WITH YOU

WITH YOU
Mungkinkah Ini Karma?


__ADS_3

Tubuh Carissa lemas seketika mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan Sonya. Ibu mertuanya itu memintanya untuk mencari rahim pengganti, yang artinya adalah mencarikan perempuan lain yang akan mengandung anak Evan. Benarkah yang di dengarnya itu? Benarkah kata-kata itu yang tadi keluar dari mulut Sonya, ibu mertua yang selama ini sangat menyayangi Carissa?


Carissa tak mampu berkata apapun untuk menanggapi Sonya. Tenggorokannya serasa tercekik hingga sulit baginya sekedar untuk menghirup oksigen.


"Mama tahu ini terdengar sedikit kejam. Tapi Carissa, percayalah. Ini adalah hal yang ingin Mama lakukan seandainya saja waktu bisa di putar kembali." Ujar Sonya dengan sendu.


Perempuan baruh baya ini lalu menghela nafas panjang untuk ke sekian kalinya.


"Dulu, karena sangat ingin hamil, Mama melakukan konsultasi dengan seorang Dokter Kandungan terbaik yang ada di Eropa. Mama berada dalam perawatan Dokter tersebut dalam waktu yang cukup lama, hingga akhirnya Mama berteman dengan sesama pasien. Namanya Jasmine, dia lebih muda dua tahun dari Mama. Kondisi kami bisa di bilang sama, kami melakukan perawatan, hingga akhirnya sama-sama menjalankan prosedur bayi tabung. Tapi kami berdua gagal. Janin yang berhasil di tanam ke rahim kami sama-sama tidak berkembang dan mati."


Sonya mengambil jeda beberapa saat.


"Mama tidak putus asa dengan kegagalan itu, dan memutuskan untuk kembali melakukan prosedur bayi tabung untuk yang kedua kalinya. Tapi tidak dengan Jasmine, dia melakukan hal gila yang saat itu tidak bisa di terima oleh akal Mama. Jasmine menyewa seorang perempuan yang sedang kesulitan finansial untuk mengandung dan melahirkan anak suaminya, yang menurutnya akan menjadi anaknya juga."


Mata Carissa agak melebar, tapi kemudian ia berhasil menetralkan ekspresi wajahnya.


"Setahun kemudian kami bertemu kembali. Saat itu Mama masih sibuk melakukan prosedur ini itu agar bisa hamil, sedangkan Jasmine sudah menggendong bayi yang wajahnya sangat mirip suaminya. Bayi itu adalah anak mereka yang di lahirkan oleh seorang perempuan yang mereka sewa. Perempuan itu hidup lebih baik dari sebelumnya karena kompensasi yang di berikan Jasmine padanya, dan Jasmine sendiri juga berbahagia dengan anak yang di dapatnya."


"Hingga saat ini, Mama selalu membayangkan seandainya Mama juga punya keberanian sebesar keberanian Jasmine waktu itu, Mama pasti tidak akan merasa bersalah seperti sekarang. Meski tetap mengadopsi anak, tapi setidaknya Papa juga punya anak yang benar-benar sedarah dengannya."


Sonya terdiam sesaat, lalu menoleh kembali kearah Carissa.


"Mama sangat tahu dan paham bagaimana perasaanmu sekarang, Carissa, karena Mama sudah lebih dulu merasakannya. Pasti saat ini kamu pasti berpikir Mama jahat dan egois, tapi percayalah, Mama mengatakan ini demi untuk kebahagiaan kalian, meski saat ini maksud Mama pasti akan di salah pahami, tapi dengan kalian bisa bahagia nantinya, itu tidak jadi masalah."


Carissa masih terdiam dan tak mengeluarkan suara sedikit pun. Raut wajahnya memperlihatkan ekspresi yang sulit di jelaskan. Ia tidak bisa menerima saran Sonya yang memintanya mempertimbangkan tentang rahim pengganti. Tidak. Carissa tidak sanggup membayangkan Evan mendapatkan anak dari perempuan lain. Apalagi jika itu bukan berasal dari sel telur Carissa. Itu tidak benar dan tidak boleh terjadi!


Tanpa sadar Carissa menggeleng-gelengkan kepalanya.


Sonya yang melihat raut wajah Carissa kembali mengenggam tangan menantunya itu.


"Mama tidak memaksamu, Carissa. Pikirkanlah dulu dengan baik, setelah itu katakan pada Mama apa keputusanmu. Maafkan Mama karena membuatmu merasa sedih."


Sonya beranjak dari duduknya.


"Mama pulang dulu." Pamit Sonya pada Carissa.


Carissa pun bangkit dari duduknya dan ikut mengantar Sonya sampai ke pintu. Setelah Sonya tak terlihat lagi, segera dia menutup pintu dan pergi ke kamarnya.


Carissa duduk di pinggiran tempat tidur dengan tubuh yang lemas. Hatinya benar-benar kacau saat ini. Entah apa yang harus di lakukannya, dia tidak tahu.

__ADS_1


Carissa tidak ingin ada perempuan lain di antara dirinya dan Evan. Membayangkan Evan bersentuhan dengan perempuan lain saja seluruh darahnya serasa mendidih. Apalagi jika sampai ada perempuan lain yang mengandung anak Evan. Carissa benar-benar tak sanggup menghadapi hal itu, meski hanya dalam mimpi sekalipun.


Tiba-tiba Carissa jadi teringat dengan seseorang.


Setelah cukup lama terdiam, akhirnya Carissa mengeluarkan ponselnya dari saku, lalu mendial nomor kontak orang itu.


"Halo." Suara Alya terdengar di seberang sana.


Carissa terkesiap. Dadanya bergemuruh mendengar suara Mamanya itu. Sebisa mungkin Carissa menahan diri untuk tidak menangis.


"Mama..." Suara Carissa seperti tercekat. Rasanya tak sanggup lagi dia menahan gejolak dalam dirinya. Seandainya saja saat ini Alya ada di hadapannya, sudah bisa di pastikan jika saat ini Carissa akan berhambur ke dalam pelukannya.


"Carissa, ada apa?" Tanya Alya. Terdengar ada nada khawatir dari pertanyaannya.


"Tidak ada. Aku hanya merindukan Mama." Kilah Carissa sambil berusaha untuk menetralkan suaranya agar tidak tergetar.


Dapat Carissa dengar decakan dari mulut Alya di seberang sana.


"Waktu masih bersama Mama dulu kamu selalu bandel dan suka membuat Mama kesal. Sekarang tahu rindu juga kamu rupanya." Omel Alya.


Carissa tertawa. Tapi bersamaan dengan itu dia juga menghapus airmata yang jatuh di pipinya.


Alya mendesah.


"Tentu saja tidak enak. Karena di sana tidak ada yang mengomeli dan menghukummu. Anak nakal sepertimu itu memang ada yang kurang kalau belum di marahi."


Carissa tertawa lagi. Tapi setelah itu dia langsung terisak.


"Ma..." Lirihnya.


Alya terdiam. Meski tak melihat wajah Carissa, tampaknya dia mulai menyadari jika Carissa sedang sedih.


"Carissa, katakan pada Mama ada apa." Pinta Alya.


"Aku punya pertanyaan untuk Mama. Tapi Mama janji akan menjawabnya dengan jujur tanpa ada yang di tutup-tutupi."


Alya kembali terdiam.


"Katakan, kamu mau bertanya apa."

__ADS_1


Carissa menghela nafasnya.


"Ma, pernahkah Mama membenciku?" Tanya Carissa.


"Pertanyaan macam apa itu?" Sergah Alya.


"Jawab saja, Ma." Pinta Carissa dengan nada mohon.


Alya terdiam beberapa saat.


"Tidak. Mama memang sering merasa kesal padamu, tapi Mama tidak pernah membencimu." Jawabnya kemudian.


"Apa membesarkanku membuat Mama menderita, Ma?"


Alya tidak langsung menjawab.


"Sebenarnya kamu ini kenapa, Carissa?" Alya malah balik bertanya.


"Kelahiranku adalah sebuah kesalahan. Bagaimana bisa Mama tidak membenciku." Suara Carissa terdengar sangat sendu.


"Kamu adalah putri Mama, Carissa. Bagaimana bisa kamu mengatakan kelahiranmu adalah sebuah kesalahan. Berhentilah mengatakan omong kosong."


Carissa terisak mendengar kata-kata Alya. Mamanya ini memang selalu mengatakan jika Carissa adalah putrinya, meski sebenarnya Carissa lahir dari rahim selingkuhan suaminya.


Apakah keadaan yang Carissa alami sekarang adalah balasan untuk penderitaan yang Alya alami karena membesarkannya? Mungkinkah ini karma?


Tanpa sadar Carissa memutus sambungan telfon dan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan sembari tersedu.


'Ya Tuhan..., aku harus bagaimana?'


Bersambung...


Santuy gaesss....ini tidak seperti yg kalian bayangkan. Tidak akan pernah ada org ketiga diantara mereka, emak janji. Konfliknya juga ga bakal berlarut-larut, karena sebelum kalian yang pusing, emak yang pusing duluanšŸ˜…Kalo nanti ada sosok lain yg hadir, dia tetep akan jd org yg numpang lewat aja buat ceritanya agak rame dikit.


Tadinya sih emak mau kasih konfiknya gini, Carissa mau masak berasnya tinggal dikit terus kebetulan gas jg abis, eh pas liat dompet duit tinggal 10 rebu, mana listrik juga manggil2 minta di isi, dari kmren ga ke beli token listrik. Tapi kemudian emak tersadar kalo Evan dan Carissa banyak duit, dan yg tadi rupanya konflik emak sendirišŸ˜‚šŸ˜‚šŸ˜‚


Ya udahlah...


Happy readingā¤ā¤ā¤

__ADS_1


__ADS_2