapa-siapa," ucap Devan yang kemudian disambut senyuman oleh istrinya.


"Jadi, kamu suruh Sabina pergi karena itu?" tebak Adelia sembarangan. Kemudian dia juga tersenyum kepada istrinya.


"Kenapa sekarang jadi pintar ya?" ledek Devan.


"Kemarin gimana?"


"Kemarin kayak bocah, sering ngambek," ucap Devan kemudian menyeringai ketika istrinya mengecup bibirnya. "Jadi, udah tahu kan alasan suami kamu ini marah sama Sabina?"


Adelia menganggukkan kepalanya kemudian mencium pipi Devan. "Maafin aku ya!"


"Adalah hal yang paling indah ketika perempuan mengakui kesalahannya, padahal yang salah itu cowok. Jadi, kamu termasuk perempuan langka sayangku. Jarang-jarang ada perempuan yang mau ngalah," ucap Devan yang membuat Adelia mencubit perutnya karena tersenyum.


Buat teman-teman yang suka dengan cerita author jangan lupa masuk grup ya. tinggal klik masuk grup di info cerita. Kita bisa bincang di sana. Ngomong-ngomong author masih bersedia nyuguhin puluhan chapter lagi. jadi, jangan lupa di vote sebanyak"nya ya

__ADS_1


__ADS_2