
Perasaan Devan semakin berantakan ketika dia dipanggil oleh mertuanya untuk berbincang. Bukannya dia tidak ingin melakukan perbincangan itu akan tetapi dia takut jika pertanyaan mengenai orang tuanya ditanyakan oleh mertuanya nanti.
Ketika dia selesai memijit kaki Adelia, Devan keluar ke ruang tengah yang di mana dia tidak menemukan mertuanya di sana. Kemudian, dia bertemu dengan Keano ditangga yang hendak turun dari kamarnya.
"Mau ke mana?"
Keano menggeleng yang di mana seorang anak laki-laki itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. "nggak ada,"
"Bisa kita bicara?" tanya Devan ketika dia melihat adik iparnya hendak pergi.
Keano mengajak Devan masuk ke dalam kamar agar pembicaraan keduanya tidak didengar oleh orang tua maupun sang nenek yang sudah beristirahat sedari tadi.
"Ada perlu apa, kak?"
Devan langsung duduk dipinggiran meja belajar Keano. "Mengenai orang tua kamu yang sepertinya memang tidak tahu bahwa aku anak dari musuh bebuyutannya. Papa kamu bersikap layaknya mertua pada umumnya yang berusaha menerima menantunya, tapi jika dilihat kembali, aku ragu untuk mengatakan bahwa aku adalah anak dari Reza, mantan suami mama kamu," jawab Devan dengan dingin. Karena dia juga sebenarnya sudah khawatir jauh-jauh hari sebelum membawa Adelia pulang.
"Mengenai hal itu, kita semua akan kena imbasnya nanti. Baik aku maupun kakak, tapi kita tetap rahasiakan ini dulu. Bukan karena aku sok bijak atau bagaimana, aku cuman mikirin kak Adelia, serta calon buah hatinya. Jangan sampai jadi korban keegoisan orang tua,"
__ADS_1
Devan menunduk dan langsung menepul pundak adik iparnya yang sedang duduk dikursi yang ada dibawahnya. "Aku percaya kamu bisa rahasiakan ini, Keano,"
Keano juga mengerti jika dia tidak mungkin memberitahukan kepada orang tuanya mengenai kakak iparnya. Dia juga sudah melihat bahwa keduanya saling mencintai satu sama lain. terlebih Devan yang sepertinya takut kehilangan sehingga setiap kali dia melihat keduanya begitu dekat dan berpelukan, semua itu terlihat sangat nyaman satu sama lain. Kemudian Keano mengerti arti saling menjaga ketika melihat ada cinta diantara keduanya.
Sebagai sesama pria, dia juga berusaha untuk mengeti dengan keadaan itu. Keano yang waktu itu hanya bisa memastikan bahwa semuanya akan baik-baik saja. tapi tidak menjamin dihari kemudian papanya tidak tahu masalah ini. Pasti, pasti orang tuanya akan tahu.
Ketika berada di kamar sang adik, Devan merasa sangat tidak tenang karena takut jika memang mertuanya tidak bisa menerima dirinya dengan baik. Atau nantinya bisa memisahkan keduanya ketika sudah tahu bahwa Devan adalah anak dari musuhnya.
Kali ini Devan tak lagi mengandalkan dirinya sendiri lagi. Dia butuh orang-orang untuk mendukungnya karena tidak mungkin jika dia berjuang sendirian dan justru berakhir dengan perpisahan. Rasanya sangat sakit membayangkan ketika dirinya harus dipisahkan dengan Adelia.
"Kakak sayang sama Kak Adelia?"
"Karena aku hanya ingin tahu. Sampai mana kakak bisa bertahan untuk Kak Adelia. Nggak mungkin aku terus rahasiakan ini semua, aku juga butuh jawab yang pasti. Kak Adelia tidak pernah kesepian sebelumnya, dia selalu punya teman curhat. Kak Adelia adalah cucu kesayangan Nenek. Jadi, aku harap kakak jangan sampai mengecewakan Mama, Papa, Nenek dan juga Kak Adelia. Itu akan berdampak pula ke aku. Kalau kakak hancurin hidup dia, aku nggak bakalan tinggal diam,"
"Tujuan kamu dekati Sabina hanya untuk hancurin aku?"
Keano mengangkat kepalanya dan tersenyum sinis. "Apa hubungannya? Tidak ada hubungannya aku sama Sabina. Lagipula memangnya aku ada hubungan apa sama dia? Jangan terlalu percaya diri dengan asumsi sendiri,"
__ADS_1
"Keano, aku tahu kamu dekat dengan Sabina. tapi satu hal yang harus kamu tahu, Kamu nggak boleh menjadikan dia sebagai bahan untuk balas dendam. Dia adik perempuan satu-satunya,"
"Pemikiran yang terlalu dangkal adalah mengatakan hal yang konyol seperti yang kakak katakan sekarang ini. Jika memang aku berniat seperti itu, apa aku mau bantu kakak sampai sejauh ini? Berbohong sama orang tua hanya untuk sembunyikan kebodohan kakak yang selama ini meminta agar kakak selalu dirahasiakan di depan orang tua aku? Lagipula, aku nggak pernah dekat dengan adikmu,"
Sekalipun adiknya menyangkal, tapi Devan dengar dari Adelia tadi bahwa adik kandungnya dengan adik iparnya memiliki hubungan spesial. Yang barangkali itu masih disembunyikan karena mereka berdua takut ketahuan memiliki hubungan yang sangat baik. Tapi, Devan tak keberatan dengan itu. Yang jelas, dia ingin jika adiknya dijaga dengan baik. Sabina tetap baik-baik saja, itulah harapan Devan. Dia tidak ingin jika adik perempuannya mendapatkan perlakuan yang sama seperti yang dirasakan oleh Adelia.
"Jika tidak ada yang ingin dibicarakan, kaka bisa keluar dari kamar aku!" usir Keano yang sebenarnya ingin pergi ke suatu tempat.
Keano juga masih merahasiakan dirinya. Benar jika dia memang dekat dengan Sabina, tapi Sabina yang masih berusia sangat belia itu tidak mungkin dia jadikan pacar. Keano hanya berpikir bahwa Sabina adalah teman perempuan satu-satunya yang dia miliki.
Keano yang selama ini tidak pernah mendaptakan teman perempuan yang selalu berusaha untuk bersikap baik kepada gadis itu. Benar juga jika Sabina ini adalah gadis yang selalu berpenampilan layaknya anak gadis SMA karena dia yang tinggi, cantik, bahkan Keano sempat menyangka bahwa gadis itu sudah SMA. Tapi nyatanya masih SMP.
Bagaimana mungkin juga dia berhubungan baik dengan Sabina jika dia masih fokus belajar. Keano hanya ingin berbagi ilmu kepada Sabina yang mengatakan bahwa gadis itu ingin masuk ke sekolah di mana dia menimba ilmu. Sabina itu cantik, memang dia tidak munafik untuk mengakuinya. tapi tetap saja, dia masih harus fokus belajar dibandingkan mengajak Sabina pacaran dan justru memperkeruh keadaan.
Sudah cukup cinta kakak kandung dan kakak iparnya itu yang menjadi pelajaran baginya. tidak mungkin dia menambah beban lagi jika dia jatuh cinta kepada Sabina yang usianya masih sangat belia. keano juga yang masih harus fokus belajar untuk masuk ke universitas yang dia inginkan.
Melihat jam yang sudah menunjukkan pukul setengah sembilan. Dia sudah berjanji akan bertemu disalah satu taman bersama dengan Sabina yang sudah menunggunya di sana.
__ADS_1
Keano menarik jaketnya yang digantung di dekat lemari dan langsung berlari keluar karena tidak mungkin membuat Sabina menunggu di sana terlalu lama.
Mereka yang masih bersembunyi, mereka berdua yang selalu main kucing-kucingan. Sabina takut diketahui oleh Devan. Pun begitu dengan Keano yang tadinya terkejut ketika kakak iparnya menanyakan kedekatan dia dengan Sabina.