
Evan menghentikan apa yang sedang dia lakukan sejenak, lalu di lihatnya wajah Carissa yang tampak sangat kesakitan.
Evan mengecupi wajah Carissa agar istrinya itu merasa rileks dan tidak terlalu merasakan sakit lagi. Lalu setelah di lihatnya Carissa telah agak tenang, kembali di lanjutkannya apa yang tadi sempat tertunda.
"Aawww!!!!" Carissa kembali terpekik. Kali ini malah lebih keras dari sebelumnya.
Evan sudah tak bisa menahan hasratnya lebih lama lagi. Terus saja dia berusaha menembus pertahanan carissa meski istrinya itu terlihat sangat kesakitan.
"Stop it, Evan! Please..., you hurt me!!" Tangis Carissa pecah. Ia bekap mulutnya dengan kedua tangannya sendiri agar tak kembali terpekik. Rasa sakit di bagian bawah tubuhnya tidak bisa di toleransi lagi.
Evan tersentak. Melihat airmata yang mengalir di pipi Carissa membuat kesadarannya seketika kembali. Segera dia menarik diri dari Carissa dan membalut tubuhnya dengan selimut. Lalu di raihnya tubuh polos Carissa yang tampak gemetaran.
'Astaga...'
Evan terkejut saat merasakan tubuh Carissa di penuhi keringat dingin. Di balutnya juga istrinya itu dengan selimut agar merasa lebih nyaman.
"Maaf." Ujar Evan dengan nada menyesal. Di peluknya Carissa untuk menenangkannya.
"Sakit..., jangan di teruskan..." Pinta Carissa dengan nada memohon. Airmatanya kembali mengalir membasahi pipinya. Sungguh apa yang di rasakannya tadi sangat jauh dari ekspektasinya. Dia kira melakukan hubungan suami istri itu akan terasa nikmat, tapi siapa sangka rasanya justru seperti dirinya akan terbelah. Sangat perih.
"Maaf, aku terlalu terburu-buru sampai menyakitimu seperti ini. Harusnya aku menuruti kata-katamu dan melakukannya pelan-pelan saja. Aku terlalu terbawa suasana." Sesal Evan lagi.
Carissa menahan tangisnya dan menghela nafas berulangkali untuk menenangkan diri. Tapi tetap saja tubuhnya masih terasa tegang. Sulit menggambarkan perasaannya saat ini. Antara takut, bingung, dan entah apalagi. Wajahnya yang tadinya bersemu merah kini berubah jadi pucat pasi.
Evan yang menyadari hal itu pun mencoba menenangkan Carissa sebisanya. Di usapnya punggung Carissa dan di tenangkannya istrinya itu sebisa mungkin.
"Tenanglah, aku tidak akan melanjutkannya lagi. Aku yang salah karena tidak menunggu kamu benar-benar siap. Aku janji tidak akan melakukannya sebelum kamu sendiri yang menginginkannya." Evan terus berusaha menenangkan Carissa.
Tak lama kemudian, saraf otot Carissa mulai mengendur, menandakan ia telah mulai rileks kembali.
Evan mengurai pelukannya dan turun dari tempat tidur. Di pungutinya kembali pakaiannya yang berserakan di lantai, lalu di kenakannya kembali. Evan juga memungut pakaian Carissa dan membantu istrinya itu mengenakannya. Kali ini Evan melakukannya tanpa hasrat lagi. Melihat Carissa yang kesakitan dan di penuhi keringat dingin membuat hasratnya menguap entah kemana. Yang ada di benaknya saat ini hanyalah rasa bersalah karena telah membuat istrinya ketakutan di malam pertama mereka.
Evan hanya berharap yang di rasakan Carissa tadi tidak membuatnya trauma dan tak mau melakukan hubungan suami istri lagi. Jika itu sampai terjadi, entah bagaimana nasibnya nanti.
Evan menyodorkan air mineral yang telah di tuangnya ke dalam gelas pada Carissa. Carissa pun menerimanya dan meminumnya sampai tandas, lalu menyerahkan kembali gelas kosongnya pada Evan.
"Sudah merasa lebih baik?" Tanya Evan sambil meletakkan kembali gelas di tangannya di atas nakas.
Carissa mengangguk.
"Maaf..." Lirih Carissa.
__ADS_1
Evan menoleh dan tampak menautkan kedua alisnya.
"Aku sudah mengacaukan malam pertama kita. Padahal tadi kamu sudah sangat ingin, tapi aku malah menyuruhmu berhenti. Rasanya pasti sangat tidak nyaman."
Carissa menundukkan wajahnya. Saat ini ia menyadari jika yang di lakukannya tadi pastilah sangat menyiksa Evan. Sebenarnya Evan bisa saja tak menghiraukan permintaan Carissa dan meneruskan apa yang di lakukannya tadi. Toh, sedikit lagi juga dia berhasil menembus pertahanan Carissa. Tapi Evan justru memilih untuk berhenti dan menenangkan Carissa. Entah bagaimana dia bisa menahan hasratnya itu, yang jelas sekarang Carissa juga merasa bersalah.
"Sudahlah, tidak apa-apa. Kita bisa lakukan lagi lain waktu, saat kamu sudah benar-benar siap. Sekarang sebaiknya kita tidur." Evan kembali naik ke tempat tidur dan berbaring di samping Carissa.
Evan menarik selimut dan memadamkan lampu, lalu menyalakan lampu tidur yang mempunyai cahaya redup.
"Istirahatlah, ini sudah malam." Ujar Evan sambil memejamkan matanya.
Carissa memandang kearah Evan sejenak sebelum akhirnya ikut berbaring dan memejamkan matanya juga.
"Selamat malam." Ujar Carissa.
"Selamat malam." Evan menjawab dengan mata terpejam.
Carissa hampir berhasil masuk ke alam mimpinya. Tapi pergerakan di sebelahnya membuat ia tidak jadi tertidur. Matanya kembali terbuka dan merasakan ada semacam kegelisahan yang saat ini sedang di rasakan Evan.
"Evan..." Panggil Carissa ragu-ragu.
"Kamu kenapa?" Tanya Carissa.
Evan tertegun sesaat, lalu menghela nafasnya sambil berusaha tersenyum.
"Aku tidak apa-apa." Kilah Evan.
"Kamu tidak bisa tidur, ya?" Tanya Carissa lagi.
"Kamu terganggu?" Evan malah balik bertanya.
"Kalau begitu aku pesan kamar lain saja, ya." Ujar Evan lagi sembari beranjak dari tempat tidur. Tapi di rasakannya Carissa menahan tangannya.
"Jangan. Aku tidak mau menjadi seperti tokoh di novel yang di tinggal pergi saat malam pertama." Ujar Carissa.
Mau tidak mau Evan tertawa. Bahkan di saat seperti ini pun Carissa tetap saja bisa menghiburnya.
"Baiklah. Aku tidur di sofa saja." Ujar Evan lagi sambil mengambil bantal dan selimut. Lagi-lagi tangannya di tahan oleh Carissa.
"Sofanya tidak akan nyaman untuk di tiduri. Nanti badanmu bisa sakit semua. Memangnya kenapa kamu tidak bisa tidur tadi? Apa ada yang mengganjal pikiranmu?" Tanya Carissa.
__ADS_1
Evan terdiam sesaat dan tampak ragu menjawab Carissa.
"Katakan saja, Evan. Aku ingin kita saling jujur dengan apa yang kita rasakan. Dengan begitu kita akan lebih mudah untuk saling mengerti." Ujar Carissa meyakinkan.
Evan menghela nafasnya.
"Sebenarnya...aku merasa tidak nyaman." Ujar Evan akhirnya.
"Tidak nyaman karena tidak menuntaskan yang tadi?" Tanya Carissa.
Evan tak langsung menjawab.
"Sudahlah, tidak usah di pikirkan. Aku bisa mengatasinya. Kamu segeralah beristirahat." Evan melangkah menuju sofa. Tapi tiba-tiba saja Carissa bangkit dari tempat tidur.
"Evan, mau aku bantu menuntaskannya?" Tanya Carissa.
Evan menoleh dan menatap Carissa dengan penuh tanda tanya.
"Aku belum siap melakukan hubungan suami istri, tapi aku bisa membantumu menuntaskannya dengan cara lain."
Evan membeku. Tanpa sadar dia nenelan salivanya. Hasrat tak tertahankan yang tadi di rasakannya tiba-tiba kembali lagi.
"Cara lain yang seperti apa?" Tanya Evan.
Carissa mendekati Evan perlahan dan membimbingnya duduk di sofa. Lalu Carissa bersimpuh di hadapan lelaki itu.
Tangan Carissa terulur menyentuh sesuatu yang tadi begitu menyakiti tubuh bagian bawahnya. Di lihatnya dada Evan naik turun karena menahan gejolak di dalam dirinya. Carissa mendongak melihat kearah Evan yang juga sedang menatap kearahnya. Pandangan mereka terkunci untuk beberapa saat. Lalu Carissa pun mulai melakukan tugasnya.
Tak butuh waktu lama, Evan telah tenggelam ke dalam kenikmatan 'cara lain' yang di berikan istrinya.
Desahan dan geraman Evan menggema di kamar mereka, menandakan apa yang tertunda tadi kini telah di tuntaskan. Carissa tak menyangka, kenakalannya menonton film dewasa saat dia remaja dulu ternyata ada gunanya juga.
Kini suaminya merasa puas dan bisa tidur nyenyak meski malam pertama mereka relatif gagal.
Bersambung...
Udah ah, capek dari kmren2 MP mulu😁
buat yg nanyain visual, ntar ya... emak blm ada waktu buat nyari visual. Lg banyak tugas negara yg mesti di tunaikan, maklum ibu negara😂😂😂
Happy reading❤❤❤
__ADS_1