WITH YOU

WITH YOU
Pagi Yang Lebih Baik


__ADS_3

Carissa menggeliatkan tubuhnya dengan sedikit meringis. Rasanya dia masih enggan untuk bangun dari tempat tidur. Tapi cahaya matahari yang telah masuk melalui kaca jendela apartemannya, membuat matanya mau tak mau terbuka juga.


Dengan sedikit menahan rasa pegal dan sakit di seluruh tubuhnya, Carissa mencoba untuk duduk. Bersamaan dengan itu, selimut yang menutupi tubuh polosnya tersingkap, hingga memperlihatkan tubuh bagian atasnya yang di penuhi tanda merah keunguan. Carissa menyentuh bagian tubuhnya yang di penuhi tanda tersebut. Sekali lagi bibirnya meloloskan sebuah ringisan. Rasanya agak sakit jika di sentuh. Sepertinya permintaan Carissa pada Evan untuk menghukumnya benar-benar di kabulkan oleh suaminya itu. Evan menghukum Carissa dengan memasukinya tanpa kelembutan sama sekali. Dan parahnya, suaminya itu melakukannya tidak hanya sekali, melainkan berkali-kali. Evan benar-benar melampiaskan kemarahannya pada Carissa, meski dengan cara yang tak biasa.


Carissa melihat ke sekeliling kamar. Tak nampak Evan di sana. Jam di atas nakas sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Tampaknya Evan telah berangkat ke rumah sakit tanpa membangunkan Carissa. Mungkinkah lelaki itu masih merasa marah? Entahlah, Carissa tidak tahu. Jika memang suaminya itu masih marah, mungkin setelah ini Carissa harus memikirkan cara untuk membujuknya. Tapi saat ini ada hal yang lebih penting untuk di lakukan, yaitu membersihkan diri.


Dengan segenap tenaga yang berhasil dia kumpulkan, Carissa pun bangkit dan melangkah menuju kamar mandi. Setelah mengisi bathub dengan air hangat, Carissa pun merendam tubuhnya di sana. Agak lama dia menikmati acara berendamnya. Lalu setelah merasa tubuhnya jauh lebih baik, Carissa segera menyelesaikan mandinya dan keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrobe.


Carissa langsung mematung saat mendapati Evan sedang duduk di pinggiran tempat tidur sambil melihat kearahnya. Tampak pula nampan berisi roti panggang dan segelas susu di atas nakas.


"Kamu...masih di sini?" Tanya Carissa tanpa sadar. Evan terlihat menautkan kedua alisnya.


"Maksudku, kamu belum berangkat ke rumah sakit?" Ralat Carissa cepat saat menyadari pertanyaannya tadi terasa kurang pas.


"Ini weekend." Jawab Evan.


Ah, iya. Bagaimana Carissa bisa lupa kalau sekarang adalah akhir pekan, hari yang biasanya sangat dia nantikan karena bisa menghabiskan waktu seharian bersama Evan.


"Kenapa masih berdiri di situ? Kemarilah." Ujar Evan lagi saat melihat Carissa mematung di tempatnya.


Carissa tampak melihat kearah Evan dengan agak ragu. Lalu kakinya melangkah perlahan mendekati suaminya itu. Mata Carissa masih terus melihat pada Evan. Kelihatannya dia sedang menerka-nerka, apakah pagi ini Evan masih akan melanjutkan hukumannya? Atau ada hal lain yang lebih menakutkan sedang menanti Carissa.


Tanpa sadar Carissa menelan salivanya sembari duduk di samping Evan.


"Kenapa kamu terlihat tegang?" Tanya Evan.


Dengan cepat Carissa menggelengkan kepalanya.


"Ti-tidak. Aku tidak tegang." Jawabnya dengan agak terbata. Detik berikutnya, mata Carissa melebar saat merasakan tubuhnya telah di rengkuh Evan untuk masuk ke dalam pelukan suaminya itu.

__ADS_1


Evan memeluk Carissa sembari mengecupi keningnya dengan lembut.


"Maaf, aku semalam terlalu kasar padamu. Apa tubuhmu sakit semua?" Tanya Evan dengan penuh perhatian. Tangannya juga terulur membelai wajah Carissa dengan tak kalah lembut.


Carissa membeku mendapat perlakuan itu. Wajahnya mendongak kearah Evan. Di amatinya wajah Evan yang saat ini tengah mengulas sebuah senyuman.


"Kamu tidak marah lagi?" Bukannya menjawab pertanyaan Evan, Carissa justru balik bertanya.


Evan tak langsung menjawab. Kembali di tenggelamkannya wajah Carissa ke dadanya.


"Semalam aku benar-benar tidak bisa menahan diri. Tidak seharusnya aku memperlakukanmu dengan kasar. Kamu pasti merasa kesakitan." Ujar Evan dengan nada menyesal.


Carissa terdiam dalam pelukan Evan. Meskipun Evan tidak menjawab pertanyaannya, tampaknya suaminya ini sudah tidak marah lagi sekarang.


Carissa kembali mendongakkan wajahnya untuk melihat Evan. Senyumnya mengembang. Tangannya pun terulur menyentuh rahang suaminya itu. Carissa mendekatkan wajahnya pada wajah Evan dan mengecup bibirnya sekilas.


"Aku tidak apa-apa. Tidak sakit sama sekali." Bohong Carissa. Melihat wajah teduh suaminya ini membuat tubuhnya terasa jauh lebih baik. Sakit dan pegal yang tadi di rasakannya kini telah pergi entah kemana.


Evan merenggangkan pelukannya, lalu membuka simpul tali pengikat jubah mandi yang Carissa kenakan, hingga penutup tubuh Carissa itu melonggar dan memperlihatkan sedikit area dadanya. Terlihat beberapa tanda merah keunguan di permukaan kulit Carissa.


Tangan Evan terulur menyentuh bekas keganasannya semalam dengan perasaan bersalah yang semakin besar.


"Sakit?" Tanya Evan.


Carissa menggeleng.


Tapi mulutnya justru mengeluarkan pekikan tertahan saat Evan sedikit menekan tanda merah tersebut.


"Katanya tidak sakit."

__ADS_1


"Kalau cuma di sentuh tidak sakit, tapi kalau di tekan seperti itu tentu saja sakit." Sungut Carissa.


"Maaf, ya." Ujar Evan sekali lagi.


Carissa merapikan kembali jubah mandinya.


"Sekali lagi kamu bilang maaf, aku kasih hadiah payung cantik." Selorohnya.


"Kamu tidak marah?" Tanya Evan.


Carissa melihat Evan dan kembali tersenyum.


"Kalau sekarang aku juga yang marah, lalu kapan kita berbaikan?" Tanyanya.


Evan tidak menjawab. Di pandangnya wajah Carissa dengan tatapan yang sulit untuk di jelaskan. Carissa adalah sosok malaikat yang di kirimkan Tuhan padanya, entah apa yang ada dalam pikirannya semalam hingga tega berbuat kasar dan menyakiti malaikatnya ini.


Di raihnya Carissa sekali lagi ke dalam pelukannya. Kali ini Evan memeluk istrinya itu dengan segenap perasaan yang ada. Bagaimana bisa dia tidak memahami apa yang Carissa rasakan. Pasti sangat sulit bagi Carissa menerima kenyataan jika ada masalah dengan rahimnya, hingga mendorongnya menyetujui ide konyol Sonya. Sebagai seorang istri, tidak mudah bagi Carissa untuk merelakan suaminya punya anak dari perempuan lain. Tapi dia bersedia menerimanya asalkan Evan bisa segera memiliki seorang anak.


"Sebenarnya hatimu ini terbuat dari apa, Carissa?" Gumam Evan sembari mengusap kepala Carissa dengan lembut.


"Entahlah. Kamu seorang dokter, harusnya kamu yang lebih tahu hati itu terbuat dari apa." Jawab Carissa asal.


Mau tidak mau Evan tertawa mendengarnya. Di acak-acaknya rambut Carissa, sebelum kemudian di kecupinya kening Carissa lagi.


"Mulai sekarang katakanlah semua yang ada di hatimu padaku, Carissa, supaya aku bisa lebih mudah memahamimu. Aku tidak ingin kembali salah paham dan berakhir menyakitimu seperti semalam." Pinta Evan.


Carissa menatap Evan dan mengangguk. Sebenarnya dia sama sekali tidak merasa keberatan dengan hukuman yang Evan berikan padanya. Asalkan setelahnya dia mendapatkan pagi yang lebih baik, itu semua terasa sepadan.


Bersambung...

__ADS_1


Tetep like, koment dan vote


Happy reading❤❤❤


__ADS_2