WITH YOU

WITH YOU
Berusaha Melapangkan Hati


__ADS_3

Evan tak menjawab kata-kata Carissa. Dia diam dengan mata yang masih menatap lekat kearah istrinya itu. Tatapan matanya terlihat agak sendu, seperti menyimpan sebuah luka yang berusaha dia tutupi.


"Sejahat apapun Papaku, dia tetaplah orang yang telah membawaku ke dunia ini. Dia telah membesarkanku dengan penuh kasih sayang, hingga sekarang aku bisa ada di sini sebagai istrimu. Meski saat ini Papa sudah meninggal, hubungan dengan Papa tetaplah menjadi sesuatu yang berharga untukku. Aku tidak bisa membuangnya, Evan. Meski aku harus kehilangan segalanya, aku tetap tidak akan membuang semua kenangan yang di tinggalkan Papa padaku. Aku akan tetap menjalani hidupku sebagai putrinya."


Evan tertegun dengan pandangan yang mulai meredup.


"Dan aku juga tidak bisa membuang nama Nugraha dari namaku. Mama telah mengorbankan hidup dan perasaannya demi untuk menyematkan nama itu di belakang namaku. Semua yang telah Mama lakukan untukku, aku belum bisa membalasnya sedikit pun hingga hari ini. Hanya rasa terima kasih saja yang bisa aku ucapkan padanya, dan rasa terima kasih itu aku tunjukkan dengan menghargai setiap hal yang sudah Mama berikan, termasuk nama Nugraha di belakang namaku."


Carissa terdiam sesaat, kemudian menatap Evan dengan penyesalan yang dalam.


"Maafkan aku, Evan. Aku tidak bisa memenuhi permintaanmu. Aku tidak bisa memutuskan hubungan dengan keluargaku." Lirih Carissa sambil menurunkan pandangannya.


Evan tertegun tanpa mengeluarkan suaranya untuk beberapa saat. Lalu tanpa Carissa duga, Evan tampak mengangguk-anggukkan kepala, seakan setuju saja dengan apa yang Carissa sampaikan.


"Tidak apa-apa..." Ujarnya dengan nada yang juga lirih. Jelas terdengar jika kalimat yang di katakannya penuh dengan ironi. Tapi Evan berusaha tersenyum pada Carissa. Dia melangkahkan kakinya perlahan, lalu duduk di pinggiran tempat tidur menghadap kearah istrinya itu. Lalu di belainya wajah Carissa dengan lembut.


Kini berganti Carissa yang tertegun mendapat perlakuan dari Evan.


"Tidak apa-apa, Carissa. Maafkan aku karena sudah meminta sesuatu yang tidak semestinya di katakan oleh seorang suami pada istrinya." Evan berusaha untuk tersenyum sekali lagi pada Carissa. Tapi Carissa sangat tahu jika ada kegetiran yang berusaha Evan tutupi di balik senyumnya itu.


Sungguh Carissa lebih ingin melihat Evan melampiaskan kemarahan dan kekecewaannya agar hatinya bisa merasa lega, di bandingkan dia berpura-pura tegar seperti ini.


"Jangan di pikirkan lagi. Ingat apa kata Dokter Grace, kamu tidak boleh sampai merasa stres. Nanti akan berpengaruh buruk untuk calon anak kita." Ujar Evan lagi sambil mengusap perut Carissa lembut.


Carissa tak menjawab. Dia hanya bisa melihat wajah suaminya itu dengan rasa bersalah yang menghujam di seluruh ruang hatinya. Sangat jelas jika Evan terluka, tapi Evan berusaha untuk tak ikut melukainya juga.

__ADS_1


"Tidurlah, ini sudah malam." Ujar Evan lagi sambil membimbing Carissa untuk berbaring. Carissa menurut. Dia membaringkan tubuhnya tanpa mengeluarkan sanggahan. Di rasakannya Evan menarik selimut dan menyelimuti tubuhnya hingga sampai ke dada.


Evan kembali mengusap lembut pucuk kepala Carissa, layaknya seorang ayah yang sedang mengantarkan putrinya tidur. Dada Carissa seketika bergemuruh dengan emosi yang bercampur aduk. Di genggamnya jemari Evan yang sedang membelai kepalanya.


"Berbaringlah juga..." Pinta Carissa dengan suara yang agak serak. Sangat sulit rasanya dia berbicara dengan suara normal saat ini. Tenggorokannya seperti tercekat.


"Baiklah." Ujar Evan sembari ikut berbaring di samping Carissa. Carissa langsung beringsut merapatkan tubuhnya pada Evan. Di peluknya suaminya itu dengan perasaan yang bercampur aduk.


Carissa merasakan tubuh Evan dingin dan sedikit gemetar. Entah apa yang sedang berusaha Evan tahan saat ini. Rasa marahkah? Atau rasa sakit yang tak terkira? Yang jelas Evan tampak sedang berjuang untuk mengendalikan sesuatu yang bergejolak di dalam dirinya.


Carissa sangat tahu jika Evan tidak sedang baik-baik saja.


Carissa terisak di dalam pelukan Evan. Dia tahu jika telah membuat Evan semakin merasa sakit, dan hatinya juga ikut merasa sakit. Tapi Carissa tidak tahu apa yang harus dia lakukan selain ini. Dia tidak ingin kehilangan keluarganya, tapi di sisi lain dia juga tidak ingin kehilangan suaminya.


"Maafkan aku, Evan..." Carissa meminta maaf dengan sepenuh hati.


Carissa semakin terisak sambil memeluk Evan erat. Sedangkan Evan sendiri masih terus mengusap lembut rambut Carissa.


"Jangan menangis lagi, Carissa. Tidurlah..." Pinta Evan. Tapi airmatanya justru luruh saat meminta istrinya itu untuk tidak menangis.


Evan tidak menyangka jika perlu pengorbanan yang begitu besar untuk memenuhi sumpah yang pernah dia ucapkan pada Carissa. Sumpah untuk tetap hidup sebagai suami dari seseorang yang saat ini sedang terisak di pelukannya.


"Jangan membenciku, Evan. Aku mohon padamu. Aku tahu aku egois dan hanya memikirkan diriku sendiri. Tapi tolong jangan membenciku.." Ujar Carissa di tengah isakannya.


"Aku bisa menanggung apapun di dunia ini, tapi aku tidak sanggup menanggung kebencianmu." Carissa semakin terisak saat mengatakan kalimat terakhirnya. Dia semakin merasa bersalah karena telah begitu banyak menuntut pada Evan, di saat dia sendiri tak bisa memenuhi tuntutan dari suaminya itu.

__ADS_1


Evan terdiam dan tak menjawab, hingga Carissa semakin mengeratkan pelukannya.


Evan tidak mengerti, bagaimana bisa mencintai seseorang bisa sesakit ini? Dia ingin terus mengenggam tangan Carissa, tapi di sisi lain Carissa menolak membuang belati yang melukainya hingga berdarah-darah.


Kini yang bisa Evan lakukan hanyalah menahan seorang diri rasa sakit itu, demi perempuan yang di cintainya ini, demi keutuhan rumah tangganya, demi calon anak yang kini bersemayam di dalam rahim Carissa, dan juga demi sumpah yang pernah dia ucapkan pada istrinya ini.


Evan memejamkan matanya sejenak, mencoba meredam gemuruh di dalam dadanya.


"Kenapa aku harus membencimu? Kamu adalah istriku, ibu dari calon anakku yang akan segera lahir. Berhentilah memikirkan yang tidak-tidak." Ujar Evan masih dengan nada lembutnya.


"Maafkan aku..." Ujar Carissa sekali lagi.


"Maaf untuk apa? Kamu tidak melakukan kesalahan apapun. Kenapa harus meminta maaf?" Tanya Evan sambil terus membelai kepala Carissa.


"Aku egois..." Gumam Carissa dengan suara serak.


Evan terdiam sesaat dengan pandangan yang agak menerawang.


"Tidak apa-apa sesekali menjadi egois. Semua orang di dunia ini tidak ada yang tidak pernah menjadi egois." Ujar Evan lagi.


Carissa terdiam dengan perasaan yang semakin merasa bersalah. Sedangkan Evan masih menerawang dengan tangan yang terus mengusap lembut kepala Carissa. Di helanya nafas panjang untuk sedikit mengurangi rasa sesak di dadanya.


Evan mencoba berdamai dengan perasaannya sendiri, berusaha melapangkan hatinya untuk menerima kenyataan yang ada.


Bersambung...

__ADS_1


Entah siapa yang egois di antara mereka, yg jelas emak sedih ini jadinya😔


Happy reading❤❤❤


__ADS_2