
Carissa tertegun di tempat tidur dengan wajah yang masih berurai airmata. Permintaan Evan yang di dengarnya tadi benar-benar seperti sebuah belati yang menikam tepat di jantungnya. Dadanya benar-benar terasa sakit, hingga rasanya sangat sulit hanya untuk sekedar bernafas.
Tak lama kemudian, Carissa kembali tersadar. Di tatapnya balkon kamar tempat Evan melangkahkan kakinya tadi. Dia pun bangkit dan menyusul suaminya itu. Tapi alangkah terkejutnya Carissa mendapati pemandangan yang saat ini di lihatnya. Tampak Evan yang berdiri membelakanginya sedang menghisap sebatang rokok dan menghembuskan asapnya.
Untuk sesaat Carissa terperangah. Tapi kemudian otaknya kembali bekerja, mengingatkan jika saat ini dirinya sedang hamil dan tidak boleh menghirup asap rokok tersebut. Carissa pun mengurungkan niatnya untuk mendekati Evan dan kembali masuk ke dalam kamar.
Carissa duduk di pinggiran tempat tidur dengan pandangan yang agak menerawang. Terngiang kembali di telinganya kata-kata Evan yang memintanya memutuskan hubungan dengan keluarga Nugraha. Tiba-tiba bayangan masa lalu kembali terlintas dalam ingatannya.
Flashback on
"Hore... Papa pulang..." Carissa kecil yang baru berusia enam tahun berhambur kearah Arga yang baru pulang dari perjalanan dinasnya.
Arga menyambut Carissa dengan tersenyum lebar. Lalu di angkatnya tubuh putrinya itu ke udara hingga Carissa tertawa bercampur histeris di buatnya.
"Papa baru pergi sebentar, tapi putri Papa kok sudah sebesar ini. Papa sampai hampir tidak kuat menggendongnya." Seloroh Arga sambil membawa Carissa ke dalam gendongannya.
Carissa terkikik geli mendengarnya.
"Papa, Papa bawa oleh-oleh buat Carissa, kan?" Tanya Carissa antusias.
"Papa bawa oleh-oleh, tapi cuma buat Mama dan Kak Clara saja. Papa lupa beli oleh-oleh buat Carissa." Jawab Arga dengan raut wajah yang di buat terlihat menyesal.
Seketika raut wajah Carissa langsung berubah total.
"Papa jahat. Papa tidak sayang Carissa lagi." Rajuknya sambil memukul-mukul dada Arga sebisa mungkin.
Arga tertawa dan melangkah masuk ke dalam rumah sambil masih menggendong Carissa yang mulai menangis. Di dalam Alya dan Clara tampak menunggu kedatangan Arga di ruang tamu.
"Berhentilah menggodanya seperti itu. Sudah tahu dia cengeng, tapi kamu masih saja suka menggodanya." Ujar Alya menegur Arga.
Arga masih terkekeh sambil menghenyakkan dirinya di atas Sofa. Clara yang saat itu baru berusia delapan tahun langsung mendekat dan menempel pada Papanya itu. Sedangkan Carissa masih terisak di pangkuan Arga dengan sedihnya.
"Papa, Clara rindu Papa..." Ujar Clara sambil memeluk lengan Arga.
"Papa juga rindu dengan putri-putri Papa ini." Arga memeluk kedua anak perempuannya.
__ADS_1
"Huwa....Papa tidak sayang sama Carissa. Papa cuma sayang sama Kak Clara..." Tangis Carissa semakin pecah saat melihat Arga tak hanya memeluknya, tapi memeluk Kakaknya juga.
Arga mengurai pelukannya, lalu mendudukkan Carissa di sampingnya. Di raihnya koper yang baru saja di bawakan oleh pelayan yang bekerja di rumahnya, lalu dengan perlahan Arga membukanya. Tampak beberapa barang yang sengaja di beli Arga sebagai oleh-oleh.
"Boneka Barbie kesukaan Clara." Arga memberikan satu kepada Clara.
"Hore....Terima kasih, Papa." Clara bersorak kegirangan sambil menerima oleh-oleh untuknya. Di ciumnya pipi Arga sebelum akhirnya bocah itu berlari ke kamarnya.
Arga menoleh pada Carissa yang terlihat semakin sedih. Mau tidak mau Arga tersenyum melihat wajah cemberut Carissa. Bibirnya yang sedikit mengerucut membuat wajahnya terlihat semakin menggemaskan.
"Dan yang ini...boneka mermaid buat siapa, ya?" Arga tampak mengeluarkan satu barang lagi dari kopernya.
Carissa sontak menoleh kearah tangan Arga yang memegang benda yang sangat dia inginkan belakangan ini. Mata Carissa seketika langsung berbinar melihatnya.
"Yang suka mermaid siapa, ya?" Tanya Arga pura-pura tidak tahu.
"Carissa, Papa. Carissa suka mermaid." Ujar bocah itu dengan penuh semangat. Hilang sudah kesedihannya tadi.
"Oh ya? Jadi Carissa mau ini?" Tanya Arga lagi, masih dalam mode pura-pura tidak tahu.
"Kalau Carissa mau, ada syaratnya." Ujar Arga.
Carissa terdiam sejenak sambil melihat kearah Arga.
"Papa jahat. Masa Kak Clara tidak pakai syarat, tapi Carisaa harus pakai syarat." Ujarnya kembali merasa sedih.
Arga kembali tertawa, lalu meraih putrinya itu kembali ke pelukannya.
"Syaratnya cium pipi Papa dulu." Ujar Arga sembari menunjuk pipinya.
Carissa yang sebelumnya merasa sedih kembali berubah ceria. Suasana hati bocah itu memang bisa berubah dengan sangat cepat, secepat perubahan raut wajahnya. Dengan cepat Carissa mencium pipi Arga, lalu berlari kegirangan saat Arga memberikan boneka mermaid yang sangat dia inginkan.
"Terima kasih, Papa. Carissa sayang Papa." Teriaknya sembari berlari.
Arga tertawa dan melihat keceriaan putrinya itu dengan hati yang bahagia. Sedangkan Carissa dan Clara telah berada di kamarnya, sibuk memainkan mainan baru dari Papa mereka dengan perasaan senang yang tak terkira.
__ADS_1
Flashback off
Airmata Carissa kembali mengalir tanpa sadar saat mengenang begitu besar kasih sayang Arga padanya. Dunia bisa saja mempredikati Arga sebagai seorang penjahat yang banyak melakukan kejahatan, tapi dalam ingatan Carissa, sosok Arga tetaplah seorang ayah yang penuh kasih sayang.
Sejauh Carissa mengingat tentang Papanya itu, hanya ada kenangan manis yang tersimpan di memori otaknya. Terlepas dari pengkhianatan Arga terhadap Alya, lelaki itu selalu bersikap lembut dan bertanggung jawab terhadap anak dan istrinya.
Tidak! Carissa tidak bisa membuang hubungan itu. Tidak peduli sejahat apapun Arga, dia tetap orang tua yang telah menghadirkannya di dunia ini. Orang tua yang telah membesarkannya dengan limpahan cinta dan kasih sayang. Carissa selalu bangga mempunyai seorang Arga Nugraha sebagai Papanya, dan akan selalu seperti itu.
Dengan lembut Carissa mengusap perutnya yang kini telah bersemayam buah cintanya dengan Evan. Dia menyayangi calon bayinya ini dan menginginkan yang terbaik untuknya. Dia juga sangat mencintai Evan, suaminya. Tapi Carissa tidak bisa memutuskan hubungan dengan orang tuanya untuk suami dan anaknya. Mereka bukanlah pilihan yang bisa di pilih salah satunya, karena mereka semua adalah bagian dari diri Carissa yang sama pentingnya.
Tak berapa lama kemudian, Evan tampak masuk kembali ke dalam kamar. Mendapati Carissa masih duduk di pinggiran tempat tidur, Evan menghentikan langkahnya dan terpaku di hadapan Carissa.
Pandangan keduanya bertemu. Baik Evan maupun Carissa, keduanya saling menatap dengan tatapan yang sulit di jelaskan.
"Evan..." Carissa memberanikan dirinya memanggil Evan.
Evan tampak merespon dengan pandangan matanya yang terlihat menghangat.
"Aku..." Carissa tampak berusaha untuk mengatakan apa yang ada dalam hatinya.
"Aku mencintaimu, Evan, dan aku sangat menyayangi calon anak kita. Tapi aku tidak bisa memutus hubungan dengan keluarga Nugraha."
Carissa terdiam beberapa saat, sedangkan Evan tampak mematung di tempatnya.
"Antara kamu dan kedua orang tuaku, aku tidak bisa memilih..."
Bersambung...
Buat yg nanya kenapa Evan kok jd kayak gini, bukannya di awal dia baik banget???
Justru itu yang mau emak tunjukkan, Evan baik, tapi dia manusia biasa bukan malaikat. Dia juga punya kelemahan dan bisa berbuat khilaf, begitupun dengan Carissa.
Seperti yang pernah emak bilang, emak akan bikin tokoh yang manusiawi, yg punya sisi baik plus sisi buruk juga. Mana ada kan manusia yg ga pernah buat salah?
Happy reading❤❤❤
__ADS_1