WITH YOU

WITH YOU
Diterima


__ADS_3

Pagi itu, ketika Fania sedang membereskan kamar anaknya. Karena dia tahu bahwa Adelia akan datang. Devan telah menghubunginya semalam dan dia tidak mengatakan apapun pada Adelia. Kata Devan itu adalah kejutan untuk Adelia. Tapi tidak tahu nanti bagaimana reaksi Raka ketika melihat kedatangan Adelia dengan sang suami. Tapi, bagaimanapun juga Fania ingin jika Adelia bisa berdamai. Fania yang juga sudah berusaha menerima kehadiran Devan sebagai menantunya. Awalnya Devan berjanji akan datang minggu lalu. Tapi Devan batal karena dia harus menyelesaikan pekerjaannya.


Hari ini dia akan benar-benar datang. Bukan hanya semalam, tapi tadi pagi-pagi dia juga menerima pesan dari Devan bahwa dia akan membawa Adelia pulang. Suatu kebahagiaan yang dinantikan oleh Fania ketika menunggu anaknya pulang. Bagaimanapun juga ia harus menerima kedatangan anaknya. Tidak ada mantan anak dan tidak ada pula mantan orang tua.


Devan telah meminta maaf ketika dia batal membawa Adelia pulang waktu itu. Barangkali itu yang membuat Devan tidak pernah mau memberitahu Adelia mengenai dia akan membawa Adelia pulang. Takut jika Adelia kecewa dengan dia yang sudah berjanji, tapi justru dia tidak bisa menepatinya.


Ketika Fania sudah membereskan kamar dan di sana semua mengenai foto-foto Adelia yang bisa dia selamatkan dari emosi Raka waktu itu masih terpampang dengan baik. Bahkan beberapa hari lalu Fania pernah memergoki suaminya masuk ke kamar Adelia yang kosong itu. Barangkali Raka juga rindu, tapi dia tidak mau mengatakan bahwa dia merindukan anaknya. Hanya saja Fania sadar bahwa suaminya sudah pasti rindu, tapi gengsi untuk mengatakan hal itu. Karena dialah yang menusir Adelia waktu itu.


Setelah selesai, dia menyemprotkan pengharum ruangan di kamar itu. Kamar yang sudah ditinggalkan selama beberapa bulan oleh pemiliknya. Memang sulit bagi Fania menerima waktu itu, apalagi anaknya hamil diluar nikah. Bagaimana dia bisa menerima kenyataan yang di mana dia berusaha menjaga anaknya dengan baik. Tapi, semua itu sudah terlanjur terjadi. Bahkan mama mertuanya selalu mengingatkannya untuk berlapang dada dan tetap menerima Adelia ketika pulang nanti.


Saat itu, terdengar suara mobil yang membuat Fania langsung turun dari kamarnya dengan tergesa. Barangkali itu memang Adelia yang pulang dengan suaminya. Tapi ketika melihat Raka yang duduk di ruang tengah sedang menikmati kopinya membuat Fania melangkah pelan. Ketika mama mertuanya juga menganggukkan kepala dengan pelan memberikan kode agar nanti Raka bisa menahan emosi ketika melihat Devan. mama mertuanya juga mengerti bagaimana kecewanya Raka.


“Selamat pagi,” ucap Adelia ketika berdiri diambang pintu yang sudah dibuka. Fania langsung menundukkan kepalanya dan belum berani mempersilakan keduanya masuk.


Raka langsung menoleh dan lelaki itu bangkit dan berdiri ketika mendengar suara itu. Raka mendekati keduanya dan membuat Fania justru tidak berani mendekat.


Begitu Raka berdiri di depan Adelia, dia langsung memeluk Adelia begitu erat. “Selamat datang,” jawab Raka lirih. Yang tadinya Fania pikir jika Raka akan mengusir Adelia lagi. Tapi justru suaminya yang menyambut kedatangan Adelia dengan Devan.


Devan yang berekspresi datar waktu itu. Fania langsung mengajak Devan masuk. Ini adalah pertemuan mereka pertama kalinya sejak resmi menjadi suami anaknya.


“Kamu kenapa bikin Papa menderita?” ucap Raka tiba-tiba ketika dia mendudukkan Adelia.


“Pa, Adel kangen,” ucap Adelia yang tidak bisa menahan tangisnya. Sama halnya dengan Fania yang ingin sekali memeluk anak perempuannya yang terlihat begitu rapuh. Sedangkan Devan tetap menundukkan kepalanya.


“Kamu pikir Papa nggak kangen? Papa nungguin kamu sangat lama,”


Yang Fania tahu bahwa suaminya menolak keras mengenai dia yang akan mencari Adelia waktu itu. “Pa, Adel pengin pulang udah lama. Tapi Adel takut,”


Seketika Raka menolehkan pandangannya kearah Devan yang menunduk sedari tadi. “Papa nungguin kamu. Papa memang marah, tapi ketika kamu ngilang dan nggak pernah ngabarin Papa. Justru itu yang buat Papa sedih,”


“Pa, Adel pengin pulang dan ketemu Papa dari dulu,”


Raka mengangguk, “Pulang, kapanpun kamu mau,”

__ADS_1


Fania tidak menyangka bahwa cerita-cerita dia tentang Devan yang selama ini begitu baik menjaga anak mereka bisa membuat Raka luluh dan justru memeluk Adelia ketika dia baru saja datang. Dia memang sengaja menyinggung mengenai Devan, sekalipun hatinya juga sangat sakit. Tapi Raka khawatir jika Adelia dicampakkan di sana. itulah ketakutan terbesar yang dirasakan oleh Raka. Akan tetapi, ketika dia pelan-pelan menceritakan mengenai kabar Adelia yang baik-baik saja. Perlahan, Raka mulai terbiasa dengan ceritanya.


Raka juga mengetahui bahwa selama ini Keano sering ke sana. Fania jujur mengenai Keano yang masih mencari keberadaan kakaknya bahkan sering pergi ke sana. yang dilarang waktu itu adalah Fania dan juga mamanya.


“Kamu sehat?”


“Adel sehat, Pa,”


Raka yang tak malu mencium pipi dan kening Adelia berkali-kali dihadapan yang lainnya. Padahal dia yang selama in ikeras kepala dan melarang jika siapapun tidak boleh mencari keberadaan Adelia.


“Pa, Adel minta maaf,”


“Udah, nak! Papa nggak mau bahas yang itu. Yang penting kamu pulang,” jelas Raka.


Fania yang tak bisa membendung air matanya ketika melihat suaminya baik-baik saja dalam menerima keduanya ketika datang lagi. Terlebih ketika suaminya tidak ingin membahas hal itu lagi. Ini juga merupakan bantuan dari mama mertuanya yang berusaha menyadarkan Raka mengenai kesalahan itu. Tidak seharusnya Raka membuang anak kandungnya sendiri. Apalagi Adelia anak yang paling dia sayangi. Tidak mungkin jika Raka akan terus membenci.


“Tinggal di sini ya, Nak!” perintah Papanya.


“Papa nggak mau kamu pergi lagi,”


“Tapi Adelia udah punya kehidupan, Pa,”


“Gimana sama suami brengsekmu itu? Apa dia nggak pernah buat masalah? Kalau dia buat masalah, Papa bunuh dia dengan tangan Papa sendiri,”


Devan sebenarnya ingin tertawa karena mendengar mertuanya menyebutnya dengan sebutan brengsek. “Pa, udah! Devan nggak pernah macam-macam. Justru Devan baik sama aku,” timpal Adelia.


“Dia tanggung jawab?”


“Tanggung jawab banget, Pa. Dia nggak pernah buat aku sedih, dia selalu ngerti apa yang aku mau,”


“Kalian tinggal di mana?”


Adelia langsung melirik kearah Devan dan langsung memberi syarat dan tidak keberatan jika Adelia memberitahu mengenai alamat mereka. Kemudian Adelia memberitahukan alamat di mana mereka tinggal.

__ADS_1


“Kalian nggak tinggal sama mertua?”


“Nggak, Pa. Aku ada rumah, walaupun nggak besar,”


“Stop, jangan panggil Papa!”


“Raka, kamu masih aja kayak gitu!” protes mamanya. Yang di mana Devan mengerti jika dia belum diterima dengan baik oleh papa Adelia.


“Maaf, Om,” ucapnya. Jika dengan mama Adelia. Tentu dia sudah sedikit akrab.


“Kamu nginap ya!”


“Adel pulang nanti sore, Pa,”


“Nginap aja, Adel. Papa masih kangen,” pinta Raka. “Si brengsek itu juga nginap. Pulangnya nanti aja, Papa mau ngobrol sama dia,”


“Papa, ya ampun. Mulutnya itu dijaga!”


Mama mertuanya protes. Tapi justru membuat Devan tersenyu karena permintaan papa mertuanya. Tapi bagaimanapun juga dia sudah siap jika orang tuanya ditanyakan nanti. Tapi, kali ini dia akan berbohong. Karena tidak mau jika mama dan papa mertuanya tahu bahwa orang tua kandung Devan adalah orang masa lalu yang pernah ada di hidup mama Adelia.


“Kamu mau nginap?” tanya papa Adelia kepadanya.


“Iya, Om.”


 


 


Devan menyanggupi permintaan papa mertuanya untuk menginap. Awalnya dia dan Keano memang berencana untuk membatalkan minggu lalu tentang kunjungan mereka. Karena Keano harus bicara dulu kepada papanya. Kemudian Devan berbohong kepada mama mertuanya mengenai dia yang sibuk. Dia disuruh oleh Keano untuk menunggu terlebih dahulu karena anak itu akan berusaha bicara terlebih dahulu dengan papanya.


 


 

__ADS_1


__ADS_2