
Geraldyn menyalakan satu persatu lampu di rumahnya dengan enggan. Dalam sekejap ruangan yang tadinya sangat gelap berubah menjadi terang. Tapi semua cahaya itu tampaknya tak berhasil menembus sampai ke dalam hati Geraldyn. Perasaannya masih saja terasa gelap layaknya sebuah rumah tanpa penerangan sedikit pun.
Geraldyn sungguh tak menyangka kepergian Jonathan akan berdampak sebesar ini pada dirinya.
Tiga bulan lebih lelaki itu pergi. Awalnya mereka terus berkomunikasi. Entah itu melalui pesan, telpon maupun video call. Tapi belakangan, Jonathan sangat sulit dihubungi. Hanya sesekali dia memberi kabar, itu pun melalui asisten pribadinya, bukan Jonathan sendiri.
Sebelumnya Geraldyn tak terlalu memusingkan hal itu, karena dia sendiri sibuk pada persiapan konser Carissa dan tak punya banyak waktu luang. Tapi setelah konser selesai diadakan, dia menjadi lebih senggang dan mau tak mau teringat juga pada sosok Jonathan. Geraldyn merindukan lelaki itu meski sangat tidak ingin mengakuinya.
Dan kini, setelah seharian menghabiskan waktu luangnya bersama saudara dan keponakannya, Geraldyn akhirnya kembali sendirian di rumahnya. Dia berbaring di atas tempat tidur sambil memandangi layar ponselnya. Pesan yang dikirimnya tadi pada Jonathan bahkan belum dibaca lelaki itu, jangan harap akan dibalas.
Geraldyn hendak menghubungi Carissa, sekedar untuk mengajaknya mengobrol, tapi kemudian langsung dia urungkan niatnya itu. Saat ini Carissa mungkin sedang tertidur karena kelelahan, atau bahkan mungkin sedang menghabiskan waktu bersama suaminya.
Geraldyn meletakkan ponselnya, lalu berusaha untuk memejamkan mata. Tapi sekeras apapun dia mencoba untuk tidur, Geraldyn masih tak juga mau terlelap. Pikirannya terus saja terpatri pada lelaki berengsek yang meninggalkannya tanpa tahu kapan akan kembali. Tampaknya Geraldyn sudah menyukai Jonathan lebih dari yang dia bayangkan.
Karena merasa agak kesal, Geraldyn pun bangkit dan pergi ke dapur. Diambilnya satu cup besar es krim dari lemari pendingin, lalu dia pergi ke teras rumahnya, setelah sebelumnya sempat mengambil sendok juga. Gadis itu lalu duduk di teras rumahnya, memandangi langit malam sambil memakan es krim dengan sangat lahap. Dia seakan tak peduli pada suhu es krim yang dingin serta suasana malam yang juga terasa dingin.
Tapi kemudian Geraldyn merasa seperti akan tersedak. Tenggorokannya tiba-tiba terasa tercekat bersamaan dengan airmata yang mengalir cepat di pipinya. Gadis itu terisak dengan agak tertahan.
"Haisshhh.... Apa-apaan?" Gerutunya kesal sambil menyeka dengan kasar airmatanya yang jatuh tadi.
"Apa yang kamu harapkan, Geraldyn? Bukankah sudah sangat jelas jika dia itu lelaki berengsek." Geraldyn berujar pada dirinya sendiri.
"Ada banyak gadis di sana yang bersedia diajak bersenang-senang, bagaimana bisa kamu berpikir begitu naif untuk menunggunya seolah dia akan kembali kepadamu. Sadarlah...jangan jadi gadis bodoh." Geraldyn kembali memperingatkan dirinya sendiri sambil terus berusaha memakan es krim di tangannya.
Tapi sejurus kemudian, Geraldyn agak terkesiap saat tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di depan rumahnya.
"Jonathan?" Tanpa sadar Geraldyn bergumam tak percaya saat seseorang turun dari mobil tersebut. Seseorang yang belakang ini sangat dirindukan oleh Geraldyn, sampai-sampai dia memakan es krim di malam hari yang dingin sambil menahan tangis.
Jonathan langsung menarik tangan Geraldyn hingga secara refleks Geraldyn meletakkan es krim dan sendok di tangannya. Lalu Jonathan membawa gadis itu untuk masuk ke dalam mobilnya tanpa berkata-kata.
"Es krimku..." Geraldyn bergumam tak rela tanpa sadar.
"Hei, apa-apaan? Ini penculikan!" Sergah Geraldyn kemudian saat Jonathan mendudukkan tubuh Geraldyn dengan paksa di kursi penumpang.
Jonathan tak menjawab dan langsung menutup pintu mobil, dia juga ikut masuk dari sisi mobil yang satunya. Mobil pun meluncur, mengantarkan Jonathan dan Geraldyn menuju tempat yang sangat Geraldyn kenal. Pondok peristirahatan Jonathan.
Setelah sampai, Jonathan kembali mengajak Geraldyn turun masih dengan tak mengatakan apapun. Tangannya mengenggam jemari gadis itu sambil berjalan menuju gazebo tempat mereka tertidur terakhir kali.
"Apa kamu kehilangan pita suara saat berada di Jerman? Lepaskan tanganku dan katakanlah sesuatu. Apa kamu pikir akan terlihat keren karena tak berbicara seperti ini? Sama sekali tidak, Jonathan!! Berhentilah bertingkah seperti orang bisu!" Geraldyn menyentak sambil menghempaskan tangan Jonathan yang menggenggam tangannya.
__ADS_1
Jonathan berhenti, lalu melihat kearah Geraldyn.
"Ada terlalu banyak hal yang ingin aku katakan padamu, jadi aku bingung mau memulai pembicaraan dari mana." Jonathan kemudian mengeluarkan suaranya.
Lelaki itu lalu kembali meraih tangan Geraldyn dan menggenggamnya lagi. Digandengnya gadis itu sampai ke gazebo. Kemudian keduanya sama-sama duduk di sana.
"Bagaimana kabarmu?" Tanya Jonathan kemudian.
"Sangat baik." Geraldyn menjawab cepat dengan nada tak bersahabat.
Jonathan tersenyum. Geraldyn terlihat kesal. Mungkin karena belakangan ini dia begitu sulit untuk dihubungi.
"Kamu tidak merindukanku?" Tanya Jonathan lagi sambil hendak meraih tubuh Geraldyn ke dalam pelukannya, tapi dengan sigap gadis itu menolaknya.
"Apa bedanya aku merindukanmu atau tidak? Memangnya kamu akan peduli? Kamu tidak peduli, kan?" Ketus Geraldyn lagi.
Jonathan kembali tersenyum melihat reaksi Geraldyn. Tampaknya gadis ini benar-benar sedang marah padanya.
"Maaf, aku tidak bisa memberimu kabar akhir-akhir ini, itu karena aku sangat sibuk dan tidak sempat menghubungimu. Lagipula aku takut lupa waktu jika sudah terlanjur berbicara denganmu. Aku pikir lebih baik kita bicara saat aku sudah kembali saja." Ujar Jonathan kemudian.
Geraldyn bergeming sambil melihat kearah lain. Jonathan tidak tahu jika saat ini gadis itu sedang menahan sekuat tenaga gemuruh di dadanya yang tiba-tiba saja datang.
"Banyak permasalahan yang harus segera di selesaikan begitu aku datang, sampai akhirnya aku harus berada di sana selama tiga bulan lebih."
"Tapi meskipun semua masalahnya sudah terselesaikan, aku tak bisa mengelak dari satu permasalah terpenting, pernikahan. Aku tetap harus menikah jika ingin menjadi pewaris keluarga Hansen."
Jonathan menoleh kearah Geraldyn yang terlihat terkejut.
"Bagaimana mungkin aku tidak jadi pewaris keluarga Hansen lagi, tentu saja aku harus menikah." Gumam Jonathan lagi dengan entengnya.
Wajah Geraldyn terlihat mengeras karena menahan marah. Lalu tiba-tiba mata Jonathan agak melebar saat melihat airmata gadis itu jatuh di kedua pipinya. Geraldyn menangis, sambil tersenyum penuh ironi.
"Jadi kamu muncul setelah pergi selama tiga bulan lebih hanya untuk mengatakan ini? Kamu menyeretku kesini malam-malam begini hanya untuk memberitahuku jika kamu akan menikah dengan perempuan pilihan kakekmu itu?"
Geraldyn menghapus airmatanya dengan kasar, lalu tertawa sumbang.
"Sekarang apa yang kamu ingin dengar dari mulutku? Ucapan selamat? Baiklah, aku akan mengatakannya untukmu. Selamat atas rencana pernikahanmu, Jonathan. Semoga hidupmu selalu bahagia. Kamu puas?"
Geraldyn bangkit.
__ADS_1
"Terima kasih untuk main-mainmu selama ini, sangat menghibur." Geraldyn menatap Jonathan tajam.
"Dan aku harap setelah ini tidak perlu melihat wajahmu lagi." Ujar gadis itu lagi dengan suara yang lebih rendah. Kali ini dia terdengar sangat sedih.
Jonathan menahan tangan Geraldyn.
"Aku memang akan menikah, tapi tidak bilang mau menikah dengan gadis pilihan Kakekku. Aku pergi ke Jerman dan bekerja keras siang malam karena harus membereskan kekacauan yang aku timbulkan setelah menolak menikah dengan gadis itu."
Geraldyn agak terkesiap.
"Aku kembali ke sini karena gadis yang ingin aku nikahi ada di sini. Aku ingin membawanya untuk menemui Kakekku jika dia bersedia."
Mata Geraldyn sontak melebar saat Jonathan tiba-tiba berlutut di hadapannya sambil mengeluarkan kotak cincin dan membukanya.
"Maukah kamu menghabiskan seluruh hidupmu dengan lelaki berengsek ini, Geraldyn?"
"A-apa?" Geraldyn bergumam tak percaya dengan wajah terkejut.
"Akhirnya aku berhasil menyingkirkan apapun yang menjadi penghalang kita. Sekarang bersediakah kamu menikah denganku?" Tanya Jonathan lagi dengan penuh harap.
Geraldyn masih tak menjawab. Nafasnya tersengal bersamaan dengan airmata yang kembali jatuh membasahi pipinya. Tiba-tiba tubuhnya luruh dan berlutut juga di hadapan Jonathan. Dia menarik kerah baju Jonathan dan memukuli dada lelaki itu dengan satu tangannya sambil menangis tersedu.
"Dasar berengsek, aku pikir kamu tidak akan kembali lagi. Aku pikir kamu akan meninggalkanku dan menikah dengan gadis pilihan Kakekmu itu. Asitenmu bilang gadis itu sangat cantik...aku hampir gila saat memikirkan kamu akan menikah dengan gadis itu...huhu....hu..." Geradyn menangis sejadi-jadinya sambil menyandarkan kepalanya di dada Jonathan. Gadis itu menumpahkan semua kegundahan yang berusaha dia tahan selama ini.
"Kamu benar-benar berengsek, Jonathan. Kamu membuatku menunggu tanpa kepastian sampai rasanya aku mau mati..."
Jonathan memeluk Geraldyn erat, lalu merangkum wajahnya sambil tersenyum.
"Maaf, jika aku membuatmu merasa begitu. Aku janji tidak akan seperti itu lagi." Ujarnya sambil mengambil cincin yang tadi dia sodorkan pada Geraldyn.
"Jadi lamaranku diterima, kan?" Tanya Jonathan kemudian dengan nada agak menggoda.
Geraldyn menahan isakannya.
"Menurutmu?" Tanyanya galak.
Jonathan tertawa, lalu menyematkan cincin yang dipegangnya di jari manis Geraldyn. Kemudian kembali dipeluknya Geraldyn sambil diciumnya kening gadis itu berulang kali.
Geraldyn tertegun dalam pelukan Jonathan. Dia ingin memastikan jika saat ini dia belum tertidur dan apa yang dialaminya ini bukanlah mimpi. Lalu setelah yakin jika semuanya adalah kenyataan, tangannya pun terulur membalas pelukan Jonathan dengan senyum yang mengembang.
__ADS_1
☆☆☆
Happy reading❤❤❤