
"Ma, Pa. Maafin Adelia yang harus pergi sama suami Adelia. Bukan karena Adel ingin menghindar dari kalian berdua. Tapi, Devan adalah suami Adelia yang di mana dia lebih bertanggung jawab untuk Adelia saat ini," ucap Adelia begitu mobil melaju menuju hotel di mana mereka akan menghabiskan waktu satu hari untuk istirahat karena besoknya mereka akan berangkat ke bandara. Adelia sudah memutuskan untuk pergi bersama dengan suaminya dengan menanggung risiko apapun yang terjadi. Bukan karena dia juga ingin ikut melawan papanya. Ini semua dilakukan agar rumah tangganya baik-baik saja dan Devan juga bisa bebas untuk merawat dirinya dan juga calon buah hati mereka.
Selama ini juga Devan selalu baik kepadanya. tak pernah melakukan hal buruk apapun. Justru semua yang tersimpan itu selalu diutarakan oleh Devan. Sekalipun kadang kejujuran Devan itu sangat menyakitkan. Akan tetapi lebih baik jujur sekalipun itu menyakitkan. Dibandingkan dia harus dibahagiakan dengan kebohongan.
"Kakak ipar baik-baik saja?" tanya Jesse yang sedari tadi memperhatikan kakak iparnya yang hanya terdiam. Jesse menjemput keduanya bersama dengan sopir yang sudah diutus oleh papanya. Kali ini dia percaya bahwa papanya memang luar biasa untuk menyelamatkan rumah tangga saudara laki-laki yang dia punya.
Begitupun dengan Devan yang hanya diam sedari tadi. Jesse berpikir bahwa keduanya sedang bertengkar tapi berusaha untuk terlihat baik-baik saja selama mereka diperjalanan. Ketika ia tiba di rumah kakaknya tadi, kakaknya pun lebih banyak diam dibandingkan hari biasanya di mana kakaknya sering memarahinya ketika dia bersikap berlebihan kepada Adelia.
"Terjadi sesuatu kah?" ucapnya di dalam hati. Ketika dia melirik kearah kakaknya. Sepasang mata elang yang begitu tajam siap untuk menyerang lawannya ditujukan pada Jesse. Sungguh, ini adalah suasana paling mengerikan selama dia hidup bersama kakaknya. Apalagi kakak iparnya hanya diam tak menjawab apapun dari pertanyaannya tadi.
Devan memilih memejamkan matanya begitu Jesse berbalik lagi menghadap depan. Jujur saja dia merasa tidak nyaman suasana seperti ini. Devan yang ingin pergi dengan hati yang begitu baik. Justru tadi istrinya membuat hatinya sedikit kecewa karena ucapan istrinya yang meminta untuk menetap sungguh membuat Devan terkejut.
"Kakak, aku bakalan ke sana nanti untuk kunjungi kakak," ucap Jesse yang sontak membuat Devan terkejut. Andai saja Jesse ke sana, sudah dipastikan anak buah papa Adelia akan mengikuti dan akan membuntuti Jesse kali ini. Karena beberapa hari ini Jesse sering datang ke rumahnya dan mungkin saja penguntit papa Adelia sudah hafal dengan wajah Jesse. Siapa yang tak mudah hafal dengan raut wajah menyebalkan itu? Pikirnya dan langsung tersenyum begitu saja ketika dia berusaha untuk menolak dengan cara baik-baik.
"Kamu ke sana yang ada kakak dan ipar kamu ketahuan. Kamu nggak mau kan?"
__ADS_1
"Kak, tujuan kita adalah Australia. Bukan Amerika, aku ubah alur karena aku tahu kalau ke sana itu kakak bakalan dilacak pendidikan kakak. Kakak lulusan salah satu universitas di sana. Yang di mana kakak juga akan di buron ke sana. Aku udah rencanain ini sama Papa. Jadi kakak jangan berpikir aku ini bodoh,"
"Jess, kakak nggak ada kenalan sama sekali di sana,"
"Kakak tenang aja, aku udah carikan tempat tinggal di sana. jadi nanti kakak tinggal tempati saja. Jangan berpikir adikmu yang satu ini bodoh ya. Aku bisa melakukan apapun juga," Jesse tertawa geli.
"Tuan muda, maaf sebelumnya saya ikut nimbrung. Tapi karena saya kasihan lihat tuan muda dan juga istri tuan muda yang akan menjadi sasaran nyonya. Maka dari itu saya mau katakan sesuatu. Setelah pulang dari kafe di mana kalian bertemu. Saya dengar nyonya dan Bianca bilang kalau dia mau menjebak tuan muda agar tuan muda menghamili Bianca yang di mana nantinya tuan akan dipaksa bertanggung jawab. Mereka membahas itu diperjalanan ketika pulang. Terus, mereka juga merencanakan akan menculik istri tuan muda. Dia juga ingi agar istri tuan muda pergi jauh dengan cara seperti itu. Dia akan buat seolah-olah istri tuan muda itu bersalah," ucap Pak Agung selaku sopirnya.
Devan langsung melirik kearah Adelia yang dengan baik mendengarkan cerita itu. "Itu alasan aku ajak kamu pergi," ucap Devan sambil memegang tangan istrinya.
"Iya kak, itu memang rencana Bianca sama Mama. Setelah kakak pulang antarin Sabina juga Mama mengatakan hal itu kepada Papa. Sampai Papa murka dan akhirnya mukulin, Mama. Jujur aku kaget waktu Papa mukulin Mama. Tapi aku nggak bisa berbuat apa-apa lagi, Kak. Itu adalah hak Papa,"
Devan mencoba menenangkan istrinya karena ucapan adik dan juga sopirnya yang membuat Adelia langsung menekan dadanya. Berusaha untuk menarik napas dengan tenang. Dia tahu jika itu membuat Adelia terkejut dan sontak langsung sesak seperti itu.
"tenang ya. Aku nggak bakalan pernah ninggalin kamu," ucap Devan menenangkan. tapi, justru air mata istrinya menetes begitu saja.
__ADS_1
"Devan, kenapa sih kita selalu ada masalah seperti ini? Apa enggak ada kata bahagia untuk kita berdua? Sampai hari nanti kita bakalan terus dapat masalah?" tanya Adelia yang terisak.
Devan tak pernah menyangka jika istrinya akan menangis seperti ini. "Kakak yang tenang. Kakak jangan berpikir jika itu akan terjadi, aku juga bakalan berusha untuk lindungi kakak ipar. Aku janji kalau kalian bertiga bakalan bahagia. Aku bakalan lindungi si kecil juga nanti," ucap Jesse menyemangati Adelia juga. Kali ini Devan merasa terbantu dengan ucapan adiknya.
Jesse mengerti jika perasaan kakak iparnya kali ini sedang tidak baik-baik saja. "Kak, kakak yang tenang ya!" perintahnya.
Devan menyeka air mata istrinya dan menyandarkan Adelia di bahunya. "Kamu tidur sini ya! Nanti kalau udah sampai hotel aku bangunin," pinta Devan dan Adelia mendekat lalu menyandarkan kepala di bahu suaminya.
Devan merasakan kesedihan yang dirasakan oleh istrinya. Seperti yang dibilang oleh Adelia, dia begitu yakin jika kebahagiaan itu pasti akan menghampiri mereka yang berusaha.
Tetap bersama dalam keadaan apapun. Hidup ini memang penuh rintangan. Yang bertahan dengan rasa sakit akan menjadi pemenang. Tapi, yang menyerah karena tidak ingin berjuang adalah yang paling pengecut karena tidak mau berjuang.
Adelia terlelap di bahunya. Devan tahu ini memang sulit. Tapi dia bisa apa? Seperti yang dikatakan oleh papanya waktu itu. Bahwa orang tua Adelia bukan orang sembarangan yang di mana selalu mengahalkan papanya. Tidak mungkin papanya berjuang melawan dan bisa jadi papanya dihancurkan begitu saja oleh mertuanya sendiri.
Devan sedikit dendam pada Farrel karena pria itu yang menaruh obat perangsang pada Adelia dulu. Hingga membuatnya menjadi seperti sekarang ini. Juga Devan menyalahkan dirinya sendiri mengenai dia yang mabuk dan bisa-bisanya menjadi seperti ini.
__ADS_1
Harusnya dia berkenalan dengan cara yang baik-bak untuk Adelia. tapi sayangnya Tuhan mempertemukan mereka berdua dengan cara yang berbeda. Sekalipun seperti itu, Devan tak pernah benci dengan hidup ini. Ia hanya menyalahkan kebodohannya yang tak bisa bertahan dan menetap di sini dengan istri dan juga calon buah hatinya. Biar saja orang mengatakan dia pengecut, akan tetapi ini adalah usahanya untuk tetap bertahan.