
Tiga bulan setelah kejadian itu rutin terjadi. Raka yang memilih tinggal bersama dengan Nabila. Dia juga tak bisa mengontrol dirinya. Sebagai sepasang kekasih yang sedang memadu kasih. Pasti sangat menyayangi kekasihnya. Apalagi Nabila yang begitu mencintai Raka bahkan rela melakukan apapun agar pria itu tidak pergi dari hidupnya.
Nabila menggigit bibir bawahnya ketika mereka bertengkar membahas mengenai pernikahan. Raka yang seolah lupa dengan janjinya untuk melanjutkan hubungan ini ke jenjang yang serius. Akan tetapi, ketika Nabila menuntut untuk dinikahi. Justru Raka lupa dengan semua ini. Raka yang tak pernah perhatian lagi. Hanya saja, Raka tetap meminta jatahnya layaknya suami. Yang di mana seharusnya Nabila tak melakukan itu juga untuk Raka. Tapi, karena sudah terlanjur. Dia juga takut ditinggal oleh pria itu. Maka dari itu, mau tidak mau hal itu akan tetap terjadi.
Pertengkaran mereka yang seolah tak ada ujung. Raka yang menjadi keras kepala ketika Nabila meminta untuk dinikahi.
Saat itu dia duduk menyandarkan dirinya dipojok kamar mandi. Dia memegang test pack yang di mana saat ini dia tengah positif hamil. Memang ketika berhubungan kadang Raka menggunakan pengaman, tapi dia juga sering minum obat pencegah kehamilan. Akan tetapi karena melihat Raka yang serius kepada dirinya. Nabila mengambil risiko untuk berhenti minum obat itu.
Dia hanya bisa menunggu Raka pulang bekerja dan sambil memegangi perutnya. Dia tak menyangka jika diujung hubungannya yang sekarang ini justru Raka bersikap seperti pengecut dan lupa terhadap janji-janjinya yang dulu. Ternyata semua itu hanyalah omong kosong yang sama sekali tak ada artinya. Raka yang seolah dianggapnya begitu baik tapi brengsek juga.
Tadi pagi, mereka bertengkar tapi Raka tetap tak peduli terhadapnya. Hal itu juga yang membuat Nabila bersedih saat Raka yang dirasanya akan menjadi pria terakhir di dalam hidupnya. Semua apa yang berharga pada dirinya sudah dia berikan kepada Raka. Apalagi yang bisa dia banggakan saat ini? Ketika dia mash belum menikah, justru sudah melakukan hubungna itu dengan pacarnya. Bahkan, kali ini dia sedang hamil.
Sungguh, Nabila begitu gemetar ketika mendapati dirinya yang sedang hamil. Dia tak bisa menahan air matanya karena kehamilan yang sudah tak seharusnya dia rasakan sedari dulu juga dia harusnya menolak ketika Raka meminta bukti cintanya. Semua telah menjadi kenangan. Raka yang tak peduli lagi dengannya. Bahkan saat dia menyinggung soal pernikahan, Raka langsung pergi begitu saja.
Dia terus menjambak rambutnya ketika berada di kamar mandi.
Sampai sore tiba, dia hanya tetap berada di dalam kamar. Raka tak menjawab teleponnya sama sekali. Fandy dulu benar, bahwa cinta yang sebenarnya adalah pernikahan. Sekarang, dia mengerti dengan semua itu. Mengapa dulu dia tidak menerima Fandy sebagai kekasihnya, bukan justru memilih pria yang manis hanya pada omongannya saja. Tidak benar-benar menjaga. Semuanya telah terjadi, apalagi dia sudah terlanjur hamil seperti sekarang ini.
Hingga malam, Raka belum juga kembali.
Nabila belum makan sedari tadi, karena dia begitu terkejut ketika mendapati dirinya yang hamil.
Hidupnya telah hancur, apa yang bisa dia banggakan dari dirinya? Apa yang ada dalam dirinya benar-benar tak ada artinya.
Ketika Nabila berusaha membuka matanya saat mendengar pintu terbuka. Tiba-tiba dia melihat Raka datang dengan keadaan yang begitu berantakan.
Mata Nabila begitu perih, dia menangis sesenggukkan sedari tadi. Nabila yang tetap berada di kamar sedari tadi. Tak keluar sama sekali. Dia malu dengan dirinya sendiri yang sudah bodoh menuruti kemauan Raka.
“Kamu sudah makan?” perhatian seperti itu memang sering ditanyakan oleh Raka sekalipun mereka bertengkar.
“Raka, kapan kita menikah?”
“Nabila, kita sudah bahas ini beberapa kali,”
__ADS_1
Nabila kesal dan langsung melemparkan test pack kearah Raka. Pria itu langsung memunguti barang kecil tersebut dan melihat dengan jelas garis dua. satunya begitu terang, satunya lagi samar-samar.
“Nabila, kamu nggak lagi bercanda kan?”
“Kamu yang selalu minta dilayani. Kamu mau apa sekarang? Kamu mau kabur?”
Raka terkejut dengan kenyataan itu. Dia seolah tak percaya dengan kejadian ini. Dia selalu menyuruh Nabila minum obat pencegah kehamilan. “A-aku bisa jelasin, Nabila,”
“Benar, kan? Kalau kamu bakalan kabur dari masalah ini,”
“Bukan begitu sayang. Aku jelasin sekarang,”
“Apalagi Raka? Kalau kamu memang nggak mau tanggung jawab kita putus,”
Raka berdiri dari tempat duduknya ketika dia begitu terkejut menerima test pack tadi. “Oh, oke. Kamu mau putus, ya udah,”
Bagai disambar petir, Raka yang pernah berjanji tidak akan pernah meninggalkannya justru berkata demikian. Perempuan itu begitu terkejut dengan ucapan Raka barusan. “Raka, kamu serius?” tanya Nabila dengan pelan. Suaranya serak, matanya sembab. Apalagi sekarang ini dia tidak tahu lagi mau melakukan apa untuk hidupnya.
“Kamu yang mau putus. Kamu nggak bisa nunggu sebentar saja?”
“Aku juga nggak bisa nikahin kamu,”
Nabila yang tadi memegang tangan Raka tiba-tiba tubuhnya meluruh begitu saja. Begitu cepatnya perasaan Raka berubah kepada dirinya. Hingga kali ini dia tidak bisa lagi mencerna dengan baik ucapan dari pria itu. “Kamu brengsek, Raka,” dia tergeletak di lantai. Tapi Raka tak membantunya berdiri sama sekali.
“Kamu yang mau putus, Nabila. Kamu yang akhiri hubungan kita,”
“Gimana sama anak ini, Raka?”
“Kita bukan apa-apa lagi, Nabila,”
Tangisan Nabila pecah saat itu. Saat itu juga Nabila menyeka air matanya. Sudah dari tadi dia begitu sembab saat kepergian Raka. “Kamu beneran nggak mau tanggung jawab?”
“Iya. Aku nggak bisa,”
__ADS_1
“Alasannya?”
“Aku nggak bisa. Aku nggak bakalan bisa,”
“Raka, please,”
“Aku nggak bisa,”
Nabila bangun dari tempat duduknya. Dia langsung berdiri dan menatap wajah Raka. “Oke, kamu beneran nggak mau tanggung jawab. Aku nggak apa-apa, tapi ingat kamu juga punya kehidupan di masa depan. Kamu bakalan punya anak perempuan. Jadi, jangan salahkan Tuhan menghukum kamu kalau sandainya anak kamu bernasib sama seperti wanita yang ada di depanmu yang baru saja kamu campakkan, Raka,”
“Aku nggak percaya dengan hal itu. Kalau aku bisa buat dia bahagia, ya pasti mereka akan bahagia,”
“Aku sumpahin kamu Raka. Aku sumpahin kamu akan menderita di masa depanmu. Entah cepat atau lambat, Tuhan bakalan ngehukum kamu,”
“Maksud kamu karma, kan? Aku nggak percaya itu, Nabila,”
Nabila menampar Raka begitu saja. “Iya, saat tangan ini nggak ada apa-apanya untuk nampar kamu. Saat kaki aku juga nggak berhasil nendang kamu. Tapi sumpah aku, semua akan aku bawa pergi. Aku bakalan pergi sama rasa sakit atas perbuatan kamu, Raka,”
“Itu kemauan kamu sendiri, Nabila,”
“Iya. Jadi, ini terakhir kita bertemu?”
“Iya,”
“Oh, oke. Aku bakalan pergi dari hadapan kamu, Raka. Terima kasih,”
Nabila keluar dari apartemen tak membawa apapun dari apartemen Raka. Sedangkan dia di sana masih terpaku dan benar-benar tak percaya bahwa hubungannya dengan Nabila justru membuahkan hasil. Jujur saja, jika Raka memang tidak pernah siap dari awal untuk menikahi Nabila. Itu dia lakukan semata untuk meyakinkan Nabila agar menjadi miliknya. Dia begitu terkejut dengan kenyataan itu. Nabila yang pergi dari apartemennya begitu saja.
Pria itu tampak benar-benar gila dengan kenyataan ini. Dia akan punya anak, sekalipun tidak bertanggung jawab. Besar kemungkinan Nabila akan mempertahankan kandungannya dan justru nanti akan bertemu dengan anaknya. Nabila rela melakukan hal apapun demi dirinya. Tapi, dia tidak bisa sekadar bertanggung jawab kepada Nabila.
__ADS_1