WITH YOU

WITH YOU
First Day To Be Wife


__ADS_3

Carissa mengerjapkan matanya dan menggeliat malas. Di rabanya nakas di samping tempat tidurnya tanpa beranjak dari posisi berbaring. Lalu setelah ponsel yang di cari telah berhasil menyentuh tangannya, Carissa meraih ponsel tersebut dan melihat penunjuk waktu di layar ponsel.


Waktu telah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Carissa kembali menggeliat dan bangkit dari posisi berbaringnya.


"Aaaaaarrrrggghh..." Teriakan yang sangat kencang lolos begitu saja dari mulut Carissa. Dia benar-benar syok saat mendapati seorang lelaki tidur membelakanginya dengan bertelanjang dada.


Mata Carissa membeliak selebar-lebarnya. Bagaimana bisa dia tidur satu ranjang dengan seorang lelaki? Pasti dia sudah tidak waras. Astaga, bagaimana ini? Apa yang sebenarnya terjadi?


Evan ikut menggeliat mendengar teriakan Carissa. Lalu masih dengan muka bantalnya, dia duduk dan melihat kearah Carissa dengan penuh tanda tanya.


"Ada apa teriak-teriak?" Tanya Evan dengan suara khas orang baru bangun tidur.


Carissa terdiam sesaat. Perlahan kesadarannya mulai terkumpul kembali. Carissa pun ingat sekarang jika lelaki yang sedang berada di hadapan kini tak lain adalah lelaki yang kemarin menikahinya. Evan, suaminya sendiri.


Buru-buru Carissa bangkit dan pergi ke kamar mandi, meninggalkan Evan yang masih melihat kearahnya dengan sedikit bingung.


Carissa keluar dari kamar mandi setelah menggosok gigi dan membasuh wajahnya. Di lihatnya telah ada menu sarapan pagi di dalam kamar mereka. Sepertinya saat dia di kamar mandi tadi, pihak hotel tempat mereka menginap telah datang memberikan layanan kamar.


Berganti Evan juga yang menggunakan kamar mandi untuk menyegarkan diri, lalu keluar masih dengan menggunakan bathrobe. Rambutnya tampak masih basah hingga masih menyisakan tetesan air.


Evan langsung duduk di sofa, tempat menu sarapan mereka di letakkan.


"Kamu tidak sarapan? Ayo sarapan dulu." Ajak Evan pada Carissa.


Carissa tak menjawab. Ia justru kembali masuk ke dalam kamar mandi, lalu keluar lagi dengan membawa handuk kecil di tangannya.


Tanpa basa-basi, langsung saja Carissa mengeringkan rambut Evan yang masih basah menggunakan handuk yang ia ambil tadi.


"Kalau kamu tidak mengeringkan rambut dengan benar, nanti bisa sakit. Tidak lucu kan kalau dokter yang biasa mengobati pasien ikut menjadi pasien juga?" Omel Carissa.


Evan tersenyum. Lalu menarik tangan Carissa dan membimbing istrinya itu untuk duduk di sampingnya.


"Ternyata begini rasanya punya istri. Ada yang memperhatikan dan juga mengkhawatirkanku. Pantas saja banyak lelaki yang ingin istri lebih dari satu, mungkin karena ingin lebih banyak yang memperhatikan." Seloroh Evan.


Carissa melihat kearah Evan dengan mata melebar. Lalu di lemparnya handuk tadi tepat di wajah suaminya itu.


"Tidak lucu!" Sergahnya.


Bukannya marah, Evan justru tertawa dengan renyahnya. Lalu di raihnya Carissa untuk semakin merapat padanya.


"Aku cuma bercanda." Ujar Evan kemudian di sela tawanya.


"Kita sarapan dulu." Ajaknya kemudian.

__ADS_1


Carissa hanya mengangguk mengiyakan. Mereka pun lalu menyantap sarapan bersama-sama.


"Ngomong-ngomong, kenapa kamu tadi berteriak?" Evan akhirnya bertanya tentang kelakuan aneh Carissa tadi.


Carissa terdiam sejenak.


"Aku tadi sangat terkejut saat melihat ada lelaki tidur di tempat tidurku. Tapi kemudian aku ingat kalau aku sudah menikah." Jawab Carissa jujur.


Terang saja Evan kembali tertawa di buatnya. Sungguh istrinya ini selalu membuatnya merasa terhibur. Evan jadi bertanya-tanya, sebenarnya Carissa ini mantan seorang pianis atau pelawak? Bagaimana bisa Evan yang jarang tertawa selalu tertawa dengan mudah saat berada di dekatnya.


"Kamu ini benar-benar sesuatu, ya. Baru sehari menikah sudah lupa kalau sudah punya suami." Ujar Evan di sela kekehannya.


"Justru karena baru menikah satu hari aku jadi tidak ingat." Guman Carissa seolah berbicara pada dirinya sendiri.


Evan kembali melihat kearah Carissa dengan menahan senyum.


"Kemarikan ponselmu." Pinta Evan kemudian.


"Buat apa?"


"Kemarikan saja. Cepat."


Carissa melihat kearah Evan dengan penuh tanda tanya. Lalu ia menyerahkan ponselnya pada Evan dengan agak tidak rela.


Carissa mengarahkan layar ponsel itu ke wajahnya dan tersenyum. Dan layar ponsel yang terkunci itu otomatis terbuka.


Evan kembali tertawa di buatnya. Ternyata wajah Carissa yang sedang tersenyum adalah kunci untuk membuka layar ponselnya. Evan tak menyangka istrinya yang seringkali terlihat anggun dan dewasa punya sisi seperti ini juga.


Carissa kembali memberikan ponsel itu pada Evan. Dan setelah beberapa saat mengotak-atik benda tersebut, Evan pun mengembalikannya lagi pada pemiliknya.


Dengan sangat penasaran Carissa memeriksa apa yang Evan lakukan tadi pada ponselnya. Dan seketika matanya agak melebar saat ia melihat wallpaper di layar ponsel. Tampak foto mereka yang sedang melakukan prosesi pernikahan kemarin terpampang jelas di sana.


"Dengan begitu kamu akan selalu ingat jika sudah menikah dan memiliki suami." Ujar Evan dengan santainya.


Carissa sontak tertawa mendengarnya.


"Benar, benar, idemu bagus juga." Carissa mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Tidak memeriksa nama kontakku?" Tanya Evan.


"Hah?"


"Aku juga mengganti nama kontakku di ponselmu."

__ADS_1


Carissa kembali melihat ke layar ponselnya dan memeriksa nomor kontak Evan.


"Hubby?" Gumam Carissa setengah bertanya.


"Benar, Istriku. Bagaimana bisa kamu masih menyimpan nomor kontakku dengan nama Dokter Evan? Aku jadi merasa kalau kamu itu pasienku."


Carissa menahan tawanya.


"Iya, benar. Seperti ini juga bagus. Nanti saat kamu menelfon, aku bisa pamer ke orang-orang kalau suamiku yang menelfon. Menyenangkan juga ternyata punya suami." Guman Carissa lagi sambil masih menahan tawa.


Evan hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Istrinya ini benar-benar punya kepribadian yang tak biasa. Tapi justru hal itulah yang membuat Evan merasa nyaman saat berada di dekatnya.


"Lalu apalagi yang biasanya di lakukan pasangan suami istri? Saling follow di akun media sosial juga?" Tanya Carissa dengan wajah bersemangat.


"Mungkin." Jawab Evan.


"Aku follow kamu, ya. Awas kalau kamu tidak follback aku, kita end." Ujar Carissa sambil memelintangkan telunjuknya ke lehernya sendiri, lalu mengotak-atik ponselnya lagi.


Astaga. Evan tidak bisa berkata-kata di buatnya. Perutnya sudah agak kram karena efek menahan tawa. Inikah sosok asli seorang Carissa Nugraha yang sangat di idolakan Mamanya? Seorang gadis anggun yang mampu menghipnotis siapa saja saat tengah memainkan tuts piano di atas panggung. Ternyata Carissa sangat berbeda dari imagenya selama ini. Dia tampak sangat menyenangkan dan apa adanya. Dia juga begitu terbuka dan tidak menutupi apa yang di rasakannya seperti kebanyakan perempuan.


Sebesit rasa kagum datang menyelimuti hati Evan. Mungkin kedepannya tidak akan sulit bagi Evan untuk jatuh cinta pada istrinya ini.


"Tapi ngomong-ngomong, kamu sendiri menyimpan nomor kontakku dengan nama apa?" Pertanyaan Carissa membuyarkan lamunan Evan.


Belum sempat Evan menjawab, Carissa sudah lebih dulu mendial nomor suaminya itu dari ponselnya.


Ponsel Evan yang berada tak jauh dari mereka pun berdering. Segera Carissa mengambil ponsel itu dan melihat layarnya.


My Sweet Wife is calling...


Carissa membeku saat membacanya. Wajahnya tiba-tiba saja bersemu merah. Lalu tampak senyum malu-malu terbit di wajahnya hingga ia terlihat begitu menggemaskan. Evan sampai harus berjuang untuk tidak tertawa.


Pandangan Carissa beralih pada Evan yang tengah menatapnya. Lalu tanpa sadar Carissa memeluk suaminya itu dengan tersenyum cerah.


"Terima kasih, My Sweet Hubby..."


Bersambung...


Cie...yg baru punya suami. Emak aja yg udah lama punya suami biasa aja.( Iyalah... orang suaminya ga kayak EvanšŸ˜‚)


Tetep like, koment dan Vote


Happy readingā¤ā¤ā¤

__ADS_1


__ADS_2