
Keano bersandar ketika kakak iparnya dan kakaknya baru saja pulang ke rumahnya. Bukannya Keano ingin menyakiti hati orang lain dan mengorbankan Sabina diantara hubungan keluarga ini. Tapi, dia ingin mendekati Sabina untuk informasi mengenai Adelia nantinya. Tidak mungkin Keano terus bertemu dengan Devan, saat di mana Keano mendengar pembicaraan papanya yang mencari tahu tentang Devan yang sebenarnya. Bahkan Keano sempat mendengar papanya menanyakan Devan tersebut anak siapa. Jika itu terjadi, tentu saja Keano juga akan kena imbasnya. Dia sudah berpikir jauh mengenai hal ini. tapi kakak iparnya salah menilai jika dirinya mendekati Sabina hanya untuk main-main.
Keano tidak ingin jika Devan dan dirinya sering bertemu dan itu membuat anak buah papanya dengan mudah mengetahui identitas Devan nantinya yang di mana jika orang tuanya tahu, pasti papanya akan mengambil Adelia, itu yang dipikirkan oleh Keano. Tapi, mendengar pernyataan Devan yang semalam memintanya untuk menjauhi Sabina cukup membuat dirinya terkejut. Bagaimana mungkin dia memacari Sabina yang dia inginkan hanya membantu gadis itu masuk ke sekolah yang diinginkannya dengan imbalan Keano bisa mendapatkan informasi apapun mengenai kakaknya tanpa menghubungi Devan. Keano takut jika pembicaraannya dengan Devan mengenai orang tua justru di dengar oleh kakaknya nanti, maka dari itu dia mengatakan semuanya pada Sabina lebih awal.
Dari awal ketika papanya menerima Devan kemarin membuat Keano sudah paham dengan permaianan papanya yang mendekati hanya untuk mencari tahu mengenai menantunya itu. Keano tak ingin jika kakaknya berpisah dengan sang suami. Apalagi usia kandungan kakaknya yang saat ini sudah ada pada pertengahan.
Calon keponakannya berjenis kelamin perempuan, sekalipun dia tidak pernah mengetahui dan melihat bagaimana rupa Rania, tapi dia bisa membayangkan bagaimana perihnya kehilangan itu, dan ia juga takut jika itu terjadi pada kakaknya suatu saat nanti.
"Hey, kok bengong?" tanya mamanya yang waktu itu membawa beberapa kue kering dan juga susu cokelat panas. Setelah Devan dan Adelia berpamitan tadi, mamanya terlihat sedikit lebih ceria ketika sudah bertemu dengan Adelia, tapi ada suatu kekhawatiran yang dia rasakan, yaitu takut jika mamanya juga membencinya suatu saat nanti karena keadaan ini. "Anak Mama kenapa sih?" tanya mamanya lagi sambil mengelus pipi Keano.
Anak laki-laki itu cukup terdiam, karena dia tahu betul bagaimana papanya yang tidak mudah menerima kenyataan itu. Apalagi kemarin yang dia tahu bahwa papanya menerima kehadiran Devan begitu saja. tapi jauh sebelum itu, Keano sudah mendengar percakapan papanya dengan seseorang melalui telepon. Bahkan papanya sudah tahu mengenai Devan yang sudah tak memiliki apapun.
"Ma, apa Mama nggak marah mengenai kak Devan yang nggak punya apa-apa lagi? Misalnya nggak bisa bahagiain kak Adel dengan materi seperti yang Papa sama Mama lakuin?" tanya Keano hati-hati, sebenarnya itu pertanyaan yang tak perlu ditanyakan, tapi dia ingin tahu bagaimana tanggapan sang mama. Barangkali juga Papanya sudah tahu mengenai alamat Devan tapi masih disembunyikan.
Jika Keano sering ke sana, pasti papanya akan curiga. Belum lagi jika Devan dan dirinya sering bertemu, justru Keano yang akan dibuntuti oleh anak buah papanya. Keano sudah hafal perbuatan papanya yang tak akan menyerah dan percaya begitu saja kepada orang lain. Apalagi beberapa hari ini dia merasa sering diikuti oleh orang.
Fania yang melihat raut wajah putranya sedang tidak baik-baik saja atau sedang menyimpan sesuatu tapi tak ingin dikatakan. "Kenapa kamu bertanya seperti itu, Keano? Mama sih enggak masalah kalau kakak kamu bahagia dengan kehidupan dia yang sederhana, Mama juga pastinya bahagia. tapi Mama nggak mau ikut campur lebih jauh lagi, Keano. Karena kakak kamu nggak mau kalau rumah tangganya diikut campuri oleh orang tua. Sama kayak orang tua Devan yang enggak ikut campur juga ke rumah tangga mereka,"
Keano memang setuju dengan hal yang diucapkan oleh mamanya. Dia tahu jika mamanya memang baik. Apapun masalah terkadang dia lebih nyaman bercerita kepada sang mama dibandingkan dengan papanya.
"Keano, kamu ada apa sama papa? Kenapa Mama perhatikan kamu kayak menghindari Papa?"
__ADS_1
Padahal dia berusaha sebaik mungkin menghindari pertanyaan itu dan bersikap seperti biasanya. Tapi justru mamanya sudah menyadari hal itu sebelum dia mengatakannya.
"Aku enggak pernah menghindar, Ma. Aku lagi nggak mau ganggu Papa aja yang kelihatannya lagi sibuk,"
"Devan juga bersikap aneh hari ini sama kamu. terlebih sama Papa,"
Keano tahu jika hal itu mungkin disadari oleh kakak iparnya. Tapi alasan kakak iparnya pulang, itu adalah karena dirinya yang dituduh mempermainkan Sabina. Padahal dia sama sekali tak berniat buruk kepada gadis belia itu. Dia hanya ingin membantu, dia juga hanya ingin melihat gadis yang dianggapnya sebagai adik kandung karena mereka adalah keluarga.
"Kalau itu mungkin Devan masih butuh penyesuaian, Ma. Jadi nggak aneh dong kalau dia bersikap seperti itu sama Papa. Dia juga baru ketemu kan sama Papa dalam keadaan baik-baik saja,"
"Hmm, iya juga sih. Tapi nanti kalau kamu ke rumah kak Adel, Mama titip sesuatu ya!"
Sepertinya setelah ini dia harus berhati-hati jika ingin bertemu dengan kakak iparnya. Dia hanya perlu bertemu dengan Adelia sesekali. tapi tetap berhati-hati juga karena barangkali mereka juga mendekati Adelia untuk mencari tahu informasi. Anak buah papanya memang tidak pernah main-main dalam mencari tahu informasi mengenai orang lain.
"Ya udah, kamu makan kuenya ya! Mama keluar dulu,"
mamanya langsung berlalu begitu saja setelah meninggalkan Keano sendirian. Sebenarnya Keano sudah sangat berhati-hati dengan langkah ini sedari awal. Jika saja dia lebih tegas, mungkin dia bisa mengambil kakaknya dulu. tapi dia berpikir kembali mengenai kandungan kakaknya.
Pikirannya berantakan dan membuatnya langsung menjambak rambutnya. Keano memilih pergi ke halaman belakang rumahnya.
Baru saja dia hendak keluar, dia berpapasan dengan papanya. "Lebih baik kamu berhati-hati untuk ikut campur, Keano. Jangan sampai Papa tahu akal kamu selama ini, awasi juga pergerakkanmu, sekali lengah. Kamu enggak bakalan bisa keluar dari apa yang telah kamu perbuat, jadi kamu mau enggak mau harus bertanggung jawab juga,"
__ADS_1
Papanya melewatinya begitu saja ketika selesai berkata demikian.
Mungkin ini adalah waktunya di mana dia harus mengakui? Tapi jika dia mengakui, tentu saja kakaknya akan sedih, belum lagi calon buah hati kakaknya akan lahir tanpa didampingi oleh Devan.
Keano berbalik dan tersenyum, "Aku terima, Pa. Apapun risikonya,"
Papanya bebalik juga dan melihat kearah Keano. "Lawan kamu salah, Nak. Kamu lawan orang tua kamu sendiri,"
"Iya, aku sadar,"
"Jadi, lakukan apapun yang kamu mau. Jangan sampai Mama kamu tahu bagaimana perbuatan kamu diluar sana! Papa sudah percaya kamu sepenuhnya, tapi lihat! Kamu sendiri seolah melawan, Papa,"
"Aku tidk pernah melawan, Papa,"
"Kamu enggak ngerasa?"
"Sekalipun aku ngelawan, aku pasti dapat hukuman kan?"
Papanya tertawa kecil dan mengalihkan pandangannya. "Lakukan akal licikmu mengelabui Papa. Kamu sudah melampaui batas bersama dengan kakak ipar kamu. Papa tahu, tapi Papa masih pertahankan kandungan kakak kamu. Andai bukan karena trauma Mama yang pernah kehilangan, Papa rela ambil Adelia,"
"Apa yang Papa tahu?"
__ADS_1
"Apa yang ada dipikiran kamu, itu adalah yang Papa tahu. Jadi hati-hatilah! Jaga ucapanmu, jaga langkahmu. Dan terlebih, jangan merasa dirimu paling hebat, kamu enggak bakalan menang melawan Papa,"