WITH YOU

WITH YOU
Membutuhkan Cinta


__ADS_3

“Kalau Papa boleh tahu, kenapa kamu pengin pisah sama Devan?”


Raka mencoba menanyakannya dengan cara yang baik. Raka tidak mau jika anaknya justru semakin kesal dengan Devan nantinya. Awalnya dia memang sudah berniat menerima menantinya itu. akan tetapi melihat Adelia yang sekarang dia menjadi semakin khawatir dengan putrinya. Barangkali ada banyak hal yang disembunyikan oleh Adelia.


“Papa pengin kamu jujur, Nak! Apa yang sebenarnya terjadi antara kamu, Devan dan juga ornag tuanya Devan? apa ada hal yang buat kamu sampai semarah ini? Devan waktu itu pengin jelasin sesuatu sama kamu. Tapi kamu malah nggak mau dengerin penjelasan dia dan minta pergi?”


Adelia mengangkat kepalanya kemudian menatap papanya dengan intens. Mata cokelatnya yang begitu tajam menyimpan arti yang begitu banyak. Ia menghela napas panjang, Adelia memang jarang sekali menceritakan masalah rumah tangganya kepada siapapun semenjak dia memilih untuk pergi dari rumah. Ketika dia begitu keras kepala meninggalkan keluarganya demi Devan yang hingga pada akhirnya membuatnya kecewa begitu saja.


“Pa, Devan bilang kalau dia pernah mau dijodohkan. Kedua, setelah menikahpun Mama sama Papanya begitu keras kepala mau jodohkan dia sama perempuan yang bernama Bianca. Setelah itu juga aku sama Devan akur lagi, tapi ketika akur. Papa justru buntuti kami berdua yang buat Devan usir adiknya sendiri dari rumah yang kami tempati itu. Terus, sebelum kami pergi dia sempat cerita kalau dia bakalan dijebak oleh mamanya agar Devan mau menikahi, Bianca,”


Nesya sialan. Raka mengumpat ketika itu. Tapi dia tidak mengeluarkannya dengan sangat jelas dia memang sangat kesal dengan kenyataan itu.


Seorang papa yang kali ini menjadi kepala rumah tangga dan juga menjadi pahlawan bagi anak perempuannya sedang menemani anak perempuannya curhat mengenai rumah tangganya. Raka memang tidak pernah mendengar curhatan anaknya mengenai rumah tangga. Mengingat Adelia juga yang tinggal jauh dengan dirinya yang memilih tinggal bersama dengan suaminya. Waktu itu untuk mendapatkan restu, Devan tidak pernah berhenti untuk datang ke rumahnya.


Sejenak dia mengela napas ketika dia memperhatikan putri kecil yang selalu dimanjakan dulu itu.


“Adel, besok Papa suruh Devan ke rumah gimana?”


Adelia menggeleng dengan segera. Tidak mau lagi bertemu dengan pria itu. entah apa pun alasannya, dia percaya cinta itu ada. Dia percaya dengan perasaannya kepada Devan itu memang benar nyata. Tapi, perlakuan Devan yang selalu menyembunyikan sesuatu darinya itulah yang membuatnya kesal sekarang ini. “Aku mohon jangan lakukan itu, Pa!” katanya memelas. Pergi dari kota ini, meninggalkan orang tua, serta Devan yang meninggalkan orang tua juga demi dirinya itulah yang menjadi pertanyaan Adelia sekarang ini. Dia tidak pernah benci terhadap pria itu. dia hanya benci dengan kebohongan yang dilakukan oleh Devan. karena pria itu semakin dicintai, semakin di dekati. Justru semakin sulit untuk dimengerti.

__ADS_1


Jika dengan menjauh adalah cara terbaik untuk melepaskan. Maka dia akan membiarkan pria itu untuk berhenti mencintai dirinya dan juga dia akan berusaha sebaik mungkin untuk mempertahankan kandungannya sendiri tanpa ditemani oleh Devan.


“Nak, kamu tahu kan kalau Mama kamu dulu pernah cerai juga waktu nikah yang pertama?”


“Tahu, buktinya dia bahagia sama Papa,”


Raka tersenyum, “Adel, Mama memang bahagia. Tapi tentang hatinya siapa yang tahu? Bagaimana kalau seandainya Mama ketemu sama orang masa lalunya? Apa kamu yakin Mama bakalan tetap bahagia? Adelia, tentang hati orang ya kita nggak bakalan tahu. Sekalipun Papa udah nikah sama Mama dan hidup puluhan tahun sama Mama. Papa nggak tahu tentang isi hati Mama kamu sampai sekarang ini. Yang Papa tahu dia adalah perempuan tabah yang bisa menerima kenyataan,”


Dia ingin menjelaskan tentang masa lalu istrinya. Sekalipun dia sebenarnya sangat berat mengatakan semuanya. Melihat keadaan sekarang yang di mana Adelia menganggap perceraian adalah hal yang sangat mudah. Tapi tidak pernah mudah seperti yang dikatakan sebagian orang. Ada anak yang menjadi alasan paling kuat untuk bertahan. Seperti sekarang ini. Dia ingat ketika dia menemani Fania dulu ketika hamil Rania kala itu. Dia benar-benar merasa sangat hampa dan juga merasa itu juga sangat sakit.


Setiap kali berpisah dan melanjutkan pekerjaannya dia harus menemani Fania ke manapun. Ketika itu mereka terpisah jarak. Hingga kemudian dia meminta Fania untuk tetap berada di sisinya agar dia bisa melindungi perempuan itu. tapi, nasib buruk lagi menimpa Fania. Perempuan itu justru kehilangan anak yang pernah menjadi penguatnya untuk tetap hidup. Justru Rania pergi untuk selamanya di tangan Reza sendiri. Namun, sedikitpun Raka tidak ingin membahas kejadian itu kepada Adelia. Karena dia masih berharap rumah tangga Adelia dan Devan masih bisa berlanjut.


Meski tidak semua hal tentang kehidupan Fania yang bisa dia jelaskan. Setidaknya itu memberikan gambaran untuk Adelia agar tidak mudah memutuskan untuk hidup sendiri. Tidak semua orang juga bisa menerima kehidupan anaknya di masa depan. Maka dari itu, Raka berusaha sebaik mungkin untuk terus membantu anaknya agar anaknya bisa hidup dengan baik.


Tidak ada anak yang mau orang tuanya berpisah. Sekasar apa pun, seberantakan apa pun. Kadang anak ingin tetap melihat orang tuanya baik-baik saja. Jika saja Adelia dan Devan berpisah ketika Adelia dalam keadaan hamil, itu akan sangat menyedihkan. Pertama, Adelia berjuang seorang diri untuk melahirkan seorang diri. Kedua, dia harus mendampingi anaknya hingga besar nanti. Harus menjadi tulang punggung juga. Sungguh, dia tidak bisa membayangkan hal itu terjadi pada anak dan juga cucunya.


Ketika melihat kesedihan di bola mata anaknya, Raka sedikit mengerti kali ini jika anaknya memang belum terlalu mengerti dengan rumah tangga. Tapi sudah berani mengambil risiko begitu besar tanpa memikirkan akibatnya nanti.


“Adel, kamu yakin mau pindah itu?”

__ADS_1


Adelia menganggukkan kepalanya. “Pa, aku udah yakin,”


“Boleh peluk, Papa? Biar Papa ceritain,” tawar Raka agar dia bisa menceritakan lebih banyak lagi mengenai rumah tangga. Mengenai masalah-masalah yang sering dihadapi oleh orang menikah. Tapi masih ada jalan keluar yang harus ditempuh. Tidak semua perpisahan adalah jalan terbaik untuk menyelesaikan masalah. Kadang, memberi kesempatan adalah cara terbaik untuk menyelesaikan masalah itu. devan juga yang mungkin akan datang ke tempat mereka untuk menyelesaikan masalah itu. Raka memang sedikit mengerti jika kali ini anaknya masih terlalu awam.


Saat Adelia mendekat, dia memeluk putrinya dan menyandarkannya dibahunya. “Papa sama Mama kenapa bisa awet sampai sekarang?”


“Itu karena Papa sama Mama kesampingkan ego, Adelia. Dulu Papa itu cuman karyawan biasa, Papa belum punya apa-apa waktu nikah sama Mama. Tapi Papa selalu berusaha, oke Papa memang punya kerjaan. Tapi nggak seperti sekarang, nggak punya kekuasaan yang begitu hebat untuk membuat ornag takut sama Papa. Tapi memang orang-orang nggak seharusnya ditakutkan. Papa itu nggak ada kekuatan untuk lindungi, Mama. Dalam arti Papa nggak bisa lindungi dia semisal orang punya kekuasan uang gitu,”


“Papa pernah ngerasa bosan sama, Mama?”


“Pernah, pasangan mana sih yang nggak pernah bosan sama pasangannya. Kamu juga pengin pisah sama Devan itu karena berada di fase bosan kamu sama dia. Tapi, alangkah baiknya Papa saranin kamu untuk sendiri beberapa waktu dulu. Nggak masalah kok kalau kamu pulang dulu dan biarin diri kamu sendiri terlebih dahulu. Memutuskan sesuatu itu butuh waktu, sayang. Nggak bisa dong kamu baru berantem gitu aja malah pengin pisah. Harus dipikirkan secara matang, toh cerai juga bukan hal yang mudah. Kamu nggak bisa kayak orang pacaran. Ini mengingat tentang status sayang. Bukan untuk senang-senang gitu, ya! Jadi kamu jangan pernah berpikir untuk pisah gitu aja sebelum mikirin ini semua. Kamu boleh marah sama Devan, kamu boleh juga pulang ke rumah orang tua kamu kalau ada masalah. Kamu sendiri untuk beberapa hari. Tapi, untuk pisah, jujur Papa nggak bakalan setuju, Adelia. Apalagi anak kamu perempuan. Yangpaling sulit itu adalah ketika nanti dia nanyain ke mana papanya. Apa sanggup kamu jawab? Mungkin iya secara materi kamu bisa bahagiain dia. Tapi, naluri seorang anak itu kamu pasti tahu, Adelia,”


Raka menjelaskan sedikit mengenai rumah tangga kepada anaknya agar Adelia lebih berpikir sedikit lebih luas lagi agar tidak memutuskan segala sesuatu hanya karena dia baru ditimpa oleh masalah. Rumah tangg itu adalah hal yang sangat sacral. Jadi kadang orang berdoa agar pernikahannya itu satu kali dalam seumur hidup. Sekalipun misalnya mampu dalam hal ekonomi. Dan memilih berpisah jika merasa tidak cocok lagi hanya karena pola pikir. Padahal tidak ada kekerasan dan sebagainya. Hanya saja pola pikirnya yang tidak sinkron. Memilih untuk tidak melanjutkan lagi dibandingkan dengan bertahan. Kadang, anak selalu menjadi korban.


 


 


Jika memang kecewa adalah alasannya. Maka, Raka juga pernah merasa sangat bosan kepada istrinya sendiri. Tapi, dia tidak pernah sekalipun berpikir untuk pergi jauh dari perempuan itu. justru dia mendekati istrinya agar rasa bosan itu hilang dan menumbuhkan cinta itu lagi.

__ADS_1


 


 


__ADS_2