WITH YOU

WITH YOU
Bertemu Calon Mertua?


__ADS_3

Jonathan terdiam selama beberapa saat dengan tatapan tak percaya.


"Kamu akan dijodohkan oleh orangtuamu?" Ulang Jonathan meyakinkan.


Geraldyn menghela nafasnya, lalu mengangguk.


"Sebenarnya sudah lama mereka mengatakan itu. Mereka akan menjodohkanku dengan lelaki pilihan mereka jika aku tidak juga membawa pulang lelaki pilihanku sendiri. Aku kira mereka hanya mengancam saja, tapi ternyata beberapa hari yang lalu mereka mulai menghubungi seseorang yang katanya akan dijodohkan denganku. Aku cuma diberi waktu hingga malam ini untuk mengenalkan pada mereka lelaki pilihanku. Itupun karena aku mengatakan jika pacarku baru pulang dari luar kota hari ini."


Geraldyn kembali menghela nafasnya.


"Aku mohon bantulah aku sekali ini saja, jika tidak, aku benar-benar akan berakhir dengan mengikuti perjodohan yang diatur oleh kedua orang tuaku." Pintanya lagi dengan nada memohon.


Jonathan masih menatap tak percaya.


"Kamu akan dijodohkan..." Gumam Jonathan lagi.


"Berani-beraninya mereka!" Tiba-tiba saja Jonathan menggebrak meja di hadapannya hingga membuat Geraldyn terkejut.


Berganti Geraldyn yang terperangah dan menatap Jonathan dengan agak bingung.


"Maksudku, jaman sekarang masih saja ada orang tua yang memaksa anaknya untuk menikah dengan perjodohan. Memangnya mereka berasal dari abad ke berapa? Masa cara kuno seperti itu masih saja dipakai." Jonathan terlihat tidak senang mendengar Geraldyn akan dijodohkan.


Geraldyn langsung menautkan kedua alisnya.


"Kenapa kamu malah memgomentari orang tuaku? Mereka berasal dari abad ke berapa itu bukan urusanmu. Aku menceritakan ini padamu karena ingin meminta bantuanmu. Jika kamu tidak bersedia juga tidak apa-apa, tidak perlu mengatakan hal yang tidak-tidak tentang orang tuaku, kamu tidak tahu apa-apa tentang mereka." Geraldyn terlihat marah mendengar kata-kata Jonathan.


Sekali lagi Geraldyn membuang pandangannya kearah lain. Entah apa yang ada dalam kepalanya hingga berpikir Jonathan pasti akan membantunya. Bahkan tadinya Geraldyn juga berkhayal jika Jonathan tak akan rela dia dijodohkan dengan lelaki lain. Tapi nyatanya reaksi Jonathan justru mengolok-olok orang tuanya seperti ini.


Geraldyn menghembuskan nafas kasar, lalu tersenyum penuh ironi.


"Maaf aku mengganggumu dengan pembicaraan yang tidak penting ini. Anggap saja kamu tidak mendengarkan apa-apa." Geraldyn bangun dari tempat duduknya, lalu meninggalkan Jonathan begitu saja.


"Geraldyn, siapa yang menyuruhmu pergi? Pembicaraan kita belum selesai." Jonathan juga langsung bangkit menyusul Geraldyn dan menahan lengan gadis itu.


"Sudahlah. Tidak ada yang harus dibicarakan lagi. Jam makan siangku sudah hampir habis, aku harus pergi ke tempat latihan Carissa lagi." Geraldyn melepas paksa cekalan tangan Jonathan.

__ADS_1


"Bukankah kamu butuh bantuanku untuk menolak perjodohan orang tuamu?" Tanya Jonathan.


Geraldyn menoleh kearah Jonathan dan menatapnya tajam. Entah apa sebabnya, tiba-tiba saja dia merasa kesal pada lelaki ini.


"Tidak! Aku berubah pikiran. Mungkin lebih baik aku terima saja perjodohan mereka." Jawab Geraldyn.


"Apa?" Jonathan tampak membeliakkan matanya dengan wajah mengeras.


Geraldyn tak menghiraukan perubahan wajah Jonathan. Dia pergi dengan setengah berlari. Tak ia dengarkan panggilan Jonathan yang memintanya untuk kembali.


Jonathan pun tak tinggal diam. Melihat Geraldyn yang tak menggubris panggilannya, lelaki itu mengejar Geraldyn yang keluar dari restoran. Tapi begitu Jonathan hampir menyusul, Geraldyn sudah menghentikan sebuah taksi dan pergi dari tempat itu dengan menaiki taksi.


Jonathan hanya bisa melihat taksi itu melaju tanpa bisa berbuat apa-apa. Setelah tertegun selama beberapa saat, akhirnya Jonathan kembali ke dalam restoran untuk menyelesaikan tagihan makan siangnya tadi.


Sementara itu, Geraldyn yang berada di dalam taksi tampak sangat kesal, meski dia sendiri tak tahu kesal karena apa. Dia terus saja menghela nafasnya seakan dadanya saat ini benar-benar terasa sesak. Setetes airmata akhirnya jatuh membasahi pipi Geraldyn, yang kemudian ia seka dengan kasar karena merasa semakin kesal.


"Mata sialan, kenapa terus mengeluarkan air begini?" Gerutu Gerardyn saat airmatanya terus saja mengalir.


Sekuat tenaga Geraldyn menahan tangisnya, tapi ia justru terisak dengan airmata yang semakin deras membasahi pipinya.


"Jonathan sialan! Berani-beraninya dia membuatku jadi seperti ini. Memangnya siapa dia? Jika tidak mau membantu, setidaknya tidak usah membuatku terlihat konyol. Dasar laki-laki berengsek!" Maki Geraldyn ditengah isakannya.


Geraldyn terus memaki dan melampiaskan kekesalannya, hingga akhirnya dia meminta supir taksi untuk menurunkannya di sebuah kafe. Geraldyn memutuskan untuk minum kopi dan makan kue kesukaannya dulu agar bisa memperbaiki moodnya. Begitu dirasa sudah lebih tenang, ia pun membasuh wajahnya dan memastikan jika ia tidak terlihat seperti orang yang habis menangis. Barulah setelah itu dia kembali menuju tempat Carissa berlatih piano.


Setelah mendampingi Carissa menjalankan jadwal kegiatannya seharian, akhirnya tugas Geraldyn hari itu selesai juga. Carissa juga telah bersiap pulang bersama Lily dan juga pengasuhnya.


"Mau pulang bersama, Ge?" Tawar Carissa pada Geraldyn saat akan masuk ke dalam mobil pribadinya. Carissa memang tidak menggunakan fasilitas mobil dan sopir dari pihak manajemen, melainkan mobil dan sopir yang disiapkan Evan. Itu adalah hal yang diminta Evan secara pribadi pada pihak manajemen Carissa.


Geraldyn menggeleng sambil berusaha tersenyum.


"Aku tidak langsung pulang, masih ada urusan sedikit. Kamu duluan saja." Tolak Geraldyn.


"Oh, baiklah kalau begitu." Carissa masuk ke dalam mobil sambil menggendong Lily, diikuti oleh Sesha.


"Kami duluan, ya." Carissa melambaikan tangannya pada Geraldyn seiring mobilnya yang melaju meninggalkan gadis itu.

__ADS_1


Geraldyn mambalas lambaian tangan Carissa sambil kembali tersenyum, hingga akhirnya mobil yang ditumpangi Carissa menghilang di ujung jalan.


Setelah tertegun beberapa saat, Geraldyn memeriksa penunjuk waktu di layar ponselnya. Sudah hampir waktunya makan malam, yang artinya kedua orang tuanya sudah menunggu dirumah untuk bertemu dengan lelaki pilihan Geraldyn.


"Apa yang harus aku lakukan? Apa aku sungguh akan menerima perjodohan itu?" Geraldyn bergumam pada dirinya sendiri sambil melangkahkan kakinya tak tentu arah. Ia terus berjalan menyusuri trotoar, hingga akhirnya duduk dengan memeluk kedua lututnya.


Geraldyn menghela nafas panjang, lalu menengadahkan wajahnya kearah langit yang saat ini dipenuhi oleh bintang-bintang. Untuk pertama kali didalam hidupnya, gadis itu merasa lelah.


"Apa yang harus aku lakukan...?" Sekali lagi Geraldyn bergumam dengan agak mendesah. Ditelungkupkannya wajahnya pada kedua lututnya.


"Apa yang kamu lakukan disini?" Tiba-tiba terdengar suara dari seseorang yang membuatnya kesal seharian tadi.


Geraldyn mengangkat wajahnya. Dan benar saja, Jonathan tampak telah berdiri di hadapannya sambil memandang dengan tatapan yang sulit dijabarkan.


"Aku mencari di kantormu dan di tempat Carissa berlatih, tapi kamu tidak ada. Ternyata kamu sedang bersantai disini." Ujar Jonathan lagi.


Geraldyn membuang pandangannya kearah lain dengan agak mendengus.


"Untuk apa kamu mencariku? Jika ingin bermain-main, tolong lain kali saja. Sekarang aku sedang sangat lelah." Ujarnya dengan nada tak bersahabat.


Terdengar decakan dari mulut Jonathan.


"Bukankah kamu sendiri yang mengatakan ingin mengajakku bertemu dengan calon mertua? Aku sudah berpenampilan rapi seperti ini, bisa-bisanya kamu bilang lelah." Gerutu Jonathan seolah dia sedang kesal.


Sontak Geraldyn menoleh kearah Jonathan. Dilihatnya lelaki itu telah berpenampilan rapi seolah akan menghadiri sebuah acara resmi.


"Biarpun kamu lelah, kamu harus tetap membawaku bertemu dengan kedua orang tuamu." Tambah Jonathan lagi.


"Ayo." Jonathan mengulurkan tangannya pada Geraldyn. Mata lelaki itu seolah mengisyaratkan agar Geraldyn meraih tangannya dan segera bangkit.


Geraldyn terpaku selama beberapa saat, sebelum akhirnya tangannya perlahan terangkat untuk meyambut uluran tangan Jonathan.


Bersambung...


Tetep like, komen dan vote

__ADS_1


Happy reading❤❤❤


__ADS_2