
Reza sempat tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Devan. Akan tetapi begitu bukti diberikan kepada dirinya. Ia begitu terkejut, bagaimana mungkin anaknya bisa terjerat cinta dengan anak Raka yang hingga pada akhirnya menjadikan hidup ini menjadi semakin rumit
Dia masih bengong di ruang tamu bersama dengan Devan. "Pa, apa Papa bisa bantu aku berpikir tentang pernikahan aku? Aku nggak mau kalau pernikahan aku dan Adelia hancur, Pa. Aku mohon bantu!"
Selama ini Devan tidak pernah memberatkannya, Devan selalu berusaha untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, tapi tidak dengan saat ini yang di mana Devan justru merasa takut jika rumah tangganya hancur karena ulah Reza di masa lalu.
"Pa," panggil Devan dengan pelan sembari melihat mata dengan bola mata yang hitam teduh serta sedang terlihat begitu banyak beban pikiran. "Kalau memang Papa nggak bisa bantu, satu-satunya cara aku untuk terhindar dari ini semua adalah, aku harus pergi ninggalin kota ini sama Adelia,"
"Papa bakalan usahakan bantu kamu, tetap di sini. Papa nggak tahu apa yang terjadi sama kamu kalau kamu pergi, Papa akui kalau dia memang orang paling mengerikan. Papa nggak bisa bantu banyak nak. Tapi Papa bakalan berusaha untuk bantuin kamu,"
"Pertama, jauhkan Bianca dari aku, Pa. Karena dia akan menjadi dalang semua ini, Bianca yang akan terus menganggu Adelia. Dia sendirian di rumah, aku nggak mau kalau Adelia diganggu sama Bianca dan justru bicara yang tidak-tidak. Terlebih Mama juga yang harus Papa awasi,"
Reza mengerti dengan permintaan anaknya. Jujur saja dia sempat tidak percaya dengan sempitnya dunia yang seolah memberinya karma. Devan memang pertam kali jatuh cinta dan sampai sekarang ini menjaga apa yang harus menjadi miliknya. Reza yang tak ingin jika anaknya melakukan hal nekat nantinya jika mereka berdua pisah.
"Pergi ke luar kota bukan suatu solusi. Karena ke manapun kamu pergi, Raka bakalan ngejar dan justru habisi kamu di sana. Papa nggak mau kamu kenapa-kenapa,"
Devan mengangguk pelan. "Itulah kenapa aku bilang kalau Papa egois dan bertindak semau Papa tanpa memikirkan apa yang bisa saja terjadi di masa depan. papa justru tak peduli dengan hal itu. Andai saja aku benar-benar menikah dengan Bianca saat ini untuk menduakan Adelia, bukan cuman Papa dan juga aku yang bakalan hancur, Mama dan juga keluarga Bianca akan kena. Belum lagi tante Shita yang tidak tahu apa-apa pasti akan kena juga. Nenek juga bakalan kena imbasnya,"
"Iya, dia memang punya kekuasaan yang besar. Dia bisa menghancurkan siapapun, Raka memang keras kepala. Permainannya memang selalu santai, tapi dibalik itu semua, orang-orang akan ketakutan karena dia yang tidak pernah bersikap arogan pada orang lain. Dia selalu baik, tapi ketika ada orang yang mengusiknya, maka bersiaplah untuk tunduk kepada dia,"
"Kalau Papa tahu bakalan seperti ini, kenapa dari dulu Papa nggak mikirin di masa depan? Papa juga yang sudah buat hati mama mertua aku seperti itu. Jujur aku kaget waktu tahu kalau istri aku ternyata anak mantan istri Papa. Dia nggak tahu apa-apa, aku akui itu karena aku merahasiakan semuanya. Adik Adelia yang mengakatan kalau sekarang ini Om Raka sudah mulai untuk menyerang,"
Jika dibilang takut, Reza tentu saja takut. Karena bukan hanya dia saja yang akan merasakan kepedihan ketika Raka sudah memulai semuanya, bahkan anak dan juga istrinya akan kena. Belum lagi orang tuanya yang sudah dipastikan akan lebih terkejut dengan semua ini.
"Papa bakalan pikirkan hal itu, Nak. Kamu sama Adelia baik-baik saja!"
"Bagaimana aku mau baik-baik saja di saat aku keluar orang-orang ngikutin aku, apalagi Bianca yang selalu datang ke kantor aku. pastinya orang tua Adelia sudah tahu tentang hal ini. Tapi mereka memilih diam, sumpah Pa. Aku nggak mau kehilangan dia, aku nggak mau Adelia terluka karena perbuatan papanya yang ingin balas dendam sama Papa atau bahkan mau hancurin aku,"
__ADS_1
"Kamu jangan bicara seperti itu! Papa bakalan ngomong sama Mama nanti agar Bianca tidak ganggu kamu lagi,"
Devan tak percaya dengan hal itu, karena papanya juga pernah berjanji untuk tidak membiarkan Bianca menganggunya. Tapi sekarang ini papanya berjanji lagi, tapi Devan masih ragu dengan janji yang diucapkan oleh Papanya. Tentu dia tidak percaya dengan papanya sendiri, sekalipun itu orang tuanya. Karena dia pernah terluka oleh janji orang tuanya sendiri.
"Apa kali ini aku bisa percaya?"
Reza menghela napasnya panjang lalu mengembuskannya begitu saja. Dia akan berusaha melindungi anak dan juga keluarganya yang lain. tidak mungkin hanya karena kesalahan dimasa lalu membuat anaknya hancur dan tidak mendapatkan kebahagiaan apapun.
Reza sadar kali ini jika perbuatannya memang sudah melebihih batas untuk ikut campur ke dalam rumah tangga anaknya. tapi itu semua sempat dia pikirkan jika anaknya lebih bahagia lagi dengan Bianca. Akan tetapi dia salah, melihat anaknya yang rapuh karena sudah terlanjur mencintai anak dari mantan istrinya dulu. Bagaimana Reza akan bertindak nanti jika dia bertemu dengan Raka dan justru pria itu tahu bahwa anaknya yang menikahi putri Raka. Semuanya pasti akan jauh lebih berantakan lagi.
"Papa, aku cuman minta itu aja kok. Aku cuman pengin Papa menjadi papa yang sesungguhnya yang bisa melindungi keluarganya dengan melakukan hal apapun agar anaknya juga bisa mendapatkan kebahagiaan. Sama seperti yang Om Raka lakukan demi Adelia, dia bahkan bertindak secepat ini untuk membuka identitas aku, dan sebentar lagi aku pasti keluar dari perusahaan suami tante Shita dan akan pergi jauh. Aku nggak bisa terus seperti ini,"
"Kamu mau pergi ke mana?"
"yang jelas tidak menetap di sini. Aku mencintai Adelia dengan sangat, apapun yang terjadi aku bakalan lindungi dia, Pa. Sekalipun itu akan membahayakan diri aku sendiri,"
"Pengorbanan seorang suami dan juga seorang Papa untuk keluarganya lebih berharga, Pa. Maka dari itu sebelum aku dihancurkan oleh tangan mertua aku sendiri, lebih baik aku berjuang juga untuk anak dan juga istri aku. Apapun yang terjadi, tapi aku minta sama Papa agar Papa juga bantu aku. Nggak mungkin aku bisa lewati ini sendirian, Pa. Aku juga punya titik lemah,"
Reza menganggukkan kepalanya. "Ya, Papa akan usahakan. Mengenai tabungan kamu, Papa kembalikan. Untuk sementara waktu, kamu bisa tinggal di luar. Tapi jangan lama-lama!"
"Pa, maaf aku ngrepotin,"
"Kamu anak Papa. Nggak mungkin Papa ngerasa direpotkan oleh anak Papa sendiri. Kamu tunggu di sini, Nak!"
Devan menunggu papanya. Devan lelah dengan semua ini, dia yang terus bersembunyi dari mertuanya tentang statusnya. Andai saja Papanya mengabaikan ucapannya tadi, entah dia tidak tahu lagi harus melakukan apa. Tapi kali ini dia benar-benar bersyukur jika papanya menerima apa yang dia katakan.
Papanya pun kembali lagi dan meletakkan buku tabungan diatas meja. "Cuman ini yang bisa papa lakukan untuk kamu. Kalau memang kamu mau pergi jauh dari kota ini, Papa nggak masalah. Tapi jangan lama-lama, tetap beri kabar apapun yang terjadi. Cukup kita berdua yang tahu mengenai hal ini, Papa juga bakalan berusaha untuk bantu kamu diam-diam. Pergi tengah malam, mobil biarkan di rumah kamu. Nanti Papa suruh orang untuk tinggal di rumah kamu seolah kamu tetap berada di rumah,"
__ADS_1
Devan mengangguk paham. "Terima kasih, Pa,"
Reza tak ingin jika anaknya menderita karena penyesalan itu. Penyesalan yang memang sangat perih dan hampir saja menghancurkan kehidupannya. "Bilang sama istri kamu kalau kamu ada tugas di luar atau ajakin dia liburan sampai dia melahirkan,"
"Iya, Pa,"
"Papa bakalan tetap kirim uang buat kamu selama tinggal di luar sana. Kamu tetap jaga istri kamu baik-baik, Devan!"
"Tentu,"
"Papa minta maaf sudah melakukan hal yang salah selama ini sama kamu. Papa nggak tahu kalau ternyata beban kamu sangat berat selama ini, Devan,"
"Aku nggak mau cerita karena aku takut kalau dia kenapa-kenapa,"
"Anak kamu sehat?"
"Sehat, Pa. Adelia selalu jaga dengan baik,"
Memang seperti itu seharusnya, Devan harus tetap juga menjaga kandungan istrinya. tidak seperti dirinya yang menyia-nyiakan anaknya dulu dan menuduh Fania selingkuh dengan Raka yang padahal menjaga kandungan mantan istrinya dulu.
"Pulang, Nak! Lihat keadaan istri kamu. Dalam waktu kurang dari seminggu, kamu harus benar-benar tinggalin kota ini, Papa nggak mau kalau mereka sampai tahu semuanya,"
"Aku bakalan usahakan, Pa,"
"Kamu hati-hati, Devan! Papa pastikan Mama nggak bakalan tahu tentan gini. Yang penting kamu sudah berniat baik untuk jaga istri dan anak kamu. Papa nggak tahu lagi mau ngomong apa sama kamu, Devan. Intinya sekarang kamu sudah menjadi laki-laki sekaligus suami yang baik buat istri kamu. Kamu rela kehilangan semuanya demi dia,"
Devan sebenarnya merasa sangat sakit jika harus pergi meninggalkan kota ini dan pergi bersama dengan istrinya. Tapi semua itu akan dia lakukan demi Adelia dan juga anaknya yang meski belum lahir sudah membuat Devan merasa gagal dalam menjaga. Dia tidak tahu lagi harus berbuat apa untuk saat ini jika tidak pergi dari kota ini.
__ADS_1
'Sudah gregetnya?' hihihi jangan lupa di like ya dan jangan lupa vote sebanyak-banyaknya