
Kali ini Keano datang ke sekolah Sabina untuk menjemput adik iparnya itu. Memang selama ini dia tidak berniat sedikitpun untuk mempermainkan apalagi menyakiti hati Sabina. Setelah dia cerita kepada temannya mengenai dia yang memberikan perhatian lebih kepada Sabina waktu itu yang membuat gadis belia tersebut jatuh cinta kepadanya.
keano memang tidak banyak tahu mengenai hati, dia juga tidak pernah pacaran sebelumnya. Itulah mengapa dia menganggap bahwa perhatian itu merupakan perhatian sepasang teman dan juga keluarga. Dia tidak tahu jika itu akan mengakibatkan Sabina merasa diberikan harapan oleh Keano.
Kemarin dia sudah berjanji kepada Sabina untuk menjemput gadis itu ke sekolah.
Sudah dua jam lamanya dia menunggu di luar, Sabina yang memang hari ini akan pulang terlambat. Tapi tidak masalah bagi Keano untuk menunggu gadis itu sebagai ucapan permintaan maaf atas apa yang dia lakukan selama ini. Keano yang memang tidak tahu apa-apa tentang perasaan sangat merasa bersalah kepada Sabina.
bagaimana mungkin dia jatuh cinta kepada gadis kecil itu? Dia akui dia memang nyaman kepada Sabina. Tapi tidak untuk pacaran, dia dan Sabina sudah menjadi keluarga semenjak kakaknya menikah dengan Devan. Tapi ketika gadis itu mengatakan bahwa dirinya sangat nyaman dengan Keano, rasanya dia salah memberikan perhatian kepada gadis itu. Tapi, dia berjanji akan membantu menjaga Sabina sebaik mungkin nantinya. Walaupun dia dan Sabina tidak bisa bersatu, karena suatu alasan yang begitu kuat. Tentu saja Keano harus tetap baik-baik saja dengan Sabina yang sudah dianggapnya seperti keluarga sendiri. Tidak mungkin juga dia pacaran dengan Sabina. Mereka berdua sedang berusaha untuk menggapai keinginan mereka saat ini. Sabina yang ingin masuk ke sekolahnya, dan Keano ingin sekali kuliah ke luar negeri.
Dia masih setia menunggu sambil memeluk helmnya, menunggu kepulangan Sabina untuk diantar pulang nantinya. Atau sekadar mengajak Sabina makan siang atau pergi ke toko buku seperti yang sering mereka lakukan waktu itu. tapi semenjak mereka bertemu di taman, Keano malu sekadar memberi perhatian lebih lagi kepada Sabina.
Ketika beberapa anak sudah keluar dari gerbang sekolah, Keano langsung memperhatikan yang keluar itu. Meski sudah berjanji dengan Sabina, barangkali gadis itu lupa dengan janji mereka semalam.
Nampak jarak beberapa meter dari tempatnya menunggu, Sabina mengangkat tangannya kemudian melambaikannya. Dari kejauhan juga dia melihat gadis itu begitu ceria. Keano langsung menghidupkan mesin motornya lalu menghampiri Sabina diseberang sana. mereka memang sering pergi berdua meski sekedar makan siang. Tapi sampai saat ini kakaknya belum tahu bahwa mereka dekat. Hanya saja Devan yang curiga terhadap dirinya.
Begitu dia menghampiri Sabina, Keano langsung menyuruh Sabina naik keatas motornya. "Kakak lama nungguinnya?" tanya Sabina yang langsung membuat Keano menggeleng.
"Dua jam, Sab. Kamu pulangnya lama juga ternyata," jawab Keano singkat.
Sabina hanya menyeringai mendengar ucapan Keano barusan. Mereka berdua pun mulai meninggalkan sekolah Sabina. Sekalipun beberapa mata yang melihat, tapi Keano tak peduli dengan pandangan orang-orang terhadap dirinya. Barangkali orang-orang akan menganggap dirinya saudara Sabina karena sering menjemput Sabina ke sekolah.
"Kak, tahu nggak tadi aku ulangan harian, terus nilai aku hampir seratus kak,"
"Hmm, terus?"
__ADS_1
"Kan kakak ngasih rumus-rumus penting dan catatan yang kakak buat itu aku pelajari sesuai dengan kurikulum yang aku pakai, nah aku tetap pelajari itu setiap malam, terus tadi waktu ada ulangan dadakan, aku dapat nilai bagus banget,"
"Salah berapa?"
"Salah satu kak, ulangannya itu fisika. Aku paling enggak suka kalau ada pelajaran fisika, tapi sekarang aku jadi suka kalau nilai aku bagus,"
"Coba cintai apapun yang pernah kamu benci. Salah satunya kamu benci terhadap pelajaran fisika, dan sekarang tiba-tiba kamu suka. Itu artinya kamu sedang belajar mencintai pelajaran kamu,"
"Itu juga berkat kakak,"
"Sekalipun itu berkat aku, tapi tetap saja semua itu adalah usaha kamu sendiri, Sab. Sekalipun misal aku buatin kamu catatan, tapi kalau kamu nggak minat pelajari, ya tetap aja hasilnya nggak bakalan ada. Tapi sekarang kamu kan udah mulai rajin belajarnya,"
"Hmm, karena kakak kan rangkumnya bagus banget. jadi aku suka banget belajarnya,"
"Tetap rajin ya, sekalipun nanti kita pisah jauh. Kamu kalau ada apa-apa pasti kakak bantu,"
"Sab, seperti yang aku bilang kalau kita bakalan tetap saling hubungi,"
"Ya kak, aku doain semoga kakak diterima di sana ya,"
"Iya Sab. Kamu juga semoga diterima nanti ya,"
Sabina tersenyum, dia senang ketika kenal dengan Keano. Walaupun pernah ada kekecewaan karena perasaannya tak terbalaskan waktu itu. Sabina memang salah sangka, dia menganggap kebaikan Keano selama ini adalah karena laki-laki itu menyukainya. tapi sayangnya tidak, Keano menganggapnya seperti adik kandungnya sendiri. Dia senang sekali jika mereka berdua tidak canggung lagi seperti malam itu. mengenai rahasia yang telah diberitahukan oleh Keano, dia sudah berjanji akan menutupnya rapat.
Mereka berhenti di salah satu kafe tempat nongkrong. Di sebelahnya ada toko buku. Keduanya turun dari motor dan Sabina merapikan rambutnya. "Sab, makan siang setelah kita beli buku ya?"
__ADS_1
"Gimana kalau kita nonton aja kak?"
"Boleh, tapi jangan kelamaan ya. Karena kamu kan pakai seragam sekolah. Kalau aku ada bawa pakaian ganti,"
Baru saja mereka hendak masuk ke toko buku. "Sabina!"
Keano dan Sabina menoleh ketika mendengar nama Sabina dipanggil dengan suara yang tidak begitu asing bagi Keano. Ketika itu, mereka melihat Devan yang baru saja turun dari mobilnya. "Pulang!"
"Bentar kak, aku mau beli buku,"
"Pulang!"
Bentak Devan. Keano kesal dengan tingkah Devan yang berlebihan, padahal dia bisa meminta Sabina baik-baik tanpa harus membentak. Melihat ekspresi Sabina yang masuk ke dalam mobil kakaknya, membuat Keano sedikit kesal karena perbuatan kakak iparnya itu memang sudah kelewatan. Tidak seharusnya kakaknya bersikap seperti itu. Keano juga yang terkejut dengan kedatangan Devan yang tiba-tiba.
"Keano, aku sudah bilang sama kamu. Jauhi Sabina!" peringat Devan.
Keano tertawa sinis ketika melihat Sabina dari luar, terlihat jelas Sabina kesal dengan paksaan kakaknya tadi.
Keano sedikit mendekat kearah Devan dan langsung berbisik. "Hati-hatilah, Papa sudah mulai mengawasi gerak-gerik kalian berdua. Jangan sampai salah langkah, kakak juga jangan sampai bertindak gegabah. Jangan pernah bertemu dengan perempuan lain, atau semuanya akan berakhir begitu saja. papa bukan orang yang punya hati begitu luas ketika melihat anak-anaknya tidak bahagia, kakak tahu sendiri trauma mama itu seperti apa, jangan sampai kakak lakukan hal yang sama kepada kak Adelia. Awasi langkah kalian berdua! Dan ingat, kalau mau selingkuh, bermainlah dengan cara yang baik, jangan bertemu dengan perempuan lain di kafe." peringat Keano juga yang kesal dengan tingkah kakak iparnya itu.
Devan telah salah paham dengan apa yang dia lakukan selama ini. Devan menganggap dirinya akan mempermainkan Sabina. Itu semua dilakukan agar dia bisa mengelabui anak buah papanya yang dia tahu bahwa beberapa orang mengikutinya. Ketika meninggalkan sekolah Sabina tadi, Keano sadar jika ada orang juga yang mengikutinya.
"Awasi diri kakak, mereka jumlahnya tidak sedikit. Jangan pernah menyakiti atau berniat menyakiti hati kakak aku. Atau kakak akan berakhir menyedihkan, Papa itu mengerikan. Diamnya menghanyutkan, tapi bergeraknya untuk mematikan. Maka dari itu, aku bersikap begini karena aku sudah tahu,"
Keano langsung mundur dan tersenyum melihat kakak iparnya yang sudah salah paham dengan dirinya kali ini. Begitu dia mundur dan langsung naik keatas motornya. Keano melihat dari kejauhan ada orang asing yang sedang mengintainya. Ia pikir papanya akan berhenti melakukan hal ini, tapi sayangnya mereka bermain lebih mengerikan. Siapa yang bisa mengalahkan papanya jika dalam hal seperti ini. Mungkin saja papanya bisa menghancurkan dengan mudah, akan tetapi papanya pasti memikirkan Adelia dan juga anak yang sedang dikandung oleh kakaknya itu.
__ADS_1
Keano berpamitan dan langsung melajukan sepeda motornya.