
Vote sebanyak-banyaknya Ya.
Di kediaman orang tuanya, Keano yang selalu menerima kabar kakaknya setiap waktu. Tahu juga kakaknya tinggal bersama adik iparnya yang membuat Keano tidak pernah ke sana lagi karena dia malu ketika tahu bahwa adik ipar kakaknya seorang perempuan. Keano bukan seoarang anak remaja yang senang ketika bertemu dengan lawan jenisnya. Dia yang terbilang cuek dengan orang lain justru tak memiliki keberanian lagi ke rumah orang tuanya.
Pagi itu hujan turun dengan sangat lebat, hawa dinginpun masuk dari ventilasi yang terbuka. Keano semakin menarik selimut tebalnya. Sedang bermalas-malasan untuk melakukan aktivitas hari ini. Tahu juga jika papanya hari ini libur bekerja karena tanggal merah. Keano tidak memiliki jadwal ke manapun. Ia hanya ingin menghabiskan waktunya di rumah.
“Keano!” panggil mamanya yang terus berusaha untuk membangunkannya. Tapi dia tidak mau bangun sama sekali karena keasyikan tidur. “Keano astaga bangun!”
“Apa sih, Ma? Masih pagi banget,”
“Mama mau ngomong,”
“Hmmm,” Keano masih bermalas-malasan dan menurunkan selimutnya. “Mama mau ngomong apa?”
“Ya udah mandi dulu!”
“Ya ampun, Ma. Dingin,”
“Ada air hangat,”
Keano yang tadinya berencana untuk menghabiskan waktunya tidur, justru diminta untuk mandi oleh mamanya.
Dengan wajah yang super malas, Keano menuruti mamanya dan langsung pergi ke kamar mandi begitu saja. Sedangkan mamanya keluar dari kamar.
Fania yang sudah menyiapkan kue kering yang dibuat khusus untuk Adelia nantinya. Dia akan meminta tolong kepada Keano untuk diantarkan ke rumahnya. Karena selama ini Keano selalu menolak dengan alasan sibuk.
Sementara itu Raka masih tidur di kamar mereka. Tidak mungkin suaminya akan turun sarapan jika hujan seperti sekarang ini. Dia ditemani oleh mertuanya yang sedang duduk di ruang tamu kali ini. “Fania, kamu serius mau suruh Keano antarin Adelia?”
“Iya, Ma. Mama tahu sendiri kalau Adelia suka banget sama nastar,”
“Fania, jujur Mama pengin banget ke sana. tapi ingat apa yang dibilang Raka, Mama urungkan niat,”
“Sama, Ma. Orang tua mana sih yang nggak kangen sama anaknya, apalagi anak perempuan yang lagi hamil,”
“Fania, kalau seandainya suatu waktu Adelia pulang gimana?”
“Adelia nggak bakalan pulang karena ucapan papanya Adel udah keterlaluan banget,”
“Raka begitu karena tersulut emosi, percaya aja kalau sebenarnya dia sangat kangen sama Adelia. Apalagi Adelia anak kesayangan dia, nggak mungkin dia nggak punya perasaan rindu, tapi yang namanya cowok ya pasti pintar buat sembunyikan rindunya,”
Kali ini dia setuju dengan ucapan mama mertuanya. Tapi, yang membuat Fania merasa tenang kali ini adalah karena Devan yang cukup baik. Ia mendengar cerita-cerita dari Keano mengenai pria yang sudah resmi menjadi menantunya itu. Bahkan pria itu juga sangat perhatian mengenai kandungan Adelia yang sangat menyayangi Adelia. Apapun yang Adelia mau, maka dia akan berusaha untuk memenuhinya.
__ADS_1
Perasaan rindu itu benar-benar tidak bisa disembunyikan lagi. Ancaman Raka yang akan menceraikannya jika dia nekat mencari keberadaan Adelia. Hal itu sudah dipikirkan oleh Fania hingga dia tidak berani keluar dari rumah. Andai saja bukan karena ancaman itu, sudah dipastikan dia sudah menanyakan alamat Adelia pada Keano.
“Ma, tadi Mama mau ngapain?” tanya Keano yang baru saja turun dari kamarnya. Keano yang selalu menuruti apa yang dikatakan oleh orang tuanya sekalipun dia merasa itu sangat terpaksa. Senyaman apapun dia tertidur, tapi jika orang tuanya yang meminta, maka dia akan tetap menuruti. Ia pernah berpikir jika dia tidak menurutinya, hari esok belum tentu dia memiliki kesempatan seperti itu.
Keano langsung duduk disamping neneknya dan mencium pipi neneknya. “Nenak sehat?”
“Iya dong,” balas neneknya.
Keano langsung melihat deretan kue yang ada diatas meja. “Ma, jangan bilang Mama nyuruh aku ke tempat Kak Adelia?”
“Emang mau nyuruh ke sana,” timpal mamanya.
Keano yang sudah berusaha menghindar dari suruhan mamanya. Tapi kali ini dia harus mencari cara lagi agar dia bisa menghindar dari perintah mamanya. Pasalnya memang Adelia memintanya agar tidak mengatakan apapun kepada mamanya. Tapi bagaimanapun juga Keano takut jika mengecewakan mamanya. Apalagi mengenai kehidupan Adelia yang sederhana. Dua hari lalu, kakaknya mengatakan bahwa dia akan menginap di rumah tante suaminya, berhubung tanggal merah dan juga libur sampai hari senin, Keano tidak tahu lagi akan menghindar seperti apa.
“Keano, jangan bengong! Papa kamu kan belum bangun. Ya udah kamu berangkat sekarang,”
“Ma, hujan,” keluh Keano.
“Sejak kapan kamu menghindar gitu dari suruhan, Mama?”
Adelia pernah mengirimkannya foto Sabina—adik ipar Adelia yang sangat cantik untuk anak SMP dan terlihat sangat dewasa. Selain cantik, gadis itu juga sangat imut yang membuat Keano akan mati kutu jika berdekatan dengan lawan jenis nantinya. “Ma, besok aja gimana? Kak Adel lagi nginap di rumah tantenya,”
“Telpon!”
“Telpon!”
Keano mengeluarkan ponselnya dan langsung mencoba menghubungi kakaknya. Begitu nada tersambung Keano sudah merasa deg-degan. “Halo, Keano,” itu adalah suara Devan yang di mana kali ini Keano akan benar-benar berakhir di rumah kakak iparnya itu.
“Kak, kakak di mana?”
“Di rumah, Adelia lagi mandi,”
“Bu-bukannya kalian nginap di rumah tante kakak ya?”
“Udah pulang. Kan nginapnya kemarin, Keano. Kamu udah lama nggak ke rumah,”
Keano langsung menoleh kearah mamanya yang di mana Mamanya sudah tersenyum sinis kepadanya. Ia yakin bahwa kali ini dia akan benar-benar ke rumah kakaknya itu untuk mengantar kue.
“Bilang sama dia kamu mau ke sana!” suruh mamanya dengan cara berbisik.
Keano memutar bola matanya dan mengangguk pelan, “Kak, aku mau ke sana,”
__ADS_1
“Oke, kapan?”
“Ini mau berangkat, Kak,”
“Pelan-pelan nyetirnya ya! Hujan soalnya di rumah,”
Dia langsung menoleh ke mama dan juga neneknya, “Oh, iya kak. Pastinya, bilang sama kak Adelia ya!”
“Iya Keano. Ya udah kakak mau buatin sarapan buat kakak kamu, nanti kakak telpon lagi ya, takut makanannya gosong,” ucap Devan dari seberang telpon sana.
Keano pun menutup teleponnya setelah mengucap salam. “Ma, bener kan aku bilang juga apa. Suami kak Adelia itu baik banget,”
“Itu serius dia yang masak?”
“Kak Adel sendiri yang bilang kalau dia jarang masak. Kak Devan itu selalu siapin sarapan sendirian kalau Kak Adel kurang sehat,”
“Sering sakit?”
“Kak Adelia sering lemas pagi-pagi, Ma. Makanya yang masak itu kak Devan,”
“Ya udah kamu antarin sana. nanti kalau udah sampai sana, kamu telpon Mama! Mama pengin ngomong,”
Keano yang tadinya mau menolak. Akan tetapi mendengar keinginan mamanya untuk bicara dengan Adelia membuatnya langsung bersedia ke rumah kakak iparnya. Keano tahu bahwa ancaman papanya itu membuat mamanya takut dengan apa yang dikatakan oleh papanya waktu itu.
“Mama yang sabar ya!”
“Yang sabar itu harusnya nenek, Keano. Karena Nenek yang benar-benar berharap bisa ketemu,”
“Iya, Nek. Aku usahakan nanti bakalan ngomong juga dan sampaikan salam ke mereka berdua dari Mama sama Nenek,”
Keano langsung bersalaman kepada mama dan juga neneknya. Ia pun membawa kue yang sudah ditaruh dikardus kecil dengan wadah yang berbagai macam ukuran serta isinya yang beragam. “Ma aku berangkat,”
“Kamu dari belakang, Keano. Biar nggak kehujanan nanti ke garasi,”
“Siap, Ma,”
Keano menunggu sebentar agar hujan reda agar satpam yang berjaga membuka gerbang tidak kehujanan nantinya karena dia juga masih punya perasaan sekalipun orang yang bekerja di rumahnya itu digaji. Tapi tidak mungkin juga dia membiarkan orang lain terkena hujan yang nantinya bisa jatuh sakit.
__ADS_1