
Dua hari berlalu merek masih tetap sama saling mendiami satu sama lain. Devan tak ingin menganggu istrinya karena dia tahu jika Adelia masih marah dengannya. Mereka memang tidur di ranjang yang sama. Makan di meja yang sama. tapi itu tidak membuat keduanya akur dengan cepat.
ketika mereka berpapasan, maka Adelia akan menghindar. Padahal rumah mereka tidak terlalu besar untuk saling menghindari satu sama lain. Tapi itu adalah sifat asli Adelia yang selalu ngambek ketika ada rahasia yang masih disembunyikan oleh Devan.
"Adel, ayolah! Jangan marah terus dong! Aku nggak mau kalau kamu marah terus sama aku," Adelia melirik sejenak kemudian mengabaikan apa yang dikatakan oleh suaminya itu
Adelia juga sebenarnya tak ingin marah dengan suaminya. Tapi melihat ada sesuatu yang tidak beres membuatnya harus bersikap seperti itu hingga suaminya bisa mengerti dengan apa yang dia inginkan.
Adelia tak menggubris apapun yang dikatakan oleh Devan tadi. Dia masih tetap sama seperti dua hari belakangan ini.
"Kenapa kamu yang justru bilang aku nggak usah marah? Seharusnya kamu ngerti apa yang aku mau, Devan,"
Pria itu menghela napasnya dan langsung menarik tangan Adelia yang hendak pergi. Jujur saja dia merasa frustrasi jika bermasalah dengan istrinya. Devan tak pernah mau ribut dengan istrinya.
"Kamu marah dari kemarin dan nggak mau negur aku cuman untuk basa basi apa kek? Misal kamu tanyain aku baik-baik saja atau enggak,"
"Aku lihat kamu baik-baik aja. Nggak sakit tuh," balas Adelia dengan jutek.
Devan lagi-lagi harus bisa menahan sabarnya ketika melihat istrinya yang kekanakan seperti itu. Adelia memang punya sikap yang menyebalkan ketika mereka berdua baru bertemu pun perempuan itu sudah menguji kesabarannya. Ditambah lagi seperti sekarang ini. Devan memang tak suka berselisih dengan istri tercintanya.
Adelia menurunkan tangan suaminya yang tadi memegang pergelangan tangannya dan berharap Devan mengejarnya lalu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
pria itu hanya bisa bersabar ketika melihat istrinya yang seperti itu. Andai saja bukan karena mertuanya, dia juga tak akan pernah pergi meninggalkan kota ini dan tinggal di luar bersama dengan Adelia. Sudah dua kali mereka menghindar. Pertama dari keluarganya sendiri, kedua kali ini akan menghindari keluarga istrinya.
Sementara itu Devan masih berada di sofa ruang tamu. Sedangkan istrinya tetap marah dengannya.
Saat dia memijit pelipisnya karena tidak bisa berpikir jernih karena istrinya.
Ketika dia sedang berpikir kacau, tiba-tiba telepon masuk dan membuat Devan tersadar dari kekesalannya. "Jesse?" ucapnya dengan pelan.
__ADS_1
Devan langsung menjawab telepon adiknya. "Ada apa, Jesse?"
"Kak, lusa kakak berangkat ya. Aku sudah pesan tiket untuk kalian berdua. Jadi jam berangkatnya pagi, tapi aku jemput kalian tengah malam nanti, aku nggak mau ketahuan sama orang-orang suruhan papa mertua kakak. Mereka semua ada di setiap sudut, ada yang pura-pura jualan. Ada yang pura-pura jadi sopir taksi online. Ada juga yang sengaja jadi tukang kebun, anak buah papa sudah awasi mereka dari kemarin. Kakak tenang saja, aku bakalan berusaha untuk buat mereka enggak ngikutin kita nantinya. Jadi kakak juga harus pintar-pintar ngomong sama kak Adel," ucap Jesse.
Bagaimana mungkin dia bisa berpikir jernih saat orang tuanya juga sudah memulai untuk membantunya seperti sekarang ini. terlebih juga adiknya yang sudah terlanjur memesan tiket. "Tujuan kakak ingat kan? Kakak bilang kakak mau tinggal di luar negeri,"
Ya, itu adalah pilihan Devan untuk tinggal di luar negeri. Karena, jika mereka tinggal di kota berbeda dari orang tua Adelia. Devan sangat mudah orang tua istrinya itu melacak keberadaan mereka.
"Sudahlah, Jesse. Kamu atur saja, kakak mau bujuk kakak ipar kamu yang sepertinya marah besar sama kakak," ucap Devan kepada adiknya kmeudian dia langsung mematikan teleponnya.
Devan beranjak dari tempat duduknya dan langsung mengahampiri kamar yang dia tempati dengan sang istri. Ini adalah hari terakhir mereka berada di rumah. karena nanti tengah malam, Jesse akan menjemputnya untuk pergi dari sana.
Maka dari itu, Devan harus bicara dulu kepada istrinya untuk menjelaskan bahwa ini semua tak ada niat buruk. Ini adalah alasan mengapa dia pergi merupakan cara untuk mempertahankan rumah tangganya bersama Adelia.
Begitu dia membuka pintu kamarnya. Dia melihat istrinya sedang memasukkan pakaian ke dalam koper. "Adel, kamu masih marah?"
"Kita kan mau pergi? Aku di hubungi sama Jesse kalau kita berangkat tengah malam nanti,"
"Tadi, waktu aku masuk ke kamar. Jadi dia hubungi aku duluan sebelum kamu,"
"Adel, aku nggak mau kita pergi dengan keadaan berantem, aku nggak mau berantem sama kamu,"
"Sudahlah, kalau kita mau pergi demi kebaikan, kenapa enggak?"
"Kamu nggak marah?"
Adelia menggeleng kemudian melanjutkan memasukkan pakaian ke dalam koper mereka. Devan yang ikut membantu memasukkan pakaian ketika Adelia sibuk mengambil pakaian di lemari dan kemudian diletakan diatas kasur. Dia pun memasukkan pakaian itu.
Devan langsung mengambil pakaian itu dan memasukkannya, akan tetapi ketika dia melihat ada sesuatu yang jatuh, Devan langsung membukanya yang ternyata itu adalah celana dalam Adelia.
__ADS_1
"Devan!!" pekik Adelia ketika Devan dengan polosnya membuka lipatan celana dalam itu sehingga terpampang nyata.
Adelia langsung merebut celana dalam itu. "Devan mesum," protes Adelia.
Pria itu langsung mengangkat sebelah alisnya ketika Adelia mengatakan dirinya mesum. Jangankan untuk celana dalam, yang ditutupi pakai itu saja sudah pernah dia lihat. Tapi dia justru tertawa karena ucapan istrinya itu terdengar sangat lucu.
"Mesum? Lebih mesum mana aku sama kamu? ingat ya kalau kita itu sudah nikah. Apa yang belum pernah aku lihat dari kamu, hah?" canda Devan yang membuat pipi Adelia merah seperti tomat matang yang langsung membuatnya tertawa.
"Devan nyebelin,"
"Nyebelin gini tapi aku sayang sama kamu. Daripada aku pintar gombal, kan? Jadi, aku nggak mau kalau aku pintar gombal eh nanti kebiasaan ke perempuan lain,"
"Emangnya kamu mau nyari lagi?"
"Enggak,"
"Alasannya?"
"Anak aku perempuan, jadi kalau aku permainkan hati orang lain. Itu sama aja aku nyiapin karma untuk diri aku sendiri. Jadi, kamu nggak usah tanggapi serius ucapan aku sayang,"
Devan berdiri kemudian mencium bibir Adelia dan melumatnya dengan sangat panas. Bagaimana mungkin dia tahan selama dua hari tidak mencium istrinya seperti sekarang ini. Lidah keduanya beradu, begitu dilepaskan Adelia menggigit bibir bawahnya. "Aku nggak ngerti lagi sama kamu, Devan. Setiap kali aku marah, aku nggak tahu kenapa aku cepat banget maafin kamu tanpa kamu minta maaf," isaknya.
"Itu karena kamu cinta sama aku,"
"Aku nggak pernah ngerasain hal itu sama orang lain," lanjut Adelia.
Dia langsung memeluk istrinya. "Aku udah berapa kali jelasin sama kamu? kalau aku tuh sayang sama kamu. Sayang sama anak kita, aku nggak mau pisah sama kamu. Jadi alasan aku mau pergi dari sini itu karena anak kita, aku nggak mau dipisahin sama kamu dan juga anak kita. Aku nggak mau kalau sampai ada apa-apa yang buat orang tua kamu marah sama aku, ujung-ujungnya kita yang dipisahkan. Aku takut hal itu terjadi, jadi biarin aku berjuang buat kamu. Aku bakalan lakukan hal apapun untuk mempertahankan pernikahan kita. Aku nggak mau ada orang ketiga, aku ajak kamu pergi karena aku tahu kalau Mama aku nggak bakalan pernah berhenti untuk ganggu hubungan kita. Belum lagi Mama minta agar Bianca itu gangguin aku. Jadi, aku harap kamu tetap sabar ngejalaninnya. Aku sama sekali enggak pernah niat untu berpaling dari kamu,"
Dia menjelaskan itu semua tanpa diminta. Dia tahu sumber masalah itu karena Adelia ingin dijelaskan sesuatu hal yang tak pernah diceritakannya.
__ADS_1
"Kalau terjadi sesuatu sama aku? Kamu mau bertahan buat aku?" tanya Adelia yang membalas pelukannya. Tanpa diminta pun dia akan tetap mempertahankan istrinya. Takdir memang serumit itu. Tapi Tuhan tak pernah memberi ujian dibatas kemampuan hamba-Nya. Yang suatu saat nanti Devan dan Adelia akan tetap bisa melewati cobaan itu perlahan dan pasti untuk menuju suatu kebahagiaan yang tak akan pernah digantikan oleh siapapun.