WITH YOU

WITH YOU
Aku Ingin Kita Segera Punya Anak


__ADS_3

Dua hari setelah mengunjungi apartemen mereka, Carissa dan Evan akhirnya pindah kesana. Tentu saja di lepas dengan berat hati oleh kedua orang tua Evan.


Meski merasa agak tidak rela, Sonya dan Zacky tidak bisa menghalangi anak dan menantunya itu untuk memulai kehidupan rumah tangga mereka yang sesungguhnya. Sonya hanya berharap, dengan mereka tinggal berdua saja akan lebih mempercepat dirinya menimang cucu.


"Jangan terlalu keras bekerja dan luangkan waktu lebih banyak untuk istrimu." Itulah kalimat yang tak henti di ucapkan Sonya pada Evan. Hal itu membuat Evan cukup jengah karena Mamanya itu terkesan lebih menyayangi Carissa daripada dirinya.


Ya. Kepribadian Carissa yang sangat menyenangkan memang membuat Zacky dan Sonya sangat menyayangi menantu mereka itu meski tidak terlalu lama mereka tinggal bersama. Sepertinya kedepannya Sonya akan sangat kehilangan sosok Carissa di tengah-tengah rumah besar mereka. Seandainya saja dia tidak ingin cepat-cepat menimang cucu, mungkin saat ini Mama Evan itu akan membuat seribu alasan untuk membuat Carissa dan Evan tetap tinggal bersama mereka.


Dan ternyata, jauh dari Sonya juga berat bagi Carissa. Terbukti saat ini istri Evan itu tengah berjuang antara hidup dan mati di dapur apartemennya untuk membuatkan suaminya makan malam. Kemarin saat mereka baru pindah, seharian mereka menggunakan jasa pesan antar makanan. Dan sore ini Carissa bertekad memasak sendiri makanan untuk mereka berdua.


Carissa berkutat dengan beberapa sayuran dan juga bumbu dapur dengan kening yang agak berkerut. Dengan sebuah video memasak yang sedang tayang di layar ponselnya, Carissa terlihat berusaha mengikuti langkah-langkah yang harus di lakukannya untuk membuat masakan kesukaan Evan.


"Arrgghh..." Carissa terpekik tanpa sadar saat memasukkan potongan sayuran kedalam wajan. Suhu minyak di dalam wajan tersebut terlalu panas, sehingga saat terkena tetesan air yang menempel pada sayuran, minyak panas itu memercik dan mengenai punggung tangan Carissa.


"Carissa!!" Evan yang baru sampai terkejut mendengar teriakan dari arah dapur. Buru-buru dia berlari dan memeriksa keadaan dapur apartemennya. Terlihat api kompor yang telah menyambar wajan penggorengan dan beberapa bahan memasak tampak jatuh berserakan. Sedangkan istrinya sendiri tampak menegangi tangannya dengan ekspresi ketakutan.


Segera Evan mematikan api kompor dan mendekati Carissa yang masih terlihat syok.


"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Evan dengan nada khawatir.


Carissa tidak menjawab. Ia hanya menggeleng dengan raut wajah yang masih sama seperti sebelumnya.


Evan memperhatikan istrinya itu dari ujung kaki hingga ujung kepala, memastikan jika tubuh Carissa tidak ada yang terluka. Kemudian pandangan Evan tertuju pada punggung tangan Carissa yang melepuh karena terkena percikan minyak panas.


Evan langsung menarik tangan Carissa dan membasuhnya dengan aliran air di wastafel selama beberapa menit. Setelah itu di bimbingnya Carissa untuk duduk di salah satu kursi meja makan.


Tanpa mengatakan apa-apa, Evan berlalu ke kamar mereka dan kembali dengan membawa kotak obat di tangannya. Evan mengeluarkan salep khusus untuk luka bakar, lalu mengoleskannya pada ke punggung tangan Carissa yang melepuh.


Sensasi dingin yang di berikan salep tersebut membuat rasa nyeri dan panas di kulit punggung tangan Carissa sedikit mereda. Setelah selesai, Evan meniup permukaan kulit Carissa yang di olesi salep dengan pelan dan hati-hati.


Carissa tertegun. Di pandangnya wajah Evan dengan perasan yang hampir membuncah. Lelaki itu tampak masih fokus meniup punggung tangan Carissa dengan posisi berlutut di hadapan istrinya itu.

__ADS_1


Tanpa bisa Carissa cegah, tangannya terulur menyentuh ujung bulu mata Evan yang panjang, lalu turun ke rahangnya juga. Di pandangnya wajah itu dengan penuh perasaan. Entah kalimat apa yang bisa menggambarkan apa yang Carissa rasakan saat ini.


Evan menghentikan apa yang tengah di lakukannya dan mendongak kearah Carissa. Pandangan mereka bertemu untuk beberapa saat. Carissa tersenyum dan berhambur memeluk suaminya itu. Di tenggelamkannya wajahnya di dada Evan yang bidang.


Carissa memeluk suaminya itu dengan sangat erat, seakan tidak ingin melepasnya lagi.


"Kenapa? Apa kamu masih merasa takut?" Tanya Evan lembut. Di usapnya punggung Carissa seolah ingin memberikan ketenangan untuk istrinya itu.


"Terima kasih." Ujar Carissa lirih.


Evan menautkan kedua alisnya.


"Untuk?"


"Untuk semuanya. Terima kasih untuk semuanya." Ulang Carissa lagi.


Evan tersenyum dan balas memeluk Carissa.


"Aku masih tidak mengerti. Yang kamu maksud semuanya itu apa?" Goda Evan.


Jangan salahkan Carissa jika sekarang dia terlihat tidak ingin melepaskan pelukannya.


Evan yang merasakan pelukan Carissa tidak kunjung mengurai akhirnya melakukan tindakan. Di angkatnya tubuh Carissa dan di gendongnya ala bridal style, lalu di bawanya istrinya itu menuju kamar mereka.


Evan membaringkan Carissa ke tempat tidur dengan sangat hati-hati, seolah istrinya itu baru saja mengalami patah tulang.


"Setelah ini, jangan pernah memasak lagi." Suara Evan membuyarkan lamunan Carissa.


"Kalau aku tidak datang tadi, bisa-bisa sekarang dapur sudah meledak." Oceh Evan.


Carissa menundukkan wajahnya karena malu. Baru saja tadi dia memuji Evan dalam hati karena tidak mengocehinya, sekarang dia justru terkena ocehan suaminya itu.

__ADS_1


"Aku mau memasak untuk kita makan malam." Kilahnya lirih.


"Kita bisa memesan makanan. Lain kali tidak usah pergi ke dapur lagi. Nanti aku akan minta tolong Mama untuk mencarikan orang yang bisa bekerja di sini. Kamu tidak perlu melakukan apa-apa." Ujar Evan dengan nada tidak ingin di bantah.


"Kalau tidak melakukan apa-apa, aku bisa bosan." Carissa terlihat agak tidak senang.


"Tugas kamu adalah mengurus suamimu."


Carissa mendongak kearah Evan dan terlihat tidak mengerti.


"Memangnya aku tidak mengurus kamu dengan benar, ya?" Tanya Carissa dengan polosnya.


"Kamu sudah mengurusku dengan benar, kecuali satu hal." Jawab Evan.


Carissa tampak menunggu kelanjutan dari kalimat yang di ucapkan Evan.


"Kebutuhan biologisku." Lanjut Evan lagi dengan jujur.


Mata Carissa agak membeliak. Ia tak menyangka Evan akan membahas hal itu. Bukankah dia sendiri yang mengatakan tidak akan meminta sebelum Carissa menginginkannya sendiri. Apa mungkin karena Carissa sudah menundanya terlalu lama?


"Apa kamu tidak mendapat kepuasan dengan yang selama ini kita lakukan?" Tanya Carissa dengan serius.


"Aku puas. Tapi apa kamu tidak ingin kita segera punya anak?" Tanya Evan.


Tangan Evan terulur membelai pipi Carissa dengan lembut.


"Carissa, aku ingin kita segera punya anak..."


Bersambung...


Sorry gaesss, emak masih blm bisa up lebih dari satu. Semoga ga bosen buat nungguin kelanjutannya.

__ADS_1


Jgn lupa like, koment dan vote


Happy reading❤❤❤


__ADS_2