
Carissa duduk sembari menyesap tehnya dengan elegan. Saat ini tampak duduk di hadapannya dua orang pimpinan dari perusahaan manajemen yang menaunginya selama dia menjadi seorang pianis. Seorang lelaki paruh baya yang biasa di sapa Mr. Edd, dan yang satunya perempuan berusia awal empat puluhan bernama Zenith. Geraldyn juga tampak duduk di sana sebagai penghubung.
Mereka sedang mengadakan pertemuan untuk membicarakan kembalinya Carissa ke manajemen yang pernah menaunginya itu untuk kembali menjadi seorang pianis.
"Jadi, syarat apa saja yang kamu inginkan sebelum menandatangani kontrak?" Tanya Zenith pada Carissa setelah mereka berbasa-basi.
Carissa tampak terdiam sesaat.
"Tidak ada yang muluk-muluk. Saya hanya menginginkan sebuah tempat tinggal sebagai fasilitas dari manajemen, dan baru bisa benar-benar fokus bermain piano setelah beberapa bulan dari sekarang..." Carissa menggantung kalimatnya hingga orang-orang yang mendengarnya terlihat menunggu kelanjutan dari kata-katanya itu.
"Atau lebih tepatnya setelah saya melahirkan." Ujar Carissa lagi menambahkan.
Sontak Mr. Edd, Zenith dan Geraldyn membeliakkan mata mereka.
"Kamu sedang hamil?" Tanya Geraldyn tanpa sadar.
Carissa tersenyum dan mengangguk pelan.
"Benar, saat ini saya sedang hamil. Usia kandungan saya sudah tiga bulan lebih, sebentar lagi memasuki bulan ke empat. Jadi saya baru bisa benar-benar kembali bermain piano sekitar lima atau enam bulan lagi. Jika Mr. Edd dan Bu Zenith tidak keberatan, saya akan langsung menandatangani kontraknya." Ujar Carissa.
Semua orang tampak tertegun. Zenith terlihat sedang berpikir, begitu pula dengan Mr. Edd. Suasana pun hening untuk beberapa saat.
"Sebenarnya aku tidak keberatan kapan kamu benar-benar bisa kembali bermain piano, asalkan kamu sudah kembali terikat kontrak dengan kami. Itu hanya masalah waktu. Penggemarmu sudah menunggu selama dua tahun lebih, jadi aku rasa tidak masalah jika harus menunggu lagi selama enam bulan. pasti itu akan membuat mereka semakin merindukanmu dan semakin antusias saat kamu muncul nanti. Tapi, keputusan tidak berada di tanganku. Semuanya tergantung Mr. Edd." Ujar Zenith.
Pandangan Carissa beralih pada sosok lelaki paruh baya di hadapannya yang tampak masih sedang berpikir.
__ADS_1
"Bagaimana, Mr. Edd? Apa Anda keberatan?" Tanya Carissa.
Mr. Edd tak langsung menjawab. Dia masih menimbang-nimbang untuk menerima Carissa atau tidak. Meski memang dia sendiri yang beberapa kali meminta Carissa untuk kembali bergabung, tapi dia tidak menyangka jika Carissa memutuskan untuk kembali di saat kondisinya sedang hamil seperti ini. Di sisi lain, jika dia tidak langsung menerima Carissa, takutnya Carissa akan berpaling ke manajemen lain.
"Baiklah..." Mr. Edd akhirnya buka suara.
"Aku akan memberikan fasilitas sesuai keinginanmu, setelah itu kita akan langsung membicarakan kontrak." Ujar Mr. Edd lagi.
Carissa tersenyum menanggapi.
Mr. Edd bangkit dari duduknya, di ikuti oleh Zenith.
"Pertemuan selanjutnya kita akan langsung pada penandatangan kontrak, Carissa." Ujar Zenith sambil mengulurkan tangannya untuk mengajak Carissa bersalaman. Carissa pun langsung menyambutnya. Lalu Carissa juga mengulurkan tangannya pada Mr. Edd.
"Senang bisa bekerja sama denganmu lagi, Carissa." Ujar Mr, Edd sambil menyambut uluran jabat tangan dari Carissa.
Mereka pun mengakhiri pertemuan itu, dan Carissa langsung kembali ke hotel tempatnya menginap selama beberapa hari belakangan ini. Beruntung hotel itu tidak di kategorikan sebagai hotel mewah, hingga biaya menginap sejauh ini tidak membuat tabungan Carissa terkuras.
Setelah ini Carissa akan segera menandatangani kontrak untuk kembali menjadi seorang pianis, dan akan mendapatkan tempat tinggal sebagai fasilitas yang di berikan oleh pihak manajemen.
Carissa lega, selain akan mendapatkan kembali sumber penghasilan, dia juga akan mendapatkan tempat berteduh. Carissa berharap semuanya akan berjalan lancar hingga dia bisa mendapatkan kehidupan yang baik dan bisa membesarkan calon anaknya dengan layak.
Tanpa sadar Carissa menyentuh perutnya yang sudah sedikit menonjol, lalu mengusapnya dengan lembut.
"Kita pasti bisa melewati semua ini, Sayang. Baik-baiklah di dalam sana. Mama akan berusaha mempersiapkan yang terbaik untuk menyambut kedatanganmu." Gumam Carissa sembari memandang kearah perutnya.
__ADS_1
Senyum Carissa mengembang, tapi bersamaan dengan itu airmatanya juga kembali menetes tak tertahankan.
Dalam kondisi hamil seperti ini, sebenarnya dia sangat ingin seperti perempuan lain yang berada dekat dengan suaminya. Bisa menyandarkan kepala pada sang suami, dan mendapatkan perhatian serta kasih sayang yang lebih dari biasanya. Tapi semua itu tidak mungkin bagi Carissa. Dia harus pergi sejauh mungkin dari suaminya agar lelaki yang di cintainya itu bisa sembuh dari penyakitnya.
Cepat-cepat Carissa menghapus airmata yang mengalir di pipi dan berusaha untuk tidak bersedih. Dia pun bangkit dan memesan makanan lewat jasa pesan antar. Lalu segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri selama makanannya belum sampai.
Makanan Carissa sampai sesaat setelah dia selesai mandi dan berganti pakaian. Dia pun langsung menyantap makanannya meski tidak terlalu lapar.
Tiba-tiba Carissa kembali teringat dengan Evan, suaminya.
Kilasan bagaimana selama ini mereka selalu makan bersama memenuhi ingatan Carissa hingga tanpa sadar airmatanya kembali jatuh. Makanan yang telah di kunyahnya pun terasa begitu sulit untuk di telan seakan makanan itu adalah batu kerikil yang tersangkut di tenggorokannya.
Carissa terisak dengan tertahan sambil terus berusaha untuk mengunyah makanan dalam mulutnya. Dan akhirnya setelah dengan penuh perjuangan, Carissa pun berhasil menghabiskan makanan tersebut. Dia juga mengkonsumsi susu hamil siap minum yang di belinya tadi di sebuah minimarket. Sebisa mungkin Carissa berusaha untuk selalu memenuhi nutrisi calon bayi yang kini ada dalam kandungannya. Calon anak yang menjadi alasan terbesarnya untuk terus bertahan meski harus menghadapi terpaan badai sekalipun.
Setelah menyelesaikan makan malamnya dan menonton televisi sebentar, Carissa pun akhirnya merebahkan tubuhnya keatas tempat tidur dan berusaha untuk memejamkan matanya. Dia ingin beristirahat sejenak, melupakan semua kesedihan yang di rasakannya. Tapi seberapa besar dia berusaha, tetap saja matanya tidak mau terpejam. Carissa menatap langit-langit kamarnya dengan pikiran yang melayang entah kemana.
Setelah cukup lama masih tidak berhasil tidur, Carissa pun bangkit dan beranjak dari tempat tidur. Dia membuka kopernya dan tampak mencari-cari sesuatu. Hingga akhirnya yang di carinya pun ia temukan. Carissa memegang kemeja Evan yang ikut dia masukkan ke dalam koper bersama dengan pakaiannya.
Dengan perlahan Carissa membawa kemeja itu ke dalam pelukannya. Di hirupnya aroma tubuh Evan yang ada di sana. Airmtanya kembali mengalir tanpa bisa dia cegah, dan kali ini bahkan lebih deras dari sebelum-sebelumya. Carissa tergugu sambil memeluk kemeja Evan, berusaha menganggap jika yang di peluknya itu adalah suami yang sangat di rindukannya.
Carissa menumpahkan semua rasa sedih dan rindunya lewat airmata yang seakan tak mau berhenti mengalir dari pelupuk matanya, hingga akhirnya dia merasa lelah dan terlelap. Carissa pun tertidur masih dengan memeluk kemeja Evan dan airmata yang membasahi pipinya.
Bersambung...
Maaf ya baru update, kemaren emak meriang dan ga bisa ngapain2, efek dari tugas negara yang tiada habisnya.
__ADS_1
Btw, part ini ternyata masih nyeritain Carissa, besok baru bener2 kita liat keadaan Evan kayak gimana. Jangan bosen buat nungguin kelanjutannya yak.
Happy reading❤❤❤