
Sepulang sekolah Keano pergi memastikan kakaknya pergi atau tidak seperti yang diceritakan oleh neneknya waktu itu. Keano yang benar-benar tidak tahu mengenai kepergian kakaknya ke luar negeri hanya untuk menghindari papanya. Keano yang saat ini sedang berada di depan rumah kakaknya untuk melihat secara langsung dan memastikan apa yang dikatakan oleh neneknya itu memang benar adanya.
Dia melihat mobil kakak iparnya masih ada di sana. tapi, ketika dia hendak turun dari motornya, Keano melihat orang asing yang ada di rumah itu. Bukan kakaknya, ataupun kakak iparnya yang keluar. yaitu sepasang suami istri beserta anaknya yang keluar dari rumah tersebut sambil menggandeng anak kecil yang usianya sekitar kurang lebih empat tahun. Keano segera turun dari motornya dan berlari untuk menghampiri orang yang hendak pergi itu.
Sudah beberapa hari Keano memang sudah tau mengenai kakaknya. Tapi, dia tidak pernah memastikan dengan sendiri bahwa yang dikatakan oleh neneknya itu memang benar. Tapi,kali ini dia benar tak bisa menyangkal itu. Ucapan neneknya tentang kepergian kakaknya itu benar.
Keano berlari dan menghampiri ketiga orang itu. “Permisi, ini pemilik rumahnya bukannya kak Devan?”
Kedua pasangan itu saling tatap satu sama lain. “Ah iya memang iya, dia memang tinggal di sini kok,”
“Tapi kenapa kalian yang ada di sini?”
Keduanya saling tatap lagi, seolah tak ingin menjawab dengan jujur pertanyaan Keano barusan. “Kalian nggak ada yang disembunyikan kan?”
“Nggak ada,”
“Kalian tenang aja. Aku juga ada di pihak kalian,” ucap Keano dengan hati-hati ketika dia merasa ada yang aneh dari kedua pasangan ini. Keano merasa benar dipermainkan oleh kakaknya. Beberapa hari kakaknya tak bisa dihubungi. Tapi orang yang ada di rumah ini bukanlah pemilik aslinya. Yang di mana kakaknya tega tak mengabarinya sama sekali ketika pergi. Keano kesal, dia tak mendapatkan jawaban apa pun dari orang itu.
“Please!”
“Kami lagi sibuk, jadi nanti aja datangnya ya!” perintah pria asing itu. Ketika Keano ingin mencari jawaban. Tapi justru keduanya menghindar dan masuk ke dalam mobil begitu saja lalu pergi dari rumah itu. Entah, kali ini apakah permainan neneknya atau siapa? Keano tak bisa menebak keluarganya yang begitu rumit. Keano kesal karena dia tak mendapatkan informasi apa pun dari kedua orang itu.
Dia keluar sambil menendang pintu gerbang dengan kasar. Keano marah karena kakaknya tak menghubungi dia sebelum pergi. Dia bisa membantu kakaknya kabur dari papanya. Tapi sekarang justru kakak iparnya lupa dengan perannya yang sudah memabntu banyak mengenai rumah tangga mereka.
Namun, tak ada sama sekali yang mengingatnya. Keano keluar dan menjambak rambutnya. Dia memang tahu jika beberapa orang memang sedang mengawasinya. Begitu mobil itu pergi, ada beberapa orang yang mengikuti juga. Tapi, kali ini dia tidak akan ikut campur lagi mengenai rumah tangga kakaknya.
Begitu dia duduk di pinggir jalan, seorang ibu-ibu menghampirinya. “Suami saya manggil kamu!” Keano langsung mengangkat kepalanya karena tidak mengenal orang ini.
Sejenak dia teringat dengan ucapan neneknya yang di mana di depan rumah kakaknya ada teman baik papanya atau anak dari sahabat kakeknya dulu. Keano bergegas dan berdiri sambil menganggukkan kepalanya begitu orang tersebut membuka pintu gerbang.
Keano merasa asing karena tidak pernah berada di tempat ini sebelumnya. Rumah minimalis, taman yang dijaga dengan baik. Serta dia mendapati nuansa sejuk di sana. begitu dia masuk ke dalam rumah setelah diajak oleh ibu-ibu tadi.
“Selamat datang, Kaeno,”
__ADS_1
Keano menunjuk dirinya karena dia tidak pernah memperkenalkan dirinya dengan pria ini. Justru pria ini mengenalnya sebelum dia memperkenalkan diri. Seorang pria bertubuh tegap, tinggi dan juga masih terlihat lebih segar dibandingkan papanya.
“Om Kevin, bukan?” tebak Keano. Dia memang sempat diceritakan mengenai pria itu. Tapi dia sama sekali tidak pernah bertemu dengan pria itu secara langsung. Keano yang tidak pernah melihat foto dari orang dia dengar dari cerita neneknya.
“Iya, ini saya,” jawabnya kemudian mempersilakan Keano duduk.
“Oh, salam kenal ya, Om,”
“Salam kenal juga Keano,” jawab pria itu sambil membalas uluran tangan Keano tadi ketika memperkanlkan diri. Keano memang tidak pernah lihat, tapi dia pernah mendengar kabar bahwa pria itu pernah suka kepada mamanya dulu ketika muda. Tapi tidak tahu cerita yang mendetail. Cerita itu hanyalah cerita singkat yang dia dengar dari neneknya.
“Ada apa Om?”
“Kamu cari kakak kamu?” tebak pria itu. Tentu saja Keano datang untuk mencari keberadaan kakaknya. Keano memang tidak tahu jika pria itu bertetangga dengan kakaknya.
Minuman dingin yang diletakkan diatas meja oleh asisten pria tersebut. “Kamu lebih baik nggak usah cari, toh mereka juga pergi karena keinginan mereka berdua kok,”
“Kenapa Om dukung banget sih?”
“om nggak tahu apa-apa,”
“Bukan Om nggak tahu, Keano. Tapi memang papa kamu aja yang resek untuk ikut campur ke dalam rumah tangga anaknya sendiri. Padahal Devan itu anak baik kok, jadi jangan pernah ragukan dia. Mereka enggak bakalan pergi kalau papa kamu nggak ikutan. Nenek kamu sudah sering hubungi Om, karena kebetulan nenek kamu itu teman baik orang tuanya istri saya. Jadi, saya tahu tentang kamu. Kalau saja papa kamu dulu nerima perjodohan, istri saya yang bakalan jadi ibu kamu, dan bukan Fania,”
Keano tidak mengerti dengan ucapan pria ini. Dia tidak ingin menanyakan perihal masa lalu yang sudah tidak ada kaitannya lagi dengan dirinya. “Om, aku ke sini bukan untuk berdebat. Kenapa Om selalu terlihat santai?”
“Keano, kamu nggak bisa hentikan Papa kamu sendiri. Bagaimana juga dengan kakak ipar kamu, tentu dia nggak bakalan pernah bisa hentikan papa kamu juga. Saya tahu kamu anak Raka setelah nenek kamu curhat mengenai cucunya yang menikah. Waktu itu nenek kamu sempat kirim fotonya ke istri saya. Dan saya enggak ngerasa asing, yang kebetulan cucu yang di maksud itu adalah kakak kamu. Yang tidak lain rumahnya ada di depan sana, alias di depan rumah saya. Kamu khawatir kenapa? Kamu khawatir kalau kakak kamu nggak bahagia?”
“Itu karena Papa yang terlalu sensitive mengenai kakak kalau sudah bahas pernikahan kak Adelia sama kak Devan,”
“Keano, saya juga sudah ngomong sama nenek kamu, kalau semuanya bakalan baik-baik saja. Nggak ada yang perlu dikhawatirkan. Sampai pada akhirnya saya ngerasa bahwa kakak kamu sedang di mata-matai oleh beberapa orang. Keano, saya nggak suka kalau Mama kamu itu sedih lagi, kamu bayangin aja gimana kehilangan kedua orang tuanya ketika dia masih muda. Waktu itu cuman Om yang ada di sisinya. Jadi, kalau papa kamu nambah beban lagi dengan cara buat kakak kamu terpisah dari suaminya. Ya nggak ada bedanya dengan dia yang sudah buat kehidupan mama kamu hancur. Sudah cukup nenek kamu bukan? Kakek kamu juga udah pergi. Jadi dia nggak ada kekuatan lagi untuk bertahan selain Papa kamu. Sekarang Papa kamu justru mau buat hal yang konyol?”
Kevin tahu bahwa dulu Reza sempat menikah dengan Fania. Tapi, dia tidak mungkin menceritakan hal yang sudah lewat kepada anak dari sahabatnya ini. Dulu dia memang pernah jatuh cinta kepada Fania. Tapi, perempuan itu dijodohkan dengan Reza, bahkan Raka juga mundur waktu mendengar perjodohan itu. Tapi, ketika beberapa tahun berlanjut, justru mereka berdua bercerai. Dan kemudian Raka menikahi Fania, itupun harus menunggu waktu beberapa tahun. Kevin juga tahu mengenai kehilangan anak pertama Reza waktu itu dari Fania. Dia tidak ingin menyalahkan siapapun saat ini. Dia hanya ingin membantu keluarga Raka agar tidak pecah. Sudah cukup Fania merasakan sedih itu.
Kevin juga tahu mengenai Raka yang masih tidak sepenuhnya melupakan mantan kekasihnya yang telah meninggal itu.
__ADS_1
“Kamu suruh Papa kamu kemari nanti, Keano! Ada yang mau saya bicarakan dengan dia,”
“Kenapa nggak aku aja, Om?”
“Aiiih, kamu masih terlalu muda untuk urus hal ini, Nak. Jadi, kamu bilang aja kalau Om mau ngomong sama Papa kamu. Bilang juga jangan lupa bawa Mama kamu. Sekalian Om mau Reuni dengan mereka berdua, kamu bisa kan sampai salam Om untuk mereka berdua?”
Keano mengangguk, “Baiklah,”
“Saya tunggu mala mini ya!”
“Hmmm, kalau begitu saya pamit dulu,”
“Kamu minum dulu dong! Jangan lupa bilang sma orang tua kamu,”
Keano pun meneguk minumannya sebagai tanda dia menghargai yang membuat minuman tersebut. “Saya pamit om, Assalamu’alaikum,”
“Wa’alaikumusalam,”
Begitu dia bersalaman ketika pamitan. Keano keluar dan berpapasan dengan perempuan yang baru saja pulang sekolah. Tapi, Keano tak memperhatikan itu dengan baik. Dia langsung fokus pada jalannya.
“Kamu anak baik, jangan pernah kamu korbankan hidup kamu untuk masalah orang tua kamu,” tutur Kevin ketika dia melihat anak Raka pergi meninggalkan rumahnya.
“Pa, tadi itu siapa?” tanya putrinya.
“Anak sahabat Papa sewaktu muda,”
“Oh, dia kayaknya sekolah di tempat favorit deh,”
“Iya, dia memang sekolah di sana. kamu bisa lihat dari seragam dia. Jadi, kamu jangan fokus lihat dia. Sebentar lagi lulus! Kamu tuh kalau urusan cowok aja cepat banget nangkapnya,” ucap Kevin kepada anak perempuannya yang saat ini sedang duduk di bangku SMA kelas dua belas.
__ADS_1