
Satu bulan Aksa dan juga Argi tinggal di rumah mereka. Fania yang menerima dengan baik, mereka juga yang begitu baik selama ini tidak pernah melakukan hal yang tidak baik. Rumah menjadi sangat ramai. Apalagi Adelia yang waktu itu awalnya kebingungan dengan mereka yang datang membawa dua anak laki-laki dan juga bahkan Devan tidak pernah menyangka bahwa itu adalah kakak Adelia sekalipun mereka berbeda ibu. Tapi, seringin berjalannya waktu Adelia dan juga Keano menerima dengan baik. Mereka juga sering mengobrol. Adelia juga yang senang memiliki kakak laki-laki. Walaupun masih terdengar begitu canggung ketika keduanya pulang bekerja.
Raka mempekerjakan keduanya di kantornya. Walaupun keduanya di awal menolak untuk tinggal bersama. Tapi karena Fania juga ikut memaksa agar anak Raka ikut dengan dirinya, kemudian Aksa dan juga Argi mengiyakan ajakan itu dan hingga kini masih tinggal bersama. Raka akan mempersilakan keduanya tinggal di luar jika keduanya menikah. Tapi, untuk kali ini dia ingin tinggal bersama dengan anaknya. Perlakuan Raka juga yang adil membuat Fania senang jika suaminya tidak memperlakukan salah satunya lebih khusus.
Acara tujuh bulanan Adelia juga sudah selesai sedari tadi. Yang kali ini mereka sedang duduk di ruang tamu, sedangkan Adelia kembali ke kamar bersama dengan Devan karena merasa perutnya sedikit sakit. Dan juga Devan pasti sedang memijit betisnya. Hal yang setiap kali dilakukan oleh Devan adalah memijit betis Adelia karena terlalu banyak bergerak.
Keano yang belum pulang dari rumah temannya karena sedang mencari informasi mengenai kuliahnya nanti. Padahal hal itu bisa ditanyakan kepada Devan karena dia sudah pernah kuliah di sana. di kampus yang diinginkan oleh Keano.
Sedangkan Raka sedang istirahat karena merasa sangat lelah sedari tadi menyambut tamunya. Begitupun dengan mama mertuanya. Kali ini hanya ada dia dan juga Aksa yang ada di ruang tamu. Sedangkan Argi pergi menemani Keano pergi.
“Tante,” panggil Aksa ketika Fania hendak pergi dari ruang tamu. Begitu Raka berpamitan, dia masih kurang dekat dengan anak tirinya ini. Tapi anak tirinya ini begitu baik. Bahkan ketika tidak ada Devan, maka dia yang akan menemani Adelia ke dokter untuk cek kandungan.
“Ada apa, Aksa?” tanya Fania yang kemudian duduk lagi di sofa.
“Aku mau ngomong boleh?”
“Mau ngomong apa, Nak?”
Aksa menundukkan kepalanya sejenak kemudian dia melepaskan pecinya diatas meja. “Boleh aku sama Argi panggil tante dengan sebutan, Mama?”
Fania tersenyum ketika anak tirinya meminta hal itu. sungguh dia tidak keberatan sama sekali. Justru dia akan merasa itu sangat baik jika nanti mereka berdua bisa memanggil Fania dengan sebutan Mama. Fania juga tahu bahwa anak tirinya tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu. Mengingat Nabila dulu meninggal dua hari setelah kedua anak itu lahir.
“Dengan senang hati, Aksa. Mama juga ingin kalian berdua itu manggil dengan panggilan itu. karena Mama nggak mau banding-bandingin kalian berdua dengan Adelia dan juga Keano. Sekalipun kalian bukan anak kandung Mama. Tentu saja Mama juga ingin kalau kalian itu bisa akur, Adelia yang menerima kalian. Keano juga dekat dengan kalian berdua,” kata Fania kepada anak tiri tertuanya ini.
__ADS_1
Aksa turun dari sofa kemudian bersimpuh di depannya. “Hal yang dari dulu ingin aku lakukan adalah bisa seperti ini, Mama selalu baik selama ini. Mama juga yang memperlakukan aku sama Argi itu sama seperti anak Mama sendiri. Aku ngerasain gimana rasa sayang Mama ke aku dan juga Argi. Perlakuan yang tidak ada bedanya buat aku bahagia, buat aku ngerasa kalau Mama itu adalah Mama kandung,”
Aksa menangis, siapa yang peduli dengan laki-laki yang menangis. Menangis adalah bukan hal yang cengeng. Melainkan itu adalah perwakilan perasaan yang tidak bisa diungkapkan. Ketika Aksa mengatakan bahwa dia itu sudah seperti mama untuk keduanya, dia begitu senang ketika anak tirinya bisa menerima dirinya sebagai mama.
“Andai dari dulu kita ketemu, ya, pasti Papa sama Mama bakalan punya banyak waktu untuk kalian. Bisa lebih banyak waktu main sama Adelia dan juga Keano. Bisa menemani mereka di waktu kecil. Tapi, sayangnya Mama ketemu sama kalian sudah sebesar ini,”
“Aku juga mikirnya gitu, Ma. Andai saja kalau kita ketemunya dari dulu. Tapi, balik lagi seperti yang dikatakan oleh kakek kalau dia nggak mau kesepian ditinggal sama aku dan juga Argi. Maka dari itu dia nggak mau bilang ke Papa bahwa kami berdua itu ada,”
“Papa kalian itu baik banget, Nak. Dia sama sekali nggak pernah ninggalin siapapun. Bahkan ketika Mama hamil Rania, dia selalu ada,”
“Rania itu siapa?”
“Kakaknya Adelia, tapi dari Papa yang berbeda. Tapi Papa itu baik banget mau jagain dia dulu. Sampai pada akhirnya dia meninggal di dalam kandungan,”
“Iya, maka dari itu Papa nggak pernah ninggalin Mama sampai sekarang ini. Papa juga begitu setia sama Mama. Papa itu jaga hati banget untuk Mama. Apalagi kalau dia pergi ke luar kota untuk kerja, jadi Mama ngak pernah khawatir tentang kesetiaan Papa.”
“Apa dulu Papa dan juga Mama Nabila juga sama seperti Mama yang sekarang?”
“Maksudnya?”
“Papa tetap setia seperti itu?”
Fania hanya menganggukkan kepalanya. Dia tidak ingin jika suaminya dibenci oleh anaknya sendiri karena Raka yang meninggalkan Nabila dulu. Dia juga menanyakan semua itu kepada Raka. Raka juga jujur mengenai semua masa lalu itu. tapi sedikitpun Fania tidak pernah dendam dengan masa lalu Raka. Justru dengan kehadiran kedua anak inilah yang membuat Raka menjadi lebih baik lagi. Dia juga sudah mengantarkan Raka berpamitan pada Nabila waktu itu untuk menjalani hidup barunya. Raka yang mengakui karena bayang-bayang masa lalu dan sering bermimpi bertemu dengan Nabila. Bukan berarti Raka berkhianat, tapi memang suaminya sering terlihat ketakutan. Barangkali itulah yang membuat Raka begitu benci terhadap Devan waktu itu.
__ADS_1
“Kalau Mama sama Papa udah nggak ada, jaga Adelia dan juga Keano! Karena bagaimanapun juga mereka bakalan balik ke kamu dan juga Argi. Sama seperti kamu yang kembali sama Papa saat ini,”
“Kenapa Mama ngomong gitu?”
“Karena kematian itu nggak ada yang tahu, Aksa. Mama hanya titip mereka sama kamu dulu. Jadi apa pun yang terjadi, tetap sayangi mereka!”
Air mata Fania menetes karena tidak mau jika kedua anaknya nanti justru bertengkar hanya karena mereka berbeda ibu kandung. “Mama kenapa nangis?”
“Jangan pernah berantakan dengna keluarga ya! Karena apa pun yang terjadi keluarga adalah tempat untuk pulang,”
“Ma, dari dulu Aksa dan Argi pengin punya keluarga. Nggak pernah ngerasain gimana kasih sayang orang tua. Tapi, sekarang ini aku bersyukur ketemu Mama sama Papa,” kata Aksa yang menyeka air mata Fania. “Mama nggak boleh nangis lagi ya! Mama itu bakalan aku anggap seperti Mama kandung sendiri,”
“Terima kasih, Aksa. Mama doakan kamu jadi anak yang terbaik, bisa membimbing adik-adik kamu. Bisa membimbing Adelia dan juga Keano. Devan adik ipar kamu, semoga kamu bisa menjadi penengah ketika mereka berselisih nantinya,”
Aksa dan Argi sempat meminta izin keluar dari rumah karena merasa malu menumpang di sana. tapi Raka keras kepala tidak memperbolehkan untuk keluar dari rumah. Maka dari itu keduanya hanya bisa menurut. Mereka juga yang awalnya bekerja di bank swasta waktu itu langsung dibawa oleh Raka ke perusahaannya. Sekalipun kedunya tidak mengerti bisnis. Tapi dengan bimbingan bawahan Raka, keduanya kali ini sudah dibiarkan untuk mengawas sendirian. Keduanya diajarkan untuk menjadi kontraktor terlebih dahulu sebelum ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Keduanya sekalipun masih belajar dengan pendampingan khusus. Fania merasa anak tirinya bisa diandalkan dan sering pulang malam bersama dengan Raka. Sedangkan Devan sibuk dengan perusahaannya sendiri. Menolak untuk bekerja di perusahaan Raka karena dia memiliki tanggung jawab, yaitu Adelia.
__ADS_1