WITH YOU

WITH YOU
Tuluskah Perasaannya?


__ADS_3

Suasana hening sejenak. Evan dan Carissa terkesiap secara bersamaan saat Sonya dan Zacky akhirnya menyadari siapa Jonathan. Begitu pula dengan Geraldyn. Gadis itu terlihat hampir tak bisa bernafas.


Tampaknya kedatangan Jonathan untuk bergabung makan malam dengan keluarga suami Carissa benar-benar hal yang buruk. Geraldyn tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini.


Diluar dugaan semua orang, Jonathan tersenyum sambil meneruskan makannya dengan santai, seakan tak ada hal yang mengganggunya.


"Ternyata ingatan Tuan dan Nyonya bagus juga. Saya pikir sampai makan malam ini selesai, kalian tetap tidak akan ingat pada saya. Hampir saja saya kecewa karena terlupakan begitu saja. " Ujar Jonathan sembari memotong-motong makanan di piringnya, lalu memasukannya ke dalam mulut.


Ekspresi wajah orang tua Evan itu agak berubah. Mereka melirik kearah Evan dan Carissa, memastikan anak dan menantunya itu tak merasa terganggu dengan kehadiran Jonathan.


"Maafkan saya, Nyonya, Tuan. Seharusnya saya mencegah Jonathan agar tidak datang kemari. Kalian pasti merasa tidak nyaman." Geraldyn bangkit dari kursinya dan membungkuk pada Sonya dan Zacky.


"Kenapa kamu harus meminta maaf, Sayang?" Jonathan meraih tangan Geraldyn dan membimbing gadis itu untuk kembali duduk di kursinya.


"Jika kehadiran saya disini membuat semua orang merasa tidak nyaman, sayalah yang harus meminta maaf dengan Tuan dan Nyonya." Berganti Jonathan yang bangkit dan membungkuk pada Sonya dan Zacky.


Kedua orang tua Evan itu tampak agak bingung dan tak tahu harus menanggapi dengan bagaimana. Carissa dan Evan juga terperangah melihat tindakan Jonathan, apalagi Geraldyn. Gadis itu kini menatap kearah Jonathan dengan tatapan tak percaya.


Semuanya tak memahami apa yang saat ini Jonathan coba lakukan.


"Tidak perlu seperti itu, Tuan Jonathan. Silahkan kembali duduk di kursi Anda lagi." Zacky mempersilahkan Jonathan untuk kembali duduk.


Jonathan tersenyum dan duduk kembali di kursinya.


"Anda adalah tamu kami. Kami yang harusnya minta maaf karena membuat Anda merasa tidak nyaman. Tolong lanjutkan makan malam Anda." Ujar Zacky lagi.


Jonathan kembali tersenyum.


"Terima kasih." Ujarnya.


Jonathan kembali meneruskan makannya seolah tak terjadi apa-apa. Sedangkan yang lain tampak berjuang sekuat tenaga untuk menghabiskan isi dari piring mereka masing-masing.


Tak lama kemudian, Jonathan terlihat telah menghabiskan makan malamnya. Ia meneguk air putih di hadapannya dan menyeka bibirnya dengan tisu.

__ADS_1


"Terima kasih atas makan malamnya, Tuan, Nyonya." Ujar Jonathan pada Zacky dan Sonya.


"Sebenarnya kedatangan saya kesini selain untuk mengikuti pacar saya, saya ingin menyampaikan sesuatu pada Tuan Evan dan Carissa." Jonathan beralih pada Evan dan Carissa yang sedari tadi tak mampu mengatakan apapun.


"Apa yang ingin kamu sampaikan, Jonathan?" Tanya Carissa kemudian.


Jonathan tersenyum sekilas pada Carissa.


"Ternyata kamu tetap tak bersahabat padaku sampai akhir, ya. Konsisten sekali." Jonathan sedikit berseloroh.


"Tapi tidak perlu khawatir. Aku tidak akan mengganggu kehidupanmu lagi. Hiduplah bahagia dengan suamimu. Aku tidak merasa kesal lagi karena dulu kamu membatalkan pertunangan kita, karena sekarang aku sudah menemukan seseorang yang jauh lebih menarik daripada dirimu." Jonathan bergumam dengan entengnya.


Carissa tampak kehabisan kata-kata mendengar apa yang diucapkan Jonathan tadi.


"Seseorang yang kini membuatku ingin menjalin hubungan sekali lagi." Jonathan kembali meraih punggung tangan Geraldyn dan mencium tangan itu dengan lembut.


Sekali lagi Carissa hanya bisa terperangah tanpa bisa mengatakan apapun.


"Baiklah, sepertinya tidak ada lagi dendam masa lalu antara Tuan Jonathan dan menantuku. Aku lega mendengarnya." Terdengar suara Sonya menanggapi.


Geraldyn tampak terkejut mendengar penuturan Jonathan yang terakhir tadi. Wajah gadis itu menunjukkan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.


"Sejak kapan kamu jadi calon suamiku?" Tanya Geraldyn tiba-tiba.


Jonathan menoleh kearah Geraldyn dan tersenyum.


"Sejak kapan? Tentu saja sejak kamu setuju untuk jadi pacarku. Bukankah setiap hubungan romantis akan bermuara pada pernikahan?"


Geraldyn terlihat tidak terima mendengar kata-kata Jonathan.


"Aku setuju menjadi pacarmu, bukan berarti aku setuju menjadi calon istrimu." Ujarnya lagi.


Jonathan tampak pura-pura terkejut mendengar kalimat yang diucapkan Geraldyn barusan.

__ADS_1


"Apa maksudmu? Apa kamu berniat mencampakkan aku? Jika kamu tidak berniat menikah denganku, lalu kenapa kamu setuju menjadi pacarku?" Tanya Jonathan lagi dengan ekspresi seperti seseorang yang sedang sangat teraniaya.


Geraldyn ingin kembali mengatakan sesuatu, tapi kata-katanya hanya keluar sebagai helaan nafas saja. Ia benar-benar tidak tahu lagi bagaimana caranya agar bisa terlepas dari jerat lelaki setengah gila ini, Jonathan Hansen.


Berawal dari terpaksa menjadi partnernya, lalu terpaksa menjadi pacar, akankah setelah ini Geraldyn akan berakhir dengan menjadi istrinya juga.


Oh, tidak. Jonathan si berengsek sialan yang selalu ingin dia hajar meski hanya dalam mimpi, akankah Geraldyn benar-benar menghabiskan sisa hidupnya dengan orang itu?


"Sayang, kenapa ekspresi wajahmu seperti itu? Apakah kamu juga menganggap aku begitu buruk sampai tidak sudi menikah denganku? Apakah kamu juga akan memilih jalan seperti Carissa, meninggalkanku dan menikah dengan lelaki lain?"


Suasana kembali hening selama beberapa saat. Semua mata tampak tertuju pada Jonathan dan Geraldyn. Jika sebelumnya lelaki itu terlihat sedang bermain-main, kali kata-katanya benar-benar terdengar sendu.


Ya, untuk sesaat Jonathan hilang kendali dan terbawa perasaan. Awalnya dia hanya ingin memainkan kata dihadapan semua orang agar Geraldyn menjadi semakin terikat padanya, tapi siapa sangka dia justru kehilangan kepercayaan diri dan menjadi takut ditinggalkan sungguhan.


"Karena kami terlanjur menyaksikan ini, apa saya boleh memberi saran, Tuan Jonathan?" Suara Zacky terdengar menginterupsi.


"Ya?" Jonathan beralih melihat kearah Zacky.


"Jika Anda memang punya perasaan yang tulus terhadap Nona Geraldyn, Anda harus memperjuangkannya dengan sepenuh hati. Meskipun saat ini Nona Geraldyn belum sepenuhnya membuka diri pada Anda, saya yakin suatu hari ini dia hanya akan melihat kearah Anda saja. " Ujar Zacky lagi.


Jonathan tampak tertegun mendengar kata-kata Zacky.


"Setiap perempuan hampir sama, mereka ingin dicintai dengan tulus. Sekarang pertanyaannya ada pada diri Anda sendiri, apakah saat ini Anda benar-benar tulus pada Nona Geraldyn?"


Jonathan membeku mendengar pertanyaan dari Zacky. Sebuah pertanyaan yang tak pernah dia pikirkan sebelumnya, apakah dia tulus terhadap Geraldyn?


Awalnya dia ingin kembali mendekati Carissa lewat Geraldyn, tapi justru kemudian Geraldyn memberinya tamparan dengan kata-kata tajam yang membuatnya sadar untuk tidak mengusik hidup Carissa lagi. Sejak saat itu Jonathan menganggap gadis itu menarik dan menjadikannya sebagai pacar meski dengan sedikit tipu muslihat.


Lalu pertanyaannya, tuluskah perasaannya? Entahlah, Tuhan saja yang tahu seperti apa sebenarnya perasaannya saat ini.


Bersambung...


Tetap like, komen dan vote

__ADS_1


Happy reading❤❤❤


__ADS_2