WITH YOU

WITH YOU
Rindu


__ADS_3

Carissa tampak berbaring di atas tempat tidur sambil sesekali melirik jam di atas nakas. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, tapi Evan masih belum datang juga.


Sore tadi suaminya itu memang telah menelfon. Evan mengatakan sekali lagi pada Carissa jika dia harus mengerjakan sesuatu di apartemen, dan belum tahu apakah pekerjaannya itu akan cepat selesai atau tidak.


Ingin sekali rasanya saat ini Carissa menelfon Evan hanya untuk sekedar mendengarkan suaranya, tapi Carissa takut jika nantinya dia malah mengganggu, dan pekerjaan suaminya itu malah jadi terhambat.


Alhasil, Carissa hanya bisa menunggu kedatangan Evan tanpa tahu dengan pasti lelaki itu akan datang atau tidak untuk menemuinya.


Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Tampak Sonya, ibu mertuanya, datang dengan membawakan segelas susu.


Melihat Sonya, buru-buru Carissa bangkit dari posisi berbaringnya. Sedangkan Sonya meletakkan susu yang di bawanya ke atas nakas, lalu duduk di pinggiran tempat tidur.


"Maaf, Mama mengganggu tidurmu. Tadi Mama lupa membuatkanmu susu." Ujar Sonya.


"Tidak apa-apa, Ma. Aku memang belum tidur." Jawab Carissa sambil meraih susu yang di letakkan Sonya tadi. Segera di teguknya susu tersebut hingga tandas meski Carissa sangat tidak menyukai aroma maupun rasanya. Dia tidak ingin menyia-nyiakan perhatian ibu mertuanya ini. Di saat banyak sekali menantu lain yang berseteru dengan ibu mertua mereka, Carissa justru mendapatkan ibu mertua yang begitu menyayanginya. Tentu dia tidak akan mengabaikan kasih sayang tersebut.


"Terima kasih, Ma. Seharusnya Mama tidak perlu repot-repot membuatkan susu untukku. Aku bisa ke dapur dan membuatnya sendiri." Ujar Carissa. Dia merasa sedikit tidak enak karena harus merepotkan Sonya terus menerus.


"Selama kamu di sini, kamu adalah tanggung jawab Mama dan Papa. Tentu saja Mama harus mengurusmu dengan baik. Lagipula Mama yang meminta Evan untuk membawamu ke sini, jadi Mama akan selalu memastikan jika semua kebutuhanmu dan calon cucu Mama terpenuhi." Jawab Sonya.


Carissa terdiam sesaat. Hatinya terasa begitu hangat mendengar kata-kata Sonya tadi. Ada keharuan yang menyeruak memenuhi dada Carissa sehingga perasaannya terasa begitu membuncah. Tanpa sadar mata Carissa jadi berkaca-kaca di buatnya.


"Baiklah kalau begitu. Aku senang Mama bersedia merawatku. Aku akan berusaha agar tidak terlalu merepotkan Mama selama berada di sini."


Sonya tampak menautkan kedua alisnya.

__ADS_1


"Apa yang kamu katakan, Carissa? Kenapa kamu terdengar begitu sungkan? Mama sudah menganggap kamu seperti putri Mama sendiri. Mama harap kamu juga akan menganggap Mama seperti ibu kandungmu sendiri."


Carissa mengangkat wajahnya dan melihat Sonya dengan penuh rasa haru.


"Terima kasih, Ma..." Gumam Carissa lirih.


"Tentu saja aku akan menganggap Mama sebagai ibu kandungku sendiri. Aku sungguh beruntung bisa menikah dengan Evan dan menjadi putri Mama." Ujar Carissa lagi.


Sonya tersenyum pada Carissa. Tapi sejurus kemudian senyumnya perlahan memudar dan berganti dengan raut wajah sedih.


"Sebenarnya, sejak Evan mengetahui fakta tentang mendiang Tuan Arga sebelum beliau meninggal, Mama merasa khawatir. Mama takut Evan akan menyimpan dendam dan melampiaskannya padamu. Meskipun Mama tahu kalau Evan adalah orang lembut dan penyabar, tapi tetap saja permasalahan di antara kalian bukanlah sesuatu yang bisa di anggap enteng. Bisa saja semua itu membuat kepribadiannya berubah. Mama sangat khawatir, Carissa. Mama takut jika Evan sampai menyakitimu..."


Carissa tak menjawab dan hanya tertegun.


"Katakan pada Mama, apakah belakangan ini Evan memperlakukanmu dengan buruk?" Tanya Sonya tiba-tiba.


"Ti-tidak, Ma. Evan sama sekal tidak pernah memperlakukanku dengan buruk." Jawab Carissa.


"Benarkah? Apa kamu tidak sedang membohongi Mama?" Tanya Sonya lagi meyakinkan.


"Tentu saja tidak. Sebelumnya Evan memang sempat menjaga jarak dan menghindariku. Tapi dia tidak pernah berlaku kasar. Dia tetap memperlakukanku dengan baik, Ma. Apalagi saat mengetahui sekarang aku sedang hamil, Evan kembali memperhatikanku dan menjagaku dengan sungguh-sungguh. Dia tetap menjadi sosok yang lembut dan penyabar seperti yang Mama kenal."


Sonya tampak memperhatikan Carissa seolah ingin memastikan jika menantunya itu tidak sedang berbohong. Dan tampaknya Carissa memang mengatakan yang sebenarnya.


"Jika memang begitu, Mama sangat lega mendengarnya. Berarti Mama yang telah berpikir terlalu berlebihan." Ujar Sonya sembari menghela nafasnya. Tampaknya dia benar-benar sangat lega mendengar penuturan Carissa.

__ADS_1


"Kalau begitu istirahatlah. Mama juga akan beristirahat di kamar Mama." Ujar Sonya lagi sembari tersenyun dan bangkit dari duduknya.


Carissa mengangguk mengiyakan. Lalu dia mengantar Sonya sampai ke ambang pintu, dan menutup pintu kamarnya setelah Sonya tak terlihat lagi.


Carissa kembali berbaring di atas tempat tidurnya dan berusaha memejamkan matanya, tapi dia tidak bisa tertidur sama sekali. Hingga akhirnya Carissa memadamkan lampu di kamarnya tanpa menyalakan lampu tidur terlebih dahulu, hal yang selama ini tak pernah dia lakukan karena dirinya takut gelap.


Carissa merasa takut seperti biasanya, tapi dia juga merasakan sesuatu yang lain. Tiba-tiba Carissa teringat kejadian saat malam pertamanya dengan Evan dulu. Waktu itu Evan memadamkan semua lilin yang ada di kamar pengantin mereka tanpa menyalakan lampu terlebih dahulu, hingga Carissa ketakutan dan tanpa sadar memeluk Evan.


Carissa tersenyum. Untuk pertama kali dalam hidupnya, dia tak membayangkan hal menyeramkan saat gelap, malah teringat dengan hal manis. Mendadak hatinya jadi semakin merindu. Dia semakin ingin melihat wajah Evan dan memeluk suaminya itu. Tapi tak ada yang bisa dia lakukan selain menunggu. Dan jika Evan tak juga datang malam ini, maka dia harus menunggu hingga esok pagi.


Carissa tak punya pilihan lain selain kembali naik keatas tempat tidurnya dan kembali berbaring. Dengan membayangkan semua hal yang menyenangkan, sekali lagi Carissa mencoba untuk tidur. Dia berharap Evan sudah ada di sampingnya saat dia membuka matanya nanti. Hingga akhirnya rasa kantuk itu datang juga dan membawa Carissa terlelap.


Carissa mengerjapkan matanya saat dia merasakan cahaya di sekitarnya menjadi terang. Perlahan Carissa membuka matanya. Tampak seseorang yang sedari tadi dia nantikan sedang melepas kemeja yang di kenakannya dan masuk ke dalam kamar mandi. Sepertinya Evan baru saja datang dan langsung membersihkan diri.


Carissa bangkit dan meraih gelas air putih di atas nakas, lalu meneguk isi di dalamnya. Dia perlu minum untuk mengumpulkan kesadaran sepenuhnya dan memastikan jika saat ini dia tidak sedang bermimpi.


Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Tampak Evan keluar dari sana sambil mengeringkan rambutnya yang basah menggunakan handuk kecil. Tubuhnya juga hanya di tutupi handuk yang melilit di pinggangnya.


Carissa tertegun melihat pemandangan di hadapannya itu, bersamaan dengan Evan yang juga melihat kearahnya. Keduanya terdiam bebarapa saat dengan saling memandang.


Di dorong oleh rasa rindunya tadi, Carissa bangkit dan turun dari tempat tidur. Dan tanpa Evan duga, Carissa berhambur ke dalam pelukan suaminya itu dengan senyum yang mengembang.


Bersambung...


Mudah-mudahan mulai hari ini bisa up tiap hari lagi.

__ADS_1


Tetep like, koment dan vote ya


Happy reading❤❤❤


__ADS_2