
Jonathan tertegun dan tak mampu berkata-kata. Dia bukanlah tipe lelaki melankolis, tapi kata-kata ayah Geraldyn tadi benar-benar membuat hatinya terenyuh, hingga Jonathan tidak tahu harus menanggapinya seperti apa.
"Sejak dulu aku selalu ingin putriku itu mendapatkan seorang pendamping, tapi aku juga selalu takut setiap mendengar dia berhubungan dengan seorang lelaki, terlebih jika lelaki itu adalah orang kaya. Aku takut dia dipermainkan dan terluka. Aku takut jika lelaki itu hanya akan membuatnya sedih dan menangis. Aku takut dia bertemu dengan orang yang salah dan hidupnya semakin menderita. Putriku itu, dia sudah banyak mengalami kesusahan, sudah saatnya dia hidup bahagia... Aku sangat takut jika nanti malah menyerahkannya pada orang yang tidak tepat."
Ayah Geraldyn kembali menghela nafasnya.
Jonathan masih bergeming. Setiap kata yang terlontar dari mulut Ayah Geraldyn terasa seperti belati yang menikam tepat di jantungnya. Mengingat jika tujuan awalnya memang sekedar ingin memberi pelajaran atas kelancangan Geraldyn padanya, rasanya selama ini dia memang hanya mempermainkan Geraldyn saja. Sebelumnya Jonathan memang tidak pernah berniat menjalin hubungan yang serius pada gadis itu. Tapi jika saat ini dia diminta untuk meninggalkan Geraldyn, kenapa rasanya dia sangat tidak rela? Apakah saat ini dia benar-benar telah jatuh cinta pada seorang Geraldyn?
"Jadi Jonathan, apakah kamu benar-benar mencintai Geraldyn?" Tanya Ayah Geraldyn kemudian.
Jonathan agak terkejut mendapatkan pertanyaan itu.
"Ya?" Reaksinya terlihat agak bingung.
"Aku bertanya padamu, apa kamu benar-benar mencintai Geraldyn?" Ulang Ayah Geraldyn lagi.
"Saya...sepertinya memang mencintai putri Anda, Paman." Jawab Jonathan dengan setengah bergumam.
Ayah Geraldyn terdiam beberapa saat sambil menatap kearah Jonathan dengan tatapan yang lebih serius.
"Kalau begitu, bisakah kamu berjanji untuk selalu membuatnya bahagia meskipun nanti perasaanmu berubah?" Tanya lelaki paruh baya itu lagi.
Jonathan tertegun selama beberapa saat.
"Jika kamu tidak yakin dengan perasaanmu sendiri, lebih baik kamu jangan meneruskan hubunganmu dengan Geraldyn. Jangan mempermainkan putriku, dia terlalu baik untuk sekedar dijadikan mainan." Ujar Ayah Geraldyn lagi dengan nada yang lebih tegas.
Jonathan seakan dibuat tersadar dengan apa yang dilakukannya selama ini. Dia merasa tertampar mendengar kata-kata Ayah Geraldyn tadi. Bagaimana bisa dia berniat bermain-main dengan seorang gadis yang mempunyai hati malaikat seperti Geraldyn.
Jonathan menghela nafasnya dalam.
"Maafkan saya, Paman. Dimasa lalu saya mungkin pernah punya niatan yang tidak terlalu baik pada putri Paman. Awal mula saya mendekatinya mungkin tidak dengan hati yang tulus. Tapi seiring berjalannya waktu, Geraldyn telah membuat saya semakin menyadari perasaan saya sendiri. Saya akhirnya tahu apa yang saya butuhkan selama ini."
Jonathan melihat kearah Ayah Geraldyn dengan perasaan mantap dan percaya diri.
__ADS_1
"Terlepas bagaimana dulu kami bertemu dan memulai hubungan ini, sekarang saya tidak bisa menjauh darinya. Saya tidak sanggup membayangkan bagaimana kehidupan saya tanpa Geraldyn di sisi saya. Sepertinya saya telah jatuh cinta pada putri Paman itu, lebih dari yang saya bayangkan."
"Paman, izinkan saya terus menggenggam tangan Geraldyn selama sisa hidup saya. Saya berjanji akan selalu berusaha untuk membuatnya bahagia. Meskipun mungkin nanti tanpa sengaja saya akan membuatnya menangis karena marah ataupun kesal, tapi saya tidak akan pernah meninggalkannya. Saya akan selalu menjaganya seumur hidup saya."
Ayah Geraldyn menatap balik kearah Jonathan, seakan ingin menilai kesungguhan lelaki itu.
"Bagaimana aku bisa tahu jika saat ini kamu tidak sedang membual?" Tanyanya lagi.
Jonathan kembali terdiam dan tak bisa berkata-kata. Tiba-tiba kepercayaan dirinya tadi menguap entah kemana. Setelah dia mengungkapkan isi hatinya dengan penuh keyakinan, bagaimana bisa hal itu hanya disebut sebagai bualan semata?
"Saya bersungguh-sungguh. Haruskah saya meminta pengacara saya untuk menulis pernyataan saya itu dan mengizinkan Paman untuk menggunggat jika saya ingkar janji?" Tanya Jonathan lagi.
Sontak Ayah Geraldyn tertawa kecil mendengar ide konyolnya itu.
"Sepertinya kamu bukanlah teman kerja seperti yang dikatakan Geraldyn." Gumam Ayah Geraldyn kemudian.
"Memang bukan, sebenarnya saya adalah seorang pengusaha yang cukup sukses, tapi Geraldyn meminta saya untuk menyembunyikan identitas saya itu, karena dia bilang Anda alergi pada orang kaya." Jawab Jonathan dengan jujur.
sekali lagi Ayah Geraldyn tertawa, kali ini dengan tawa yang lebih lepas dari sebelumnya. Jonathan tidak tahu harus ikut tertawa atau bagaimana.
Jonathan hanya terdiam dan bertanya-tanya, apakah saat ini dia sudah mendapatkan restu dari Ayah Geraldyn? Benarkah misinya mengambil hati calon mertua sudah berhasil?
Belum sempat Jonathan bertanya, Geraldyn dan ibunya sudah kembali dari kamar dan bergabung lagi bersama mereka.
Obrolan pun berlanjut tanpa membahas tentang hubungan Geraldyn dan Jonathan lagi. Hingga akhirnya, Geraldyn pamit untuk pulang ke tempat tinggalnya dan beristirahat. Gadis itu memang sudah tidak tinggal bersama orang tuanya lagi sejak mendapatkan pekerjaan tetap beberapa tahun lalu.
Ayah dan Ibu Geraldyn mengantarkan mereka hingga ke pekarangan.
"Jonathan, ingat janjimu tadi. Jika kamu mengingkarinya, aku akan mengejarmu walaupun telah menjadi hantu." Ujar Ayah Geraldyn saat Jonathan sudah akan masuk ke dalam mobil.
Jonathan tertegun sejenak.
"Tidak usah khawatir, Paman. Saya tidak pernah mengingkari janji yang pernah saya buat." Jawab Jonathan kemudian.
__ADS_1
Ayah Geraldyn mengangguk menanggapi, lalu meminta istrinya untuk mendorong kursi rodanya masuk ke dalam rumah. Jonathan dan Geraldyn pun kemudian masuk ke dalam mobil.
"Memangnya kamu membuat janji apa dengan ayahku?" Tanya Geraldyn saat mereka sudah duduk di dalam mobil.
"Rahasia antar sesama lelaki, tidak boleh dibocorkan pada perempuan." Kilah Jonathan.
Geraldyn sedikit mendengus sambil mencebikkan bibirnya. Tapi sejurus kemudian dia menoleh kearah Jonathan, tampaknya lelaki ini tadi bisa mengatasi apapun kata-kata ayahnya.
"Terima kasih, ya." Ujar Geraldyn kemudian dengan tulus.
Jonathan yang tadinya akan menyalakan mesin mobil, jadi mengurungkan niatnya dan menoleh kearah Geraldyn juga.
"Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan dengan ayahku tadi, tapi kelihatannya beliau cukup puas padamu. Terima kasih untuk hari ini." Ujar Geraldyn lagi.
Jonathan terdiam. Apa itu artinya dia sudah berhasil memenangkan hati calon mertuanya itu?
"Jika ingin berterima kasih, berterima kasihlah dengan benar."
"Ya?" Geraldyn tak mengerti.
"Berterima kasihlah dengan tindakan, aku pasti akan lebih senang menerimanya. Seperti ini."
Tiba-tiba Jonathan menarik lengan Geraldyn hingga gadis itu terjerembab ke dalam pelukannya.
"Jonathan!" Geraldyn membeliakkan matanya karena terkejut. Dia pun berusaha keluar dari pelukan Jonathan.
"Sebentar saja, jangan bergerak dan biarkan aku memelukmu seperti ini." Pinta Jonathan dengan lembut.
Geraldyn seketika terdiam dan tak lagi melakukan perlawanan, hingga Jonathan semakin menenggelamkan tubuh Geraldyn ke dalam dekapannya.
Jonathan menghirup aroma tubuh Geraldyn sembari memejamkan matanya. Rasanya benar-benar nyaman dan damai. Dia jadi semakin yakin jika memang gadis inilah yang dia inginkan.
Bersambung...
__ADS_1
tetep like, komen dan vote
Happy reading❤❤❤