
Dokter Grace akhirnya datang dan memeriksa Carissa di ruang bersalin. Tampak dokter kandungan itu tersenyum tipis melihat ekspresi Evan yang terlihat sulit untuk dijelaskan. Dia pun keluar ruang bersalin dan menemui Sonya serta Zacky yang menunggu di luar.
"Nyonya Carissa hanya mengalami kontraksi palsu, belum ada tanda-tanda akan melahirkan." Ujar Dokter Grace.
"Kontraksi palsu?" Sonya tampak tidak mengerti.
"Benar, Nyonya. Kontraksi palsu sangat umum terjadi pada trimester ketiga kehamilan. Biasanya karena kelelahan, stres, atau beberapa penyebab lainnya. Tidak berbahaya, juga tidak perlu penanganan khusus, karena biasanya rasa sakitnya hanya sebentar dan akan hilang dengan sendirinya." Jawab Dokter Grace menjelaskan.
Sonya tampak tertegun selama beberapa saat.
"Jadi, yang tadi itu bukan karena Carissa akan melahirkan?" Tanya Sonya lagi. Maklum saja, ibu mertua Carissa ini tidak punya pengalaman melahirkan, jadi dia tidak tahu dengan hal-hal seperti ini.
"Kontraksi yang sebenarnya akan datang bersama tanda-tanda yang lain, misalnya keluar bercak darah dari jalan lahir, atau rembesan air ketuban. Lagipula, rasa sakitnya terus berlanjut bersamaan dengan bertambahnya pembukaan di jalan lahir. Untuk saat ini, Nyonya Carissa belum menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan." Terang Dokter Grace lagi.
"Oh, begitu." Gumam Sonya. Tampak dari wajahnya jika dia sedikit kecewa. Tadinya dia begitu cemas dan panik, tapi disisi lain dia juga merasa senang karena akan segera bertemu dengan cucunya. Agaknya sang cucu yang masih berada dalam kandungan itu ingin sedikit mengerjai kedua orang tuanya, bahkan kakek dan neneknya juga.
Tak lama kemudian, Evan juga keluar dari ruang bersalin.
"Tapi sebenarnya dari tadi saya agak bertanya-tanya." Ujar Dokter Grace sambil melirik sekilas kearah Evan.
"Mungkin saja jika Nyonya Sonya dan yang lainnya tidak paham dan mengira jika Nyonya Carissa benar-benar akan melahirkan, tapi bukankah harusnya Direktur paham? Meskipun bukan ahli kandungan, tapi sebagai seorang dokter, setidaknya tahu tanda-tanda umum orang yang akan melahirkan."
Evan tampak tersenyum kecut mendengar kata-kata Dokter Grace barusan.
"Benar, harusnya aku tahu jika yang dialami Carissa tadi cuma kontraksi palsu. Mungkin karena terlalu panik, isi otakku jadi agak buyar." Ujar Evan akhirnya.
Dokter Grace tertawa kecil.
"Kalau begitu, saya permisi dulu, Direktur. Jika Nyonya Carissa ingin beristirahat dengan lebih nyaman, saya sarankan untuk pulang saja dulu, mengingat saat ini belum ada tanda-tanda ia akan melahirkan."
Evan mengangguk mengiyakan.
"Terima kasih, Dokter Grace." Ujar Evan.
"Sama-sama."
Setelah berpamitan pula dengan Zacky dan Sonya, Dokter Grace pun berlalu.
Akhirnya, Carissa kembali dibawa pulang. Zacky mengantarkan Evan dan Carissa langsung ke apartemen. Sementara mobil Evan yang ada di rumah orang tuanya diantarkan oleh sopir Zacky.
__ADS_1
Sesampai di apartemen, Carissa langsung berbaring di kamar. Dia bahkan tidak melihat lagi saat Mama dan Papa mertuanya berpamitan pulang.
Carissa malu. Tadi dia sudah kesakitan dengan sangat heboh seperti orang yang benar-benar akan melahirkan, hingga semua orang menjadi panik dibuatnya. Tapi ternyata itu hanya kontraksi palsu. Rasanya benar-benar seperti ingin menggali sebuah lubang dan bersembunyi di sana selamanya.
"Kenapa?" Tanya Evan saat menyadari Carissa tak mengeluarkan suara sedikitpun sejak kembali dari rumah sakit.
"Tidak ada. Aku hanya lelah dan ingin segera tidur." Jawab Carissa sambil mengantur posisi tidurnya dan berusaha memejamkan mata.
"Tidak perlu merasa buruk. Setiap pasangan yang menantikan kelahiran anak pertama mereka memang serigkali terkecoh dengan kontraksi palsu. Banyak yang datang ke rumah sakit seperti kita tadi, lalu kembali lagi, jadi tidak masalah." Ujar Evan.
Carissa diam dan tak menjawab.
"Jika ada yang merasa malu, itu harusnya aku. Aku seorang dokter, tapi tidak menyadari yang kamu alami tadi adalah kontraksi palsu. Mungkin karena tadi aku terlalu antusias, antara senang dan juga panik." Tambah Evan lagi sambil memeluk Carissa lembut.
"Anak kita sepertinya agak jahil, tapi kali ini aku tidak akan terkecoh lagi." Ujar Carissa akhirnya.
Evan tertawa kecil.
"Benar, dia agak nakal. Oma dan Opanya juga sampai tertipu tadi." Ujar Evan sambil mengusap perut Carissa.
Evan mendekatkan wajahnya dan memberi kecupan di perut yang sudah sangat membulat itu.
Carissa tersenyum. Diangkatnya wajah Evan, lalu dikecupnya pula kedua pipi suaminya itu.
Perasaan Carissa sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Keduanya pun akhirnya sama-sama tertidur sambil saling memeluk.
Evan terbangun saat matahari sudah agak meninggi. Entah kenapa kali ini dia terbangun agak terlambat. Dilihatnya tempat tidur di sebelahnya kosong. Tampaknya Carissa telah bangun terlebih dulu.
Evan langsung bangkit dari tempat tidur dan langsung membersihkan diri. Setelah berganti pakaian, dia keluar kamar untuk mencari Carissa.
"Sayang." Panggil Evan sambil berjalan kearah dapur.
Tidak ada sahutan, hingga Evan pun bergegas memeriksa ruang dapurnya.
"Carissa?" Evan terbelalak kaget saat mendapati Carissa terduduk di lantai salah satu sudut dapur apartemennya.
"Sedang apa kamu duduk disitu?" Tanya Evan heran.
Carissa tak menjawab. Hanya matanya saja yang terus melihat kearah Evan. Wajahnya terlihat pucat, dan dahinya penuh dengan keringat.
__ADS_1
"Kamu kenapa?" Tanya Evan sambil berjongkok di depan istrinya itu.
Carissa masih terdiam.
"Perutku sakit lagi..." Akhirnya dengan suara yang terdengar takut-takut Carissa menjawab.
Evan menautkan kedua alisnya dan memperhatikan pakaian bagian bawah Carissa yang tampak basah.
"Sejak kapan sakitnya terasa lagi?" Tanya Evan.
"Sejak subuh tadi..." Carissa menjawab masih dengan suara lirih.
"Kenapa kamu tidak membangunkanku, Sepertinya kali ini kamu benar-benar akan segera melahirkan. Lihat, air ketubanmu juga tampaknya sudah pecah." Segera Evan membopong tubuh Carissa dan membawanya keluar apartemen dengan sigap. Evan pun mengendarai mobilnya membawa Carissa ke rumah sakit
"Masih bisa di tahan?" Tanya Evan sambil melihat sekilas kearah Carissa dengan agak panik.
Carissa mengangguk. Sebenarnya rasa sakitnya sudah mulai tak tertahankan lagi. Sejak subuh tadi dia menahan rasa sakit seorang diri karena tidak mau menanggung malu lagi dan beranggapan jika itu kontraksi palsu lagi.
Tak lama kemudian, Carissa dan Evan sampai di rumah sakit. Carissa langsung mendapatkan pertolongan dan dibawa keruang bersalin.
"Sudah pembukaan enam, kepala janin sudah masuk sepenuhnya kedalam rongga panggul. Kita tidak punya banyak waktu lagi, cepat siapkan peralatannya." Seru Dokter Grace pada para perawat.
"Baik, Dok." Para perawat itu dengan sigap menyiapkan semua peralatan untuk persalinan.
"Dokter, kali ini saya benar-benar akan melahirkan?" Tanya Carissa dengan nafas pendek-pendek karena menahan sakit.
"Benar, Nyonya. Sekarang Anda benar-benar akan melahirkan. Bukan kontraksi palsu seperti semalam."
"Oh, akhirnya..." Gumam Carissa dengan suara yang tak lagi ditahan.
Dokter Grace dan Evan tampak saling pandang tak mengerti.
"Kalau sudah benar-benar akan melahirkan, aku tidak malu lagi kalau harus menjerit karena kesakitan." Ujar Carissa lagi. Nafasnya kian memburu dan peluhnya semakin banyak.
Dokter Grace agak tertegun mendengar kata-kata Carissa, begitu pun dengan Evan. Keduanya tidak mengerti apa yang ada dalam pikiran Carissa saat ini.
Bersambung...
Tetap like, komen dan vote
__ADS_1
Happy reading❤❤❤