WITH YOU

WITH YOU
Jangan Menyia-nyiakan


__ADS_3

Pagi ini Raka akan pergi ke kantor seperti biasanya. Dia telah bersiap-siap sedari tadi, dibantu oleh istri tersayangnya untuk menyiapkan segala keperluannya. Semalam dia tidak kembali lagi ke kamar karena Raka benar-benar berdoa kepada sang kuasa mengenai masa lalunya yang dahulu pernah begitu menyaktikan. Apalagi dia yang menyebabkan salah seorang gadis itu pergi meninggalkan dunia ini karena perbuatannya yang sudah keterlaluan tidak mau bertanggung jawab mengenai kehamilan gadis itu.


Raka benar-benar menyesali semuanya. Kemungkinan kepergian Nabila membuatnya sadar mengenai dosa yang pernah dia lakukan.


Begitu dia turun untuk sarapan, mamanya sudah berada di sana. raka turun sambil menggandeng tangan istrinya ke meja makan. Perasaan bersalah itu bisa saja menghantui siapa saja, sekalipun itu sudah terjadi puluhan tahun yang lalu. Namun, jika perasaan itu masih saja mengingatkan. Pasti akan tetap dia sadari juga.


Semalam, dia meminta ampun kepada Tuhan atas apa yang pernah dia lakukan. Mengenai Nabila, dan juga mengenai kedua anaknya yang telah pergi bersama dengan perempuan itu. Sejujurnya dia terkejut mengetahui jika anaknya kembar. raka tidak pernah membayangkan jika saja anaknya masih hidup. Pasti akan tumbuh dewasa. Dia tidak pernah memedulikan orang lain sehingga mengakibatkan semuanya berantakan seperti sekarang ini. Apalagi dulu Nabila benar, bahwa dia bisa saja menyesali semuanya kelak. Dan kali ini benar terjadi. Jika penyesalannya kepada Nabila benar dia rasakan sekarang.


Perlahan menuruni anak tangga dengan kaki jenjangnya, Raka tetap berhati-hati untuk menuruni anak tangga tersebut. Takut jika terpeleset dan justru terjatuh nantinya.


“Papa mau dibuatin makan siang juga nggak?” tawar Fania ketika melihat suaminya yang masih menggenggam tangan kirinya untuk dituntun ke meja makan.


Setelah keduanya tiba di sana, Raka menarik satu kursi dan meminta istrinya duduk terlebih dahulu. Suatu hal yang tidak biasa dilakukan selama ini. Sudah seharusnya dia melakukan hal baik untuk istri dan juga anaknya. Terlebih untuk mamanya. Selama ini dia terlalu sibuk bekerja, tidak peduli dengan keluarganya. Dia yang sibuk mencari uang, tidak sadar jika apa yang ada padanya sekarang bisa diambil oleh Tuhan kapanpun Tuhan mau untuk mengambil titipan itu.


Saat dia sedang menikmati sarapan, Keano tiba-tiba pulang dengan keringat yang bercucuran. “Kamu habis ngapain?”


“Olahraga, Pa. kan jarang banget aku olahraga,”


“Kamu mandi sana! kamu kan mau sekolah,”


“Iya, Pa,” tanpa ada penolakan. Keano langsung beranjak dari sana dan pergi ke kamarnya untuk membersihkan tubuhnya yang penuh dengan keringat.


Kali ini mereka hanya sarapan bertiga tanpa menunggu anaknya yang kembali lagi. Jika menunggu Keano, dia pasti akan terlambat. Sekalipun dia adalah presiden direktur. Tidak mungkin bagi Raka untuk melakukan hal seenaknya pada perusahannya sendiri. Tidak mau jika karyawannya ikut melakukan hal itu kepadanya.


Raka berpamitan kepada istri dan juga mamanya.


Raka menyetir dan berbelok kearah pemakaman lagi. Ketika dia turun dari mobilnya, dia bertemu lagi dengan papa kekasihnya itu. “Om,” panggil Raka dengan pelan.


“Kamu kenapa ke sini lagi?”

__ADS_1


“Aku cuman mau minta maaf sama, Nabila, Pa,”


“Hmmm,”


Raka menoleh kearah pria yang ada dibelakang papa Nabila itu. Seorang pemuda yang berdiri dengan raut wajah tampan, mata yang begitu mirip dengan Nabila. Yang dia yakini itu adalah keponakan mantan kekasihnya itu.


“Tunggu kakek di mobil ya!” perintah papa Nabila.


Raka kemudian duduk di sebelah pemakaman itu. “Raka, kamu nggak takut ketahuan sama istri kamu kalau kamu ke sini?”


“Nggak, ini juga karena Nabila,”


“Raka, Om nggak mau hancurin kebahagiaan kamu. Jadi, berhentilah berkunjung!”


“Kenapa larang saya?”


“Karena kamu udah nggak berhak lagi. Kamu punya kebahagiaan, kamu juga punya keluarga,”


“Nggak bakalan bisa seperti itu. Aku nggak ngerti lagi sama semua ini, Om,”


“Kamu datang kemari untuk apa? Setelah puluhan tahun, Om nggak pernah lihat kamu kemari. Bahkan saat Nabila meninggal, apa kamu datang ke rumah?”


Raka tak bisa berkata apa-apa. Justru dia bingung waktu itu antara datang atau tidak. Karena dia tidak pernah memiliki keberanian untuk datang lagi setelah dia mendapati kabar bahwa kekasihnya meninggal.


“Bahagiakan keluarga kamu, Raka!”


Sekalipun Raka berdoa dan terus berdoa, dia hanya ingin meminta maaf kepada Nabila mengenai dia yang pengecut waktu itu. “Om, apa om sudah memaafkan kesalahan saya?”


“Om ikhlas kamu bahagia. Tapi, kenapa ini rasanya nggak adil sekali untuk Nabila. Cuman itu yang nggak bisa Om terima,”

__ADS_1


Raka masih tetap berada di sana. “Saya minta maaf sebesar-besarnya,”


“Maaf kamu nggak bakalan pernah bisa kembalikan Nabila, Raka,”


“Aku sudah pernah pindah. Aku juga sudah pernah pergi dari sini, tapi pada akhirnya aku kembali lagi ke tempat ini. Itu karena aku nggak bisa ninggalin dia. Aku bilang sama istri aku, kalau aku nggak nggak bisa ninggalin perusahaan. Tapi, alasan itu begitu kuat untuk kembali. Aku sudah bilang sama Om, kalau aku nggak bisa lupain dia,”


Sudah dua kali pindah dengan alasan meninggalkan Reza agar istrinya tidak bertemu lagi. Tapi, sesungguhnya dia tidak bisa meninggalkan Nabila ketika itu. Raka tahu bahwa kesalahannya sangat besar. Raka tidak pernah tahu jika hal ini akan benar-benar melukainya. Saat dia menikahi Fania pun, bukan hal yang bagus baginya. Karena bayangan dia mengenai perempuan ini sangatlah nyata.


Raka menjadi pria brengsek saat Nabila pergi meninggalkannya. Dia mulai bermain perempuan dan tidak peduli entah berapa perempuan yang sudah dijamahnya. Itu karena dia frustrasi. Tapi tidak ada yang tahu mengenai masalah besarnya.


“Raka, saya nggak mau hancurin kebahagiaan kamu seperti kamu hancurin anak saya. Maka dari itu, pergilah! Saya nggak mau kalau kamu di sini terus!” perintah papa mantan kekasihnya itu.


Tapi, dia sama sekali tidak ingin pergi dari sana. ketika dia juga melihat tahun kepergian Nabila, itu rasanya sangat janggal jika memang Nabila pergi ketika mereka putus.


“Raka, sudah ya! Saya nggak mau debat sama kamu,”


“Kakek, ayo pulang! Om, jangan buat kakek emosian!” pinta pria itu. Raka pun mengangguk kerena ucapan pria itu yang khawatir terjadi sesuatu terhadap kakeknya.


Raka pun akhirnya memilih untuk tetap di sana. “Nabila, kamu nyiksa banget ya?” kata Raka disertai dengan tawa yang sebenarnya itu merupakan tangisannya.


Alasan dia tidak pernah ke sana lagi karena dia tidak mau istrinya justru bersedih. Fania yang pernah ditinggal oleh anak dan juga keluarganya. Takut jika nanti ketemu di sana.


Raka merasa dirinya sangat bodoh ketika dia tidak bisa memberikan kebahagiaan kepada kedua anaknya yang sudah tiada. “Aku bakalan ketemu sama kamu nanti kan?” ucapnya. Walaupun tidak ada jawaban sama sekali. Tapi dia nyaman mengunjungi perempuan itu lagi. Sudah puluhan tahun berlalu. Tapi, semua itu terasa seperti beberapa hari yang lalu.


 


 


Raka sungguh tak bisa percaya dengan apa yang dia rasakan sekarang ini. Dia akan belajar menjadi lebih baik lagi. Dia akan belajar menjadi pria yang sesungguhnya untuk membahagiakan anak dan juga istrinya. Dia adalah seorang ayah, tak ingin menyia-nyiakan anaknya yang lain dan sudah cukup kepergian kedua buah hatinya bersama dengan perempuan itu menjadi pelajaran berharga baginya. Bahwa menyia-nyiakan adalah tindakan yang sangat pengecut.

__ADS_1


 


 


__ADS_2