
Zacky bangkit dari duduknya, lalu menghampiri Evan yang sedang berusaha meredam emosinya.
"Tenanglah, Evan. Bicarakan hal ini secara baik-baik dengan istrimu. Papa rasa Carissa juga terpaksa menyetujui hal ini." Ujar Zacky sembari menatap kearah Sonya.
Sonya menghela nafasnya. Dia sudah menduga jika Evan tidak akan menyetujui adanya rahim pengganti begitu saja. Tapi tindakan Evan yang mengusir Karina pergi dengan memberinya uang begitu saja, hal itu di luar perkiraan Sonya. Belum lagi kemarahan Evan yang baru kali ini Sonya lihat. Sonya sungguh tak menyangka jika Evan akan bereaksi sangat keras seperti ini. Putranya yang biasanya sangat lembut ini menjadi sosok yang sangat berbeda.
"Aku hanya berusaha membantu Evan dan Carissa agar mereka berdua bisa mendapatkan keturunan." Ujar Sonya akhirnya.
"Mereka baru menikah beberapa bulan, Sonya. Tidakkah kamu merasa tindakanmu ini terlalu berlebihan. Mereka bahkan belum mencoba tindakan medis apapun. Bukankah itu artinya bisa saja Carissa hamil setelah menjalankan prosedur yang di sarankan oleh dokter kandungan. Jangan samakan kondisimu dengan Carissa." Ujar Zacky sambil menatap Sonya. Kata-katanya terdengar tajam, setajam tatapan matanya.
Sonya terdiam dan agak menundukkan wajahnya. Kemudian dia melihat kearah Evan yang masih terlihat marah.
"Maafkan Mama, Evan. Mama tidak bermaksud menyakitimu dan istrimu. Mama hanya tidak ingin Carissa merasa bersalah dan menyesal setiap hari seperti Mama." Ujar Sonya lirih pada Evan.
Evan bergeming. Dia seperti ada di dimensi lain hingga kata-kata Sonya seakan tak sampai ke indra pendengarannya.
"Apa maksudmu?" Bukannya Evan, tapi justru Zacky yang menanggapi kata-kata Sonya.
Sonya tak langsung menjawab. Dia terlihat menatap kosong kearah depan. Matanya tiba-tiba memerah dan berkaca-kaca.
"Aku istri gagal yang tak bisa melahirkan keturunan untuk suaminya. Dan aku juga egois hingga tak memberimu kesempatan untuk memiliki anak dari perempuan lain. Setiap kali melihatmu menatap kearah lelaki yang sedang menggendong bayinya, hatiku terasa seperti di remas-remas. Aku pikir pada akhirnya aku akan hamil dan bisa mewujudkan impianmu untuk memiliki keturunan, tapi nyatanya aku tidak bisa memenuhi hal itu. Aku sungguh merasa bersalah. Setiap hari aku selalu merasakan penyesalan. Dan aku tidak ingin Carissa merasakan apa yang aku rasakan itu." Sonya berujar dengan pelan dengan memandang kearah lain. Sedangkan Zacky terlihat menautkan kedua alisnya mendengar kata-kata istrinya itu.
"Aku selalu tahu jika kamu menginginkan seorang anak yang benar-benar berasal dari dirimu, tapi kamu memendamnya. Apa kamu tahu, menanggung rasa bersalah seperti yang aku rasakan ini sungguh menyiksa? Aku tidak ingin Evan merasakan apa yang kamu rasakan, dan aku juga tidak ingin Carissa merasakan apa yang aku rasakan. Aku bisa melihat kesedihan Carissa akhir-akhir ini. Aku hanya ingin membuat mereka berdua bahagia seperti sebelumnya. Jika caraku ini salah, tolong maafkan aku. Kamu benar, mungkin kondisi Carissa tidak sepertiku. Aku saja yang terlalu paranoid." Ujar Sonya lagi. Kali ini dia menundukkan kepalanya, dan secepat mungkin menghapus airmata yang jatuh ke pipinya.
"Kamu salah, Sonya. Sejak Evan hadir, bagiku Evan adalah bagian dari diriku. Aku tidak tahu kenapa kamu berpikir seperti itu. Kamu tidak hanya menyakiti Carissa dan Evan, tapi kamu juga menyakitiku dengan pemikiranmu itu." Zacky tampak semakin marah mendengar penuturan Sonya.
__ADS_1
Airmata Sonya kembali jatuh. Kali ini lebih deras dari sebelumnya. Kata-kata Zacky tadi seperti menyadarkannya. Dia tidak menyangka jika apa yang di lakukannya ini melukai orang-orang yang di sayanginya.
"Aku selalu memcintaimu, apapun keadanmu, Sonya. Setelah berpuluh-puluh tahun kita menikah, harusnya kamu tahu itu. Aku tidak pernah menuntut apapun darimu, termasuk seorang anak. Tapi kenapa sampai sejauh ini kamu meragukan perasaanku?"
"Aku tidak pernah meragukan perasaanmu. Justru karena aku tahu perasaanmu yang begitu besar padaku membuat aku merasa bersalah. Karena rasa cintamu itu kamu memendam keinginan terbesarmu untuk memiliki anak."
"Apa kamu juga mencintaiku, Sonya? Jika kamu punya perasaan yang sama sepertiku, bagaimana kamu bisa salah memahami jika keinginan terbesarku adalah bisa terus bersamamu dan membahagiakanmu? Evan anak kita. Setelah kehadirannya kehidupan kita sudah lengkap. Aku pikir hidup kita sudah sangat bahagia. Jika kamu justru merasa tersiksa, berarti aku yang telah gagal."
Zacky kembali duduk dengan raut wajah putus asa. Sedangkan Sonya terdiam dengan airmata yang semakin deras. Rasa bersalah semakin kuat bercokol di dalam hatinya. Dia sungguh tak menyangka jika akan sangat melukai perasaan suaminya itu.
"Maafkan aku..."
Zacky terdiam beberapa saat sembari memejamkan matanya. Lalu dia bangkit dan kembali mendekati Evan.
"Maafkan Papa dan Mama, Evan. Kami pasti sudah sangat menyakitimu. Papa harap kamu tidak terlalu membenci kami setelah ini. Tolong selesaikan permasalahan ini bersama istrimu dengan pikiran yang jernih" Ujarnya sembari menyentuh pundak Evan.
Zacky kembali mendekati Sonya, lalu meraih tangan istrinya itu dan menuntunnya untuk bangkit dari duduknya.
"Kita pulang." Ujarnya dengan nada tak ingin di bantah.
Sonya menurut dan mengikuti langkah suaminya. Pasangan paruh baya itu pun akhirnya pergi meninggalkan Evan dan Carissa yang masih sama-sama terdiam.
Carissa bangkit dari duduknya dan mencoba untuk mendekati Evan. Matanya tampak mengamati suaminya itu dengan sedikit rasa takut yang masih tersisa. Entah bagaimana dia harus menjelaskan hal ini pada Evan.
"Evan..." Panggil Carissa.
__ADS_1
Evan menoleh dan melihat kearah Carissa masih dengan wajah tak bersahabatnya.
"Maafkan aku. Harusnya aku tidak melakukan ini..."
"Apa yang sebenarnya ada dalam pikiranmu, Carissa? Apa bagimu aku ini lelaki brengsek yang sanggup melakukan apa saja hanya karena menginginkan seorang anak? Apa di matamu aku terlihat seperti hidung belang yang bisa sembarangan menyentuh perempuan yang bukan istrinya? Serendah itukah aku di matamu?" Tanya Evan tajam. Dia bahkan tak memberikan Carissa kesempatan untuk menyelesaikan kata-katanya.
Carissa menggeleng cepat.
"Tidak, Evan. Bukan seperti itu." Ujar Carissa lirih.
"Lalu apa? Mama punya pemikiran konyol tentang rahim pengganti, itu karena pengalaman masa lalunya yang memang tidak mudah. Tapi kamu? Bagaimana kamu bisa menyetujui hal itu begitu saja tanpa membicarakannya terlebih dahulu denganku? Bagaimana kamu bisa berpikir kalau aku akan setuju? Apa kamu sungguh tidak masalah jika aku menyentuh perempuan lain? Kamu tidak punya rasa cemburu?" Tanya Evan lagi dengan semakin tajam.
Carissa tak bisa menjawab. Dia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dengan wajah sendu. Sungguh dia tidak tahu harus menjelaskan pada Evan dengan cara apa.
"Bukankah kamu sendiri yang memintaku untuk tidak menghadirkan orang ketiga ke dalam pernikahan kita. Tapi kenapa kamu malah membawa perempuan lain kesini?"
Evan menatap Carissa dengan sorot mata penuh luka. Lalu dia mengalihkan pandangannya dan melangkah menjauh dari Carissa.
"Kamu benar-benar menyakitiku, Carissa. Aku kecewa..."
Bersambung...
Tuh, jadi sedih kan Evannya...
Btw, buat para emak yang punya pengalaman ngebujuk suami ngambek, ajarin Carissa dong. Kasian noh Carissa, kalo Evan ngambek kan jadinya ga bisa bikin dedekš
__ADS_1
Happy readingā¤ā¤ā¤