WITH YOU

WITH YOU
Kontraksi Palsu


__ADS_3

Sonya sibuk menata meja makan dibantu beberapa asisten rumah tangganya. Malam itu dia mengundang Evan dan Carissa untuk makan malam bersama. Sejak sore tadi, Sonya sudah sibuk memasak beberapa menu kesukaan anak dan menantunya itu. Dia tampak sangat bersemangat. Perkiraan persalinan Carissa yang semakin dekat membuat Sonya merasa senang, tapi juga harap-harap cemas.


Sonya pun berinisiatif mengajak Carissa dan Evan makan malam di rumahnya. Rencananya kesempatan itu juga akan digunakannya untuk membujuk Evan agar membiarkan Carissa tinggal di rumah utama sampai menantunya itu melahirkan nanti. Meski tidak tahu Evan akan setuju atau tidak, Sonya akan mencoba mengutarakan keinginannya itu pada Evan.


"Tuan Evan dan Nyonya Carissa sudah sampai, Nyonya." Salah seorang asisten rumah tangga Sonya memberitahu.


Seketika wajah Sonya langsung berseri. Disambutnya langsung kedatangan Evan dan Carissa langsung dari pintu masuk.


"Mama kira kalian tidak jadi datang. Kata Evan tadi pinggang dan perutmu terasa tidak nyaman." Ujar Sonya sambil membimbing Carissa keruang makan.


"Memang sudah sering seperti itu akhir-akhir ini, Ma. Tapi tidak terlalu menjadi masalah." Jawab Carissa.


"Ya, kata orang, semakin dekat dengan persalinan, maka akan semakin banyak bagian tubuh yang terasa kurang nyaman, bahkan tidur pun menjadi sulit. Apa kamu kesulitan tidur seperti itu juga?" Tanya Sonya.


"Memang agak sulit, Ma. Tapi Evan sangat perhatian dan berusaha membuatku agar selalu nyaman, jadi aku masih bisa tidur."


Sonya tampak menghela nafas lega.


"Baguslah kalau begitu." Gumamnya.


Sampai di meja makan, Sonya langsung membimbing Carissa untuk duduk di salah satu kursi.


"Evan. Panggil Papamu di ruang kerjanya. Kita akan mulai makan malam." Sonya akhirnya bicara pada Evan yang sedari tadi diabaikannya.


"Baik, Ma." Jawab Evan sambil beranjak ke lantai atas, tempat ruang kerja Zacky berada.


Tak lama kemudian, Evan pun kembali turun bersama Zacky. Ayah dan anak itu langsung bergabung di meja makan bersama Sonya dan Carissa.


Makan malam keluarga akhirnya dimulai.


Jika biasanya Sonya akan melayani Zacky terlebih dahulu, kali ini tidak seperti itu. Perempuan paruh baya itu langsung mengisi piring Carissa dengan nasi dan bermacam-macam lauk.


"Ikan tuna sangat baik untuk ibu hamil, banyak mengandung zat yang diperlukan untuk kecerdasan otak calon anak yang dikandung. Belut juga punya gizi yang sangat bagus." Gumam Sonya sambil menambahkan apa yang disebutnya tadi kedalam piring Carissa.


Carissa mengangguk dengan tersenyum meringis. Piringnya sudah penuh dengan makanan. Bagaimana bisa dia menghabiskan itu semua. Belum lagi lauk terakhir yang ditambahkan Sonya tadi, belut. Carissa tidak suka belut. Dia tahu nilai gizi salah satu keluarga ikan itu sangat tinggi, tapi setiap kali akan mengkonsumsinya, Carissa selalu teringat dengan wujud hewan itu yang mirip dengan ular. Carissa selalu mual setiap kali akan memakannya.


"Sekarang Carissa tidak bisa makan dengan jumlah yang banyak lagi, Ma. Perutnya akan terasa sangat penuh dan menjadi sesak." Akhirnya terdengar suara Evan menginterupsi.


"Ah, benarkah?" Tanya Sonya dengan agak terkejut.


"Benar. Untuk mengatasinya, sekarang dia makan dalam jumlah yabg sedikit, tapi berulang-ulang." Balas Evan lagi.


Sonya melihat kearah Carissa dan dibalas anggukan oleh menantunya itu.


"Maaf, Mama tidak tahu." Gumam Sonya akhirnya.

__ADS_1


"Sudah, Carissa, dimakan saja. Kalau tidak bisa menghabiskannya, ya tidak usah dihabiskan." Zacky juga ikut bersuara.


Seketika Sonya menoleh kearah Zacky dan baru menyadari jika dia melupakan suaminya itu untuk beberapa saat.


"Tidak apa-apa, aku bisa ambil sendiri. Menantu kita sekarang memang harus lebih diperhatikan." Bisik Zacky sambil mengisi piringnya sendiri.


"Maaf..." Sonya bergumam lirih.


Zacky menanggapi dengan tersenyum kearah istrinya itu, menegaskan jika dia tidak marah.


"Evan, kenapa belum mengisi piringmu dengan makanan. Ayo, kita mulai makan." Ujar Zacky pada Evan.


Evan tersenyum, lalu merapatkan kursinya pada kursi Carissa.


"Karena isi piring Carissa sangat banyak, aku akan makan bersama dengan Carissa saja." Ujar Evan sambil mengambil sendok dan garpu, lalu mulai makan dari piring istrinya itu.


Carissa tampak terperangah.


"Tunggu apa lagi, ayo makan." Ujar Evan.


"Ee..itu, kamu..." Carissa merasa sedikit canggung dan tak tahu harus bicara apa.


"Aku sedang membantumu." Bisik Evan sambil mengambil potongan belut dari piring Carissa dan memakannya.


Carissa tertegun beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum dan meraih sendok juga. Mereka akhirnya menyantap makanan dari piring yang sama.


"Kita sudah menikah puluhan tahun, tapi kenapa belum pernah melakukan hal itu?" Tanya Sonya tiba-tiba pada Zacky dengan nada lirih.


Zacky menoleh dan melihat istrinya itu dengan penuh tanda tanya.


"Maksudmu?" Zacky terlihat tidak mengerti.


"Belum pernah sebelumnya kita makan dari piring yang sama seperti itu." Guman Sonya lagi.


Zacky tampak bingung harus menanggapi kata-kata istrinya itu seperti apa. Tapi belum sempat Zacky menjawab, tiba-tiba terdengar suara sendok terjatuh.


"Arrgghhh....." Carissa mendadak terlihat sangat kesakitan.


"Sayang?" Evan menghentikan makannya dan melihat kearah Carissa. Diraihnya gelas berisi air putih dan diarahkannya pada istrinya itu.


Carissa meneguk beberapa tegukan, lalu Evan juga minum dari gelas yang sama.


"Kenapa?" Tanya Sonya dan Zacky hampir bersamaan.


"Tidak apa-apa. Perutku tadi tiba-tiba saja terasa sakit." Ujar Carissa dengan wajah lebih tenang.

__ADS_1


Tapi tak berselang lama, ekspresi Carissa kembali berubah.


"Aaaaarrrgghhhh...." Kali ini dia menjerit agak kuat sambil memegangi perutnya.


"Sayang, kenapa? Perutmu sakit lagi?" Evan bangkit dan merangkul tubuh Carissa.


"Evan...sakit..." Rintih Carissa sambil terus memegangi perutnya.


Evan terlihat panik saat Carissa kembali terpekik.


"Evann...!!! Aduhh...!!! Sakit sekali...perutku sakit sekali...!!!" Rintih Carissa sambil mencengkram kemeja yang Evan kenakan.


"Astaga, kenapa jadi begini? Apa ada yang salah dengan masakannya?" Tanya Sonya dengan panik.


"Tidak. Sepertinya Carissa akan segera melahirkan." Jawab Evan.


"Oh, astaga..." Seketika Sonya jadi semakin panik.


"Papa segera menyiapkan mobil." Zacky bergegas menuju garasi mobil mereka dan mengendarai salah satu mobilnya sampai persis ke depan pintu utama.


Segera Evan membawa Carissa masuk kedalam mobil, diikuti oleh Sonya. Mereka langsung melaju menuju rumah sakit keluarga yang jaraknya tidak terlalu jauh.


Didalam mobil Carissa terus merintih kesakitan sambil memegangi perutnya.


"Sabar, Sayang. Sebentar lagi kita sampai." Evan mencoba menenangkan. Semua orang di dalam mobil itu terlihat panik. Untung saja mobil segera sampai di rumah sakit. Langsung saja Evan membopong tubuh Carissa menuju ruang gawat darurat.


Dokter yang berjaga langsung sigap memeriksa.


"Istri saya akan segera melahirkan." Ujar Evan dengan nafas tersengal. Zacky dan Sonya pun menyusul dengan nafas tak kalah memburu.


Carissa segera mendapatkan penanganan,tapi saat ia di bawa keruang bersalin, ada yang terlihat aneh. Istri Evan itu tampak sudah lebih tenang.


"Sabar, Sayang. Dokter kandungannya akan segera datang." Evan kembali berusaha menenangkan.


Carissa terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya menyentuh punggung tangan Evan dengan lembut.


"Sayang..." Panggil Carissa dengan agak ragu.


"Ya?" Evan mengenggam tangan Carissa, seakan ingin menyalurkan kekuatan untuk istrinya itu.


"Perutku sudah tidak mulas lagi. Sakitnya tiba-tiba hilang..."


"Hah?"


Bersambung...

__ADS_1


Tetap like, komen dan vote


Happy reading❤❤❤


__ADS_2