
Carissa tercenung mendengar kata-kata Evan. Dia sungguh tidak menyangka jika niatnya yang ingin memberikan Evan keturunan justru membuat suaminya itu merasa tersakiti.
Awalnya Carissa mengira jika dirinyalah yang akan terluka, dan itu tidak jadi masalah asalkan Evan bisa senang dengan kehadiran seorang anak. Tapi siapa sangka, justru Evan yang kini terlihat lebih terluka. Carissa benar-benar tak menyangka semuanya akan menjadi seperti ini. Sekarang dia bingung bagaimana harus menjelaskannya pada Evan.
"Evan." Segera Carissa menyusul Evan saat menyadari jika suaminya itu tak lagi berada di sana.
Carissa membuka pintu kamarnya. Di lihatnya Evan sedang duduk di pinggiran tempat tidur dengan raut wajah yang tak bisa di lukiskan. Sekali lagi hati Carissa seperti di timpa sebuah batu besar. Tampaknya dia telah benar-benar melukai suami penyabarnya ini.
Perlahan Carissa mendekati Evan dan duduk di sampingnya.
"Maafkan aku..." Lirih Carissa.
Evan tampak menghela nafasnya tanpa menoleh pada Carissa.
"Aku hanya ingin agar kamu segera mendapatkan seorang anak, makanya aku setuju saat Mama memberikan ide tentang rahim pengganti. Aku tidak bermaksud menyakitimu sedikit pun, Evan." Ujar Carissa lagi sembari menundukkan kepalanya.
Evan tak langsung menanggapi kata-kata Carissa. Sekali lagi dia menghela nafasnya.
"Kenapa kamu langsung menyetujuinya tanpa meminta pendapatku terlebih dahulu?" Tanya Evan kemudian.
Carissa tampak kesulitan menjawab. Kesalahan terbesarnya memang tak menceritakan hal ini pada Evan dan menyetujuinya begitu saja. Entah apa yang ada dalam pikirannya hingga tak membicarakan hal sepenting ini pada suaminya itu.
"Apa kamu pikir aku akan setuju? Katakan padaku, Carissa, apa aku terlihat seperti lelaki tidak sabaran yang menginginkan seorang anak sesegera mungkin, tak peduli apapun caranya?" Tanya Evan lagi.
Carissa menggeleng cepat.
"Tentu saja tidak..."
"Lalu kenapa kamu melakukan ini? Memangnya apa yang mendorongmu menyetujui ide konyol Mama?"
Carissa terdiam dan tampak enggan menjawab.
__ADS_1
"Apa kamu tidak mencintaiku sedikit pun hingga kamu merasa tidak masalah jika aku menyentuh perempuan lain demi untuk mendapatkan seorang anak?"
Carissa mengangkat wajahnya dan memberanikan diri untuk melihat kearah Evan. Mata mereka bertemu dengan tatapan yang sama-sama menyiratkan luka.
"Justru karena aku sangat mencintaimu, makanya aku melakukan kegilaan ini, Evan. Aku tidak bisa hamil, tidak bisa memberikanmu keturunan. Itulah sebabnya aku dengan sangat terpaksa menyetujui ide Mama. Aku ingin membuatmu merasa bahagia dengan hadirnya anak di tengah-tengah kita, walaupun ku akui apa yang ku lakukan ini salah. Tapi ini semua aku lakukan karena aku sangat mencintaimu." Jawab Carissa dengan sendu.
"Apa kamu pikir aku rela jika kamu menyentuh perempuan lain? Tidak, Evan. Aku tidak rela. Hatiku rasanya sangat sakit hanya dengan membayangkannya saja. Tapi aku berusaha untuk menahannya karena aku ingin memberikan kebahagiaan untukmu. Tidak pernah sedikit pun terbesit dalam pikiranku untuk menyakitimu seperti ini."
Mata Carissa tampak berkaca-kaca. Suaranya tergetar karena berusaha untuk tidak menangis di hadapan Evan.
"Kita bahkan belum melakukan tindakan medis apapun, Carissa. Bagaimana bisa kamu langsung menyimpulkan jika kamu tidak bisa hamil. Sudah berapa kali aku katakan jika semuanya masih bisa di usahakan. Apa kata-kataku hanya angin lewat saja bagimu?"
"Aku.." Carissa ingin membela diri, tapi rasanya tak ada pembelaan yang bisa dia ucapkan di hadapan Evan. Kata-kata Evan sepenuhnya benar. Carissa tidak mendengarkan suaminya itu. Dia justru bertindak impulsif yang menyebabkan mereka berdua sama-sama terluka. Harusnya Carissa membicarakan hal ini secara terbuka pada Evan, bukannya mengambil keputusan diam-diam yang malah membuat keadaan menjadi semakin tidak baik.
"Maafkan aku." Ujar Carissa lirih sembari menundukkan wajahnya.
Evan kembali menghela nafasnya dan beranjak dari duduknya.
"Kamu mau kemana?" Tanya Carissa saat menyadari Evan kembali menjauh darinya.
"Jangan pergi. Kalau kamu mau marah, marahi saja aku. Kamu mau memukulku juga boleh." Ujar Carissa sambil mendekap erat tubuh Evan. Terang saja Evan sedikit membulatkan matanya mendengar kata-kata Carissa.
Evan berusaha melepaskan tangan Carissa yang melingkar di perutnya, tapi Carissa justru semakin mempererat pelukannya.
"Lepaskan, Carissa." Pinta Evan.
"Aku tidak mau. Kalau aku lepaskan, nanti kamu menjauhi aku lagi." Jawab Carissa.
"Aku perlu menenangkan diri." Ujar Evan sambil terus berusaha untuk melepaskan tangan Carissa.
"Tenangkan saja dirimu disini, aku tidak akan mengganggumu. Tapi jangan pergi." Jawab Carissa lagi dengan keras kepala.
__ADS_1
Sekali lagi Evan menghela nafasnya. Untuk pertama kalinya dia pusing menghadapi Carissa.
"Jangan kekanakan begini, Carissa. Suasana hatiku benar-benar sedang tidak baik. Aku perlu waktu sendirian untuk menenangkan pikiranku. Tolong mengertilah." Evan berujar sekali lagi. Kali ini suaranya sedikit melembut.
"Tidak. Kamu tidak boleh pergi. Jangan pernah pergi dalam keadaan marah, nanti di luar kamu justru akan melakukan hal yang akan membuatmu menyesal."
"Kalau aku tetap di sini, kamu yang akan menjadi pelampiasan kemarahanku. Sekarang lepaskan aku. Aku tidak ingin sampai menyakitimu."
Carissa tetap menggeleng sambil semakin mempererat dekapannya.
"Carissa..." Desis Evan. Terlihat lelaki yang biasanya sangat sabar itu mulai kewalahan meredam emosinya.
"Lampiaskan saja." Ujar Carissa.
Evan sedikit terkejut mendengarnya. Tangannya tampak berhenti menarik tangan Carissa yang masih setia melingkar di perutnya.
"Jika itu bisa membuatmu merasa lebih baik, keluarkan saja semuanya. Aku memang salah dan pantas mendapatkan hukuman."
Mata Evan semakin membulat. Carissa terdengar sedang menantangnya hingga emosinya semakin meninggi. Tapi anehnya, bersamaan dengan itu, ada hal lain juga yang tiba-tiba bangkit.
Dengan masih berada dalam dekapan Carissa, Evan membalik tubuhnya hingga menjadi berhadapan dengan istrinya itu. Di pandangnya wajah Carissa dengan tatapan yang sulit di jelaskan. Lalu tanpa Carissa duga, Evan langsung menyambar bibirnya dan memagutnya dengan liar. Ciumannya begita kasar, menyiratkan betapa bernafsunya Evan saat ini. Antara tenggelam dalam kemarahan dan terbakar birahi, Evan terus mencumbu Carissa sambil pelan-pelan mengarahkan istrinya itu ke tempat tidur.
Evan mendorong Carissa hingga tubuhnya terhempas memantul di tempat tidur. Untung saja tempat tidur tersebut sangat empuk hingga tak membuatnya merasa kesakitan. Kemudian masih dengan tatapan yang garang, Evan melucuti Carissa tanpa ampun. Dia pun kembali mencumbu istrinya itu sembari menanggalkan pakaiannya sendiri.
Detik berikutnya, Carissa terpekik saat Evan memasukinya tanpa pemanasan yang memadai. Rasanya agak sakit, belum lagi gerakan Evan yang agak kasar dan tak memberinya kesempatan untuk mengimbangi.
Carissa menggigit bibir bawahnya. Hentakan Evan yang sama sekali tidak lembut seperti biasanya membuat nafasnya tersengal-sengal. Carissa tahu saat ini Evan sedang menghukumnya. Dan jika di bandingkan dengan Evan menyentuh perempuan lain, hal ini masih jauh lebih baik.
Yang bisa Carissa lakukan saat ini hanyalah memejamkan mata dan mencoba menikmatinya.
Bersambung...
__ADS_1
Tetap like, koment dan vote
Happy reading❤❤❤