WITH YOU

WITH YOU
Kepergiannya


__ADS_3

Raka kali ini bangun dengan malas-malasan. Semenjak kepergian Nabila dari apartemennya, dia memilih untuk tinggal bersama dengan mamanya seperti biasanya. Semalam dia diantar oleh sopir taksi yang diberitahukan oleh temannya Reza, mengenai alamatnya. Raka memang mabuk berat semalam karena Nabila selalu menuntut untuk dinikahi. Tapi karena dirinya tidak mau menikah, maka dari itu dia menghindar terus dari perempuan itu. Raka memang dari awal tak ingin menikah dengan perempuan itu.


Dia memijit pelipisnya dan juga menjambak rambutnya ketika dia merasa begitu pusing. Dia juga memijit tengah-tengah diantara alis kiri dan kanannya.


Dia ingat ketika Nabila mengatakan bahwa dia tidak akan lagi bisa melihat perempuan itu. Sesungguhnya dia merasa konyol dengan ucapan itu. Mana ada perempuan yang mau bunuh diri hanya karena kebodohan itu.


Sejenak Raka tertawa sinis dan tidak menganggap ucapan Nabila itu serius.


Baru saja dia bangun dari tempat tidurnya dan hendak ke kamar mandi. Mamanya masuk ke kamar dan tanpa aba-aba langsung menamparnya. “Kamu kurang ajar, Raka!” bentak mamanya.


“Maafin aku yang mabuk semalam, Ma,” ucapnya sambil memohon kepada mamanya. Tapi mamanya datang dengan air mata yang beruai. “Mama kenapa nangis?”


“Papa kamu belain kamu ketika kamu salah itu agar kamu mikir mengenai kesalahan kamu. Kamu pikir mendiang Papa kamu bisa belain kamu sekarang?”


“Mama, kenapa bawa-bawa Papa sih? Pagi-pagi gini juga,” bentak Raka kepada mamanya.


“Puas kamu?”


“Puas apalagi sih, Ma? Emangnya aku ngelakuin hal apa?”


Mamanya langsung duduk dipinggiran ranjang dan menangis sesenggukkan, Raka tak pernah melihat air mata kesedihan seperti ini pada mamanya. Dia juga tidak pernah melihat mamanya semarah ini. Apalagi sampai memukulnya seperti barusan. Jika pun dia mabuk, pasti mamanya akan memakluminya. Tapi, kali ini sungguh seperti tidak ada toleransi sama sekali mengenai hal itu.


“Kamu sadar nggak sih sama apa yang kamu lakuin?”


Raka masih tidak mengerti dengan pertanyaan mamanya. “Aku sadar, aku sadar kalau aku memang mabuk belakangan ini,”


“Ke mana Nabila?”


“Nabila, dia di rumahnya,”


“Kamu yakin?”


“Iya yakin,” jawabnya dengan tenang.

__ADS_1


Mamanya langsung menolehkan pandangannya ke arah lain, ini adalah suatu hal yang sama sekali tak dimengerti oleh Raka ketika mamanya tiba-tiba menanyakan keberadaan Nabila. “Nabila memang beberapa kali hubungi aku, Ma,”


“Terus, kamu abaikan dia kan?”


“Ma, aku sama dia lagi berantem. Aku nggak ada masalah besar kok,”


“Kamu bilang nggak besar?”


Raka mendekati mamanya, tapi wanita yang sudah melahirkannya itu menjauh dan justru mendorong tubuh Raka menjauh. “Kamu tega Raka,”


“Aku kenapa sih, Ma?”


“Kamu bakalan nyesel seumur hidup kamu, Raka,”


“Kenapa? Ini karena aku berantem sama Nabila? Oke, kalau Mama nanyain di mana Nabila, sekarang aku jemput,”


Raka langsung pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya dan mengelap wajahnya dengan handuk yang digantung di dekat pintu. Raka baru saja meraih kunci mobil dan hendak pergi menjemput Nabila karena dia tidak bisa melihat mamanya bersedih seperti sekarang ini.


“Kamu nggak usah ke sana!” tahan mamanya dengan nada yang begitu tinggi. Tadi mamanya menanyakan keberadaan Nabila, tapi justru Raka yang salah lagi kali ini.


“Jam Sembilan tadi, dia sudah istirahat dengan tenang,”


Raka mencerna ucapan mamanya. “Maksud Mama?”


“Waktu Nabila butuh kamu, kamu ke mana?”


“Aku sama dia berantem, Ma. Aku kan udah bilang kalau aku sama dia memang sering berantem,”


“Apa harus kamu tinggalin waktu dia hamil? Papanya kemarin hubungi mama dan bilang kalau dia bakalan datang hari ini untuk minta pertanggungjawaban kamu. Tapi apa? Nabila milih untuk akhiri hidupnya sama anak kamu,”


Raka mundur dan duduk begitu saja di meja belajarnya dulu. “Ma, Mama tahu ini kapan?”


“Kamu kenapa nggak bilang kalau Nabila hamil anak kamu? Kamu bilang kamu sayang? Tapi buktinya kamu justru kabur dari masalah kamu sendiri, kamu bilang mau jagain dia. Tapi apa? Kamu justru biarin dia menderita sendirian. Dia sering hubungi kamu, Papanya juga baru tahu dia hamil kemarin. Dia bilang dia malu karena kamu nggak mau tanggung jawab. Kalian berdua tinggal bersama? Kalian nggak ada ikatan apa-apa, itu bodoh Raka. Kamu nggak mikirin gimana perasaan dia?”

__ADS_1


Raka menundukkan kepalanya dan tak menyangka bahwa Nabila serius dengan ucapannya ketika keluar dari apartemennya waktu itu. “Ma, aku mau ke sana,”


“Yang ada kamu dipukulin keluarganya dia. Semalam orang tuanya bilang mau ke sini, tapi justru Nabila ditemukan di kamarnya bunuh diri. Dia nulis surat, itu semua tentang kamu, Raka,” isak mamanya.


“Ma, aku nggak tahu kalau Nabila bakalan serius sama ucapannya,”


“Iya. Itu karena kamu anggap remeh ucapan dia yang mungkin sudah pamitan sama kamu,” ucap mamanya lagi.


Raka benar-benar tidak menyangka hal itu akan dilakukan oleh Nabila dan mengakhiri hidupnya dengan cara seperti itu karena kebodohan Raka yang tidak mau tanggung jawab. Nabila tidak mungkin berkhianat. Nabila tidak mungkin mengacaukan segalanya. Dan kali ini dia baru sadar jika ucapan Nabila mengenai dia pamit pada dirinya itu benar terjadi. Sungguh, dia tidak percaya dengan hal ini.


Mamanya keluar dari kamar dan Raka langsung memukul-mukul meja dengan keras. Bahkan dia tidak percaya jika Nabila akan nekat seperti itu. Raka memang tak pernah berpikir jika Nabila berani melakukan hal itu. Dia juga sempat berpikir jika itu adalah gertakannya. Tapi, setelah dia mendapati kabar mengenai Nabila, sungguh ini seperti sebuah mimpi yang di mana Raka menerima pesan terakhir itu malam ketika dia belum berangkat untuk mabuk-mabukan bersama dengan teman-temannya.


“Kamu beneran ninggalin aku?” isaknya. Tak pernah dibayangkan oleh Raka bahwa dia akan seorang diri. Nabila yang dicintainya, Nabila juga yang begitu hebat mengisi hatinya. Tapi entah kenapa dia tidak mau menikahi perempuan itu dengan segera. Sehingga perempuan itu pergi karena menahan malu karena kehamilannya.


Bahkan Reza yang juga memberinya nasihat mengenai dirinya yang harus bertanggungjawab. Tapi tidak mengabaikan ucapan temannya itu. Raka merasa bahwa dia adalah brengsek yang sebenarnya.


Kakinya gemetar ketika dia berjalan untuk mengunci pintu.


Saat dia sudah mengunci pintu kamarnya. Tubuhnya tiba-tiba meluruh begitu saja. Sehancur itu perasaannya, dia telah kehilangan dua orang yang begitu berharga di dalam hidupnya. Raka menjambak rambutnya dan berteriak mencoba melepaskan beban hidupnya. Ia berpikir jika dia memiliki waktu untuk menyiapkan dirinya agar bisa melamar Nabila.


“Gini cara kamu ngehukum aku? Kamu ninggalin aku sendirian? Kamu pergi sama anak kita, Nabila,” isaknya.


Dia tidak percaya dengan kenyataan ini. Rasanya dia begitu pengecut, Raka merasakan bahwa dunia ini begitu bodoh telah mengelabuinya dengan kenikmatan yang hanya sesaat. Nabila, pergi untuk selamanya. Nabila pergi bersama buah hati yang saat itu sedang dikandungnya.


“Aku pikir aku adalah manusia paling bodoh yang udah sia-siain kamu selama ini, Nabila. Aku nggak bisa sedikit saja lebih berani untuk minta kamu sama orang tua kamu. Pastinya kejadiannya nggak bakalan seperti ini, kan?” ucapnya sambil menyangga dahinya dengan lututnya. Sungguh, Raka benar-benar tidak menyangka bahwa kejadian itu akan dilakukan oleh Nabila. Di sisa hidup, dia hanya menambah beban saja kepada Nabila.


 


 


Flashback off


 

__ADS_1


 


__ADS_2