WITH YOU

WITH YOU
Kejadian Dulu


__ADS_3

Ketika berada di rumah mertuanya Devan langsung masuk ke dalam kamar bersama dengan istrinya. ketika sudah tiba di kamar Devan menutup pintu dengan rapat, ketika itu Adelia duduk di pinggiran ranjang sambil melipat baju.


"Adel, tadi memangnya Papa nggak bilang apa-apa sama kamu waktu aku pergi ke rumah tante Shita?"


Adelia kemudian menggelengkan kepalanya sembari tersenyum ke arah suaminya. " Papa nggak bilang apa-apa sih tadi waktu aku pergi cuman dia nanya gimana kerjaan kamu lancar atau enggaknya cuman itu aja sih kalau soal pribadi yang lebih mendalam gitu ya Papa nggak nanya,"


Ketika Devan mendengar penjelasan sang istri tercinta kemudian mendekati istrinya kemudian mengelus Puncak kepala istrinya lalu mencium kening Adelia dengan romantis. Karena Devan memang termasuk pria yang sangat romantis dan juga Dia bisa membuat perasaan Adelia begitu tenang ketika berada di sisinya.


Adelia pun langsung memasukkan pakaian ke dalam lemari pakaian tersebut adalah sisa tadi siang yang belum ia masukkan ke dalam lemari barangkali ia akan menginap lebih lama lagi karena tidak mungkin dia bisa pulang dengan cepat ke rumah suaminya karena ketika Devan pergi tadi Papanya sempat menyinggung agar dia tinggal di rumah orang tuanya untuk sementara waktu. Adelia tidak mungkin menolak karena suami dan juga Papanya baru saja aku akur, sebagai seorang anak yang ingin melihat suami dan juga Papanya tentu saja ada dia juga ingin agar Devan bisa lebih dekat lagi dengan papanya.


Ketika dia kembali ke sisi suaminya, Devan duduk bersila diatas ranjang yang pernah di isi oleh Adelia sendirian ketika masih muda. tapi sekarang dia bersama dengan suaminya yang sudah merubah hidupnya menjadi lebih baik lagi.


"Adel, duduk sini bentar!"


Devan meminta agar Adelia duduk juga bersila seperti dirinya dan ingin melihat istrinya berhadapan dengannya. "Ada apa sih sayang?"


Devan menyeringai, sebenarnya dia tidak ingin melakukan apa-apa, hanya saja dia merasa senang ketika berhadapan dengan istrinya. apalagi ketika Adelia tersenyum kearahnya, entah aura Adelia begitu cantik saat ini. Lebih cantik dari sebelum mereka menikah.


"Adel, sini kakinya sayang!"


Adelia memiringkan kepalanya ketika Devan memintanya untuk selonjoran. Adelia hanya mengikuti dan Devan langsung mengurut kakinya dengan pelan.


Tok tok tok


"Menantu," panggil papa Adelia yang di mana Devan sebenarnya ingin berduaan dengan sang istri. tapi baru saja dia memulai, tapi mertuanya sudah memanggilnya.


"Masuk aya, Om!"

__ADS_1


Devan yang masih memijit betis istrinya dengan meletakkan kaki Adelia diatas pahanya, tidak mungkin dia membuka pintu untuk mertuanya saat dia baru saja memulai memijit Adelia.


Ketika papa mertuanya datang. "Oh, lanjut aja kalau gitu," ucap mertuanya yang kemudian keluar dari kamar dan menutup pintu. Tadi Devan berpikir bahwa dia sudah menguncinya, tapi ketika dia baru ingat bahwa dia hanya menutupnya saja.


Raka yang tadinya ingin mengobrol dengan Devan. Tapi, ketika melihat menantunya sedang sibuk memijit betis Adelia membuatnya mengurungkan niat untuk mengobrol. "Papa kok balik? katanya mau ngobrol sama Devan?" tanya sang istri yang saat itu sedang mengganti sprei.


"Nggak jadi, Ma. Devan lagi mijitin Adelia,"


"Mantu Mama memang rajin ya," Sindir Fania ketika melihat suaminya yang waktu itu memang terlihat mengalah dibandingkan tadi ketika makan malam justru keduanya berdebat untuk memilih tempat di mana Adelia akan merayakan tujuh bulanan nanti. Padahal sudah disepakati jika tujuh bulanan akan dilakukan di rumah ini. Tapi Raka yang memang kurang kerjaan mengajak menantunya untuk ribut membuat Fania, heran dengan tingkah suaminya semenjak Devan datang.


"Pa, gimana tanggapan Papa mengenai menantu Papa itu?"


"Sebenarnya Papa masih mau ngobrol dulu sama dia. Tapi kan seperti yang papa bilang tadi, kalau Devan lagi mijitin Adelia,"


Fania mengerti dengan maksud suaminya. Suaminya pun duduk di kursi dekat dengan ranjang dan mengambil ponselnya. "Papa main HP lagi deh,"


"Udah mau punya cucu eh malah ngomongin pacar, sadar diri dong kalau sekarang Papa tuh udah tua!" peringat Fania. tapi bukannya marah, justru Raka tertawa melihat istrinya yang cemberut dan melempar bantal.


Raka langsung meletakkan ponselnya dan mengejar istrinya yang hendak keluar dari kamar. Raka menahan tangan istrinya ketika perempuan itu hendak pergi.


"Mama mau ke mana?"


"Keluar, cari angin," tapi melihat ekspresi Fania yang tidak terlihat tenang membuat Devan mengerti jika istrinya sedang ngambek.


"Mama, Papa bercanda kok,"


"Papa kenapa sih sering banget bercanda mengenai pacar? Papa beneran punya pacar? Papa mau nambah istri atau anak?"

__ADS_1


"Mama mulai deh. Papa bercanda tahu,"


Fania memutar bola matanya dan langsung menyeka tangan Raka yang saat itu sedang memegang kedua bahunya. "Ma, Papa sadar kali kalau mau cucu, yakali ada yang mau sama Papa,"


"Ada, Pa. Ada banget,"


"Siapa?"


"Yang jelas banyak, karena Papa kan berduit, jadi Papa juga bisa dapat yang perawan Papa juga dapat. Karena hidup kan sudah terjamin, Papa mapan,"


Raka menyeringai ketika mendengar istrinya. "Mama mulai ngaco astaga, cinta Papa kan cuman untuk Mama,"


"Padahal Mama belum mulai bergaya loh, belum dandan. Nanti kalau dandan, yang lebih ganteng dari papa juga Mama bisa dapat,"


Raka cemberut mendengar istrinya yang sepertinya membalas ucapannya barusan.


"Ma, udah dong ih nggak boleh nyebelin gitu dong. Papa nggak suka," jawab Raka ketika istrinya menyeka tangannya.


Fania yang melihat raut kesal suaminya langsung terkekeh. "Pa, kenapa sering buat Mama cemberut sih?"


"Kangen waktu muda aja, waktu kita kencan selalu terhalang si bocah Adelia waktu itu, sekarang udah gede dan hamil aja tuh anak,"


Fania mengangguk dan mengingat kejadian di mana dia dan Raka dulu selalu saja menitipkan Adelia ketika ingin menghabiskan waktu bersama berdua. sedangkan ketika Fania hamil Keano waktu itu, Adelia juga harus tetap dititipkan pada sang mertua karena Adelia selalu menangis minta digendong, padahal waktu itu Fania sedang hamil muda.


"Ma, kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Raka yang melihat istrinya senyum sendiri.


"Pa, ingat waktu kita gagal kencan karena Adelia waktu itu tiba-tiba tidur di depan televisi di kamar ini?"

__ADS_1


Raka ingat dengan jelas, waktu itu Adelia berusia tiga tahun yang di mana Raka juga ingat dengan baik ketika Adelia masih sangat kecil dan kali ini justru mengingat kejadian yang sudah lewat itu. Rasanya baru kemarin-kemarin Adelia ngambek dan tidak mau lagi tidur bersama mereka, tapi sekarang anaknya sudah bersama dengan orang lain, hidup bersama dengan orang lain.


__ADS_2