
Disebuah kafe di pusat kota Jakarta tempat anak-anak muda menghabiskan waktunya untuk nongkrong, Devan telah berjanji dengan Bianca akan bertemu di sana. Sengaja dia mengajak perempuan itu bertemu di luar karena tidak ingin jika omnya mengetahui tentang Bianca yang terus datang mencarinya. Devan takut menyakiti hati Adelia, begitupun dengan calon buah hatinya. Kedatangan Bianca pasti memiliki tujuan tersendiri hingga dia terus saja mencari Devan seperti sekarang ini. Tapi, sebagai suami dan juga calon papa bagi anaknya, tidak mungkin dia mengkhianati dua hati sekaligus.
Devan sudah bisa menebak kali ini kedatanga Bianca karena perintah dari orang tuanya untuk mengusik rumah tangganya. Tapi, dia sampai kapanpun tidak akan pernah goyah, dia mencintai Adelia dengan risiko apapun. Devan juga sudah meyiapkan diri untuk patah hati di kemudian hari jika orang tua istrinya tahu tentang dirinya yang merupakan anak dari musuh mereka.
Sekalipun kenyataan itu begitu pahit, tidak menyulutkan hati Devan untuk terus berjuang mendapatka restu dari mertuanya. Devan tahu bahwa mertuanya merupakan dua orang yang sangat baik. Bersyukur istrinya lahir dari keluarga yang luar biasa baik. Sehingga dia begitu bangga memiliki dan juga mencintai istrinya yang sedang mengandung buah hati mereka.
Devan yang sudah terlanjur mencintai Adelia. Dia yang juga tak sengaja bahkan tidak sadar entah kapan mulai mencintai istrinya itu, terlebih ketika dia pulang ke rumah selalu disambut baik oleh istrinya apapun keadaannya. Saat kehidupan mewah itu tidak ada lagi. Dengan sabarnya sang istri tetap menemaninya tanpa pernah mengeluh tentang penghasilan yang di dapatkan olehnya.
Kali ini dia masih duduk dipojok ruangan kafe itu, dekat dengan jendela dan melihat beberapa orang berlalu lalang berjalan kaki entah itu sendirian atau berpasang-pasangan.
Devan menyandarkan punggungnya di sebuah kursi sambil terus bersabar menantikan perempuan itu datang ke tempat yang sudah dijanjikan. Devan takut jika ada orang lain yang melihatnya bertemu dengan Bianca di kantor dan justru dilaporkan kepada suami tantenya yang akan memperumit keadaan lagi. Dia tidak ingin jika orang yang pernah ada di dalam hidupnya di masa lalu datang lagi hanya untuk menghancurkan apa yang telah dibangun oleh Devan dengan susah payah.
Menunggu sekitar setengah jam hingga kemudian sebuah mobil mewah datang yang di mana dia sangat mengenali mobil tersebut. Devan menoleh seketika dua orang turun dari mobil itu.
Keningnya langsung berkerut ketika melihat mamanya juga yang ikut bersama dengan Bianca siang ini. Padahal perjanjian mereka adalah, mereka berdua datang bersama.
Begitu keduanya datang menyapa, Bianca seperti biasanya tanpa dosa terus mengganggu rumah tangganya bersama dengan Adelia dengan meminta bantuan kepada sang mama.
"Devan, udah lama banget kita nggak ketemu, kamu apa kabar sayang?" tanya mamanya dengan antusias. Tapi dia tida mengindahkan hal itu. Tetap saja dia merasa kesal jika mamanya dekat dengan Bianca. Andai saja sikap mamanya bisa berubah dan sikap manis yang ditunjukkan sekarang ini bisa diberikan kepada Adelia, tentu saja apapun yang diinginkan oleh orang tuanya pasti dia akan mengikuti, kecuali berpisah dengan Adelia. Rasanya tidak akan pernah sanggup sampai kapanpun jika hal seperti itu terjadi.
Keduanya asyik dan justru sibuk bicara tanpa menghargai keberadaan dirinya yang ada di sana juga. Keduanya sibuk mengobrol dengan membicarakan barang-barang mahal seperti biasanya.
Entah Devan tidak tahu apa yang membuat mamanya begitu tertarik kepada Bianca hingga membuatnya bisa di racuni pikirannya seperti sekarang ini.
__ADS_1
"Kamu kok diam aja sayang?" tanya mamanya lagi. padahal sedari tadi mereka berdua sibuk bicara.
Devan sebenarnya ingin pergi jika tak ada yang ingin dibicarakan. Padahal dia mengajak Bianca bertemu karena dia ingin membicarakan mengenai pertemuan mereka yang sudah tidak perlu lagi dilakukan. Bianca juga bisa mencari laki-laki lain agar tidak mengganggu suami orang lain.
Seperti biasanya, jika dia tidak merasa nyaman. Maka dia akan tetap menampilkan ekspresi dinginnya. Devan tidak peduli itu adalah mamanya, karena dia merasa mamanya sudah ikut campur terlalu jauh hingga membuatnya seperti sekarang ini.
"Ma, Mama kan sibuk ngobrol dari tadi, kalau aku nggak ada artinya di sini lebih baik aku pergi," ucap Devan dengan nada rendahnya. Dia enggan berada disekitar sang mama jika membicarakan barang mahal.
"Devan kok ngomong gitu? Ngomong-ngomong Sabina apa kabar? Kapan pulang? Mama kangen sama dia,"
"Memangnya Sabina ada di mana tante?" tanya Bianca yang sok peduli dengan Sabina.
"Sabina tinggal bersama dengan Devan dan istrinya, Bianca. Dia pergi dari rumah dan memilih tinggal bersama dengan Devan,"
Seja kapan Sabina dekat dengan Bianca? Rasanya Devan ingin tertawa mendengar pernyataan itu. Padahal Sabina juga tidak menyukai Bianca.
Kali ini, Devan memang akui kedatangan Bianca kali ini jika memang benar ingin meghancurkan dirinya bersama dengan sang istri. Maka dia tidak akan pernah memaafkan hal itu. Devan akan tetap melindungi Adelia apapun yang terjadi.
"Kalau gitu, aku nanti main ke rumah kamu ya?" pinta Bianca. Bagaimana mungkin mantan pengantin yang batal dinikahinya akan datang ke rumah untuk mengacaukan segalanya? Devan tak akan membiarkan hal itu terjadi. Jika memang benar hal itu terjadi, maka dengan terpaksa dia meminta Sabina untuk pulang ke rumah orang tuanya. Bianca memang tidak pernah bercada dengan apa yag dia ucapkan. Takut jika perempuan itu justru bicara macam-macam kepada Adelia.
"Kamu nggak ada kegiatan lain lagi kah, Bianca? Kamu nggak ada pria lain untuk diganggu? Kenapa harus gatal pada suami orang? Harusnya kamu jangan melakukan hal itu, Bianca. Kamu harusnya sadar kalau aku sudah punya istri, berapa kali aku harus bilang kalau aku mencintai Adelia,"
Mamanya langsung melotot kepada Devan. Cinta? mungkin mamanya tidak akan percaya dengan hal ini. "Devan, aku kan cuman mau main sama Sabina. Nanti biar aku yang jemput ke sekolah,"
__ADS_1
Perempuan ular benar-benar bisa mengeluarka bisanya kapanpun. Maka dari itu dia harus mencari Sabina ke sekolah dan bicara baik-baik agar Sabina pulang ke rumah orang tuanya nanti. Tidak mau jika adiknya itu tetap tinggal bersama dengan dirinya dan mengakibatkannya berantakan bersama dengan Adelia. Dia sama sekali tidak menyalahkan Sabina, tapi jika sudah berkaitan dengan Bianca. Maka apapun caranya, pasti mamanya akan membantu rencana Bianca agar lancar nantinya.
"Devan, kamu nggak keberatan kan kalau Bianca ke rumah kamu? lagian dia kan mau ketemu sama Sabina, bukan sama istri kamu,"
"Kenapa perempuan lajang datang ke rumah seorang pria yang sudah beristri, apalagi itu adalah mantan pengantin yang batal menikah? Apa pernah kamu memikirkan bagaimana hati istri aku?" tanya Devan dengan dingin, "Jangan perah macam-macam dengan suami orang lain, Bianca. Apalagi mengajaknya berselingkuh, satu kali seorang suami berselingkuh dan kamu berhasil mendapatkannya, maka bersiaplah kamu juga akan merasakan hal yang sama di kemudian hari, yaitu suami kamu berselingkuh juga dengan orang yang sifatnya sama seperti kamu, yaitu merebut kebahagiaan orang lain,"
"Kamu kok ngomong gitu? Aku kan sudah bilang kalau aku mau ketemu sama Sabina,"
"Enggak harus ke rumah aku, Bianca. Istri aku hamil, kamu nggak bakalan bisa main ke sana,"
"Ingat ya, kamu menikah itu cuman karena tanggung jawab, Devan. Kamu menikah sama dia karena dia hamil. Aku yakin kamu juga nggak pernah ada niat untuk nikah sama dia, apalagi untuk nyentuh dia lagi. Pasti kamu bakalan ngerasa jijik,"
Devan tersenyum sinis. "Yakinmu seperti itukah, Bianca? Aku menikah sama istri aku karena tanggung jawab? Apa yang kamu tahu tentang hati orang lain,"
"Karena aku tahu kalau kamu itu sangat sulilt digapai, Devan,"
"Tapi sayangnya hati aku sudah dimiliki sepenuhnya oleh dia. Kamu juga harus tahu, kalau aku sudah nggak ada apa-apa lagi. Aku kerja di perusahaan om karena aku udah nggak punya harta yang banyak lagi untuk belikan kamu barang mewah. Istri aku sama kamu tentu berbanding sangat jauh, Bianca. Dia meskipun begitu, jujur saja dia lebih kaya dari aku, bahka harta orang tua aku nggak bisa melampaui dia, tapi dia nggak pernah minta apa-apa seperti yang kamu lakukan. Dia sanggup hidup sederhana dengan usaha yang aku hasilkan selama ini, bukan seperti kamu yang maunya hidup enak karena kamu lihat harta orang tua papa aku,"
"Kurang ajar kamu Devan," bentak mamanya. Tapi dia tidak peduli lagi dengan ucapan mamanya. Bukan karena dia durhaka, tapi jika membela Bianca. Lebih baik dia tetap menghindar daripada harus meladeni perempuan ini.
"Mama juga, harusnya mama buka mata! Mama, apa perlu aku pergi jauh dan nggak bakalan kembali ke sini lagi? Ma, detik-detik di mana kehidupan kita bakalan hancur," peringat Devan. Karena dia tahu, nanti jika mertuanya marah saat mengetahui semuanya. Kecil kemungkinan orang tuanya tidak diseret juga. Pasti dengan mudahnya papa Adelia menghancurkan perusahaan milik orang tua Devan, "Ralat, aku lupa. Maksud aku kehidupan kalian berdua, bersama dengan Papa. Aku lupa kalau aku bukan bagian dari kehidupan mewah kalian lagi,"
"Maksud kamu apa?"
__ADS_1
"Kehancuran sudah di depan mata. Mama baik-baik saja dalam bertindak. Kamu juga Bianca! Jangan melampaui batas ketika mengganggu suami orang lain. Kamu nggak tahu saja rasanya hati seorang istri berjuang seperti apa. Sekali lagi kamu seperti ini, mencari aku ke kantor, atau berani ke rumah dengan cara menjemput Sabina ke sekolah. Lihat saja, aku nggak bakalan tinggal diam. Dan perusahaan, Papa itu jauh dibawah perusahaan Om. Jadi mudah bagi aku buat hancurinya, Ma. Jaga tindakan kalian, jangan nafsuan gitu untuk misahin aku sama istri aku, ingat saja kehidupan kalian mudah untuk dihancurkan. AKu nggak peduli kalian orang tua aku, tapi jika kalian sudah melebihi batas, semua orang akan jengah dan bisa saja diamnya menghanyutkan, bergeraknya untuk menghancurkan. Sama seperti yang akan aku lakukan nanti kepada kalian semua,"