
Anniversary yang kedua tahun, kali ini Raka baru ingat jika ini merupakan hari jadinya bersama dengan Nabila. Hal yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya, bahwa dia bisa menjalin kasih dengan perempuan ini secara diam-diam. Ia bersahabat dengan Reza dan juga Fandy. Tapi ketika mengenai Nabila, tentu saja dia yang jauh lebih berhak mengenai Nabila. Karena awalnya memang dialah kekasih dari perempuan itu.
Makan malam yang kali ini begitu romantis memang sengaja disiapkan oleh Raka untuk merayakan anniversary mereka. Yang di mana Raka juga ingin memberikan kado terbaik untuk kekasihnya. Sangat jarang dia bisa romantis dengan satu orang saja. Tapi kali ini dia begitu menunjukkan kasih sayangnya pada Nabila.
“Setelah ini kamu mau ke mana?” tanya Raka ketika melihat Nabila senyum dari tadi saat makan malam yang begitu romantis di salah satu restoran yang di mana posisi mereka kali ini berada ditengah-tengah. Tamu-tamu juga tidak ada kecuali mereka berdua.
“Kamu beneran siapin semuanya buat aku?”
“Nabila, kamu pikir aku lupa dengan hari yang begitu penting bagi kita berdua?” Raka muali memastikan bahwa dia tidak lupa sama sekali dengan perempuan itu. Dia juga tidak lupa dengan hari jadi mereka berdua. Kali ini dia ingin memberikan yang terbaik bagi perempuan itu.
Nabila tersenyum sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya ketika kue anniversary kedua mereka datang. “Kamu nggak lupa sama hari ini kan?” tanya Raka.
“Raka, kamu orangnya romantis juga ya?”
Dia hanya tersenyum, dia tidak menanggapi apapun lagi setelah perempuan itu dibuat kagum dengan apa yang dia lakukan malam ini. Raka memang begitu romantis, tapi dia sangat jarang jika romantis dengan cara seperti ini. Tapi, pada Nabila. Justru dia terlihat seperti orang yang benar-benar tak bisa berpaling pada perempuan lain lagi.
“Kamu suka?”
“Banget Raka. Suka banget,”
“Kamu sabar ya!”
“Sabar untuk?”
“Suatu saat jika memang sudah waktunya, aku pasti bakalan nikahin kamu, Nabila. Aku nggak bakalan ninggalin kamu,” ucap Raka membuat perempuan itu begitu tersipu. Setelah nonton film tadi, Raka mengajak perempuan ini ke salah satu restoran tempat mereka sekarang. Raka sudah menyiapkan semua ini hanya untuk Nabila saja.
Nabila terlihat begitu cantik. Raka menyangga dagunya dengan kedua tangannya dan fokus menatap perempuan itu yang sangat terlihat menarik di matanya. Entah apa yang dia pikirkan ketika bersama perempuan ini dia merasa begitu bahagia. “Kamu kenapa lihat aku kayak gitu sih Raka?”
Raka menggeleng, “Kamu cobain kuenya. Setelah itu kita pulang, kamu kan sudah belanja. Sudah nonton juga. Sekarang nona cantik mau beli apa?” tawar Raka yang membuat Nabila tersipu malu. Perempuan itupun tersenyum kearah Raka.
“Kamu juga makan ya!”
“Asal disuapin calon istri,”
“Raka ih manja,”
Pria itu bukannya marah saat Nabila mencolek hidungnya dengan krim kue yang membuat hidungnya putih. “Kamu mau aku cium lagi, hmmm?” ancam Raka. Dia mencium kening Nabila tadi ketika berada di apartemen. Juga ketika mereka berada di dalam mobil, Raka melakukan hal itu karena dia benar-benar sayang kepada perempuan ini.
“Nggak mau ah,”
“Yakin nggak mau? Aku maunya kamu lho,” ucap Raka lagi. Kemudian dia meraih tisu dan membersihkan hidungnya. “Kamu harus tanggung jawab nanti setelah sampai apartemen,”
“Tanggung jawab apa?”
__ADS_1
“Tanggung jawab pokoknya. Aku nggak mau tahu, jadi kamu harus tanggung jawab tentang semua ini,”
Nabila tersenyum manis, “Aku bakalan lakukan apa aja demi kamu,”
Ucapan Nabila barusan membuat Raka benar-benar tersenyum kearah gadis itu. “Udah makan dulu! Nanti sampai apartemen kamu langsung mandi, udah gitu kita tidur. Besok kita jalan-jalan lagi sepuas kamu. Sekalian kalau kamu mau keluar kota buat jalan-jalan, aku bersedia nemenin,”
“Kamu kan sibuk?”
“Nggak, aku bakalan luangin waktu buat nemenin kamu. Hari anniversary kita itu besok. Jadi nggak mungkin kan kalau aku bakalan cuekin kamu,” ucapnya yang membuat Nabila kegirangan.
“Kamu beneran nggak sibuk?”
“Nggak sayang,”
Sepulang mereka dari restoran. Seperti apa yang dikatakan olehnya tadi bahwa Nabila menginap di apartemennya. Ini adalah pertama kalinya Nabila menginap, awalnya dia memang ragu membawa perempuan ini ke apartemen. Tapi Raka sudah berusaha sebaik mungkin meyakinkan dirinya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Dia juga sangat yakin jika mereka tidak akan melakukan hal apapun.
Ketika masuk ke dalam kamar Raka. Nabila mengedarkan pandangannya, “Kamar kamu besar ya,”
“Hmmm, kalau kamu mau tinggal di sini juga nggak apa-apa,” tawar Raka.
“Hmmm, nikah dulu dong,”
“Iya iya. Kita bakalan nikah nanti kalau kamu sudah siap. Kalau aku juga punya rumah sendiri. Jadi kita nggak perlu repotin orang tua, kan?”
Raka langsung mengeluarkan baju tidur yang dibeli oleh Nabila tadi. “Kamu bersihin tubuh kamu deh. Cuci muka, make up kamu juga ya. Takutnya nanti kamu jerawatan karena make up kamu masih nempel gitu,”
“Iya sayang,”
Nabila pergi ke kamar mandi terlebih dahulu. Sementara itu Raka mengeluarkan setelan tidurnya. Dia belum berganti pakaian, dia harus ke kamar mandi untuk sikat gigi terlebih dahulu.
Perempuan itu keluar dengan setelan tidurnya yang sudah rapi. “Raka, aku pakai sikat gigi yang ada di box satunya. Yang baru itu,”
“Hmmm, iya. Kamu udah bersihin badan juga?”
“Udah dong,” jawab Nabila dengan senyuman khasnya. “Kamu nggak ke kamar mandi?”
“Aku mau cuci muka terus sikat gigi. Udah gitu tidur sama calon istri,” jawab Raka mengecup ujung hidung Nabila.
“Kamu bisa aja ya,” jawabnya.
Ia tak memedulikan ucapan perempuan itu. Raka langsung pergi untuk mencuci wajah dan menyikat gigi. Raka masih mengenakan pakaian yang tadi digunakan itu.
Ketika dia keluar. Dia melihat Nabila sedang membuka bajunya, “Raka,” pekik gadis itu.
__ADS_1
Tapi Raka tak berbalik sedikitpun. “Kamu ngapain buka baju?”
“Aku buka karena aku pikir kamu bakalan lama di sana. Aku buka baju karena mau buka bra yang ketinggalan tadi,” jawabnya.
“Oh, aku pergi,” ucapnya dan langsung pergi dari kamar itu ke kamar mandi lagi.
Beberapa saat kemudian, Raka di dalam memejamkan matanya. Dia tidak bisa lupa dengan tubuh indah itu.
“Sayang udah selesai,” kata Nabila yang kemudian perlahan Raka membuka pintu kamar mandi dan langsung melangkah dari sana menuju kamar tidurnya dan tidur di samping Nabila. “Raka, kenapa kita sekamar?”
“Karena nggak ada kamar lain lagi, kan,”
“Hmmm,”
“Kamu kenapa?”
“Aku malu,”
Nabila tidur dan membelakangi Raka. “Kenapa kamu hadap sana?” Raka memeluk Nabila dan tetap menempel. Napasnya kali ini memburu, memang niatnya dari awal menginginkan Nabila. Dia ingin melakukan hal lebih terhadap gadis itu.
“Ra-ka,” panggil Nabila dengan terbata ketika Raka mulai menyibak rambut Nabila dan menciumi leher Nabila. “Raka, udah dong!”
Raka langsung membalik tubuh Nabila hingga telentang dan menguncinya begitu saja. Dia menyambar bibir Nabila dengan lembut disertai dengan gigitan-gigitan kecil yang membuat perempuan itu mendesah.
“Raka, kamu mau ngapain?”
“Boleh kan?”
“Raka, aku nggak mau,”
Dengan tatapan yang begitu meyakinkan, “Aku janji bakalan tanggung jawab setelah ini. Apapun yang terjadi,”
“Kenapa kita nggak nikah aja?”
“Kamu yang belum siap. Kamu masih mikirin karir kan?”
Perempuan itu mengangguk kemudian saat Raka mencium lagi, dia membalasnya dengan begitu lembut juga. Dia merasa jika perempuan ini memberinya kode dan memperbolehkannya melakukan apapun.
__ADS_1