
Devan mencoba untuk menghubungi adiknya ketika dia berada di kamar bersama dengan istrinya. Adelia yang saat itu baru saja selesai mandi mendekatinya dengan ekspresi yang penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi, tapi Devan berusaha untuk tetap tenang karena Sabina hingga saat ini belum juga membalas pesan atau bahkan menjawab teleponnya.
tanpa canggung lagi, Adelia mengenakan pakaian di depannya, "Adelia, udah kunci pintu?"
"Memangnya kenapa sayang?" tanya Adelia dengan polosnya. Apa dia lupa kalau ternyata suaminya juga punya nafsu yang bisa saja bangkit kapanpun dia mau.
Devan yang waktu itu hanya mengulas senyum di bibirnya ketika melihat perut istrinya membesar yang di mana bahwa anaknya sebentar lagi keluar. Ada rasa bahagia, bahkan dia juga tidak menyangka bahwa dia akan menjadi seorang ayah di usia muda seperti sekarang ini.
"Sayang, kamu kenapa sih kok senyum-senyum sendiri?" tanya Adelia penasaran saat Devan tersenyum kearahnya dan melihat perutya.
Devan menggeleng kemudian melanjutkan lagi usahanya untuk menghubungi sang adik lagi. Devan yang sangat khawatir karena Sabina berada di rumah sendirian nantinya. Anak itu awalnya mau pergi ke rumah tante Shita tapi batal karena teman-teman sekolahnya datang berkunjung. Devan juga sudah mengatar, tapi anak itu justru pulang lagi. Takut jika ada terjadi sesuatu dengan adik perempuan satu-satunya.
"Devan, Sabina masih belum bisa dihubungi?"
"Iya, aku khawatir aja kalau dia kenapa-kenapa,"
Adelia yang baru saja selesai berdandan kemudian dia langsung keluar dari kamar. "Kamu mau ke mana?"
"Sabina nggak bisa dihubungi kan?"
Devan mengangguk pelan, yang kemudian di mana Adelia pergi ke kamar adikya tanpa permisi. Saat itu juga Keano tidak menyadarinya, Adelia mengintip dari samping saat adiknya sedang video call bersama dengan Sabina. Padahal yang dia tahu bahwa Keano sangat sulit untuk dekat dengan siapapun.
Adelia berusaha untuk keluar ketika Sabina juga tidak melihatnya, padahal tadi niatnya dia ingin menyuruh Keano menyusul Sabina di rumah karena anak itu pasti sangat kesepian dan tidak ada teman sama sekali karena ditinggal oleh Devan dan juga Adelia untuk pulang ke rumah orang tuanya.
Saat dia menutup pintu kamarnya ketika dia kembali dari kamar Keano, dia masih melihat ekspresi suaminya yang tidak tenang. "Sudah sayang, jangan pikirkan!"
"Kok kamu bilang nggak usah pikirkan? Sabina itu sendirian di rumah,"
Adelia ingin tertawa karena dia tidak tahu bagaimana lebih jelasnya bahwa kedua remaja itu bisa dekat seperti sekarang ini bahka mereka dengan nyamannya tertawa berdua ketika melakukan panggilan video. "Sayang, bukan berarti aku nggak mau kamu hubungi Sabina ya! Tapi entah kapan kedua anak itu dekat dan sekarang Sabina sama Keano lagi telponan, tadi aku nggak sengaja ke kamarnya dia. Aku juga ke sana untuk nyuruh Keano susul Sabina. Tapi tahunya mereka telponan,"
"Sabina itu nggak pernah dekat sama cowok, Adelia. Dia memang bergaul, tapi nggak pernah sama cowok,"
"Kamu cek aja sendiri nanti riwayat panggilan dia,"
__ADS_1
"Tapi kan kalau emang dia lagi sibuk pasti ada keterangan dia lagi nelpon sama orang lain,"
"Sabina kan sering pakai laptop, Devan. Jadi bisa aja kan kalau dia mode diam ponselnya, terus telpona sama Keano dari laptop, Keano juga pakai laptop juga kalau aku telepon,"
"Masuk akal juga sih," jawab Devan lembut. Padahal beberapa hari ini dia memang sengaja ingin membuat keduanya dekat, tapi tak disangka baik Devan maupun Adelia jika kedua adiknya itu bisa akrab seperti sekarang ini.
Ketika Devan hendak beranjak dari tempat dudukya, tibat-tiba notifikasi ponselnya berbunyi. Devan langsung membuka aplikasi pesan yang di mana Sabina menghubunginya, "Kakak yang tenang, aku udah sama Kak Nethi kok, tadi dia juga yang jemput aku waktu teman-teman aku pulang," kata Sabina yang di mana bahwa Nethi merupakan anak tante Shita yang masih SMA kelas sebelas.
Devan langsung tersenyum dan meletakkan ponselnya diatas kasur. "Sayang, aku mandi dulu ya!" pamitnya kepada Adelia.
"Kamu mau makan apa, sayang? Biar aku masakin,"
"Apa aja, yang penting di masakin istri," goda Devan yang membuat Adelia mengulum senyumnya tapi justru membuat Devan tertawa karena melihat ekspresi istriya yang sedang malu-malu.
"Ngomong-ngomong tadi Papa bilang apa?"
"Hehe, obrolan menantu dan mertua,"
Bibir Adelia manyun seketika saat mendengar jawaban dari Devan. Sebenarnya dia sangat kesal dengan jawaban yang kurang memuaskan itu. Tapi apa yang mau dikata? Dia tidak bisa berkata apa-apa saat Devan tak memberitahunya.
Ketika dia mengikat rambutnya dan menghampiri mamanya yang ada di dapur, "Sayang, Devan mana?"
"Devan mandi, Ma,"
"Kamu mau masakin apa buat dia?"
"Apa aja sih, Ma. Devan selama ini nggak pernah milih-milih makanan,"
"Ya bagus, beruntung berarti kamu nikah sama dia," ucap papanya tiba-tiba menutup pintu kulkas yang di mana tadi Adelia tidak melihat papanya.
"Papa tiba-tiba kok di sini?"
"Papa haus,"
__ADS_1
"Pa, ngomong apa tadi sama Devan?"
Papanya mengangkat kedua bahunya kemudian menggeleng, "Nggak ada, cuman obrolan biasa menantu dan mertua," papanya kemudian pergi dan membuat Adelia tambah kesal.
Dia cemberut begitu saja dan membuat mamanya justru tersenyum, "Jangan khawatir sama apa yang dikatakan Papa. Kalau emang dia bilang nggak ada, itu berarti emang nggak ada apa-apa, kecuali kalau dia bilang dia tuh nggak terima Devan, baru deh dia dingin banget,"
"Ma, Papa dul orangnya gimana sih waktu muda? kenapa Mama bisa suka sama dia?"
"Papa itu baik, Adelia. Sama kayak Devan, walaupun dia dingin, cuek, tapi papa romantis,"
"Maaf ya, Ma. Suami kita itu beda banget, kalau suami aku cueknya sama orang, tapi kalau sama istri enggak,"
"Kamu pikir Papamu juga nggak kayak gitu? Papa itu cuek sama orang lain, tapi lebih sayang sama mama yang pasti, Mama kan waktu muda cantik,"
"Iya dong, nurun ke anaknya yang satu ini,"
"Nggak sama sekali. Kamu itu mirip Papa kamu. Manjanya oke, ngambeknya paling oke juga, untung Devan sabar,"
Adelia tertawa keras saat mamanya menyinggung perihal gambek. "Ma, tahu nggak dulu Devan pernah bilang kalau dia bakalan ganti pintu pakai baja karena aku sering berantem sama dia kalau ada yang aku nggak suka, dan ujungnya aku ngambek,"
"Jangan diulangi lagi ah, Mama nggak suka,"
"Tapi udah nggak lagi, ma. Justru dia yang ngambekkan sekarang," Adelia mulai terbuka mengenai suaminya kepada sang Mama. Terlihat juga raut wajah Mamanya yang bahagia.
"Adel, maaf ya. Mama nggak mau ikut campur, tapi kamu udah pernah lakuin hal itu sama Devan, kan?"
"Maksud mama? Hubungan suami istri?" bisik Adelia.
Mamanya pun mengangguk, "Sering, Ma. Makanya Devan ngambek kalau aku tinggal tidur, ujung-ujungnya besok pagi pasti dia nggak mau negur,"
"Adel, Mama sempat khawatir sama hubungan kalian,"
"Ma, selama doa mama baik, pasti semua akan baik-baik saja,"
__ADS_1
"Pastinya Adelia, doa Mama selalu baik untuk kamu," jawab mamanya dan mengusap pundak Adelia.
Note: Karena author nulis dari HP untuk saat ini, berharap kalian tetap sabar ya. Hehehe pasti tahu pegalnya gimana, author usahakan update