
Carissa tercenung dengan airmata yang terus mengalir tanpa henti dari kedua sudut matanya. Tangannya masih memegang kartu nama yang di bacanya tadi dan memandangi benda itu dengan perasaan yang sulit di lukiskan. Ingatannya langsung terhenti pada raut kesakitan Evan tadi. Apakah semua rasa sakit yang Evan alami itu berhubungan dengan kondisi kejiwaannya? Mungkinkah jika belakangan ini Evan sedang terguncang dan berusaha menahannya seorang diri?
Carissa memejamkan matanya dan menghela nafas dalam. Sebisa mungkin dia berusaha menetralkan perasaan yang berkecamuk di dalam dirinya. Dan setelah di rasa sudah agak tenang, Carissa bangkit. Dia harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Evan. Benarkah jika suaminya itu sampai berkonsultasi dengan seorang psikiater, Carissa harus memastikannya.
Dia pun mengambil gambar kartu nama yang di temukannya tadi sebelum akhirnya di kembalikannya kartu nama itu ke tempatnya semula. Carissa membenahi barang-barang yang berceceran di kamar tersebut, kemudian mengambil beberapa barang keperluan Evan untuk di bawa ke rumah sakit.
Setelah membasuh mukanya dan memastikan jika wajahnya tidak terlihat terlalu sembab, Carissa akhirnya kembali ke rumah sakit dengan menggunakan taksi.
Di sana Sonya dan Zacky telah menunggunya. Sonya merasa agak khawatir pada kondisi Carissa mengingat saat ini dia sedang hamil. Tapi sejauh ini Carissa terlihat baik-baik saja, hingga Sonya pun merasa sedikit lega.
"Istirahatlah juga, Carissa. Sekarang sudah hampir subuh." Sonya memperingatkan menantunya itu untuk beristirahat.
"Mama dan Papa juga harus pulang dan beristirahat. Lebih baik aku saja yang menunggu Evan di sini." Ujar Carissa pada kedua mertuanya.
"Mama dan Papa tadi sudah sempat tidur, justru kamu yang kelihatannya belum tidur sama sekali. Segeralah tidur." Kali ini Zacky yang menyuruh Carissa untuk segera mengistirahatkan tubuhnya.
Carissa mengangguk lemah. Dia memang belum tidur sama sekali sedari tadi. Tubuhnya memang terasa sangat lelah setelah apa yang di laluinya barusan. Mendapati suaminya kesakitan seorang diri, dan sekarang menemukan kemungkinan jika ada hal yang tidak main-main sedang di alami oleh suaminya itu. Carissa merasakan bukan hanya tubuhnya yang merasa penat, tapi pikirannya juga. Dia pun merebahkan tubuhnya perlahan pada sebuah sofa panjang yang ada di sana, dan akhirnya mata Carissa terpejam. Dia terlelap dengan pikiran yang masih mengembara entah kemana.
☆☆☆
Keesokan harinya Evan sudah pulih dan di perbolehkan pulang. Hal itu seolah semakin menegaskan jika dia semalam benar-benar hanya kelelahan, seperti yang di katakan oleh dokter yang menanganinya.
Carissa ingin mempercayainya, tapi entah kenapa hatinya seolah menolak. Carissa tetap merasa jika ada yang berusaha Evan sembunyikan darinya. Meski tidak terlalu yakin, Carissa merasa jika Evan tidak sedang baik-baik saja. Terlebih setelah Carissa mendapati ada obat-obatan lain yang di temukannya bersama dengan kartu nama seorang psikiater semalam. Dan lagi keputusan Evan yang masih bersikeras untuk meyuruh Carissa tetap tinggal bersama orang tuanya, bukannya ikut pulang ke apartemen.
Sehari setelah beristirahat di apartemen, Evan sudah kembali bekerja di rumah sakit seperti biasanya. Sonya dan Zacky juga terlihat lega dan mengira jika Evan sungguh hanya kelelahan saja. Semuanya telah beraktifitas normal seperti biasa dan tak ada yang mengkhawatirkan Evan.
Tapi hal itu berbanding terbalik dengan Carissa. Setelah malam itu, Carissa mencari tahu tentang obat-obatan yang di temukannya. Dan hasilnya adalah salah satu dari obat tersebut ternyata obat penenang yang biasa di resepkan seorang psikiater pada pasien yang mengalami gangguan mental. Carissa benar-benar merasa terpukul dan takut mendapati fakta itu. Carissa berharap Evan tidak dalam kondisi kejiwaan yang memerlukan obat penenang. Tapi kenyataan obat tersebut di temukan di dalam kamar yang di gunakan Evan membuat Carissa merasa gamang.
__ADS_1
Carissa pun bertekad mencari tahu kebenaran atas kondisi Evan yang sebenarnya.
Diam-diam Carissa mendaftarkan diri untuk berkonsultasi pada dokter Melissa Wang, dokter ahli kejiwaan yang kartu namanya Carissa temukan waktu itu. Dan saat jadwalnya untuk berkonsultasi tiba, Carissa keluar dengan beralasan ingin menemui seorang teman yang saat ini sedang berlibur di Singapura.
Zacky dan Sonya mengizinkan Carissa pergi tanpa menaruh curiga sedikit pun. Mereka bahkan tidak meminta pelayan untuk menemani Carissa karena Carissa mengatakan jika tempatnya tidak jauh dari rumah mertuanya itu.
Akhirnya Carissa datang menemui dokter spesialis kejiwaan yang dia curigai sebagai dokter tempat Evan berkonsultasi.
Jantung Carissa berdetak kencang saat memasuki ruang praktek dokter tersebut. Dia pun di persilahkan duduk dan di tanyai tentang keluhannya.
Carissa tak langsung menjawab. Dia tampak sedang berusaha untuk merangkai kata-kata yang akan di ucapkannya pada dokter tersebut.
"Dokter...sebenarnya saya datang kesini bukan karena ada keluhan, tapi karena saya ingin mencari tahu sesuatu." Akhirnya Carissa membuka suara setelah terdiam agak lama.
Dokter perempuan yang masih tergolong muda itu pun tampak menautkan kedua alisnya.
"Saya menemukan obat-obatan untuk seseorang dengan gangguan mental di kamar suami saya, dan saya juga menemukan kartu nama Anda. Saya ingin tahu, apakah suami saya pernah datang kemari untuk berkonsultasi dengan Anda? Jika iya, saya ingin tahu kondisinya seperti apa."
"Namanya Evan Bramasta, Dokter. Apa Anda punya pasien yang bernama Evan Bramasta?" Tambah Carissa lagi. Kali ini suaranya terdengar agak bergetar.
Terlihat dokter tersebut agak bereaksi, tapi sejurus kemudian dia menetralkan raut wajahnya dan terlihat kembali tenang.
"Maaf, Nyonya. Sebagai seorang psikiater, saya tidak bisa mengatakan siapa pasien saya dan seperti apa kondisinya pada orang lain." Jawab dokter itu dengan tenang.
"Tapi saya istrinya, saya berhak tahu kondisi suami saya. Melihat dari ekspresi Anda tadi, sepertinya memang benar suami saya pernah datang kemari. Tolong, Dokter, katakan pada saya bagaimana kondisinya. Apa yang sebenarnya dia alami?" Carissa bertanya lagi dengan nada memohon.
"Meski saya ingin, saya tetap tidak bisa mengatakan apa-apa, Nyonya. Itu melanggar kode etik. Kalau tidak ada yang ingin Anda konsultasikan, lebih baik Anda pulang saja. Anda tidak akan mendapatkan informasi apapun dari saya." Jawab dokter itu lagi dengan tegas.
__ADS_1
Carissa terdiam beberapa saat dengan raut wajah sedih. Dia sangat yakin jika Evan memang datang kemari, tapi tampaknya dia tidak bisa mendapatkan informasi apa-apa dari dokter di hadapannya ini. Dan tentu saja hal itu seperti yang di dengar Carissa tadi, seorang dokter tidak boleh melanggar kode etik saat bekerja.
Dengan penuh rasa kecewa, Carissa pun akhirnya keluar dari ruang praktik dokter tersebut.
Carissa melangkahkan kakinya dengan gontai keluar dari rumah sakit. Dia berpikir keras bagaimana caranya untuk mencari tahu keadaan Evan yang sesungguhnya. Tapi otaknya seolah buntu dan tak menemukan cara apapun, hingga akhirnya dia duduk di sebuah halte tanpa mempedulikan sekitarnya.
Tanpa terasa waktu bergulir hingga sore pun menjelang. Carissa masih duduk diam di bangku halte, hingga sebuah mobil tiba-tiba berhenti persis di depannya dan menyalakan klakson.
Carissa agar terkejut, dan saat kaca mobil tersebut turun, mata Carissa agak melebar melihatnya. Ternyata orang yang mengemudikan mobil tersebut adalah Dokter Melissa Wang, dokter yang Carissa temui tadi.
"Masuklah ke mobilku. Aku akan memberi tahu kondisi suamimu." Ujar dokter itu pada Carissa. Terdengar dia tidak menggunakan bahasa formal seperti di tempat praktiknya tadi.
Mata Carissa langsung berbinar dan buru-buru bangkit dari duduknya. Segera dia masuk ke dalam mobil tersebut, bersebelahan dengan Dokter Melissa yang sedang mengemudi.
Mobil pun melaju membelah jalanan kota.
"Aku akan mencari tempat yang nyaman untuk kita bicara." Ujar Dokter Melissa sambil mengemudikan mobilnya.
Carissa mengangguk setuju. Tapi sejurus kemudian dia kembali melihat kearah Dokter Melissa.
"Bisakah Anda mengatakan secara umum bagaimana kondisinya saat ini juga?" Tanya Carissa dengan sangat penasaran.
Dokter Melissa tak langsung menjawab. Dia menghela nafasnya sebelum akhirnya melirik kearah Carissa sekilas.
"He is dying." Ujarnya dengan nada prihatin.
Bersambung...
__ADS_1
Tetep like, komen dan vote
Happy reading❤❤❤