WITH YOU

WITH YOU
Maksud Tersembunyi


__ADS_3

Jonathan tak bisa menahan lebih lama lagi. Dadanya bergemuruh hingga rasanya akan meledak saat itu juga. Dia bangkit dari duduknya, di ikuti oleh Geraldyn.


Bersamaan dengan itu, Evan dan Carissa menyudahi ciuman panas mereka.


"Saya mohon maaf sebelumnya, Tuan Aaron. Saya ingin lebih lama di sini, tapi masih ada yang harus saya kerjakan." Ujar Jonathan berpamitan pada Aaron dengan sopan.


"Anda mau kembali secepat ini?" Tanya Aaron sembari bangkit juga dari duduknya, diikuti oleh Zaya.


"Iya, lain kali saja kita sambung pertemuannya. Sekarang saya benar-benar harus kembali." Jawab Jonathan lagi.


"Sayang sekali, tapi bagaimana pun, hal penting memang seharusnya di kerjakan secepatnya." Ujar Aaron lagi.


Jonathan menjabat tangan Aaron dan juga Zaya sebelum akhirnya pergi dari ruangan itu, diikuti oleh Geraldyn.


Tak lama kemudian Evan dan Carissa juga berpamitan untuk pulang. Carissa tampak masih sangat kesal pada Aaron hingga hanya berpamitan pada Zaya saja. Sedangkan Evan terlihat lebih bisa menguasai dirinya dan masih bersikap biasa.


Sepeninggalan kedua pasangan tadi, Aaron dan Zaya masih tidak meninggalkan ruangan itu. Aaron justru masih terus menikmati minumannya dengan raut wajah yang tak dapat di tebak.


"Kenapa aku merasa kamu seperti orang lain malam ini, Honey?" Zaya membuka percakapan.


Aaron menoleh sekilas pada istrinya itu.


"Tidak pernah sebelumnya kamu mengatakan kata-kata yang membuat orang kesal. Kenapa kamu menganggu Carissa sampai sebegitunya. Aku rasa kamu sudah agak keterlaluan." Ujar Zaya lagi.


Aaron masih terdiam. Kemudian dia meletakkan gelasnya dan menoleh lagi kearah Zaya.


"Apa kau merasa tidak enak dengan Kakakmu itu karena aku mengganggu istrinya?" Tanya Aaron kemudian.


"Bukan seperti itu. Carissa itu temanmu, bagaimana bisa kamu sengaja membuat temanmu kesal seperti itu. Lagipula dia sedang hamil sekarang." Ujar Zaya lagi.


Aaron menghela nafasnya.


"Justru karena dia temanku dan sedang hamil." Gumam Aaron lirih, seakan berbicara pada dirinya sendiri.


"Sudahlah. Aku sudah melakukan apa yang harus dilakukan. Lebih baik kita melihat Albern dan Zi." Ujar Aaron sambil beranjak dari duduknya.


Zaya menatap tajam kearah suaminya itu sambil melipat kedua tangannya didepan dada.


"Jangan berani-berani melangkahkan kakimu dari ruangan ini selama kamu tidak menjelaskan apa-apa padaku." Ujar Zaya dengan nada agak mengancam.


"Duduk kembali, dan katakan apa yang sedang kamu lakukan tadi."

__ADS_1


Aaron tampak tertegun. Dia tak percaya istri lembutnya ini berkata seperti itu padanya.


"Jika kamu tidak mau, kita tidur di kamar terpisah selama sebulan." Ancam Zaya.


Mata Aaron seketika membeliak. Dengan menghela nafasnya, akhirnya dia kembali menghenyakkan tubuhnya di atas sofa yang didudukinya tadi.


"Baiklah..." Desahnya.


Aaron merapatkan tubuhnya pada Zaya. Diciumnya sekilas bibir istrinya itu, sementara yang dicium tampak dengan khidmat menunggu Aaron bercerita. Lelaki itu memang ahli dalam mencuri kesempatan.


"Jonathan Hansen adalah pengusaha yang cukup berpengaruh akhir-akhir ini. Seperti yang kau tahu, perusahaan kita sudah lama mengincar perusahaannya untuk di jadikan mitra bisnis." Ujar Aaron membuka cerita.


"Sudah banyak perusahaan besar yang gagal membangun kerjasama dengannya, karena dia cukup sensitif, dan jika telah tersinggung, maka tak segan membatalkan kerjasama. Meski begitu, anehnya perusahaannya tidak begitu terpengaruh. Dia selalu bisa menemukan mitra pengganti yang lebih menguntungkan."


Zaya mendengarkan. Sejauh ini, cerita Aaron tak ada hubungannya dengan Carissa. Dia masih tidak mengerti, tapi tetap menahan diri untuk tidak bertanya.


"Rumor mengatakan jika dulu dia adalah seorang playboy, dan tiba-tiba bertobat karena jatuh cinta pada seorang perempuan. Tapi ternyata perempuan itu mencampakkannya dan menikah dengan lelaki lain. Hal itulah yang mengubahnya menjadi orang yang sensitif dan mudah tersinggung."


"Apa kau tahu siapa perempuan itu?" Tanya Aaron pada Zaya.


Zaya agak menautkan kedua alisnya sembari melihat kearah Aaron. Sejurus kemudian matanya agak melebar.


Aaron mengangguk mengiyakan.


Zaya tampak sangat terkejut hingga mulutnya terbuka tanpa sadar. Dibekapnya mulutnya sendiri dengan kedua tangannya.


"Aku juga baru menyadarinya saat mereka bertemu tadi. Dan melihat bagaimana cara Jonathan memperhatikan Carissa, tampaknya dia masih menyimpan perasaan untuk temanku itu. Atau mungkin bisa di katakan jika dia terobsesi, entahlah. Yang jelas dia terlihat masih menginginkan Carissa." Gumam Aaron lagi.


"Aku ingin membuatnya agar tidak berpikir untuk mengganggu Carissa lagi, tapi tentu aku tidak bisa mengatakannya secara langsung. Jika dia sampai tersinggung dan membatalkan kerjasama dengan perusahaan kita, Papa dan Mama pasti tidak akan langsung mengeluarkan namaku dari silsilah keluarga."


Zaya tertawa dengan agak tertahan.


"Aku baru tahu ternyata kamu punya takut juga." Ujar Zaya menimpali.


"Tentu saja, jika Mama dan Papa membuangku, namaku bukan Aaron Brylee lagi."


Zaya mengangguk sambil masih tertawa.


"Benar juga." Gumam Zaya.


Aaron pun kembali melanjutkan ceritanya.

__ADS_1


"Jadi, karena aku tidak bisa menegur Jonathan secara langsung, satu-satunya cara menegurnya adalah membuatnya melihat dengan mata kepalanya sendiri jika saat ini Carissa telah bahagia bersama suaminya, jadi tak ada gunanya dia menganggu. Jika dia melihat Carissa dan Dokter Evan melakukan hal yang intim dan terlihat begitu saling mencintai, mungkin dia akan sadar jika saat ini tidak ada ruang untuknya."


Zaya diam dan mendengarkan.


"Tapi aku tahu jika Kakakmu adalah orang yang pemalu, jadi dia tidak melakukan hal itu jika tidak sedikit di pancing. Akhirnya terpaksa aku menganggu istrinya agar insting melindunginya keluar. Sesuai perkiraanku, dia berusaha untuk membuat Carissa merasa nyaman dengan sentuhan-sentuhan lembutnya itu. Dia bahkan mencium Carissa dengan sangat bergairah di hadapan kita semua. Sepertinya Carissa benar-benar telah membuatnya jatuh cinta." Aaron tersenyum tipis membayangkan adegan ciuman Evan dan Carissa tadi.


Zaya tertegun dan terlihat mencerna setiap kata-kata Aaron.


"Tapi, meskipun maksudmu baik, kamu tidak takut jika nanti Carissa salah paham dan membencimu?" Tanya Zaya kemudian.


"Carissa tidak akan membenciku. Kami sudah berteman sejak kecil. Butuh lebih banyak usaha agar dia membenciku." Ujar Aaron dengan penuh percaya diri.


"Honey, jujur saja, mendengarmu berkata seperti itu, rasanya kamu benar-benar jadi menyebalkan."


Aaron tertawa dan meraih Zaya ke dalam pelukannya.


"Aku menyebalkan? Benarkah?" Tanyanya sembari mengecupi bibir Zaya.


"Benar." Jawab Zaya.


Mendengar jawaban Zaya, Aaron langsung mencium Zaya tanpa ampun dan tak memberikan kesempatan istrinya itu untuk menolak.


"Aku menyebalkan, tapi kau selalu merindukanku saat aku tidak di dekatmu, kan?" Tanya Aaron disela ciumannya.


"Entahlah. Aku tidak terlalu yakin...mmpt" Zaya belum menyelesaikan kalimatnya, tapi Aaron sudah kembali membungkam mulutnya dengan ciuman.


"Sayang, hari ini kau berani mengancamku dan mengatakan aku menyebalkan. Kau benar-benar harus di hukum." Tangan Aaron mulai merambah ke tempat-tempat sensitif Zaya.


"Honey, cukup!" Zaya mendorong tubuh Aaron.


"Berhenti, masih ada satu orang di sini." Ujar Zaya sambil menunjuk kearah pemandu lagu yang telah membuang mukanya sedari tadi.


Bersambung...


Satu bab full Aaron sm Zaya, selamat melepas rindu, abis ini akan balik ke Evan Carissa lagi.


Yang sebel sama Aaron, ini emak lagi nyamperin dia sambil bawa sapu. Ngapain juga dia nyari panggung di sini, mau emak gebukin biar balik ke novelnya sendiri.


Awas ya kalo balik lagi kesini.


Happy reading❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2