WITH YOU

WITH YOU
Korban Eksperimen


__ADS_3

Setelah menghabiskan waktu bermalam di hotel pada malam pertama mereka, Evan langsung mengajak Carissa untuk tinggal di rumah orang tuanya selama beberapa hari.


Sebenarnya Evan punya sebuah apartemen yang siap di tempati kapan saja. Tapi Sonya meminta Evan untuk menginap di rumah mereka dulu sebelum Evan dan Carissa pindah ke apartemen.


Sonya berdalih jika dia ingin merasakan tinggal bersama menantu kesayangannya itu, meski hanya untuk beberapa hari saja. Dan Carissa pun tak kuasa untuk menolaknya.


Sedangkan kedua orang tua Carissa sendiri telah kembali ke tanah air, sehari setelah pernikahan putri mereka. Arga tidak bisa berlama-lama lagi berada di Singapura. Perusahannya telah agak lama dia tinggalkan dan mempercayakan segala urusan pada tangan kanannya saja. Meski orang tersebut dapat di percaya, tapi tetap saja Arga harus segera pulang dan memastikan jika semuanya masih tetap dalam kendali.


Mengenai Carissa yang awalnya di minta Arga untuk ikut ambil bagian di perusahaan, hingga Carissa harus meninggalkan karirnya sebagai seorang pianis, tampaknya Arga agak berubah pikiran. Papa Carissa itu sekarang lebih mendorong putrinya untuk berada di sisi suaminya saja, dan tak perlu memusingkan perusahaan mereka.


Kini Carissa benar-benar sendirian di tengah keluarga barunya. Awalnya terasa sangat asing, tapi sikap suami dan mertuanya membuat Carissa merasa nyaman. Tak butuh waktu lama baginya untuk menyesuaikan diri. Zacky dan Sonya justru terkesan sangat memanjakannya. Tak jarang Evan di marahi kedua orang tuanya itu karena Carissa.


Tentu saja Carissa merasa tidak enak di buatnya. Untung saja Evan tidak begitu mempermasahkannya dan tidak pernah merasa kesal.


Sejauh ini, hubungan Evan dan Carissa bisa di bilang cukup baik. Mungkin karena mereka berdua sudah dewasa dan sama-sama punya pemikiran yang matang, mereka selalu terbuka dan mendiskusikan semuanya dengan baik. Keduanya juga tak jarang tampil mesra seperti pasangan pengantin baru pada umumnya, meski sebenarnya mereka masih belum pernah menyatu sepenuhnya layaknya pasangan suami istri lain.


Carissa masih di bayang-bayangi rasa sakit malam pertama mereka tempo hari. Sedangkan Evan sendiri tak pernah mendesak Carissa untuk melakukannya, karena Carissa punya 'cara lain' yang bisa membantu Evan memenuhi kebutuhannya meski mereka tak melakukan hubungan suami istri.


Carissa menjalani harinya dengan melayani sang suami seperti para istri pada umumnya. Dan sore itu, Carissa mulai mengambil alih hal yang biasa di lakukan oleh Sonya saat Evan pulang dari rumah sakit, yaitu membuatkan Evan segelas lemon tea.


Carissa yang hendak membantu Sonya untuk memasak makan malam, lebih dulu menyiapkan minuman kesukaan suaminya itu. Keluarga Evan memang mempekerjakan beberapa asisten rumah tangga dan tukang kebun di rumah mereka, tapi khusus untuk memasak, Sonya selalu melakukannya sendiri. Menurutnya, salah satu cara untuk menyenangkan suami adalah dengan membuatkan sendiri masakan enak untuknya. Dan tampaknya Carissa mulai mencoba menerapkan ilmu ibu mertuanya itu dengan membuatkan sendiri secangkir lemon tea untuk Evan.


Carissa masuk ke dalam kamar Evan yang kini menjadi kamarnya juga, lalu meletakkan minuman kesukaan Evan itu di atas nakas. Tak lama kemudian Evan keluar dari kamar mandi. Lelaki itu tampak telah mengenakan pakaian rumahannya. Terlihat dia tersenyum pada Carissa, perempuan yang telah menjadi istrinya beberapa hari ini.


Evan duduk di sofa, lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. Kelihatannya dia agak lelah hari ini.


Carissa yang melihat hal itu ikut duduk di samping Evan.


"Kamu tampak kelelahan." Ujar Carissa sambil beranjak, lalu memijat bahu Evan dari arah belakang.


Evan tersenyum dan mendogakkan wajahnya untuk melihat wajah Carissa. Di pandangnya wajah Carissa dengan perasaan yang tak bisa di lukiskan. Istri yang belum terlalu lama di nikahinya ini selalu bisa menyenangkan hatinya. Setiap melihat Carissa, Evan selalu ingin tersenyum. Dan setiap mendengarkan Carissa bicara, Evan selalu merasa terhibur serta ingin tertawa. Terkadang Evan merasa jika Carissa adalah jelmaan malaikat yang sengaja di kirim Tuhan untuk mengobati luka hatinya.

__ADS_1


Lalu sekarang, malaikat itu sedang asyik memijat bahunya karena menganggap Evan sedang kelelahan.


Evan menggenggam jemari Carissa yang sedang memijat bahunya dan meminta Carissa untuk kembali duduk di sampingnya. Istrinya itu pun menurut dan duduk lagi di posisinya semula.


"Aku ingin kamu menghilangkan lelahku dengan 'cara lain' juga." Ujar Evan dengan nada menggoda.


Mata Carissa sedikit membulat mendengar yang Evan katakan, hingga membuat Evan tertawa karena ekspresi Carissa itu.


"Apa yang kamu pikirkan? Yang aku maksud dengan cara lain itu seperti ini." Evan merebahkan kepalanya di pangkuan Carissa sambil masih tersenyum.


"Aku pinjam pangkuanmu sebentar untuk beristirahat." Ujar Evan lagi sambil memejamkan matanya.


Carissa tertegun untuk beberapa saat. Wajahnya menunduk untuk memperhatikan setiap bagian wajah Evan. Carissa bertanya-tanya dalam hati, bagaimana bisa suaminya ini punya hidung yang begitu tegak serta bulu mata yang tebal dan sangat lentik. Bahkan ia sendiri pun harus memakai bulu mata palsu jika ingin terlihat seperti itu.


Tanpa sadar jemari Carissa terulur untuk menyentuh ujung bulu mata Evan.


"Mau cium juga boleh." Ujar Evan masih dengan mata terpejam. Sontak Carissa langsung menarik kembali tangannya dari wajah Evan dengan pipi yang agak merona.


"Sekarang lelahku sudah hilang." Ujar Evan sembari bangkit dari posisi berbaringnya. Carissa hanya bisa tersenyum masih dengan wajah tersipu.


"Mana ada seperti itu." Gumam Carissa. Lalu di raihnya cangkir berisi lemon tea yang tadi di bawanya, dan di sodorkannya pada Evan.


"Minumlah. Hari ini aku yang membuatnya sendiri."


"Benarkah?" Evan tampak berbinar. Segera dia menerima cangkir lemon tea itu dan menyesapnya dengan agak bersemangat.


"Uhukk..uhukk...uhukk!!" Tiba-tiba saja Evan tersedak sampai terbatuk-batuk saat mencoba lemon tea buatan Carissa.


"Evan!!" Carissa terkejut dan sontak menepuk-nepuk punggung Evan.


Evan mengusap-ngusap dadanya dan memberi isyarat agar Carissa berhenti menepuk punggungnya.

__ADS_1


"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Carissa panik.


Evan menggelengkan kepalanya, entah apa maksudnya itu.


"Kamu buat lemon teanya pakai apa?" Tanya Evan saat batuknya telah reda.


"Hah?" Carissa terlihat bingung dengan pertanyaan Evan.


"Rasanya sangat unik." Ujar Evan lagi.


'Sangat unik? Apa maksudnya itu?'


Carissa meraih cangkir lemon tea Evan tadi dan mencicipinya juga. Seketika Carissa menyemburkan kembali minuman itu sesaat setelah masuk ke dalam mulutnya.


"Asin..." Ringisnya dengan ekspresi wajah yang sulit di lukiskan.


"Sepertinya yang aku gunakan tadi bukan gula, tapi garam..." Tambah Carissa tadi dengan lirih dan ragu-ragu.


"Maaf." Carissa tampak merasa bersalah.


Evan tertegun beberapa saat, tapi sejurus kemudian dia tertawa sambil meraih Carissa ke dalam pelukannya. Ternyata istrinya ini punya banyak cara untuk membuatnya tertawa, termasuk dengan menjadikannya sebagai korban eksperimen.


Setiap hari selalu ada hal yang membuat Evan terhibur. Entah kejutan apalagi yang akan Carissa berikan besok untuknya.


Evan mengecupi kening Carissa berulang kali, lalu memeluknya lagi. Jika Carissa tidak bisa di bilang sempurna, Evan tidak tahu lagi arti kata sempurna itu seperti apa.


Bersambung...


Jgn lupa like, komen dan vote ya sayangku


Happy reading❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2