WITH YOU

WITH YOU
Tidak Semua Hal


__ADS_3

Melbourne pagi hari. Berbeda halnya ketika berada di Indonesia pukul enam kurang matahari sudah terbit. Tetapi ketika berada di sana, matahari baru akan terbit setengah delapan pagi, perbedaan itu paling mencolok yang dirasakan oleh Adelia dan juga Devan ketika mereka berada di sana. Sudah dua minggu lebih mereka berada di sana tanpa ada gangguan dari siapa pun. Berada di gedung apartemen yang tinggi. Melihat pemandangan gedung-gedung yang tinggi memanjakan mata.


Seperti biasanya, hubungan mereka memang selalu sering diwarnai dengan keributan-keributan kecil yang barangkali mereka sedang saling memahami satu sama lain.


Devan yang lebih memilih untuk mengalah ketika Adelia mengomel hanya karena dia yang makan dan membuang sampah sembarangan. Kali ini Adelia memang terlihat seperti seorang ibu-ibu yang sangat crewet. Devan telat mandi juga akan menjadi masalah besar. Karena istrinya yang sedang hamil dan tidak bisa mencium aroma yang sedikit menyengat, apalagi itu adalah keringat. Maka tidak segan-segan Adelia menghindarinya.


Setelah membuat sarapan, Devan mengigit telinga istrinya untuk menggoda Adelia yang sedari tadi dia bangunkan, tapi perempuan itu tak mau bangun dan justru menarik selimutnya. Ini adalah bulan madu yang sebenarnya, tidak ada masalah. Tidak ada keributan juga yang dia pikirkan.


“Manja ya sekarang!” goda Devan ketika istrinya tidak mau meresponnya ketika dia menggigit telinga Adelia.


“Devan, kenapa kamu nyebelin sih, hmm?” Adelia berbalik kemudian perlahan bangkit dari posisi nyamannya yang ketika itu sedang tidur. Adelia tanpa ragu langsung memeluk Devan pagi itu sekalipun dia tidak mengenakan apa pun. Karena selama berada di sana, Devan memang memperlakukan dirinya dengan baik. Tapi, dia harus melayani suaminya juga dengan baik.


Devan tersenyum kemudian mencium kening istrinya. “Sarapan ya!” ajak Devan.


“Kamu bikin sarapan?”


“Hmm, tentu saja bikin untuk istri tersayang,” kata Devan sambil mencolek hidung istrinya.


Devan langsung menurunkan selimut yang menutupi perut Adelia kemudian mencium perut istrinya. “Pagi sayang,” sapanya. Devan tak ingin melewatkan momen seperti ini. Dia memang ingin jika hari-hari Adelia selama mereka berada di luar itu sangat menyenangkan.


“Devan, kamu cepat banget bangunnya?”


“Aku udah biasa bangun pagi, kan? Jadi aku nggak bisa lama-lama tidurnya, takut sakit punggung. Kalau kamu sih nggak masalah, kan lagi hamil. Jadi aku maklumi,” disertai dengan kekehan kemudian Devan mengambil jubah mandi yang ada di dekat pintu kamar mandi. Apartemennya yang sangat luas kali ini jauh lebih besar dibandingkan dengan rumah mereka yang mereka tinggali waktu itu. bahkan apartemen ini jauh lebih besar dibandingkan dengan apartemen Devan dulu.


Devan menarik Adelia agar perempuan itu turun dari ranjangnya. Kemudian dia memasangkan jubah mandi untuk istrinya. “Sekarang kamu mandi terus dandan ya! Kita bakalan kedatangan tamu untuk hari ini,” kata Devan.


“Tamu? Siapa? Memangnya kita punya teman di sini?”


Devan menggeleng kemudian dia mengikat tali jubah itu dengan sedikit longgar. “Kamu mandi aja dulu, setelah itu kamu siap-siap!”


Devan sudah mendengar kabar bahwa hari ini mertuanya akan datang ke apartemennya. Mertuanya telah mendapatkan alamat dari papanya. Awalnya dia terkejut ketika papanya mengatakan bahwa papa Adelia akan datang hari ini. Dan papanya juga bilang bahwa Raka sudah di sana dua hari yang lalu.


Dia pikir bahwa semuanya akan berjalan dengan baik dan sesuai dengan rencannya. Alamatnya yang diketahui oleh orang tuanya saja. Tapi kali ini justru papanya memberitahukan alamat mereka. Dan papanya juga mengatakan bahwa Raka sudah tahu mengenai status dirinya.


“Singkat banget hidup kita, Adelia,” kata Devan ketika istrinya tenggelam dibalik pintu kamar mandi.


Sekalipun begitu, papanya memastikan bahwa kehidupannya akan jauh lebih baik karena ada hal yang tidak dijelaskan oleh papanya mengenai Raka yang sudah menerima dirinya sebagai menantu dan juga akan mengajak mereka untuk pulang. Walaupun ada keraguan di hati Devan. akan tetapi dia tidak berani untuk melawan mertuanya. Karena itu akan membuat Adelia merasa sakit hati ketika dia melawan nanti.


Devan telah membuat sarapan untuk menyambut mertuanya nanti. Ia menarik napasnya dengan begitu sesak setelah mengetahui kenyataan itu. semalam papanya menghubunginya setelah Adelia tidur. Perbedaan jam yang membuatnya bisa keluar dari kamar ketika Adelia tidur semalam.


Ketika itu dia berdiri di dekat jendela yang memperlihatkan gedung-gedung megah di sana. “Apa yang terjadi berikutnya?” dia sempat menyalahkan papanya yang begitu mudah percaya dengan ucapan papa Adelia. Tapi papanya menjelaskan jika keinginan itu adalah keinginan nenek Adleia yang di mana Devan tahu neneknya sudah sangat tua. Jika pun mereka menolak. Takut jika nanti ada keinginan yang tidak bisa mereka wujudkan lalu nenek Adelia pergi untuk selamanya. Seketika pikiran buruk itu membuat Devan tersadar dan segera mengenyahkan pikiran tersebut.


Adelia keluar dari kamar dengan penampilan yang sudah rapi. “Sudah cantik,” kata Devan ketika menyambut kedatangan istrinya dan mengajak Adelia duduk terlebih dahulu.


“Memangnya yang mau datang itu siapa sih?” Adelia mulai penasaran dengan tamu yang akan datang itu.


“Papa kamu,” jawab Devan dengan ekspresi datarnya.


Adelia langsung membelalakkan matanya. “Kamu bilang kita ke sini untuk menghindar. Tapi sekarang kenapa yang datang justru, Papa?”

__ADS_1


“Adel, aku bisa jelasin,”


“Kamu nggak bosan-bosannya ya bikin aku bingung.”


Adelia menyalahkan dirinya karena yang akan datang kali ini adalah papa yang selama ini dihindari oleh mereka berdua. Bukan mereka ingin kabur. Keduanya berusaha mempertahankan rumah tangga mereka dengan baik. Justru kali ini akan dihadapkan dengan kenyataan papanya Adelia yang datang.


“Kamu itu kenapa sih Devan selalu bikin masalah? Sebenarnya kamu sama Papa itu ada apa? Kalau memang nggak ada apa-apa, nggak mungkin kita bakalan main kucing-kucingan seperti ini. Aku capek tahu nggak,”


“Aku sama sekali nggak pernah tahu kalau ini bakalan terjadi, Adelia. Aku nggak pernah mau ini terjadi sama kita. Kenapa kamu selalu nyalahin aku? Kamu nggak tahu apa perjuangan aku,”


“Aku capek, Devan. Aku capek,” nada suara Adelia terdengar parau.


“Kamu kenapa bilang gitu? Papa ke sini katanya mau jemput kita. Kita mau pulang lagi,”


“Kalau Papa mau ke sini jemput kita. Kenapa juga kita pergi waktu itu dan kabur dari Papa sih?”


“Adel, kenapa kamu nggak ngerti juga sih?”


“Ngerti apa? Sekarang apa yang mau aku ngerti dari kamu sih, Devan? tidak semua hal bisa aku mengerti kalau kamu nggak jelasin aku,”


“Please, dengerin dulu!”


“Aku selalu dengerin kamu. Aku rela ninggalin semuanya itu demi kamu. Tapi apa? Sekarng aku ngerasa dipermainkan, Devan. aku baru aja ngerasain kebahagiaan itu sama kamu. Tapi kenapa kamu selalu buat aku ragu. Rahasia apa yang Papa punya tentang kamu?”


“Nggak ada,”


“Adel, aku mohon jangan seperti ini,” Adelia menangis pagi itu. dia bingung mau menjelaskan apalagi kepada Adelia. Dia bingung memulainya dari mana.


“Aku capek, Devan. semakin aku coba mengerti kamu, semakin aku mencoba percaya sama kamu. Keraguan itu tumbuh di dada aku, Devan. Terserah untuk saat ini. Aku nggak mau lagi, aku capek,”


“Nyerah apa? Kamu bilang nyerah untuk apa Adelia?” suara Devan juga kali ini sangat tinggi.


“Apa yang harus aku lakukan? Kamu baru begini saja sudah marah? Harusnya aku yang marah sama kamu, Devan. kamu selalu bilang kalau aku harus ngerti, ya aku ngerti apa? Apa yang harus aku ngerti dari kamu? Devan apa yang harus aku lakukan, hah? Aku juga capek. Pernah nggak sih kamu jelasin apa alasan kamu kabur dari Papa aku? Kamu cuman bilang takut dipisahin. Memangnya Papa bakalan misahin karena apa? Pernah nggak sih kamu hargai sedikit aja perasaan aku, Devan? aku capek, kamu belum ngerasain gimana rasanya hamil, dibebani pikiran ini itu. sekarang kamu buat aku tambah bingung. Kalau aku cuman dapat sakitnya dari kamu, mending aku ikut sama Mama dan juga Papa aku,” kata Adelia parau.


Devan menganggukkan kepalanya, matanya memerah. “Kamu nyesel?”


“Iya,”


Jawaban singkat itu membuat Devan emosi. Adelia menyesal menikah dengannya. Adelia hendak pergi dari ruang tamunya. “Kita belum selesai ngomong, kamu jangan pergi, Adelia!” Devan masih menahan diri untuk meredakan sedikit emosinya ketika Adalia mengatakan bahwa dia menyesal.


“Apa yang mau dibicarakan? Aku udah bilang terserah, jadi itu memang nggak ada artinya dipertahankan, Devan,”


Devan mengusap wajahnya kasar. Hatinya terlalu sakit ketika Adelia mengakui tentang penyesalannya itu. sungguh, itu tidak pernah dibayangkan oleh Devan jika perempuan yang sudah dia perjuangkan itu akan mengatakan hal seperti tadi.


Adelia keluar membawa kopernya, “Adel, kamu mau ke mana?”


“Aku mau pulang,” hanya dengan bermodalkan uang yang diberikan oleh Keano dalam ATM dulu maka dia akan pulang kali ini. Hatinya terlalu sakit dan merasa dibohongi oleh Devan yang selalu mengajaknya menghindar.


“Adel,”

__ADS_1


“Terima kasih, Devan. Terima kasih banyak udah buat semuanya sia-sia, kamu bilang ini karena Bianca juga kan? Maka dari itu, aku nggak tahu apakah kamu sudah tidur sama dia. Sampai kamu kabur seperti ini. Aku nggak tahu kalau kamu ada hubungan apa sama Bianca waktu itu. mama kamu juga ngamuk-ngamuk kan waktu itu. ditambah lagi ketika seperti ini justru kamu bakalan balikan juga sama dia. Kamu nggak usah khawatir Devan. itu udah cukup kok,” kata Adelia dibarengi dengan air mata.


“Adel, kamu mau ke mana? kamu nggak punya temna di sini,”


“Daripada aku sama kamu di sini itu cuman bikin hati aku sakit, Devan. aku nyerah, kamu lanjutin sama Bianca. Karena itu kemauan Papa sama Mama kamu, kan?”


Devan mencoba menahan Adelia, tapi perempuan itu terus menangis. “Kalau kamu terus seperti ini, aku bakalan merasakan sakit yang luar biasa, Devan. Kamu nggak usah cariin aku lagi sekarang. Kita masih bisa jadi teman kok,”


Teman? Apa maksud Adelia mengatakan teman?


“Adel, kamu apa-apaan sih?”


“Please. Jangan cariin aku lagi, Devan!” tangan Adelia menurunkan tagan Devan yang tadi menggenggam tangannya. “Udah cukup ‘kan? Kamu bisa kembali sama Bianca! Terima kasih,”


Adelia pergi walaupun ditahan oleh Devan. kata terima kasih tadi sudah mewakili perasaan sakit Adelia.


Ketika Adelia membuka pintu, Devan langsung berlari mengejar istrinya. Dia benar-benar tidak mau berpisah dari perempuan itu.


Ketika di depan pintu Adelia berhenti, Devan meraih tangan istrinya saat itu berdiri papa Adelia di depan pintu. “Papa,” Adelia menyeka air matanya.


“Kenapa kamu mau pergi? Papa baru saja mau ketuk pintu,” kata papanya sembari melihat ke arah Devan. “Apa yang terjadi? Kamu sampai mau pergi segala,”


“Om saya bisa jelasin,” kata Devan ingin menjelaskan sesuatu.


“Adel, ada apa?” tanya Raka kepada anaknya.


“Ayo pulang, Pa!” isak Adelia.


“Kita omongin kalau ada masalah, Nak,” katanya untuk menengahi.


“Nggak ada gunanya, Pa. Aku mau pulang, aku bakalan tinggal sama Papa, sama Mama dan nenek sama Keano,”


“Nak, apa yang terjadi?”


“Om kasih saya waktu untuk jelasin,”


“Pa, aku mohon ayo pergi dari tempat sini. Aku nggak mau lagi lihat dia,” kata Adelia menarik papanya.


Raka tidak bisa menahan diri untuk berada di sana. sekalipun dia melihat menantunya mencoba untuk menjelaskan itu. tapi ketika melihat Adelia menangis, rasanya dia tidak bisa melihat putri kesayangannya bersedih.


 


 


“Iya, kita pergi, Adelia.”


 


Kasih ratting bintang 5 ya, klik dibagian dekat bintang dan kasih bintang 5 untuk author jika kalian suka. Terima kasih banyak.

__ADS_1


__ADS_2