WITH YOU

WITH YOU
Kembali Bahagia


__ADS_3

Tiga hari Carissa dirawat di rumah sakit, sebelum akhirnya pulang. Sebenarnya kondisi Carissa sangatlah baik. Dia sudah diperbolehkan meninggalkan rumah sakit sehari setelah melahirkan. Tapi Evan dan kedua mertuanya bersikeras agar dia mendapatkan perawatan dulu selama satu atau dua hari lagi. Alhasil, Carissa pun kembali harus bermalam di rumah sakit meski tak punya keluhan apapun.


Dan ternyata, Evan tidak membawa Carissa serta Lily pulang ke apartemen, melainkan pulang ke rumah kedua orang tuanya. Kelihatannya hal itu tak lepas dari andil Sonya yang menginginkan cucunya tinggal sementara bersamanya.


Carissa tak bisa menolak. Toh, dia juga membutuhkan seseorang yang mengurus dan membantunya selama pemulihan pasca melahirkan. Tak ada salahnya tinggal bersama kedua orang tua Evan dulu sebelum dia benar-benar pulih.


Sesampainya di rumah, Evan langsung kembali ke rumah sakit karena ada hal mendesak yang harus dia kerjakan saat ini juga. Tampaknya karena sudah terlalu lama mengambil cuti, ada beberapa pekerjaan yang terbengkalai dan meminta untuk segera di selesaikan.


Carissa senang Evan telah berangsur pulih dan mulai kembali pada dirinya yang dulu. Dia berharap, semakin hari semuanya akan kembali menjadi indah.


Sonya langsung mengantarkan Carissa dan Lily untuk beristirahat di kamar. Mata Carissa agak sedikit melebar saat ibu mertuanya itu membukakan pintu kamar yang biasa digunakannya selama ini bersama Evan. Tampak di salah satu sudut kamar sebuah ranjang bayi beserta lemari khusus untuk pakaian bayi. Tak lupa mainan-mainan bayi serta dekorasi cantik khas anak perempuan terpajang di sebagian kamar.


"Kenapa bengong, ayo masuk." Sonya membimbing Carissa perlahan masuk kedalam kamar itu.


Carissa menurut dan melangkah pelan.


"Mama sudah menyiapkan semua kebutuhan Lily selama kalian disini. Evan tidak perlu membawa barang-barang bayi yang ada di apartemen kalian. Pakaian Lily juga sudah ada di dalam lemarinya itu." Ujar Sonya.


Carissa langsung meletakkan Lily yang sedang tertidur ke ranjang bayi yang dilihatnya. Diusapnya lembut pipi putri mungilnya itu, sebelum akhirnya dia beralih melihat kearah Sonya.


"Terima kasih, Ma." Ujar Carissa pada Sonya.


Sonya tersenyum menanggapi.


"Tidak usah berterima kasih. Mama menyiapkan semua ini tidak gratis, harus ada imbalannya." Jawab Sonya.


Carissa tertegun sambil sedikit menautkan alisnya. Dia tampak tak mengerti dengan yang Sonya katakan barusan.


"Imbalan?" Ulang Carissa.


Sonya mengangguk.


"Iya, Mama minta imbalan. Dan imbalannya adalah nanti kamu dan Evan harus sering-sering membawa Lily untuk menginap di sini." Ujar Sonya lagi.


Carissa kembali tertegun, tapi sejurus kemudian dia tersenyum.


"Aku pasti akan sering membawa Lily untuk menginap di sini, Ma. Jangan khawatir." Ujarnya.


"Baguslah kalau begitu." Gumam Sonya


"Mumpung Lily sedang tidur, istirahatlah dulu. Cobalah untuk tidur juga. Dokter Grace bilang kamu harus banyak beristirahat agar tubuhmu cepat pulih." Ujar Sonya lagi.


"Baiklah." Jawab Carissa.

__ADS_1


"Mama akan ke dapur dan menyiapkan makan siang dulu. Kalau ada perlu apa-apa, langsung saja panggil Mama, by phone." Sonya menunjukan ponsel di tangannya.


Carissa tersenyum menanggapi.


"Oke, Ma." Jawabnya.


Sonya pun keluar dari kamar itu untuk memberikan ruang pada Carissa untuk beristirahat.


Sepeninggalan Sonya, Carissa benar-benar merebahkan dirinya ke tempat tidur dan memejamkan matanya. Tubuhnya masih terasa sangat lemas. Dia memang membutuhkan banyak istirahat seperti kata Sonya tadi.


Carissa pun terlelap selama beberapa saat.


Tak lama kemudian, matanya mengerjap karena mendengar pintu kamarnya di buka seseorang.


"Wah, sedang tidur rupanya. Saya tunggu sampai dia bangun dulu saja." Sayup-sayup terdengar seseorang berbicara. Suara perempuan, tapi terdengar bukan suara milik Sonya.


Seketika Carissa langsung membuka matanya.


"Mama?" Carissa langsung duduk dan melihat kearah pintu kamar dengan tatapan tak percaya. Tampak dua orang perempuan paruh baya yang telah hendak pergi dari kamarnya, kini kembali menoleh dengan agak terkejut.


Mereka tak lain adalah Sonya dan Alya, Mama Carissa.


"Mama...?" Gumam Carissa lagi sambil perlahan turun dari tempat tidur.


"Sepertinya Mama mengganggu istirahatmu." Ujar Alya akhirnya.


Langsung saja Carissa berhambur kedalam pelukan Mamanya itu. Carissa menangis terisak seperti seorang gadis kecil di dalam pelukan Alya.


"Astaga, apa-apaan ini? Kamu tidak malu bertingkah seperti ini di depan ibu mertuamu?" Tanya Alya, tapi diam-diam dia juga membalas pelukan putrinya itu. Sungguh kalimat yang keluar dari mulutnya sangat tidak sinkron dengan apa yang dilakukannya.


Sonya tersenyum melihat ibu dan anak di hadapannya ini.


"Kalian pasti saling merindukan satu sama lain. Silahkan berbicara berdua. Aku kembali ke dapur dan memeriksa apakah hidangan makan siang sudah selesai atau belum." Ujar Sonya.


Carissa pun mengurai pelukannya.


"Nyonya Alya, aku tinggal dulu, ya." Sonya pamit dari hadapan Carissa dan Alya.


"Terima kasih, Nyonya Sonya. Maaf mereporkan." Ujar Alya tak enak.


"Tidak perlu sungkan." Jawab Sonya lagi sambil tersenyum. Ia pun berlalu kembali ke dapur.


"Mama mau melihat cucu Mama." Suara Alya memecah keheningan.

__ADS_1


"Ah, iya." Carissa agak tersentak dari lamunannya.


"Dia sedang tidur." Ujar Carissa sambil mendekati tempat tidur Lily, diikuti oleh Alya.


Carissa tersenyum melihat kearah putri kecilnya yang masih betah terpejam.


"Ya Tuhan...dia cantik sekali." Gumam Alya dengan haru. Tangannya pun terulur untuk menyentuh pipi mungil Lily.


"Siapa namanya?" Tanya Alya tanpa mengalihkan pandangannya dari makhluk kecil yang sedang terlelap itu.


"Lily. Papanya yang memberikan nama itu." Jawab Carissa.


Alya terdiam beberapa saat dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Dia bahkan lebih cantik daripada bunga lili." Gumam Alya kemudian.


Carissa terdiam. Dia tampak emosional hingga tak tahu harus mengatakan apa lagi.


"Kak Clara tidak ikut?" Tanya Carissa kemudian, berusaha mencairkan suasana.


"Tidak. Dia sedang tidak sehat akhir-akhir ini."


Carissa agak sedikit menautkan kedua alisnya.


"Kak Clara sakit?" Tanya Carissa lagi dengan agak terkejut.


Alya menggeleng.


"Dia sedang hamil muda dan mengalami morning sickness yang parah." Jawab Sonya.


"Kak Clara sedang hamil? Oh, syukurlah. Akhirnya mereka berhasil juga." Ujar Carissa senang. Kakak perempuannya itu sebelumnya memang sedang menjalani program kehamilan. Meski tidak ada masalah dengan kandungannya, dia juga sulit hamil seperti halnya Carissa.


"Iya. Setelah mendapatkan musibah yang bertubi-tubi, sekarang akhirnya Mama mendapatkan anugerah yang bertubi-tubi juga. Mama berharap setelah ini akan terus diberi kesehatan agar bisa bermain dengan cucu-cucu Mama."


Carissa tertegun. Harapan Alya memang terdengar sederhana, tapi sangat dalam maknanya untuk Carissa.


Tangan Alya kembali terulur membelai lembut pipi mungil Lily. Dia menatap cucunya itu dengan matanya yang semakin berkaca-kaca.


'Arga, andai kamu masih ada di sini dan melihatnya. Putri bungsu kita yang nakal ini kini sudah menjadi seorang ibu, bahkan lebih dulu dari kakaknya. Aku tidak tahu anaknya nanti akan bandel juga seperti dia atau tidak, tapi aku yakin dia bisa menjadi ibu yang baik. Jauh lebih baik daripada aku...'


Bersambung...


Tetep like, komen dan vote

__ADS_1


Happy reading❤❤❤


__ADS_2