WITH YOU

WITH YOU
Menantang


__ADS_3

Baru saja Keano kembali dari, Devan berdiri di samping kamar adik iparnya itu. Keano berhenti ketika melihat kakak iparnya berada di sana. "Ada apa?"


Devan yang tadinya bersandar ditembok tersenyum kemudian tertawa dan menepuk pundak Keano. "Jauhi Sabina!"


Peringata itu dia lontarkan atas dasar dia tidak ingin jika adiknya menderita hanya karena cinta.Tidak ingin jika Sabina menjadi sasaran Keano untuk balas dendam. "Kenapa kakak bisa berkata demikian?"


"Bicara apa kamu sama Sabina? Jangan peralat Sabina, Keano! Tolong banget, kalau kamu memang menginginkan sesuatu dari aku, bilang! Jangan kamu dekati Sabina hanya untuk memuaskan hati kamu," peringat Devan lagi. Karena tidak ingin jika adiknya benar-benar terjebak dalam urusannya bersama dengan keluarga besar Adelia.


"Aku tidak pernah berpikiran licik seperti itu untuk balas dendam,"


"Kenapa kamu dekati Sabina?"


"Siapa yang dekat?"


Sebenarnya tadi Devan sempat mengikuti ke mana Keano pergi. Dan itu adalah alamat di mana tantenya tinggal. Keduanya bertemu di salah satu taman tidak jauh dari rumah sang tante. Maka dari itu Devan dengan sangat mudah menemukan Sabina dan juga Keano.


"Mau mengelak? Aku tahu,"


"Aku nggak pernah dekat dengan Sabina,"


Devan hanya tersenyum sinis kepada adik iparnya. "Baiklah,"


Dia kemudian pergi dan masuk ke dalam kamar istrinya yang sedang tidur terlelap. "Sebenarnya kamu tipe orang yang seperti apa, Keano? Jangan sampai kamu membalas dendam dengan memperalat Sabina," ucap Devan di dalam hati kemudian duduk dipinggiran ranjang sambil menatapi istrinya yang sedang terlelap di sana.

__ADS_1


Jika benar Keano berniat jahat, sudah dipastikan dia dan Adelia berakhir dengan cepat sekalipun orang tuanya tidak pernah tahu inti permasalah tersebut.


Adelia yang merasa terganggu karena lampu menyala tadi karena Devan lupa mematikannya. "Kamu kenapa belum tidur, Devan?" suara serak khas yang baru bangun membuat Devan langsung menoleh kearah istrinya. Devan lupa mematikan lampu tidur yang ada disebelah Adelia.


"Kamu tidur aja!"


"Kamu ada masalah?"


"Besok kita pulang,"


Hanya itu yang dia ucapkan. Tak ada kata yang lebih lagi untuk mengungkapkan perasaan kesalnya terhadap Keano yang barangkali akan membalas perbuatannya. Padahal Devan sudah bertanggung jawab dengan cara menikahi dan juga tidak mengabaikan Adelia. Apa itu belum cukup bagi Keano hingga dia mendekati Sabina hanya untuk membalaskan dendamnya.


"Kamu kenapa? nggak biasanya kamu seperti ini, Devan. Aku tahu kamu yang seperti apa. Kalau memang ada masalah, harusnya kamu cerita sama aku. Jangan sampai nanti kamu malah mabuk lagi,"


"Adel, aku cuman pengin pulang besok,"


Adelia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Devan. Tidak seperti biasanya suaminya bersikap aneh seperti malam ini. Adelia merasa ada yang tidak ingin dikatakan oleh Devan. Tapi, dia tidak mungkin memaksakan apa yang sedang dirahasiakan oleh Devan. Terlihat dari ekspresi suaminya yang begitu khawatir terhadap sesuatu. Tapi masih disimpan sendiri.


Jika memang Keano ingin membalas dendam, harusnya Keano melawannya. Bukan menyangkut pautkan Sabina ke dalam masalah yang sama sekali mereka tak ada hubungannya dengan hal ini.


Devan mengusap wajahnya dengan gusar. Keano sudah berani melawannya, jika memang itu bersifat balas dendam, harusnya dia sadar selama ini adik iparnya itu hanya pura-pura baik kepadanya. Bahkan adik iparnya pura-pura datang ke rumahnya untuk menari kelemahan Devan.


"Devan, aku tanya kamu kenapa?" Adelia mulai khawatir dengan suaminya yang terlihat sangat kacau malam itu. "Apa Papa bilang sesuatu yang buat kamu terganggu? Bilang Devan!"

__ADS_1


Devan tidak ingin jika istrinya salah paham dengan hal itu. "Bukan, Adelia. Ini sama sekali nggak ada hubungannya sama sekali dengan Papa kamu,"


"Kalau memang bukan, kenapa kamu bisa kacau seperti ini, Devan?"


"Adel, kasih aku waktu buat cerita sama kamu,"


"Kalau bukan karena Papa. Kamu kenapa sampai ngajakin aku pulang segala. Aku bakalan ngomong sama Papa,"


Adelia turun dari ranjangnya dan hendak pergi dari sana. Tapi, Devan langsung menahan tangan istrinya agar tidak pergi dari kamar dan menghampiri papa mertua yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan masalah ini. Yang masalah itu adalah adik iparnya yang sudah melangkah terlalu jauh dalam ikut campur pada urusan mereka.


"Adelia, tolong banget! Kamu jangan memperkeruh keadaan,"


"Kamu bilang aku memperkeruh? Kalau bukan karena Papa, kenapa kamu bisa kacau? Bukannya kamu cuman bermasalah dengan Papa?" tebak Adelia.


Tetap saja mulutnya bungkam tidak mau menceritakan masalah itu kepada Adelia. Karena bagaimanapun juga, pasti perempuan itu akan membela sang adik walaupun salah. Devan tak ingin bicara tanpa bukti. Dia ingin membuktikan apa yang sebenarnya dilakukan oleh Keano hingga berani mengajak Sabina bertemu dan membuat Sabina menangis tadi. Jujur saja jika Devan akan sangat keberatan jika adiknya dijadikan alat untuk balas dendam Devan yang selama ini dibungkus dengan kebaikan.


Devan, dia akan berpikir untuk memulangkan Sabina ke rumah orang tuanya nanti agar anak itu tidak bebas keluar seperti yang dilakukan di rumahnya. ia pikir Sabina akan merasa tenang. Tapi justru adiknya begitu polos mengikuti alur permainan Keano yag mungkin sudah direncanakan sedari awal.


Dia menarik tangan Adelia kemudian menyuruh istrinya duduk disebelahnya. "Kamu tidur aja, Adelia! Aku pengin istirahat juga," kata Devan tiba-tiba. Tapi siapa yang tahu bahwa dihatinya sedang menyimpan gejolak penuh tanya antara adik kandung dan juga adik iparnya yang sudah melewati batas ikut campur.


Jika Sabina tahu rahasianya selama ini, pasti Sabina akan mengadu kepada orang tuanya dan akan berakhir juga pernikahan itu. Dia akan kehilangan Adelia, kehilangan calon buah hatinya juga. Ia tahu bahwa mertuany masih sangat membenci papanya hingga saat ini. tapi bagaimanapun juga dia tidak ingin hal buruk itu terjadi. Devan tak ingin jika anaknya nanti tumbuh tanpa orang tua yang lengkap.


Devan sudah berusaha untuk membuat Adelia bertahan di sisinya agar tida pergi dan merahasiakan semua itu sekalipun hatinya juga sakit dengan kenyataan ini. tapi sebagai suami, dia masih bisa berlaku baik.

__ADS_1


__ADS_2