WITH YOU

WITH YOU
Rahim Pengganti?


__ADS_3

Evan dan Carissa belum mendiskusikan lebih lanjut tentang apa yang akan mereka lakukan mengenai kondisi Carissa. Evan justru terkesan menghindari pembahasan tentang hal itu. Tampaknya dia ingin membuat Carissa merasa tenang dulu dan tidak terbebani masalah anak, sebelum nantinya memutuskan akan mengambil langkah apa.


Tidak ada yang berubah dari sikap Evan pada Carissa. Suami Carissa itu bahkan memperlakukan istrinya dengan semakin manis saja. Dia tidak sungkan menunjukkan kemesraannya di hadapan orang lain, bahkan saat sedang berada di rumah sakit sekalipun.


Sepertinya Evan sedang ingin menegaskan jika kondisi Carissa tidak akan mengubah perasaannya. Evan mencintai Carissa dan ingin selalu membahagiakan istrinya itu, apapun keadaannya.


Carissa merasa bahagia dan tersanjung, tapi di sisi lain dia juga sedih dan merasa bersalah. Kenyataan jika dirinya berbeda dari perempuan pada umumnya membuat kepercayaan dirinya agak goyah.


Suaminya selalu berusaha untuk membahagiakannya, tapi dia justru tak bisa memberikan suaminya itu seorang anak. Sungguh sebuah ironi.


Hari itu, setelah Evan pergi ke rumah sakit, Carissa tampak duduk di belakang piano dan memainkan jemarinya pada tuts-tuts piano sembari sesekali memejamkan matanya. Permainan piano yang sangat indah, tapi juga sedikit terdengar pilu, seperti kehidupan pernikahan Carissa saat ini.


Selesai dengan permainan pianonya, Carissa tak langsung beranjak. Dia tampak termenung dengan pikiran yang entah kemana. Carissa sangat ingin memberikan seorang anak untuk Evan, mungkin setelah ini dia harus meminta Evan agar segera memulai prosedur apapun yang memungkinkan dirinya untuk bisa hamil. Carissa bertekad untuk melakukan apapun asalkan dia bisa memberikan Evan keturunan.


Tiba-tiba Carissa di kejutkan oleh suara bel dari pintu apartemannya. Sepertinya ada seseorang yang datang bertamu.


Carissa bergegas menuju pintu dan melihat siapa yang berkunjung melalui layar monitor. Ternyata yang datang adalah Sonya, ibu mertua Carissa. Segera Carissa membukakan pintu dan mempersilahkan Sonya masuk.


Sonya duduk di ruang tamu sembari mengamati apartemen putranya. Tampaknya kehadiran Carissa telah membuat tempat tinggal Evan menjadi berbeda dari sebelumnya. Suasananya tampak lebih hidup dan menyenangkan. Memang benar jika sebuah rumah tidak akan sempurna tanpa sentuhan seorang perempuan.


"Minum dulu, Ma." Ujar Carissa sembari menghidangkan teh hangat dan cemilan di hadapan Sonya. Lalu Carissa juga ikut duduk di samping ibu mertuanya itu.


Sonya meraih cangkir teh di hadapannya, lalu menyesapnya sedikit sebelum meletakkannya kembali ke tempatnya semula.


"Apa Evan sibuk akhir-akhir ini?" Tanya Sonya.


"Kalian sudah agak lama tidak mengunjungi Mama, makanya Mama yang datang kesini." Tambah Sonya lagi.


"Maaf, Ma." Jawab Carissa tidak enak.


"Evan memang sibuk. Katanya dalam waktu dekat akan ada perluasan bangunan rumah sakit. Mungkin banyak yang harus di urusnya." Ujar Carissa memberi penjelasan.

__ADS_1


Sonya mengangguk menanggapi. Lalu keduanya terdiam agak lama. Sangat jelas terlihat jika ada yang ingin Sonya katakan, tapi tampaknya ibu mertua Carissa itu berusaha untuk menemukan kata-kata yang tepat.


"Carissa.." Panggil Sonya akhirnya.


Carissa mengangkat wajahnya dan melihat kearah Sonya.


"Mama sudah mendengar tentang kondisimu." Ujar Sonya lagi.


Carissa membeku tanpa mengatakan apa-apa. Dia tidak tahu bagaimana harus menanggapi Sonya saat ini. Entah bagaimana sikap Sonya padanya setelah mengetahui tentang kondisinya, yang jelas Carissa harus menyiapkan hati, telinga dan juga mentalnya untuk menghadapi segala kemungkinan yang ada.


"Mama tidak menyangka jika sejarah akan terulang kembali. Apa yang Mama alami dulu, sekarang terjadi juga pada menantu Mama." Desah Sonya dengan nada sedih.


Carissa masih terdiam dan tak mengeluarkan suara.


"Lalu langkah apa yang akan kalian ambil?" Tanya Sonya kemudian pada Carissa.


Carissa kembali mengangkat wajahnya, kemudian menunduk dengan raut wajah yang tak kalah sedihnya.


Sonya tampak terdiam, kemudian dia melihat kearah Carissa dengan raut wajah yang lebih serius.


"Apa kamu sudah memikirkan kemungkinan terburuknya?" Tanya Sonya lagi.


Carissa tampak menautkan kedua alisnya. Dia agak tidak mengerti dengan pertanyaan Sonya kali ini.


Sonya menghela nafasnya, lalu mengalihkan pandangannya kearah depan.


"Waktu itu Mama juga sama sepertimu, Mama berpikir jika Mama masih bisa hamil meski dalam kondisi yang seperti ini. Mama menjalani banyak prosedur yang di sarankan dokter kandungan agar bisa hamil, serta menahan segala rasa sakit dalam setiap prosedur yang di jalani. Tapi tidak peduli sebanyak apapun Mama berusaha, Mama ternyata tetap tidak kunjung hamil juga. Bahkan prosedur bayi tabung yang telah beberapa kali di lakukan pun tetap tidak berhasil."


Sonya menghela nafasnya.


"Hingga akhirnya Mama merasa lelah dan berhenti melakukan itu semua. Lalu kemudian kami mengadopsi Evan."

__ADS_1


Sonya kembali melihat kearah Carissa.


"Evan pasti sudah cerita jika kami adalah orang tua angkatnya?" Tanya Sonya.


Carissa menangguk.


"Keluarga kami akhirnya bahagia dengan kehadiran Evan. Tapi tentu jauh di dasar hatinya, Papa Evan sesungguhnya masih menyimpan keinginan untuk memiliki anak sendiri. Rasa cintanya yang besar Pada Mama membuatnya menyembunyikan hal itu rapat-rapat. Dan lagi, karena dia berasal dari keluarga besar dan banyak saudara sepupu, membuatnya tidak terlalu merasa kesepian meski tak mempunyai anak."


Sonya kembali terdiam beberapa saat.


"Tapi Carissa, Evan berbeda dengan Papanya. Sebelum kami adopsi, dia adalah anak malang yang tak punya siapa-siapa. Dia hidup sebatang kara tanpa keluarga yang mempunyai ikatan darah dengannya. Jika kalian berakhir dengan mengadopsi anak seperti kami, maka selamanya Evan tidak akan punya seseorang yang memiliki kesamaan genetik dengannya, yang artinya dia tetap sebatang kara hingga akhir. Itu terlalu menyedihkan untuknya."


Carissa semakin tidak mengerti dengan yang Sonya katakan.


"Ma-maksud Mama?" Tanya Carissa dengan terbata.


Sonya meraih tangan Carissa dan mengenggamnya erat.


"Carissa, bagi Mama, kamu adalah satu-satunya istri Evan dan menantu yang Mama sayangi. Apapun keadanmu, Mama hanya ingin kamu yang menjadi menantu Mama. Tapi Carissa, Mama minta padamu agar kamu memberikan Evan kesempatan untuk mendapatkan keturunan." Sonya tampak menatap Carissa dengan penuh harap.


Carissa melihat kearah Sonya dengan penuh tanda tanya. Dia semakin tidak mengerti dengan apa yang Sonya katakan. Apakah ibu mertuanya ini sedang memintanya untuk mengizinkan Evan punya anak dengan perempuan lain? Begitukah?


"Ma, aku tidak mengerti dengan yang Mama katakan." Ujar Carissa dengan suara yang agak tergetar.


"Mama sedang memohon kebijaksanaanmu, Carissa. Kamu tidak perlu menjalani prosedur menyakitkan yang akhirnya tidak menghasilkan apa-apa." Sonya mengenggam jemari Carissa dengan semakin erat.


"Akan lebih baik jika kamu mempertimbangkan untuk mencari rahim pengganti yang bisa mengandung anak kalian."


Bersambung...


Jgn bosen buat nungguin kelanjutannya ya

__ADS_1


Happy reading❤❤❤


__ADS_2