
Malam harinya Devan memutuskan untuk datang ke rumah mertuanya setelah mendapatkan izin untuk bertemu dengan istri dan juga anaknya. Dia yang selama ini memohon dan merendahkan harga dirinya sebagai seorang pria hanya demi anak dan juga istrinya agar bisa selalu bersamanya. Tapi karena restu sang mama mertua. Devan harus bersabar sebab perempuan itu masih sangat terluka oleh masa lalu.
Devan juga mencoba untuk mengerti dengan keadaan tersebut dan memahami luka yang dirasakan oleh mama mertuanya. Dia mengorbankan perasaannya sendiri demi menghargai sang mama mertua. Devan juga tidak ingin membantah apa yang dikatakan oleh perempuan tersebut.
Dia sedikit mabuk ketika pulang ke rumah itu. yang membukakan pintu justru papa mertuanya.
Raka mencium aroma alkohol pada Devan dan sedikit kasihan terhadap menantunya karena selalu ditolak oleh Fania. dia memang bisa menerima dan memperbolehkan Adelia tinggal bersama Devan jika pada akhirnya anak itu keluar dari rumah ini. Namun, mengingat Fania yang melarang, Raka hanya bisa bersabar dan terus mendukung menantunya. Tapi semua itu adalah keputusan dari istrinya. Bahkan anak-anaknya tidak ada yang boleh ikut campur mengenai urusan itu. Raka sendiri juga kadang ingin melihat anak dan cucunya selalu bahagia. Tapi itulah luka seorang wanita. Tak ada yang tahu bagaimana dalamnya ketika sudah terluka, sekalipun masalah itu sudah berlarut begitu lama. Tapi, luka Fania hingga kini belum juga sembuh.
“Kamu kenapa mabuk?”
Devan bersalaman kemudian tersenyum. “Salah aku di mana, Pa?” tanya Devan yang menangis malam itu.
“Kamu ada masalah apa lagi?”
“Mama bilang mau ceraikan aku dan Adelia. Aku salah apa, Pa? apa pernah aku sakiti Adelia? Anak aku apa kabar, Pa? Bahkan sejak dia lahir aku cuman gendong dia cuman satu kali. Itu nggak pernah lagi aku rasakan. Lalu peran aku sebagai orang tua di mana?”
Raka tahu bagaimana sakitnya Devan menghadapi ini semua. Dia juga kasihan terhadap anaknya yang dilarang bertemu dengan Devan selama enam bulan lebih. Tahu bagaimana rindunya Adelia. Tapi anak itu tidak tahu bagaimana kejadian sebenarnya mengenai mamanya yang memisahkan dirinya dengan Devan.
Alasan yang diberikan hanyalah Devan yang kerja di luar kota dan baru bisa bertemu detik ini. “Papa nggak bisa bantu apa-apa, Devan. Ikuti saja apa yang diperintahkan oleh mama kamu! Papa yakin kamu pasti bisa!” ucap Raka memberikan semangat. Dia tahu jika menantunya memang mabuk. Ini juga untuk pertama kalinya dia melihat pria itu pulang dalam keadaan mabuk. Fania sudah memberitahunya tentang kepulangan Devan. tapi tidak tahu sampai larut seperti sekarang ini. “Kamu masuk kamar!” perintahnya.
Raka masih tahu jika menantunya masih dalam keadaan sadar. Namun tetap saja dia tidak suka jika menantunya mabuk seperti sekarang ini. Luka masa lalu yang dirasakan oleh Fania itu memang sakit. Tapi jika memisahkan seperti ini, dia kurang setuju. Mengingat cucunya tidak pernah merasakan bagaimana ditemani tumbuh bersama papanya.
Raka mengantarkan Devan ke kamar Adelia. Rasanya dia begitu kasihan melihat pria ini sedari awal sudah mendapatkan masalah besar. Awalnya dia juga memang tidak setuju, tapi melihat pria itu terus berjuang untuk Adelia membuatnya sedikit tersentuh. Anak-anaknya yang lain tidak ada yang ikut campur urusan ini.
__ADS_1
Ketika mengantarkan pria itu ke dalam kamarnya. Fania sendiri berdiri di depan kamar dan diperhatikan oleh Raka bahwa perempuan itu bersikap dingin kali ini. Raka tidak ingin ikut campur jika mengenai perasaan sang istri. Dia tetap menuruti aturan istrinya, bukan karena dia takut. Tapi karena dia menghargai keputusan istrinya dan juga harus membiarkan anaknya terbiasa dengan hal seperti ini.
Sekalipun itu sangatlah sakit. Setidaknya Fania mau memberikan izin untuk Devan bertemu dengan istri dan juga anaknya.
Begitu Devan sudah masuk ke dalam kamar, dia keluar kemudian mendekati istrinya yang sedang berdiri di pintu kamarnya. “Dia mabuk?”
“Nggak, Ma,” kata Raka. Dia yang harus pura-pura menyembunyikan Devan yang pulang dalam keadaan mabuk. Karena Devan masih berjalan dengan normal, beruntunglah aroma alkohol tidak menempel pada kaos yang digunakan oleh Raka.
Fania masuk lagi ke dalam kamarnya. Terlihat jelas bagaimana ekspresi istrinya ketika Devan tadi dia antar ke kamar Adelia. Ada raut wajah tidak suka dan selebihnya dia ingin menghindari Devan.
“Mama baik-baik aja?”
Fania justru berbalik dan meninggalkannya terlebih dahulu naik ke atas ranjang dan membelakanginya. Tidak pernah seperti ini Fania bersikap karena bertemu dengan seseorang. Raka merasa jika istrinya sedang mencoba menahan sakit itu sendirian. Dengan perasaan sedikit bersalah karena dia yang mengantarkan menantunya tadi. Satu sisi dia begitu mencintai Fania, satu sisi dia begitu menyayangi anak dan juga cucunya agar tetap bahagia. Tapi Tuhan memberikan waktu yang tidak tepat.
Fania berbalik dan memeluknya. Dia hanya melihat istrinya menangis ketika mamanya meninggal. Dia juga tidak pernah melihat istrinya serapuh ini. Semua orang pernah meninggalkan istrinya. Termasuk saudara, orang tua dan juga anaknya. Apalagi sekarang ini ketika Raka menerima kedatangan menantunya. Pasti sakit juga bagi Fania untuk menerima.
Istrinya memeluknya dengan erat tanpa berkata apa pun. “Bilang sama Papa kalau memang itu terpaksa!” pintanya lagi dengan pelan. Fania masih terdiam dan masih memeluknya. Inilah perannya sebagai seorang suami yaitu menguatkan istrinya ketika sang istri merasa lemah dan juga menyedihkan. Raka juga tidak pernah memaksakan istrinya menerima kedua anak yang dia dapatkan dari perempuan lain. Tapi hati perempuan itu begitu tulus dan mengatakan bahwa Aksa dan Argi adalah anaknya juga karena keduanya tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari mamanya. Maka dari itu Fania dengan lapang dada menerima keduanya. Tapi berbeda halnya dengan Devan yang kali ini sangat sulit diterima oleh Fania. awalnya istrinya selalu meyakinkan bahwa Devan adalah pria terbaik. Tapi setelah tahus semuanya, Fania menangis dan juga bersedih mengenai semua ini.
Setelah tenang, Raka mencoba melepaskan pelukannya dan mengusap air mata istrinya. “Mama terima Devan di rumah ini aja udah baik, Ma. Apalagi anaknya juga butuh kasih sayang seorang Papa. Devan juga berjuang untuk Adelia, Ma. Pasti Adelia juga rindu sama Devan,”
“Apa Mama salah mau pisahin mereka?”
“Alasannya?”
__ADS_1
“Karena Nesya waktu itu hamil Devan, Pa. Itu alasan Reza ninggalin Mama. Dia sia-siain kehidupan Rania,”
Bagi siapa saja yang pernah merasakan diposisi itu pasti akan sulit juga melupakan apa yang dilakukan oleh Reza dulu. Bukan karena dia egois, tapi setiap orang punya hak untuk memaafkan atau tidak. Barangkali orang akan mengatakan Tuhan saja maha pemaaf, tapi kenapa manusia begitu egois? Padahal kenyataannya ada kala di mana seseorang itu berhati tulus. Tapi di sia-siakan. Saat semuanya sudah berbeda. Barulah yang berbuat salah meminta maaf seolah tak terjadi apa-apa. Apalah daya manusia yang hatinya tak sempurna untuk memaafkan. Akan ada luka yang terus terbuka dan begitu sulitnya untuk ikhlas.
Fania masih merasakan sakit itu. Di khianati, dan juga ditinggalkan ketika dia berusaha bangkit dari keterpurukannya. Justru semakin dibuat terpuruk dan hampir mengakhiri hidup karena semua orang meninggalkannya. Tapi Raka, adalah pria satu-satunya yang selalu bersabar menemani sang istri. Sekalipun dia sempat menumbuhkan perasaan juga kepada orang lain. Tapi dia tidak pernah mengkhianati apalagi berselingkuh. Ketika dia jujur, istrinya justru tetap ada di sisinya. Karena dia juga tahu bagaimana dendamnya Fania kepada Reza hingga detik ini. Bagi Raka, menemani Fania adalah satu-satunya cara agar istrinya tetap tegar.
“Sekalipun ini sakit Papa bakalan tetap di sini sama Mama,” ucapnya dan mencium kening istrinya.
“Papa nggak masalah Mama bahas, Reza?”
“Kenapa harus permasalahkan itu? Karena dari dulu Mama yang paling sabar sekalipun Mama tahu itu masa lalu Papa. Tapi hebatnya Mama nggak pernah komentar yang macam-macam, Ma,”
Fania menyeka air matanya. “Maaf,”
“Nangis aja nggak apa-apa! Udah banyak banget beban yang Mama tanggung!” pintanya kemudian dia memeluk istrinya dengan erat dan semakin erat.
Hingga suara tangisan itu mereda. Ketika dia melepaskan pelukannya, Fania tertidur. Raka yang merasa ini adalah perempuan anugerah Tuhan yang paling indah untuknya. Mereka berama dengan luka yang sama. Tapi Tuhan tetap pertemukan dan sama-sama berusaha bangkit dari masa lalu itu. “Terima kasih telah menjadi perempua paling hebat. Memberikanku kedua anak yang luar biasa juga. Serta menerima Aksa dan juga Argi dengan baik. Sehat selalu. Sampai pada akhirnya hanya Tuhan yang memisahkan kita,” ucap Raka kemudian dia memeluk istrinya dan menyelimuti perempuan yang sudah puluhan tahun menemaninya berjuang. Bahkan sampai dia punya segalanya. Sekalipun banyak perempuan yang mendekati, dia hanya mencintai istrinya. Sekalipun pernah dibayang-bayangi oleh masa lalu yang pernah begitu menyakitkan.
__ADS_1