WITH YOU

WITH YOU
Berusaha Hidup Tanpamu


__ADS_3

Carissa tiba di tanah air setelah menempuh hampir satu jam penerbangan. Dia langsung ceck-in di sebuah hotel yang berada tak jauh dari bandara. Setelah memesan makan siang melalui jasa pesan antar, Carissa pun merebahkan tubuhnya di tempat tidur.


Rasanya sangat lelah setelah begitu banyak menangis sejak dia mengetahui keadaan Evan. Carissa telah membuat keputusannya dengan melepaskan Evan dari kehidupannya. Meski sangat berat dan menghancurkan hatinya sampai tak berbentuk lagi, tapi di sisi lain Carissa juga merasa lega karena telah membebaskan Evan dari trauma terbesarnya. Dia berharap dengan seperti ini Evan bisa segera sembuh dan kembali menjadi seperti dulu lagi.


Carissa juga sangat berharap Evan bisa hidup dengan baik dan bahagia setelah dirinya pergi.


Tak lama kemudian, makanan yang di pesan Carissa pun tiba. Carissa segera menyantap makan siangnya, meski dengan sangat tidak bernafsu. Setelah itu dia kembali beristirahat sejenak sebelum akhirnya bersiap-siap untuk pergi keluar.


Carissa mengganti sim card di ponselnya, lalu menghubungi seseorang dengan nomor baru. Setelah berbincang-bincang sebentar, Carissa pun membuat janji untuk bertemu dengan orang yang di hubunginya itu.


Setelah pembicaraan selesai, Carissa memutus saluran telfon. Lalu dia teringat dengan seseorang dan kembali melakukan panggilan lagi.


Saluran telfon tersambung. Tak butuh waktu lama bagi orang di seberang sana untuk menjawab panggilan Carissa.


"Halo, dengan siapa ini?" Terdengar suara dari orang yang sangat Carissa rindukan, Alya.


"Mama..." Gumam Carissa dengan dengan suara tertahan.


"Carissa?" Guman Alya setengah bertanya.


"Iya, ini Carissa."


Suasana hening sejenak.


"Kenapa kamu menelfon dengan menggunakan nomor baru?" Tanya Alya kemudian.


"Ah, itu...ponsel lamaku hilang, jadi aku ganti ponsel baru dengan nomor baru juga. Simpan nomornya ya, Ma." Carissa berusaha untuk berbicara setenang mungkin.


Terdengar Alya mendesah.

__ADS_1


"Kamu ini selalu saja ceroboh. Bagaimana ponselmu bisa sampai hilang. Lain kali lebih hati-hati." Ujar Alya dengan nada sedikit marah.


"Iya, Ma." Jawab Carissa.


"Oh iya, bagaimana kabar Mama di sana? Apa betah?" Tanya Carissa.


"Ya begitulah. Mama sedang beradaptasi. Suasana di sini sangat berbeda dengan di tanah air kita." Jawab Alya.


Saat ini Alya memang sudah tinggal lagi di Indonesia. Dia ikut Clara bersama suaminya menetap di Amerika, tempat bisnis Dave berbasis.


Aset yang di tinggalkan Arga telah di sita, dan perusahaan Nugraha telah di ambil alih oleh sepupu Arga. Saham milik Arga dan Alya juga telah di jual untuk menutupi sisa hutang dari kerugian yang di timbulkan Arga, hingga tak ada lagi yang tersisa untuk Alya.


Karena Dave terus memintanya untuk ikut ke Amerika, Alya pun akhirnya setuju dan ikut serta anak dan menantunya untuk tinggal di sana. Seminggu setelah tinggal di sana, Alya baru memberitahukan hal itu pada Carissa, tepatnya tiga hari yang lalu.


Carissa tidak mungkin menyusul Alya untuk ikut tinggal juga di Amerika. Di sana Alya di tanggung oleh Dave, tidak mungkin Carissa menambah beban untuk kakak iparnya itu, hingga akhirnya dia memilih untuk kembali ke tanah air dengan membawa tabungannya yang tersisa, hasil dari saat dulu dia masih menjadi seorang pianis. Carissa akan mulai membuka lembaran baru dalam hidupnya dengan berdiri di atas kakinya sendiri, tanpa membebani orang-orang di sekitarnya.


"I-iya, Ma." Jawab Carissa dengan agak terbata.


"Bagaimana kehamilanmu? Tidak ada masalah, kan?" Tanya Alya lagi.


"Tidak ada masalah, Ma. Aku dan anak dalam kandunganku sehat. Tidak ada yang perlu di khawatirkan."


Alya tampak terdiam beberapa saat.


"Lalu, bagaimana dengan Evan? Apakah dia memperlakukanmu dengan baik setelah tahu Papamu yang yang menyebabkan kedua orang tuanya meninggal?" Alya bertanya sekali lagi, kali ini dengan nada suara yang terdengar sedih.


"Evan memperlakukanku dengan sangat baik, Ma. Dia tidak pernah sekalipun berlaku kasar, apalagi sejak aku hamil. Mama tidak usah khawatir. Aku baik-baik saja." Jawab Carissa dengan suara yang di buat sebaik mungkin. Carissa tidak ingin Mamanya mendapati suara sedihnya.


Carissa sungguh tidak bertujuan membohongi Alya. Dia hanya tidak ingin Mamanya itu semakin bersedih jika tahu nasib pernikahannya sekarang. Toh semua yang di katakannya tadi tidak ada kebohongan. Evan memang selalu memperlakukannya dengan baik, meski hubungan mereka sudah tidak lagi sama.

__ADS_1


Pada saatnya nanti Carissa pasti akan memberitahu Alya yang sebenarnya, tapi bukan sekarang. Sekarang yang harus di lakukan Carissa adalah menata kehidupannya agar bisa bertahan meski kini tak ada siapapun di sampingnya. Carissa akan berusaha untuk kuat demi calon anak yang saat ini di kandungnya. Dia bertekad akan membesarkan anaknya itu dengan baik meski hanya seorang diri.


Tanpa sadar Carissa mengusap perutnya. Bibirnya berusaha menyungging sebuah senyuman, meski senyuman yang tersungging hanyalah senyuman sendu.


"Syukurlah jika hubunganmu dan Evan baik-baik saja, Mama lega mendengarnya. Keadaan Mama di sini juga baik. Dave memperlakukan Mama dengan sangat baik. Kedua orang tua Dave juga kelihatannya sangat menyayangi Clara. Mama senang akhirnya permasalahan yang di tinggalkan Papamu perlahan selesai. Meskipun Mama tidak punya apa-apa lagi, tapi setidaknya anak-anak Mama hidup dengan baik. Itu sudah lebih dari cukup."


Carissa terdiam dengan mata yang berkaca-kaca. Semakin tidak mungkin rasanya saat ini untuk mengatakan nasib pernikahannya pada Alya. Mamanya ini baru saja berhasil menata hatinya dan mulai untuk melanjutkan hidupnya lagi, jika dia sampai tahu permasalahan yang di hadapi Carissa, hatinya pasti akan kembali hancur. Carissa tidak mau jika hal itu sampai terjadi. Biarlah rasa sedihnya ini dia sendiri yang menanggungnya, tidak perlu mengajak orang lain juga.


"Aku ikut senang jika keadaan Mama di sana baik-baik saja. Sampaikan salamku pada Kak Clara dan Kak Dave. Aku tutup dulu telfonnya, ya, Ma. Nanti aku hubungi lagi." Ujar Carissa menyudahi pembicaraan.


"Ah, iya. Silahkan." Jawab Alya.


Sambungan telfon pun terputus. Carissa tercenung beberapa saat, sebelum akhirnya bersiap-siap untuk keluar menemui seseorang yang di hubunginya tadi.


Setelah bersiap, Carissa pergi ke sebuah kafe yang terletak tak jauh dari hotelnya menginap. Di sana ada beberapa tempat yang di jadikan spot berfoto oleh para pengunjung yang rata-rata adalah para anak muda.


Carissa tersenyum. Tingkah polah para anak muda itu sedikit menghiburnya, hingga kesedihannya sedikit teralihkan. Tapi sejurus kemudian pandangannya tertuju pada sepasang remaja yang duduk di meja tak jauh dari mejanya. Tampaknya mereka adalah pasangan kekasih. Dan saat ini agaknya sang gadis sedang berulang tahun, hingga kekasihnya menyiapkan sebuah kejutan dan kado di sana. Sebuah gelang yang kemudian di pakaikan oleh kekasih gadis itu ke lengannya.


Carissa membeku. Secara impulsif dia memandang gelang yang saat ini di kenakannya. Gelang yang khusus di pesan Evan untuknya sebagai kado ulang tahun. Hatinya yang sudah terasa membaik tiba-tiba saja kembali tenggelam dalam rasa sedih yang bercampur dengan rasa rindu.


Airmata Carissa tiba-tiba saja kembali jatuh tanpa di sadarinya.


'Di sinilah aku sekarang, Evan. Berpura-pura tegar dan berusaha untuk hidup tanpamu. Tapi tidak ada yang bisa aku rasakan selain rasa sedih dan rindu. Semoga kamu tidak merasakan yang aku rasakan, karena rasanya benar-benar menyakitkan...'


Bersambung...


Tetap like, koment dan vote


Happy reading❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2