
Carissa mengurai pelukannya, lalu melihat wajah Evan yang tampak sendu. Jika belakangan seringkali suaminya ini memasang wajah tanpa ekspresi, kali ini ada begitu banyak emosi yang terlihat. Dan dari semua rasa yang ada, rasa sedihlah yang tampaknya dominan menyelimuti Evan saat ini.
Tatapan mata teduh yang selalu bisa membuat Carissa merasa damai, kini terlihat begitu terluka. Evan seperti sedang menahan rasa sakit yang teramat sangat. Rasa sakit yang tampaknya berusaha dia tanggung seorang diri.
"Belakangan ini, kamu baik-baik saja, kan?" Tanya Evan lirih.
Carissa mengangguk sambil menatap Evan lekat.
"Apa ada bagian tubuhmu yang terasa tidak nyaman?" Tanya Evan lagi, masih dengan nada lirih.
Kali ini Carissa menggelengkan kepalanya.
"Baguslah..." Gumam Evan menanggapi.
Carissa masih menatap Evan dengan wajah yang juga terlihat sedih.
"Maafkan aku, Evan. Maaf jika aku sudah membuatmu sedih dan terluka seperti ini. Aku sungguh-sungguh minta maaf..."
Evan terdiam dan melihat kearah lain.
"Aku tidak bisa memberikan maaf padamu, Carissa..." Evan kembali bergumam lirih.
"Karena sejauh ini aku tidak bisa menemukan di mana letak kesalahanmu." Tambahnya lagi.
Carissa tampak tertegun dan berusaha mencerna kata-kata Evan.
"Aku merasa sedih dan kecewa, tapi tidak tahu harus di tujukan pada siapa. Aku marah dengan takdir yang seperti sedang mempermainkanku. Dari sekian banyak orang di dunia ini, bagaimana bisa orang yang bertanggung jawab atas kematian kedua orang tua kandungku adalah Papamu. Bagaimana bisa orang itu adalah ayah dari istri yang sangat aku cintai..."
Evan mengusap wajahnya dengan kasar. Kata-katanya terdengar jika dia sangat putus asa.
"Aku bingung harus bagaimana terhadapmu. Aku berusaha untuk tidak melampiaskan rasa marahku dengan mengatakan sesuatu yang nantinya aku sesali, itulah sebabnya aku seperti sedang menghindarimu. Aku berusaha untuk tidak menyakitimu, Carissa."
__ADS_1
Evan kembali menghela nafasnya.
"Tapi sekarang dia hadir di sini..." Evan mengusap perut Carissa sekali lagi.
"Aku harus menyudahi semuanya untuk dia."
Carissa menatap Evan dalam dan dengan perasaan yang bercampur aduk.
Evan membelai wajah Carissa sekali lagi sambil berusaha mengulas sebuah senyuman.
"Carissa, apa kamu benar-benar mencintaiku?" Tanya Evan kemudian.
Carissa tak langsung menjawab. Di pandangnya Evan dengan segenap perasaan yang ada sembari mengulurkan tangannya untuk menyentuh rahang lelaki itu.
"Bukankah kamu sendiri sudah tahu jawabannya, kenapa bertanya lagi? Tentu saja aku mencintaimu. Aku ingin kita selalu bersama, hidup bahagia bersama anak kita yang nanti akan lahir." Jawab Carissa.
"Kalau begitu, apa kamu bersedia melakukan sesuatu untuk mengurangi rasa sakit yang aku rasakan?" Tanya Evan lagi.
"Tentu saja. Memangnya kamu ingin aku melakukan apa?" Carissa balik bertanya.
"Putuskan hubungan dengan keluarga Nugraha." Pinta Evan.
Sontak Carissa melebarkan matanya. Permintaan Evan tadi terdengar seperti petir yang menggelegar di telinganya.
"A-apa?" Tanya sadar Carissa bergumam.
"Aku mencintaimu dan ingin kamu tetap di sisiku, Carissa. Tapi fakta jika orang yang menyebabkan kedua orang tuaku meninggal adalah Papamu, selalu membuatku merasakan rasa sakit yang teramat sangat saat mengingatnya. Satu-satunya cara agar kita bisa tetap bersama tanpa rasa sakit lagi adalah dengan mengakhiri hubunganmu bersama keluarga Nugraha. Buang nama keluarga Nugraha dari namamu. Aku akan memberikan nama keluargaku dan memastikan jika kamu tidak akan kekurangan apapun. Aku juga akan menghabiskan sepanjang hidupku untuk membahagiakanmu dan anak kita. Kamu mau melakukannya, kan?" Evan menatap Carissa dengan penuh harap.
Carissa tak langsung menjawab. Dia tampak menelan salivanya dengan sangat kesusahan. Matanya terlihat berkaca-kaca.
"Tidak bisakah kamu mengubur rasa sakit itu, Evan. Papaku sudah meninggal, apa kamu masih tidak bisa memaafkannya?" Tanya Carissa kemudian.
__ADS_1
Evan tercekat. Terlihat jelas jika Carissa merasa sangat keberatan dengan permintaannya. Secara perlahan Evan menurunkan tangannya dari pucuk kepala Carissa dengan raut wajah kecewa.
"Benar, Papamu sudah meninggal. Dia meninggal tanpa memberikan penjelasan apa-apa padaku. Dia bahkan tidak mengatakan kata maaf sedikitpun, lalu bagaimana aku harus memaafkannya?" Suara Evan terdengar agak mengeras.
"Evan..." Hanya kata itu yang mampu lolos dari mulut Carissa.
"Mungkin menurutmu aku picik karena tidak bisa memberi maaf pada orang yang sudah tidak ada. Asal kamu tahu, aku sudah sangat berusaha untuk tidak mendendam dan menerima semua ini. Aku juga sudah berusaha menyakinkan diriku sendiri jika ini adalah ujian untuk janji yang sudah kita ucapkan. Tapi kenyataannya, aku hanyalah manusia biasa yang juga bisa merasakan benci. Aku membenci apa sudah Papamu lakukan pada orang tuaku. Aku membenci saat dia menipuku dengan tampil sebagai malaikat penolong. Aku membenci Papamu, Carissa... Dan aku tidak ingin jika aku sampai membencimu juga."
Carissa tercenung mendengar penuturan Evan. Tanpa sadar airmatanya meleleh membasahi pipinya.
"Itulah kenapa aku ingin kamu memutuskan hubungan dengan keluarga Nugraha. Demi anak kita, aku mohon lakukanlah..." Pinta Evan lagi dengan suara pelan dan tergetar.
Airmata Carissa semakin deras mengalir. Tidak tahu harus bagaimana menjabarkan apa yang Carissa rasakan saat ini. Dia seperti sedang di dorong di sebuah persimpangan yang salah satu jalannya harus dia pilih. Dan kedua jalan yang ada di hadapannya sama-sama akan menghancurkan hatinya.
Carissa benar-benar tidak tahu harus bagaimana.
Evan yang melihat airmata Carissa tampak putus asa. Sudah bisa di pastikan jika Carissa akan menolak permintaannya. Evan pun bangkit dari duduknya dan melangkah kearah balkon kamar.
"Sudah malam, istirahatlah. Lupakanlah kata-kataku tadi. Anggap saja aku tidak pernah mengatakan apa-apa." Ujarnya sambil meninggalkan Carissa sendirian.
Evan keluar dari kamar dan berdiri di balkon sembari memandang kearah pemandangan kota di malam hari. Kerlip lampu dari gedung-gedung yang begitu indah tak mampu membuat Evan merasa lebih baik saat melihatnya. Raut wajahnya terlihat begitu sedih dan juga kecewa. Lalu dengan tangan yang agak sedikit gemetaran, Evan merogoh saku celananya dan mengeluarkan sekotak rokok serta pematik api dari sana.
Evan menyelipkan sebatang rokok ke bibirnya dan mematik api di ujung rokok tersebut. Tak lama kemudian, asap yang mengandung zat berbahaya pun berhembus mengepul dari mulut Evan. Hal yang selama ini selalu dia tekankan untuk tidak di lakukan oleh para pasiennya, kini dia sendiri yang melakukannya.
Mata Evan tampak berkaca-kaca. Bibirnya yang agak bergetar karena menahan gejolak di dalam dadanya, terus saja dia paksa untuk menghisap batang rokok dan menghembuskan asapnya, hingga akhirnya Evan menghentikan apa yang di lakukannya itu dan mematikan api rokok yang menyala di tangannya.
Evan menengadahkan wajahnya dengan mata terpejam. Airmatanya akhirnya menetes juga. Sekuat apapun dia berusaha menahan, dia tetaplah manusia biasa yang punya ambang batas dalam menahan setiap rasa.
Evan kalah, rasa sakit itu terlalu besar untuk dia lawan.
Bersambung...
__ADS_1
Maafkan emak yang telat updatenya, ada beberapa hal yang harus di urus jd baru bisa ngetik sekarang.
Happy reading❤❤❤