
"Evan." Carissa memanggil Evan yang baru keluar dari kamar mandi. Lelaki itu baru saja selesai mandi setelah mereka pulang dari berjalan-jalan.
Seharian mereka menghabiskan waktu di luar dan baru kembali ke apartemen Carissa saat hari sudah menjelang sore. Carissa sudah mandi lebih dulu, lalu bergantian dengan Evan.
Carissa yang awalnya memanggil Evan sembari melihat ke layar ponselnya, menoleh pada suaminya itu. Dilihatnya Evan hanya mengenakan handuk sebatas pinggang saja, dan rambutnya juga masih menyisakan tetesan air.
Seketika Carissa bangkit sambil berdecak kesal. Diambilnya satu handuk lagi dan dibantunya Evan mengeringkan rambutnya.
"Kamu ini masih suka tidak mengeringkan rambut dengan benar, rambutmu juga sudah mulai panjang dan tidak kamu rapikan." Carissa mengeringkan rambut Evan sambil mengoceh.
Evan hanya tersenyum sambil memeluk Carissa dengan agak erat.
"Lepas. Aku sesak, tidak bisa bernafas." Ujar Carissa sambil mengurai pelukan Evan. Tapi Evan bersikeras untuk kembali memeluk istrinya itu, kali ini dari arah belakang.
"Apa dia sudah mulai membuatmu kesulitan bernafas?" Tanya Evan sambil mengusap lembut perut Carissa yang telah agak membulat.
"Bukan dia, tapi kamu. Kamu suka sekali memelukku dengan sangat erat, sampai-sampai aku jadi kesulitan bernafas." Jawab Carissa.
Evan tertawa kecil, lalu diciumnya pipi Carissa dengan agak gemas.
"Maaf, kalau aku sampai membuatmu kesulitan bernafas. Aku hanya takut kalau kamu tiba-tiba pergi lagi." Ujar Evan kemudian dengan agak pelan.
Carissa terdiam beberapa saat, lalu membalik badannya. Dirangkumnya wajah Evan sembari tersenyum tipis.
"Aku tidak akan pergi kemana-mana lagi. Aku akan selalu berada di mana pun kamu berada. Aku yang harusnya minta maaf karena sudah mengingkari janji kita untuk tidak saling meninggalkan dalam keadaan apapun. Maafkan aku, ya." Ujar Carissa lembut sambil membelai wajah Evan.
Evan juga ikut tersenyum. Digenggamnya kedua tangan Carissa yang sedang merangkum wajahnya, lalu dikecupnya satu persatu punggung tangan itu. Diraihnya Carissa sekali lagi untuk masuk ke dalam pelukannya, dan kali ini tentu saja dengan pelukan yang tidak terlalu erat.
"Kamu sudah membicarakan kepulanganmu ke Singapura dengan bosmu?" Tanya Evan kemudian.
Carissa mengangguk.
"Sudah, baru saja tadi saat kamu mandi." Jawabnya.
"Bagaimana?"
"Tidak ada masalah, aku bisa tinggal dan latihan di manapun sebelum melahirkan. Tapi setelah itu aku mungkin akan sering bolak-balik."
Evan terdiam beberapa saat.
"Apa nanti tidak terlalu melelahkan? Mungkin setelah melahirkan kita harus mempertimbangkan untuk pindah kesini saja." Guman Evan kemudian.
Carissa menengadahkan wajahnya.
"Lalu bagaimana dengan rumah sakitmu? Tidak mungkin di tinggalkan begitu saja, kan?" Tanya Carissa.
"Itu bisa diatur. Aku bisa mengelolanya dari jauh. Mungkin aku harus menunjuk seseorang untuk menjadi direktur, dan aku bisa tinggal disini bersamamu."
__ADS_1
Carissa agak melebarkan matanya.
"Lalu Mama dan Papa bagaimana?" Tanya Carissa lagi.
"Mama dan Papa akan baik-baik saja selama mereka memiliki satu sama lain. Mungkin mereka akan sedikit sedih karena jauh dari cucu, tapi itu tidak masalah. Mereka bisa sering-sering datang berkunjung. Toh, mereka juga suka bepergian." Jawab Evan.
Carissa kembali terdiam. Dia semakin mengeratkan pelukannya pada Evan.
"Kenapa kamu selalu melakukan sesuatu yang membuatku semakin tidak bisa berpaling darimu?" Tanya Carissa sekali lagi, kali ini dia seperti sedang bergumam dengan dirinya sendiri.
Evan kembali terkekeh. Tapi sejurus kemudian dia menghentikan tawanya dan menciumi pucuk kepala Carissa.
"Memang itu tujuanku. Aku akan melakukan apa saja supaya kamu tidak bisa berpaling dan hanya memandang kearahku saja. Aku ingin membuatmu menjadikanku segala-galanya agar kamu tidak pernah berpikir untuk meninggalkanku lagi."
Carissa tertegun dalam waktu yang cukup lama sebelum akhirnya kembali menengadahkan wajahnya pada Evan.
"Baiklah, kalau begitu lanjutkan usahamu, Tuan." Ujar Carissa menanggapi.
Mau tidak mau Evan kembali tertawa. Tapi kemudian keduanya menyadari jika saat ini Evan masih belum mengenakan pakaiannya.
"Kamu mengajakku bicara hanya dengan mengenakan handuk seperti ini. Awas saja kalau nanti sampai masuk angin." Carissa kembali mengoceh.
"Kenapa sekarang kamu jadi sangat galak? setiap hari selalu memarahiku." Evan menggerutu.
Kali ini Carissa yang tertawa. Dia membuka lemari dan mengambilkan pakaian untuk suaminya itu.
Evan menoleh kearah Carissa.
"Maksudnya malam ini?" Tanya Evan
Carissa mengangguk mengiyakan.
"Kamu tidak keberatan kalau kita datang, kan? Makan malamnya diadakan di kediaman Tante Ginna, bukan di rumah Aaron."
"Memangnya ada masalah apa kalau diadakan di rumah Aaron? Jika ada yang mengundang dengan niat baik, tentu saja kita harus datang."
Carissa agak surprise mendengar kata-kata Evan. Senyumnya pun terbit.
"Aku kira kamu akan merasa buruk jika bertemu dengan Aaron. Dia, kan, mantan rivalmu." Carissa menggoda Evan.
"Bukannya kamu yang merasa buruk. Aaron itu mantan lelaki pujaanmu, kan?" Evan tidak mau kalah.
Carissa tertawa sambil memegangi perutnya.
"Setahuku, yang ada itu mantan suami atau mantan pacar. Kalau mantan lelaki pujaan? Entahlah, baru kali ini aku mendengarnya." Gumam Carissa di sela tawanya.
Melihat Carissa yang tertawa cerah membuat Evan juga ikut tertawa. Pasangan suami istri itu terus bersenda gurau sambil sesekali diiringi oleh gelak tawa.
__ADS_1
Malamnya, Evan dan Carissa datang ke rumah utama keluarga Brylee untuk memenuhi undangan Ginna. Rupanya di rumah besarnya Ginna bukan hanya menyiapkan makan malam biasa, melainkan sebuah gala dinner. Para pelayan tampak berlalu lalang mempersiapkan makan malam itu seakan ruang makan keluarga Brylee adalah sebuah restoran bintang lima.
Ginna menyambut Carissa dan Evan secara langsung di pintu masuk rumah mewah itu. Setelah berbasa-basi, Ginna pun membawa keduanya masuk ke ruang tengah keluarga Brylee yang juga sangat luas. Selain Carlson, di sana juga rupanya sudah ada Zaya dan Aaron serta putra-putri mereka, Albern dan Zivanna.
Zaya yang melihat kehadiran Evan dan Carissa langsung menyongsong keduanya masih dengan menggendong Putrinya, Zivanna.
"Apa kabar, Carissa?" Zaya menurunkan Zivanna dari gendongannya, lalu memeluk Carissa.
"Aku baik, terima kasih." Jawab Carissa.
Zaya mengurai pelukanya dan memperhatikan perut Carissa.
"Apa aku akan segera mendapatkan keponakan?" Tanya Zaya saat melihat perut Carissa yang sudah mulai kelihatan bulat.
Carissa tersenyum dan mengangguk.
"Sudah berapa bulan?" Tanya Zaya lagi.
"Lima bulan lebih. Sebentar lagi akan masuk bulan keenam." Jawab Carissa.
"Wah..." Zaya terlihat sangat senang, lalu di bimbingnya Carissa untuk duduk di sofa.
"Mama...mama..." Zivanna melangkah tertatih-tatih. Bocah yang baru bisa berjalan itu tampak menyusul sang Mama yang seakan melupakannya dengan sedikit merengek.
Evan yang melihat hal itu langsung berjongkok dan membawa Zivanna ke dalam gendongannya. Dan anehnya, bocah itu tidak menangis. Padahal biasanya Zivanna hanya mau di gendong oleh Mamanya saja. Bahkan Aaron saja seringkali merasa jengkel karena putrinya itu jarang sekali mau dia gendong.
"Dokter Evan, duduk dulu di dekat Carissa. Kita masih menunggu satu tamu lagi." Ujar Carlson mempersilahkan Evan duduk.
"Masih ada satu tamu lagi?" Tanya Carissa.
"Ya." Ginna mengangguk.
"Baru-baru ini Brylee Goup menjalin kerjasama yang sangat menguntungkan dengan sebuah perusahaan. Kami secara khusus mengundang pemiliknya untuk makan malam sebagai bentuk dari keseriusan dan komitmen kerjasama. Tidak apa-apa, kan, kalau ada satu atau dua orang lagi?" Tanya Ginna.
"Tentu saja tidak apa-apa, Tante." Jawab Carissa.
Ginna mengangguk lega.
Tak lama kemudian, orang di maksud pun akhirnya datang. Kali ini Aaron yang menyambut kedatangannya. Dan saat orang itu masuk bersama dengan pasangannya, Evan dan Carissa tampak terkejut melihat keduanya.
"Jonathan...? Geraldyn...?"
Bersambung...
Tetep like dan komen
Happy reading❤❤❤
__ADS_1