WITH YOU

WITH YOU
Kamu Harus Sembuh!


__ADS_3

Sonya tampak menautkan kedua alisnya sembari menatap Evan dengan penuh tanda tanya.


"Apa maksudmu, Evan? Carissa pergi kemana?" Tanya Sonya dengan wajah panik.


Evan tak langsung menjawab. Dia tampak larut dengan kesedihannya. Airmatanya masih terus mengalir tanpa ada tanda-tanda akan berhenti.


"Evan, jawab Mama! Carissa pergi kemana? Dan kenapa dia pergi? Dia itu sedang hamil, sangat berbahaya jika berada di luar sana sendirian." Sonya menggoncang tubuh Evan yang lunglai agat putranya itu merespon pertanyaannya.


Evan mengangkat wajahnya dan melihat kearah Sonya dengan tatapan sedih dan putus asa.


"Carissa pergi meninggalkanku, Ma... Dia pergi meninggalkanku... Dia tidak sudi hidup bersama suami sakit jiwa sepertiku... Dia pergi dan membawa calon anak kami..."


Sonya semakin terkejut mendengar penuturan Evan, begitu juga dengan Zacky. Papa Evan itu tampak tidak mengerti dengan apa yang putranya katakan. Tapi kemudian mata Zacky tertuju pada sebuah surat yang teremas di salah satu tangan Evan.


Dengan langkah perlahan Zacky mendekati Evan, lalu mengambil kertas yang di genggam Evan itu. Zacky membaca surat tersebut dengan raut wajah yang sulit di jelaskan, hingga membuat Sonya ikut juga ingin tahu apa isinya.


Segera setelah Zacky selesai membaca surat tersebut, Sonya mengambilnya dari tangan Zacky dan membacanya juga. Seketika raut wajah Sonya juga berubah. Matanya sedikit membeliak dengan nafas yang agak memburu.


"Jelaskan pada Mama dan Papa, Evan. Apa maksud dari isi surat Carissa ini? Apa maksudnya jika kamu mengidap penyakit serius?" Zacky bertanya dengan wajah mengeras.


Evan masih membisu dengan raut wajah sendu.


"Katakan, Evan! Apa yang telah kamu sembunyikan dari kami?!" Tanya Zacky lagi dengan nada bicara lebih tinggi.


Evan tak menjawab. Dia kembali tergugu dengan sangat menyedihkan. Tidak hanya kehilangan istrinya, tampaknya karena ketidakterbukaannya membuat kedua orang tuanya juga merasa kecewa.


Sonya bersimpuh di hadapan Evan dan membawa putranya itu ke dalam pelukannya. Di usapnya kepala dan punggung Evan dengan penuh kasih sayang. Airmata Sonya luruh. Dapat dia rasakan betapa sakitnya Evan saat ini.

__ADS_1


"Evan, putraku... Katakan pada Mama apa kesulitanmu. Jangan menanggungnya seorang diri, Nak. Kamu punya Mama dan Papa... Biarkan kami membantumu..."


Airmata Evan semakin deras mengalir. Dia tak bisa berkata-kata. Hanya tangisnya saja yang menjadi jawaban untuk pertanyaan yang di tujukan padanya. Sekali lagi Evan tergugu hingga nafasnya menjadi agak tersengal.


"Tidak masalah sesekali menjadi lemah dan meminta pertolongan orang lain, Evan. Jangan menyimpannya sendirian lagi. Katakan pada Mama kenapa Carissa memilih untuk pergi seperti ini." Ujar Sonya lagi sambil terus mengusap lembut kepala Evan.


Evan berusaha menguasai dirinya dan menghela nafas dalam. Setelah di rasanya agak tenang, di urainya pelukan Sonya. Di tatapnya wajah Mamanya itu dengan perasaan bersalah yang memenuhi setiap rongga dadanya.


"Aku sakit, Ma." Lirih Evan akhirnya.


"Belakangan ini aku sulit mengontrol pikiranku sendiri dan mengalami nyeri di bagian kepala saat tanpa sadar teringat pada apa yang telah di lakukan oleh Papa Carissa. Semakin lama, rasa sakitnya semakin sering datang, dan aku juga kesulitan mengontrol emosiku, hingga akhirnya aku datang ke psikiater. Dan aku di diagnosa menderita complex post traumatic stress disorder, sebuah gangguan mental yang di sebabkan oleh trauma kehilangan yang terulang saat dewasa."


Sonya dan Zacky tampak terkejut mendengar pengakuan Evan. Mereka berdua terperangah tanpa bisa berkata apa-apa.


"Sejak saat itu aku tidak lagi menangani pasien di rumah sakit. Aku hanya datang sebagai direktur, dan sebagian besar pekerjaanku pun sudah aku limpahkan pada bawahanku. Aku berusaha untuk sembuh dan menjalani terapi selama Carissa berada di rumah Mama dan Papa, tapi kondisiku justru semakin buruk. Psikiater tempatku berkonsultasi menyimpulkan jika sumber trauma yang membuat keadaanku tak membaik adalah Carissa. Dia adalah putri dari seseorang yang menyebabkan kematian kedua orang tua kandungku, jadi setiap kali bersamanya, alam bawah sadarku merespon buruk. Hal itu yang membuat aku seringkali merasakan sakit yang luar biasa di kepalaku."


Evan menghela nafasnya sejenak.


Evan memejamkan matanya dan kembali menghela nafas dalam. Dia tampak berusaha untuk tidak kembali larut dengan perasaan sedihnya.


"Ya Tuhan..." Hanya itu saja yang bisa Sonya katakan. Dia kembali meneteskan airmata mendengar penuturan Evan tadi. Di pandangnya Evan dengan tatapan yang teramat sendu. Dia sungguh terkejut dengan kenyataan tentang putranya ini.


"Kamu menjadi sakit karena perbuatan Papanya, posisi Carissa benar-benar sulit, Evan. Seandainya itu Mama, Mama juga pasti akan melakukan apa yang Carissa lakukan saat ini. Mama pasti akan pergi agar orang yang Mama cintai tidak terus menderita." Ujar Sonya lagi.


"Aku harus mencari Carissa, Ma. Aku harus segera menemukannya dan segera membawanya pulang." Evan bangkit dan membenahi dirinya. Tampaknya dia akan pergi untuk mencari di mana Carissa berada.


"Berhenti, Evan. Tetap di tempatmu!" Zacky yang sedari tadi diam terdengar memerintah dengan nada tidak ingin di bantah.

__ADS_1


Evan menoleh kearah Zacky dengan penuh tanda tanya. Begitu juga dengan Sonya.


"Aku harus pergi, Pa. Aku harus mencari Carissa." Ujar Evan.


Zacky tampak menghela nafasnya dan melangkah kearah Evan.


"Carissa tidak akan pergi jika tidak punya tempat tujuan. Saat ini mungkin dia sudah sampai di tempat tujuannya, jadi biarkan dia menenangkan diri sejenak. Dan bukankah sudah jelas jika kepergiannya karena dia ingin kamu menyembuhkan penyakitmu. Jika saat ini kamu datang padanya masih dalam keadaan seperti ini, dia pasti tidak akan mau kembali padamu, Evan." Ujar Zacky lagi dengan tegas.


Evan terdiam dengan raut wajah yang sulit di jelaskan. Dia ingin menyangkal, tapi apa yang di katakan Zacky memang benar, Carissa tidak akan sudi pulang bersamanya dengan keadaannya yang seperti sekarang ini.


Tatapan mata Evan seketika turun. Tubuhnya kembali terasa lemas hingga hampir saja dia kembali luruh ke lantai.


"Lalu aku harus bagaimana? Apa yang harus aku lakukan?" Gumam Evan dengan nada putus asa.


"Lakukan pengobatanmu dengan bersungguh-sungguh. Kamu harus bisa mengatasi pikiran yang membuatmu terjebak dalam trauma masa lalu. Benahi dirimu sekuat tenagamu, Evan. Penyakitnu itu berasal dari pikiranmu sendiri. Jangan pernah berpikir untuk menemui Carissa jika kamu masih menganggap dia sebagai sumber traumamu!"


Evan mengangkat wajahnya dan kembali melihat kearah Zacky dengan penuh tanda tanya.


"Tidak, Pa. Aku tidak pernah menganggap Carissa seperti itu..."


"Kamu tidak menganggapnya seperti itu, tapi alam bawah sadarmu menganggapnya begitu. Apa bedanya? Selagi kamu tidak membenahi pikiran dan hatimu, rasa sakit itu akan terus ada, Evan. Jadi sekarang fokus saja pada segala hal yang bisa menyembuhkanmu. Jika kamu memang menganggap Papa sebagai orang tuamu, dengarkan kata-kata Papa. Papa akan mengizinkan kamu mencari Carissa hanya dengan satu syarat..."


Zacky tampak menghela nafasnya sebelum kembali membuka suara.


"Kamu harus sembuh!"


Bersambung...

__ADS_1


Hari ini satu part dulu ya Zeyenk..., dari kemaren udah ada notif update episode terbaru True Beauty tapi ga sempet2 nonton, jadi sekarang emak mau nonton dulu😆


Happy reading❤❤


__ADS_2